Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Gangguan di pagi hari


__ADS_3


.


Pagi hari keesokan harinya,


"Kak Asha, masih ingat lelaki tampan di pasar itu?" tanya Paris pagi ini tiba-tiba saat Asha sedang di dapur bersama Rike masak nasi goreng. Tuan besar dan Nyonya Wardah sedang jalan-jalan pagi bersama rekan bisnis mereka. Jadi bisa di pastikan mereka akan sarapan di luar. Bik Sumi sudah masak tapi Asha lagi ingin makan nasi goreng.


Asha berpikir sebentar, lalu mengangguk ingat.


"Iya. Ada apa?"


"Ya ampun, rupanya dia kakak kelasku di sekolah baru," ujar Paris terkejut sendiri dengan hasil penemuannya. Dia tidak menyangka ternyata bisa bertemu lagi dengan lelaki itu.


"Wow enak dong, jadi tiap hari ketemu." tukas Asha sambil mencoba nasi goreng buatannya. Paris kasih kode untuk juga menyuapkan nasi ke mulutnya. Dia ingin mencicipi masakan yang Asha buat. Asha mengambil sendok, meniup dulu nasi itu agar tidak panas, karena masih baru matang. Lalu menyuapkannya ke mulut Paris. Setelah mengunyah beberapa detik Paris berdecak dan acungkan jempol tanpa bersuara. "Mau, makan ini juga?" tawar Asha. Paris mengangguk.


"Aku juga mbak," kata Rike takut enggak kebagian. Asha tersenyum geli. Asha mengambil piring dari rak, lalu mengambilkan seporsi nasi goreng. Lalu menyodorkan di depan nona muda.


"Aku tidak menyangka, dia juga masih sekolah. Badan gede seperti itu." ujar Paris sambil memakan nasinya.


"Badannya atletis. Oke," imbuh Asha bermaksud menggoda Paris.


"Badannya kak Arga juga seperti itu," timpal Paris yang langsung membuat Asha menipiskan bibir dan melirik dengan tatapan mengejek.


Kenapa jadi bahas orang itu. Memang sih tubuh itu bagus juga. Membuat pandangan kadang jadi hilang arah. Hei... aku jadi melantur nih.


Rumah pagi ini terlihat sepi. Apalagi ini hari minggu. Seperti mendukung untuk waktunya bersantai. Handphone Paris yang ada di sebelahnya berdering.


"Apa?" tanya Paris tidak sabar. Rupanya itu Sandra. "Iyaa tahu..." Paris memberi kode untuk pergi sambil membawa piring makannya yang masih berisi nasi goreng. Mungkin ke ruang tengah. Setelah selesai meletakkan nasi goreng dalam dua piring. Asha membersihkan dapur dan pergi kebelakang.


"Ayo makan di belakang," ajak Asha. Rike mengangguk.


Setelah sarapan Asha kembali menunaikan tugasnya. Seperti biasa Asha memilih menjemur yang pekerjaannya lebih berat. Karena harus mengangkat jemuran keluar. Anggap saja juga latihan untuk otot lengannya. Jadi Asha hanya menunggu sambil mainan handphone. Setelah Rike selesai, Asha membawa cucian itu ke luar.


***

__ADS_1


Asha tidak menduga Tuannya muncul pagi ini disini. Di area penjemuran ini. Padahal dia pikir Tuan muda sedang jalan pagi atau bahkan masih tidur karena kemarin seperti terlalu sibuk. Tadi setelah membersihkan diri Arga melongok ke arah jendela dan ingin menemui Asha di bawah.


Saat ini Lelaki itu sedang memakan semangka di bangku kayu yang membuat Asha jadi ingin juga. Karena semangka adalah buah favoritnya, matanya sesekali melirik memandang buah itu.


Arga berdiri dan mendekati Asha. Lalu menyodorkan sepotong semangka dengan tiba-tiba. Kepala Asha mendongak melihat raut wajah tuannya.


"Ada apa?"


"Aku tidak ingin dipelototin terus oleh kedua matamu karena ini. Makanlah," ujar Arga tahu Asha melihat semangkanya terus. Asha mengalihkan mata ke tangan Arga yang sedang memegang satu irisan semangka.


"Tidak, terima kasih," tolak Asha.


"Atau.. kau ingin semangka yang ada di mulutku?" tawar Arga sambil menunjuk ke arah mulutnya sendiri. Asha meringis.


"Tidak. Lebih baik aku makan ini," Asha akhirnya menyambar semangka di tangan Arga. Bibir Arga mengulas senyum.


"Aku tidak tahu kamu sangat menyukai buah itu," Asha tidak menjawab. Hanya mengunyah potongan semangka dalam mulutnya. Arga kembali ke tempat duduknya lalu melempar bola basket yang sejak tadi di sebelahnya ke arah Asha secara mendadak. Walaupun tanpa persiapan Asha bisa menangkap bola basket itu dengan baik karena dia tahu Arga sedang memegang bola basket tadi.


"Apa sih?!" sungut Asha menatap tuan mudanya dengan tajam. Arga seperti sedang mengganggu dirinya yang berkonsentrasi bekerja.


"Kamu tidak lihat aku sedang bekerja," sungut Asha melempar balik bola ke Arga dengan kesal. Lalu Asha meneruskan menjemur pakaian.


