Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Tas Arga


__ADS_3

Terima kasih buat kalian yang masih setia membaca cerita ini. Juga yang sudah vote, like dan kasih komentar. Semua dukungan kalian terhadap cerita ini sangat menyenangkan❤❤ Terima kasih 😍_ salam dari ARGA dan ASHA.


.


Selamat membaca!



Asha yang masuk melalui pintu ruang tengah menuju kedapur, dapat perhatian khusus dari Nyonya Wardah. Bukan karena apa, melainkan karena Nyonya Wardah melihat tas yang di bawa pelayannya itu. Tas berwarna hitam yang biasanya di pakai putranya saat bepergian.


Nyonya Wardah yang sudah menyelesaikan memasaknya penasaran.


"Itu tasnya Arga, ya, Sha?" tanya Nyonya Wardah akhirnya. Bik Sumi juga ikut melihat Asha yang membawa tas dan juga keranjang. Beliau sangat ingin tahu mengapa tas keramat itu ada pada tangan Asha. Mendengar pertanyaan dari Nyonya Wardah, Asha menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah tas yang di bawanya.


"Iya Nyonya," jawab Asha. Nyonya Wardah melihat dengan tatapan heran. Muncul juga Paris dari pintu tadi. Gadis itu langsung mendekati Asha. Nyonya Wardah masih memperhatikan tas itu dengan mengernyitkan dahinya.


"Kakak sudah ambil pakaian kotorku, kan?" tanya Paris sambil melongok ke dalam keranjang yang di bawa Asha.


"Iya," jawab Asha.


"Tadi lupa enggak kasih tahu cucianku dimana. Hehehe..." Paris nyengir. Asha hanya mengangguk, "Tapi hebat juga kak Asha bisa menemukannya. Padahal tempatnya sulit banget," ujar Paris terkekeh. Dia sadar meletakkan pakaian kotornya di tempat tersembunyi.


Benar. Mencari pakaian kotormu sangat sulit sekali. Hingga Tuan Muda harus turun tangan membantuku mencari. Sudah seperti harta karun saja, gumam Asha dalam hati. Karena di depan Nyonya Wardah, Asha hanya bisa menjawab singkat dan menganggukkan kepala.


"Barusan di bantu kak Arga, ya?" tanya Paris sambil berbisik. Itu bukan pertanyaan biasa. Itu mirip sebuah pernyataan kalau Paris mengetahui sesuatu. Asha menoleh cepat. Lagi-lagi Paris memamerkan sederetan gigi rapi miliknya. Tanpa mengeluarkan suara, hanya raut wajah yang mengatakan 'Sepertinya aku tahu' dengan kedua alis terangkat. Juga tepukan pelan pada bahu Asha. Entah maksudnya apa.


Dari balik pintu muncul Arga yang semakin terlihat segar karena hatinya sedang senang.

__ADS_1


"Arga sendiri yang memberikanmu tas itu?" tanya Nyonya Wardah lagi. Masih membahas soal tas itu.


"Iya Bun. Aku yang menyuruhnya membawa pakaian kotorku untuk di cuci," sahut Arga menyela, sebelum Asha bisa menjawab pertanyaan majikannya. Mata Asha melirik sebentar ke Arga yang menarik kursi dan mulai menghempaskan punggung ke kursi.


"Kamu sendiri? Langka sekali," respon Bunda yang menarik wajahnya membentuk seraut wajah keheranan yang luar biasa. Bik Sumi yang biasanya di beri tugas memberi pakaian kotor ke tempat mencuci, juga melihat tuan mudanya.


"Tas itu sekalian cuci saja. Juga, jas yang aku berikan padamu. Karena aku mungkin memakainya besok." Arga menambahi sambil menengok ke belakang . Beberapa detik saat Arga menyebut jas itu, Asha merasa jantungnya berdetak keras. Mengingatkan Asha pada kejadian di kantor polisi tadi malam. Dia takut orang-orang tahu apa yang dilakukan Tuan Muda untuknya.


Nyonya Wardah melihat interaksi putranya dengan pandangan heran. Paris yang ada di depan Asha menangkap gelagat keterkejutan dari pelayannya yang sangat jelas.


"Baik," jawab Asha.


"Bukannya kamu mau mencuci pakaian kotor yang aku berikan barusan?" tanya Arga memberi ruang untuk Asha pergi. Gadis itu tidak juga pergi. Karena Bundanya masih ingin menanyakan tas hitam yang di bawa Asha. "Kamu boleh pergi sekarang," Arga mempersilahkan.


"Ya. Saya permisi nyonya..," Asha tidak membuang kesempatan ini. Dia membungkuk, meminta ijin pergi dan kemudian berjalan menuju ke pintu belakang. Arga duduk di meja makan dengan pandangan Nyonya Wardah yang masih melihat putranya dengan tertegun.


