Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Noda pada kemeja


__ADS_3


Menelepon Tuan muda terlebih dahulu itu punya tantangan tersendiri. Harus berani dan kuat tekanan karena tuan muda itu kadang gilanya muncul.


"Kamu menelponku karena ada panggilan dariku?" tanya Arga mengulang alasan Asha meneleponnya terlebih dahulu. Jelas!


"Iya. Apakah ada hal penting yang perlu saya lakukan?" tanya Asha serius.


"Kenapa tidak menunggu aku menelepon kamu saja, daripada menelepon ku terlebih dulu," Nahhh... kan. Ini dia tantangannya. Tuan muda itu isengnya tingkat dewa.


"Maaf," jawab Asha mengambil jalur aman. Dia juga sedang lelah hari ini.


"Kamu terdengar lelah." Rupanya Tuan Muda ini bisa menemukan kelelahan dari suara Asha.


Iya. Saya ngos-ngosan tadi dari pasar.


"Saya sedang bekerja."


"Apakah kamu sedang berada di tempat penjemuran?" tanya Arga mengerti bila Asha bilang sedang bekerja. Perempuan itu pasti berada di sana. Dia jadi teringat saat mencari perempuan yang di temuinya di lapangan basket pada malam hari. Kala itu, saat dirinya menemukan seorang gadis sedang bersusah payah menjemur dengan peluh dan keringat yang bercucuran di lehernya.


Kalau Asha tahu, saat itu entah kenapa Arga sangat lega dan senang menemukan keberadaan dirinya di sana. Di tempat penjemuran yang terasa indah pagi itu.


"Iya. Saya sedang bersusah payah menjemur dan menelepon anda." Ada kekeh pelan dari bibir Arga. Suara Asha terdengar kesal. Itu menandakan perempuan muda ini benar-benar dalam keadaan terpaksa meneleponnya karena sembilan panggilan tidak terjawab itu.


"Berarti kamu sudah berusaha menelponku walaupun kamu sibuk sekali. Aku perlu merasa tersanjung dengan kebaikanmu. Karena orang yang paling sibuk ini sudah menyempatkan diri untuk meneleponku yang punya waktu bersantai paling banyak," Asha yakin itu sindiran. Asha mencebik.


"Jadi ada perlu apa Tuan?" tanya Asha lagi. Entah kenapa Arga mendengar kata Tuan dari bibir perempuan itu, merasa seperti di tantang.


"Tidak ada. Aku hanya ingin meneleponmu untuk mendengar suaramu," kata Arga dengan jujur tapi bagi Asha itu bagaikan keisengan yang sangat kentara disana.


"O...," jawab Asha datar. Perempuan muda ini pintar memutuskan obrolan sepihak tanpa ada ucapan menolak. Saat kita hanya mendengar jawaban itu, bukankah berarti dia sedang tidak ingin mengobrol dengan kita? Dia menjawab seperti itu lalu diam tanpa bertanya lagi. Dan Arga harus bisa mencari obrolan lain agar perbincangan berlanjut.


"Sepertinya aku harus punya banyak stok pertanyaan dan topik obrolan jika sedang berbicara denganmu. Karena jika kamu menjawab setiap pertanyaanku seperti itu, obrolan kita akan berhenti," Arga mulai memahami sifat-sifat Asha pelan-pelan.

__ADS_1


Bagaimana bisa dia yang banyak ngomong. Bukankah sebagai seorang pelayan harus menjaga mulut untuk berbicara dengan majikannya.


Asha harus tetap menjaga kesopanan antara pelayan dan majikannya. Itu sebuah etika tidak tertulis. Walaupun Arga memberi keleluasaan aneh yang menyuruhnya untuk bersikap santai saat mengobrol berdua. Memanggil kamu dan aku saat berdua. Menyebut nama Arga dengan bibirnya. Itu semua di lakukan hanya karena perintah majikan. Begitu juga pada Paris.


Tidak mungkin Asha melewati batas sebagai seorang pelayan.


"Tadi ada di pasar?" tanya Arga akhirnya punya bahan untuk perbincangan. Lebih tepatnya ini adalah alasan sebenarnya dia menelepon berkali-kali nomor Asha. Itu pun dia lakukan hanya dengan dering telepon dua kali lalu dimatikan. Makanya Asha tidak bisa mendengar dering handphone-nya berbunyi. Itu Arga lakukan berulang-ulang sampai total sembilan kali panggilan.


