Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Anonim


__ADS_3


Di lantai dasar, Paris berkali-kali membuang nafas gelisah, capek dan ingin segera menyusul Asha di lantai atas. Dia enggak tahan harus menunggu lama di sini. Namun enggak jadi karena dia tidak mau jikalau harus bertemu kakaknya lagi. Dia masih marah sama Arga. Jadi dia harus bersabar menunggu kakak pelayannya itu muncul dengan sendirinya.


"Kakak lama banget sih, bisa-bisa aku jamuran di sini dan di tumbuhi banyak lumut," seru Paris hiperbola saat dari pintu lift muncul Asha. Bibir Asha hanya menyunggingkan senyum tanpa menunjukkan kegugupannya dan kekesalannya akibat kalimat-kalimat tuan mudanya yang gila tadi. Padahal tadi di dalam lift dia mengomel-ngomel karena sedang sendirian.


"Iya," jawab Asha singkat.


"Sudah telpon Anggi?" tanya Paris mengingatkan. Karena tujuan mereka tadi minta jemput Anggi, sopir rumah majikan.


"Sudah. Sebentar lagi dia datang." Asha langsung menelfon saat tadi keluar dari ruangan tuan muda.


"Kakak tidak menanyakanku?" selidik Paris ingin tahu.


"Ya, tuan tadi menanyakan. Kamu ada dimana, begitu pertanyaannya,"


"Hanya itu? Apalagi yang di lakukan kakak?"


Apalagi? hmmm... dia mengintimidasi ku dengan kalimat-kalimat menakjubkannya yang membuatku tidak percaya. Dia bagai hewan liar yang lama tidak makan. Dia bagai iblis yang akan menyerukan kutukannya setiap waktu disaat dirimu lengah. Maksud hati bicara seperti itu tapi Asha tidak bisa membongkarnya.


"Tidak ada." jawaban ini yang justru meluncur dengan mudah dari mulutnya.


"Dasar Kak Arga. Huh...," Paris mendengkus dan mencebik bermaksud mencemooh kakaknya.


"Kok lama tadi?"


"Ya.. Aku mencari-cari handphone yang susah sekali di temukan," jawab Asha.


Ya.. hanya itu yang perlu di katakan.


Tak lama setelah menunggu, Angga menelpon bahwa dirinya sudah ada di depan gedung. Akhirnya mereka bisa pulang. Dan Asha bisa mengistirahatkan tubuhnya yang menjadi sangat lelah karena gugup dan tegang dalam ruangan Arga.


Asha berpikir lagi tentang tuan mudanya.


Memangnya di otak itu tidak ada kata-kata lain selain cium dan cium? Tuan muda itu sangat mesum hingga rapalannya hanya mencium dan menggigit.


**


Ada nada pesan masuk terdengar dari handphone Asha. Dia yang lagi menyelesaikan penjemuran cucian bingung saat tangannya masih basah. Tanpa peduli Asha mengelap tangannya ke celana kargo dengan panjang di bawah lutut berwarna hijau army yang di pakainya pagi ini. Lalu Asha meraih ponsel di dalam saku celana.. Bik Sumi sudah datang dari rumahnya jadi Asha tidak harus ke dapur dengan terburu-buru. Itu sangat menyenangkan, Asha bisa kembali ke tempat pencucian yang di cintainya.


"Pagi." Sebuah sapaan pagi melalui aplikasi chat masuk di handphone Asha.


Siapa ya? Kok enggak ada nama? Berarti dia bukan orang yang aku kenal. Abaikan.

__ADS_1


"Kamu masih belum memberikan nama pada nomorku?" tanya anonim yang mengirim pesan itu lagi. Mungkin karena Asha tidak segera membalasnya, anonim itu sadar bahwa Asha tidak tahu siapa orang yang ada di sana maka dia mengirimi pesan lagi.


Siapa pula dia? Asha menautkan alis sambil melihat ke arah handphone-nya. Asha tidak membalas chat dari anonim itu tapi memasukkan benda itu kedalam sakunya lagi. Kemudian melanjutkan pekerjaannya.


Setelah beberapa menit benda itu berdering. Kali ini bukan pesan yang masuk, tapi ada yang sedang menelponnya. Jadi Asha perlu mengelap tangannya lagi dan merogoh handphone dari sakunya.


Masih nomor yang sama seperti tadi. Asha mencoba membiarkan tapi karena maksa terus Asha akhirnya menerima penelepon tak bernama itu.


"Halo selamat pagi," sapa Asha dengan suara di buat seramah mungkin.


"Jadi seperti ini suaramu kalau di dengar lewat telepon? Aku baru tahu. Renyah sekali." Hah? Laki-laki? Asha menjauhkan ke layar handphone.


Ini siapa sih. Gombal banget. Renyah? Emang biskuit? Emang rempeyek? Kalau memang renyah, kenapa selama ini tidak ada laki-laki yang pernah mengatakannya padaku? Huh...


Asha mencebik. Berpikir keras siapa yang membuat kalimat yang membuat tubuhnya merinding itu.


"Aku manusia jadi jangan berwajah seperti itu." Heh? Dia bisa memperkirakan raut wajahku?


"Kenapa mbak?" tanya Rike yang sedang menjemur pakaian bareng Asha heran melihat teman kerjanya memasang ekspresi wajah yang berubah-ubah. Secepat kilat Asha langsung meletakkan jari telunjuknya ke depan bibirnya. Menandakan bahwa Rike harus tenang. Dia harus waspada karena belum tahu dengan pasti siapa orang yang sedang menelponnya itu.