"Hanya kebetulan saja dia muncul bersama Paris di lantai dua. Sekalian aku suruh bawa pakaian kotorku," kata Arga sambil menuangkan air putih ke dalam gelas. Mengawali hari pagi saat perut belum di isi makanan adalah dengan meminum air. Ini sangat sehat buat usus.


Terdengar suara Ayah yang sudah datang dari jalan-jalan pagi di depan. Beliau sedang berbincang-bincang dengan Tuan Sanjaya.


"Selamat pagi..." sapa Tuan Sanjaya yang melihat keluarga Hendarto sudah berkumpul di pagi ini. Nyonya Wardah tersenyum. Arga dan Paris juga menyambut kedatangan orang kepercayaan Ayah Hendarto itu. Nyonya Wardah mempersilahkan Sanjaya untuk duduk. Karena ayah Hendarto juga sudah mulai duduk di kursi.


"Rupanya kamu sudah kembali Arga," kata Ayah melihat putranya sudah ada di ruang makan. Padahal menurut jadwalnya, nanti sore baru pulang dari kota 'S'.


"Iya Ayah." Bunda mengambilkan gelas dari rak piring di belakang.


"Apakah sudah selesai peninjauanmu di sana?" tanya Ayah sambil menunggu Bunda menuangkan air putih dalam gelasnya.

__ADS_1


"Hampir selesai Ayah," jawab Arga hati-hati. Ujung mata Ayah melirik putranya sedikit terkejut.


"Apakah ada hal penting yang membuatmu pulang lebih awal dari jadwal yang seharusnya?" tanya Ayah lalu meneguk segelas air putih yang sudah di tuangkan dalam gelas bening. Bunda ikut melihat ke arah putra sulungnya. Arga harus mencari lagi jawaban yang tepat.


Walaupun ayah menanyakan pertanyaan itu dengan tenang, Arga tidak boleh menjawab pertanyaan ini dengan sembarangan. Dia seperti harus memilih memberitahu perkara di polisi atau tidak. Ayah seperti tidak suka, putranya tidak menyelesaikan pekerjaan dengan tepat.


Arga berusaha mencari jawaban yang tepat. Dia memang belum menyelesaikan peninjauan karena kasus Paris di kantor polisi tadi malam. Paris melihat ke Arga. Dia jadi merasa bersalah. Kakaknya belum menyelesaikan pekerjaannya pasti karena harus datang menyelamatkan dirinya.


Paris semakin menegang menunggu jawaban kakaknya. Ayah adalah orang yang tidak banyak aksi ataupun banyak bicara. Meskipun begitu Ayah adalah orang yang humoris. Beliau juga akan tersenyum dan tertawa -walaupun bukan terbahak-bahak, tapi saat ada sesuatu yang penting sedikit terabaikan, beliau juga akan gusar.


"Iya," jawab Arga singkat.


"Ayo kita sarapan dulu. Sanjaya mungkin juga sudah lapar sejak tadi," ajak Bunda membuat Ayah menoleh melihat ke Sanjaya dan tersenyum. Sejenak ayah lupa dengan pertanyaannya.


"Iya. Ayo Sanjaya, kau juga harus ikut sarapan." Sanjaya mengangguk. "Hari ini tidak ke kantor, Ga?" tanya Arga yang terlihat santai.


"Tidak Ayah. Aku juga perlu mengistirahatkan Rendra," jawab Arga seperti ingin segera menyelesaikan perbincangan dengan Ayahnya. Ekor matanya melihat ke arah Paris yang ada di depannya. Arga sedang di marahi Ayah. Walaupun itu bukan dengan kata-kata meninggi. Paris tahu itu.


Paris menelan ludah. Dia tahu saat ini Arga sudah menyelamatkannya. Dia terlihat tidak kompeten sudah meninggalkan tugas karena hal lain. Sebenarnya memang hal penting yang tidak bisa di abaikan. Namun hal penting itu juga harus di sembunyikan karena berbahaya bagi Paris dan juga Asha.


Mungkin untuk Paris akan mendapat hukuman berat dari Ayah, tapi tidak menutup kemungkinan dia bisa bebas karena di maafkan. Namun untuk Asha yang hanya pelayan, mungkin membuat kedua orang tuanya berpikiran bahwa Asha membawa pengaruh buruk bagi putrinya. Perkara itu akan berdampak buruk bagi pekerjaannya di sini. Ini pasti sangat tidak adil bagi dia.


Arga ingin menyelamatkan keduanya, terutama perempuan dengan cepol lucu tadi. Dia tidak ingin perempuan muda itu di pecat gara-gara mengikuti keinginan Paris. Arga yakin mereka -Asha dan Angga- hanya merasa harus patuh pada Paris sebagai majikannya.


.


__ADS_1


__ADS_2