"Ya." Dia tahu segala posisi aku. Menakutkan.


"Dapat tugas baru dari Bunda ya..," gumamnya, "Apakah kamu bertemu dengan seseorang di pasar?" selidik Arga. Ini alasan utama dia menjadi resah saat melihat laki-laki yang di tunjukkan Paris padanya.


"Iya," jawab Asha jujur. Arga sudah tahu jawabannya.


"Apakah anda mengenal orang yang saya temui saat di pasar itu?" tanya Asha heran.


"Tidak." Sudah pasti dia tidak mengenal lelaki tampan itu. Asha mengerutkan keningnya. Menurut Mas Sumar, dia kenal dengan keluarga Hendarto. Makanya bisa membantu Asha memasukkan sebagai pelayan tanpa perlu banyak tanya, karena rekomendasi dari Mas Sumar.


Tiba-tiba ada teriakan dari seseorang di belakang Asha. Rike datang dengan kehebohan karena panik, sembari membawa baju berwarna hijau mint.


"Kenapa yang ituuuu!! Itu kan yang yang sering di pakai dia! Gawaattt," Karena panik Asha berteriak dan lupa telepon masih tersambung dengan tuan muda.


Bajuku? Kemeja? Yang mana? Arga juga jadi kepikiran sama teriakan berisik Rike dan Asha. Kemeja yang selalu aku pakai ya..


Arga membayangkan sebuah kemeja yang paling sering dia pakai. Satu, dua, tiga, empat... Akhirnya muncul sebuah kemeja berwarna hijau mint yang menjadi pilihan utama saat berangkat bekerja. Dia memakai kemeja itu bukan karena suka , tapi itu adalah pemberian Chelsea. Kekasih yang sangat di cintainya saat itu.


Arga jadi menghela napas. Bukan rasa kesal atau rindu yang di rasakannya. Hanya sebuah rasa asing yang tidak pernah terpikir olehnya untuk perempuan itu. Perasaan datar yang tidak istimewa. Arga mulai bisa menghilangkan rasa cintanya pada mantan tunangannya.


"Mbaakkk... Bagaimana ini? Kemejanya kotor lagi." Rike mengucapkannya hampir menangis.


"Aduh Ke, gak usah nangis dong. Ya sudah di cuci lagi.." kata Asha sampai kasihan lihat Rike matanya berkaca-kaca.


"Iya. Eh, mbak Asha lagi menelpon tah? Kok handphone-nya menyala." tunjuk Rike ke handphone Asha yang menyala.

__ADS_1


Ya ampun. Tuan muda. Aku lupa.


"Halo Tuan, maaf. Saya mengabaikan anda," kata Asha baru sadar. Lalu tangannya melambai. Menyuruh Rike segera mencuci kemeja itu lagi.


"Iya. Kamu memang sering mengabaikanku."


"Maaf tuan. Ada hal harus saya lakukan."


"Mencuci lagi kemejaku ya..." tebak Arga membuat Asha mengkerjap-kerjapkan mata serasa ketangkap basah.


"Anda mendengarnya ya... Maaf. Akan saya cuci lagi sampai bersih seperti sedia kala," ujar Asha berlebihan. Namun itu maklum kok, kan lagi bikin salah.


"Tidak perlu."


"Tapi tuan...,"


"Aku sungguh-sungguh. Kamu tidak perlu bersusah payah membersihkan kemejaku yang itu. Kalau kamu memaksa, ya cucilah sebisa mungkin. Tapi lebih baik tidak perlu," kata Arga. Sebenarnya dia tidak terlalu peduli lagi. Kemeja itu terasa biasa saja. Di pakai bukan karena mencintai pakaian itu seperti dirinya mencintai Chelsea. Hanya menjadi suatu kebiasaan yang tanpa di sadarinya.


"Terima kasih tuan, Anda baik sekali," kata Asha di luar dugaan.


"Bukankah aku memang baik?" tanya Arga dengan tujuan menggoda.


"Kadang...," gumam Asha pelan, "Maaf saya akan menutup telepon terlebih dahulu. Apakah tidak ada suatu hal yang penting lagi, Tuan? