
Terima kasih masih setia menunggu cerita ini. Selamat membaca. ❤
.
.
.
.
Sesampainya di rumah, Asha langung turun dan masuk lagi ke dalam mobil lewat pintu belakang. Dia hendak membangunkan Paris yang masih terlelap dengan meletakkan kepala pada bahu tempat duduk mobil.
"Paris, bangun. Sudah sampai rumah. Paris..," Asha menguncang-guncangkan tubuh nona muda itu. Arga tidak keluar dari mobil. Dia masih duduk di bangku kemudi sambil melihat ke belakang.
"Paris, bangun," Arga ikut membangunkan adiknya. Namun Paris masih belum membuka matanya. Asha masih terus berusaha membangunkannya. Kemudian Arga keluar dari mobil dan menuju pintu belakang. "Hei, bangun." Arga mengguncangkan tubuh Paris lebih keras.
"Hmmm..." Akhirnya Paris bisa menjawab lalu membuka matanya perlahan.
"Sudah sampai di rumah. Ayo bangun. Tidak mungkin aku menggendongmu bukan?" kata Arga.
"Ya...," jawab Paris masih dengan suara yang serak. Lalu perlahan beranjak keluar dari mobil. Lalu berjalan dengan gontai. Asha menawarkan diri untuk membantu, tapi Paris menolak karena masih bisa melanjutkan berjalan sendiri. Arga menutup pintu, di susul Asha yang keluar dari mobil dan menutup pintu kemudian.
Arga berjalan memutar dan akhirnya sampai pada sisi mobil yang sama dengan tempat Asha berdiri. Mereka berdua masih memperhatikan Paris yang berjalan dengan tersendat-sendat dari belakang.
"Aku pergi masuk rumah dulu," pamit Asha.
"Besok aku keluar kota beberapa hari," Arga memberitahu yang langsung di sambut gembira oleh Asha dalam hati.
Ow... silahkan. Aku sangat bahagia mendengar berita ini.
"Mungkin hanya tiga hari," lanjut Arga masih membahas topik yang sama.
Lebih juga tidak apa-apa. Aku senang.
"Masuklah dulu," Arga mempersilahkan Asha masuk terlebih dahulu dengan menunjuk rumah dengan dagunya.
"Ya. Aku permisi dulu," pamit Asha membungkuk. Lalu berjalan masuk lewat pintu belakang.
__ADS_1
***
Saat di suruh ke ruang tengah, mata Asha melihat ke kanan-kiri tapi orang yang di cari tidak ada. Tuan Muda mungkin benar-benar bertugas keluar kota hari ini. Asha lega karena dirinya benar-benar bebas. Di ruang tengah sudah ada Nyonya Wardah dan Paris.
"Sha, kamu ikut ke pasar. Nanti sore ada arisan ibu-ibu komplek rumah ini di sini," Ada tugas baru buat Asha yaitu kepasar.
"Paris ikut kepasar juga. Biar tahu juga bagaimana belanja di pasar tradisional. Tidak hanya tahu mall saja," kata Nyonya Wardah memberi titah.
Mungkin Nyonya Wardah ingin putrinya seperti beliau yang bisa memasak dan tetap menjadi ibu rumah tangga yang baik. Meskipun dari keluarga kaya tidak harus berleha-leha menyuruh pembantu melakukan pekerjaan seorang istri. "Supaya kalau sudah dewasa nanti bisa menjadi isteri yang merawat suaminya dengan baik. Tidak hanya bisa menjadi nyonya rumah tanpa tahu bagaimana merawat suami." Pagi hari sudah ada nasihat berat dari Nyonya Wardah.
"Aku kan masih kelas dua SMA, Bun... Terlalu jauh kalau harus memikirkan suamiiii...," kata Paris sambil garuk-garuk kepala gemes ingin marah. Kelihatan banget kalau Paris kesal harus membahas pernikahan.
"Semuanya harus di persiapkan sebelum waktunya Pariss.. Kamu yang sudah kelas dua SMA saja belum bisa memasak, menurut bunda sangat terlambat untuk belajar," Paris mengkerucutkan bibirnya sangat tidak suka topik pembicaraan pagi ini, "Bagaimana suamimu nanti...," inget Bunda. Paris tetap saja garuk-garuk rambutnya yang panjang sebahu, semakin membuat amburadul karena berkali-kali di garuk. Jadi awutan-awutan tak beraturan.
Asha yang ada di situ merasa kalimat Nyonya Wardah menohoknya. Sangat menusuk di hati, di jantung, dan di telinga. Asha merasa sedang di sindir. Di maki tapi tidak secara langsung. Padahal kalimat itu buat Paris seorang. Namun Asha patut tersindir. Dirinya yang sudah lulus SMA beberapa tahun yang lalu saja hanya ahli memasak mie instan, goreng tempe dan tahu. Tak lupa goreng telur.
Alis Asha terangkat mendengar nasihat dari Nyonya Wardah. Rasanya ingin mengangkat kedua tangannya ke atas untuk menutup telinga. Menghindarkan gendang telinga menerima kalimat ini. Kalau bisa langsung berjalan ke belakang dengan cepat agar tidak mendengar nasihat barusan.
Ekor mata Nyonya melirik ke Asha yang sedang menunduk di sampingnya.
"Ehem...," Nyonya mendehem menyadari beliau sudah menyinggung orang lain. Lalu menepuk-nepuk rambutnya yang sudah di sisir rapi. Seperti salah tingkah.
"Iya, nyonya," jawab Asha paham. Walaupun tadi terasa jleb di hati saat kalimat itu di ucapkan, dia tahu dan sadar bahwa dirinya memang seperti itu juga.