"Siapa ya? Aku tidak tahu siapa kamu."


"Hei, Asha. Kamu benar-benar tidak bisa mengenali suaraku?" Wow, suaranya semakin terdengar indah dan menyenangkan. Apalagi saat menyebut namaku. Asha berubah pikiran. Bukan suaranya yang renyah, tapi suara pria ini yang indah. Sepertinya orang ini berwajah rupawan.


"Ini... Cakra?" tebak Asha. Ini orang yang sekiranya di temuinya paling akhir.


"Bukan," jawab anonim disana datar.


"Andre?"


"Bukan," jawab anonim disana mulai naik darah. Terdengar dari nada bicaranya.


"Lukar, Diko, Bimo, Rega, Satya, Relly....," Asha menyebutkan nama-nama pria yang di kenalnya dan di rasa mampu membuat suara sebagus itu juga asal saat sudah tidak terpikir siapa.


"Kamu sengaja ingin menunjukkan dirimu di sukai banyak pria?" Suara di ujung sana terdengar benar-benar kesal dengan penyebutan barusan. Asha mencebik.


Berani sekali sih orang ini. Salah sendiri kenapa harus main tebak-tebakan. Langsung bilang dong dia siapa.


"Lihatlah ke atas!" perintahnya membuat Asha mendadak merasa was-was dan cemas. Bulu kuduknya tiba-tiba saja berdiri dan membuatnya merinding. Dia merasakan tekanan kuat dari suatu tempat. Benar, tekanan itu berasal dari dalam rumah ini.


"Lihatlah ke lantai dua dimana aku berada," Kalimat ini semakin membuat kecemasan Asha menjadi-jadi. Kedua matanya terpejam sebentar sambil menggeram dalam hati. Dengan lambat, Asha memutar tubuhnya dan melihat ke atas, ke lantai dua. Ke arah jendela besar yang menghadap tempatnya berdiri.


Glek! Asha menelan ludah saat melihat tuan mudanya sedang memandanginya dengan handphone yang tergenggam di dekat telinga.

__ADS_1


"Kamu sudah bisa menemukanku?" tanya Arga memasang wajah seorang majikan yang akan memarahi pegawainya.


"I-iya, tuan," jawab Asha melemah lalu membungkuk sopan. Dia bertemu lagi dengan tuan muda yang ada di sana. Di dalam kamarnya. Dengan pakaian kerjanya. Kemeja kerja berwarna putih yang bersih.


"Kenapa belum memberikan nama pada nomorku?" tanya Arga masih di dalam kamar sambil memantau Asha.


"Belum sempat tuan," jawab Asha dengan menunduk dan juga mendekatkan handphone di telinga.


"Wah... ternyata kamu lebih sibuk dari aku," Asha tahu itu ejekan. Itu cemo'ohan. Tuan muda ini memang gampang berubah moodnya. Asha tidak peduli.


"Maaf tuan," jawab Asha yang masih membungkuk berkali-kali dengan sopan untuk menunjukkan bahwa dia bersungguh-sungguh dalam meminta maaf pada majikannya walaupun tuannya berada jauh di lantai dua.


"Ada tuan muda ya, mbak Asha?" tanya Rike.


"Iya." jawab Asha yang membuat Rike yang tadi juga sedang bersamanya ikut membungkuk karena mengetahui ada tuan muda sedang memperhatikan mereka.


Sambungan handphone Arga masih menyambung dengan Asha di bawah. Bola matanya masih memandangi perempuan itu dari dalam kamar tidurnya.


"Kenapa mbak Asha membungkuk berkali-kali?" tanya Rike bingung melihat Asha yang membungkuk berkali-kali.


"Aku punya urusan lain. Hei, Kamu juga kenapa membungkuk berkali-kali?" tanya Asha yang kaget dan heran melihat Rike juga melakukannya.


"Aku kan ikuti mbak. Kalau mbak saja ketakutan begitu, apalagi aku. Berarti aku juga harus melakukan penghormatan berkali-kali pada tuan," kata Rike tanpa mengurangi volume suaranya, jadi Arga bisa mendengar suara Rike.


"Jadi kamu takut padaku?" tegur Arga dengan nada yang Asha sudah bisa bayangkan. Pasti ada seringai menakutkan disana. Arga jadi tahu pembicaraan Asha dan Rike barusan.. Oh, NO!! Asha jadi bingung mau jawab.


"Kenapa tidak jawab?"


"I, iya Tuan," jawab Asha gugup.


"Aku begitu menakutkan, sampai kamu ketakutan seperti itu? Atau karena kamu selalu melakukan kesalahan kepadaku?"


Nooo... anda benar-benar membuat mulut saya bungkam tuan. Kalau pria-pria semacam Cakra dan lainnya yang membuat saya pusing karena perbincangan yang rumit pasti langsung saya lempar dengan cucian ini. Dan saya pastikan itu tepat sasaran. Namun karena ini anda tuan, saya tepaksa berdiam diri sambil gemetar sebal dan kesal. Jadi mohon pengertiannya... Asha menunduk dan mengomel dalam hati.


"Cepat selesaikan pekerjaanmu di belakang dan segera ke dapur, Karena aku akan sarapan di sana."


Asha berdiam diri bengong.


"Apa yang kamu lakukan? Kamu tidak ingin di pecat olehku bukan?" ancam Arga membuat Asha terperanjat kaget.


"Baik, tuan."


__ADS_1


__ADS_2