"Tinggal saja dulu," ujar Arga seenaknya.


"Aku pelayan di sini. Mana bisa seenaknya. Dan lagi aku harus bertanggung jawab sama pekerjaan. Sudah sana bermain-mainlah di tempat lain," usir Asha. Arga diam tapi beberapa menit kemudian meletakkan bola basket di tanah. lalu menghampiri keranjang cucian di sebelah Asha.


"Kau sedang apa?" tanya Asha terkejut dan heran.


"Membantumu menjemur pakaian," jawab Arga polos.


"Tidak perlu," tolak Asha dengan tangannya.


"Aku majikanmu. Aku tidak perlu mendengarkanmu," balas Arga. Rahang Asha langsung terkatup rapat. Dia benar. Arga adalah majikan yang bisa bertingkah apa saja , apalagi hal sepele seperti itu. Terpaksa Asha membiarkan tubuh tegap itu membantunya.


Dengan gerakan kaku Arga mulai menjemur pakaian.

__ADS_1


"Hei, itu harus di peras dulu!" teriak Asha melihat Arga langsung menjemur pakaian basah. Kemudian mengambil pakaian yang di jemur Arga dan memerasnya.


"Kenapa harus di peras dulu sih. Bukankah ada pengering di dalam mesin cuci," sungut Arga tidak terima.


"Ini mataharinya pas terik banget. Jadi harus di manfaatkan dengan baik. Dan lagi apa yang kau lakukan?"


"Aku masih mau membantumu."


"Bikin repot saja. Sudah berhenti bertingkah seperti itu." Asha mengibaskan tangannya untuk mengusir tuan muda. Tapi Arga tetap di sana. Setelah itu menghilang. Asha pikir Arga sudah pergi ternyata enggak. Dia kembali duduk santai di bangku kayu. Arga hanya nyari tempat dingin untuk duduk. Dia duduk di bawah pohon rindang menghindari terik matahari yang menyengat. Sambil duduk di atas bangku ini, dia memperhatikan Asha melakukan pekerjaannya.


Tuan muda itu terlihat menikmati pemandangan dari tempat duduknya. Asha tampak jelas terlihat dari sana. Leher jenjangnya yang terlihat karena rambut itu di ikat semua. Ciri khas Asha jika melakukan tugasnya di sini. Entah kenapa Asha justru nampak menyegarkan saat rambunya di cepol sembarangan itu. Atasan kaos oblong yang dipakainya nampak kedodoran dan terlihat ingin melahap Asha dalam balutannya. Semakin membuatnya terlihat menggairahkan karena begitu imut. Arga tidak menyangka sisi perempuan itu yang seperti ini nampak bagus di matanya.


Juga Arga memandangi sandal jepit yang di pakai dengan asal. Arga tersenyum. Merasa takjub sendiri pada dirinya yang merasa sisi perempuan itu sangat menarik. Asha juga mulai melunak meskipun ada dirinya sedang memperhatikan. Tidak lagi ingin menghindar seperti saat pertama menemuinya dulu. Sekarang gadis itu lebih sering membiarkan dirinya berkeliaran di sekitarnya. Seperti memberi celah Arga untuk masuk dalam zona kenyamanannya.


Arga ingat sejak di tempat penjemuran ini, dirinya terlihat senang saat melihat gadis itu. Pagi ini sudah terik. Berarti cuaca sangat cerah. Angin juga bertiup menerbangkan jemuran-jemuran berbahan tipis yang sudah di jemur sejak tadi hingga terasa mulai mengering.


Gadis itu nampak bersemangat mengangkat selimut tebal. Arga bergegas menghampiri untuk membantu. Asha kaget tuan mudanya muncul lagi.


"Ada apa?" tanya Asha heran dan waspada.


"Mau bantu."


"Jangan, nanti malah merepotkan"


"Tidak, aku tidak merasa repot."


"Bukan kamu, tetapi aku. Aku bisa repot nanti kalau nyonya tahu aku menyuruh putra kesayangannya melakukan pekerjaan ini." kata Asha menekankan kata putra kesayangan seperti meledek.


"Iya. Aku memang putra kesayangan Bundaku." kata Arga narsis. Asha meringis. Dia takut Nyonya sudah datang dari jalan pagi dan mungkin sedang sial, beliau melihat putranya membantu pelayannya. Selama ini kan Arga jarang muncul di area ini. Namun Arga masih memaksa tangannya untuk membantu Asha menjemur selimut yang besar dan tebal. Rike memang tidak membantu Asha karena dia masih di ruang cuci.


"Jangan," sergah Asha.


"Sudah. Tutup mulut dan lihat aku membantumu. Kalau harus melihatmu mengangkat selimut dengan berat seperti ini sendirian, aku tidak sanggup," Arga bersusah payah sendirian mengangkat selimut dari tempat cucian basah ke tali-taliĀ  jemuran yang terbentang.


"Dulu-dulunya kemana kok baru-baru sekarang enggak sanggup lihat...," gumam Asha mencibir. Arga mendengar gumaman itu. Lalu menarik lengan Asha dan mendekatkan tubuh itu ke tubuhnya sendiri.

__ADS_1



__ADS_2