"Tapi... sepertinya kamu juga harus belajar, Sha," kata Nyonya Wardah yang langsung membuat Asha terhenyak kaget dan tanpa sadar matanya melebar dramatis. Kenapa jadi membahas dirinya juga. Paris yang tadinya mengkerucutkan bibir ikutan noleh juga. Lalu melihat Bundanya enggak paham .
"Maksudnya apaan, Bun?" tanya Paris. Asha juga menajamkan telinganya untuk mendengar kelanjutan kalimat Nyonyanya...
"Asha juga harus belajar memasak. Kamu kan juga perempuan. Setelah dewasa nanti.. eh, bukan. Sebentar lagi kalau sudah menikah kasihan suaminya kalau ndak bisa masak," Asha meringis dalam hati. Paris mengalihkan pandangan ke Asha yang berada di sebelah bundanya.
"Kak Asha juga harus belajar memasak seperti aku gitu, bun?" tanya Paris memastikan. Dia merasa mendapat kejutan.
"Iya. Dia kan tinggal di sini, jadi Bunda juga wajib kasih nasihat sama dia yang umurnya mungkin sudah memasuki masa menikah. Dia juga butuh bimbingan buat jadi istri yang baik dan sempurna bagi suaminya kelak.." jelas Nyonya Wardah sambil menatap ke Asha lembut seperti anak sendiri.
"Pffttt.." Paris tak kuasa lagi ingin tertawa. Asha melihat ke Nona Mudanya itu. Tawa Paris meledak bagai bom atom. Entah kenapa Paris sebahagia itu mendengar Asha harus belajar memasak juga. "Wah... bagus itu," Paris memainkan mata dan bibirnya sambil melihat Asha dengan raut wajah senang.
Menurut Asha, nona muda ya itu sedang mengejeknya. Paris tahu Asha itu paling kesel kalau suruh memasak. Dia lebih mirip sama Paris meskipun umurnya berbeda. Meskipun sudah lulus SMA dan sudah bekerja, Asha masih suka bermain seperti Paris.
"Kamu juga sering-seringlah latihan memasak sama Paris. Melihat kalian sering keluar berdua saya yakin kalian juga bisa kalau latihan masak bareng," kata Nyonya Wardah.
__ADS_1
Paris hanya menipiskan bibir, mendengarkan bundanya.
"Iya, Nyonya." Asha masih menunduk sambil menyatukan kedua tangannya. lalu melirik ke arah Paris. Nyonya Wardah menuju ke dapur. Di ikuti oleh mereka berdua.
"Sudah mau berangkat, Nyonya?" tanya Bik Sumi yang sudah siap berangkat di dapur.
"Tidak, Bi. Biar mereka berdua yang berangkat ke pasar," kata Nyonya Wardah membuat Bik Sumi khawatir. Lalu melihat Asha dan Paris. Di dalam pikiran Bik Sumi, bagaimana mereka berdua bisa belanja kepasar? Asha saja jarang ke pasar. Apalagi nona muda.
"Tidak saya saja Nyonya?" tawar Bik sumi dengan sopan. Bukan maksud membantah perintah. Nyonya Wardah paham Bik sumi takut mereka bingung di pasar nantinya.
"Tidak Bik Sumi. Paris itu perempuan yang harus tahu segala macam hal yang berkaitan dengan dapur. Karena nantinya dia akan jadi menantu dan istri seseorang. Dia harus belajar dari sekarang." Bik Sumi mengangguk setuju dengan tujuan mulia majikannya. Sebagai seorang ibu yang mempunyai anak seorang perempuan memang punya kewajiban mendidik putrinya menjadi wanita sesungguhnya.
"Saya tidak mau nanti jadi malu kalau punya besan. Punya putri cantik kok ndak bisa masak. Apa kata keluarga besan, Bik.." kata Nyonya Wardah lagi.
"Bunda berlebihan deh. Usia menikahku masih jauhhh... Dan juga laki-laki yang jadi suamiku itu adalah orang baik. Jadi dia akan terima saja walaupun aku ndak bisa masak." kilah Paris. Bik Sumi tersenyum sendiri sama khayalan nona muda.
"Hush. Memangnya kalau laki-laki calon suamimu itu baik, kamu tidak akan kasih dia makan? Justru karena dia baik, kamunya harus semakin memberinya perhatian yang lebih. Bukan malah bersikap seperti kamu ini...," Nyonya memegang daun telinga Paris seperti menjewer dengan gemas. Paris lagi-lagi mengkerucutkan bibir.
"Ingat, Asha harus belajar masak juga." Bik Sumi melihat ke arah Asha dengan raut wajah penasaran. Mungkin bik Sumi berpikir kalau Asha pasti tertekan di suruh belajar memasak.
"Iya Nyonya."
"Biar semua perempuan di dalam rumah ini pintar memasak," ujar Nyonya Wardah bangga dan menggebu-gebu untuk menjadikan keinginannya terwujud, "Dan Paris, untuk permintaanmu yang itu ingin di kabulkan, ikuti perintah Bunda, Mengerti?" ancam Bunda sambil membeliakkan matanya.
"Iya bun...," jawab Paris melemah.
Kenapa tiba-tiba jadi siap lahir dan batin seperti itu.
"Kalian berdua harus kepasar pagi ini. Berdua. Hanya berdua. Tidak ada Bunda atau Bik Sumi. Belajar ke pasar. Ayo paris dan Asha bersiap." Paris yang tadi tidak semangat mengikuti anjuran Bundanya, sekarang seperti siap menerima pelajaran.
.
.
.
.
__ADS_1
Terima kasih yang sudah vote, like, favorit dan memberi komentar pada cerita ini. Luv yuu...💋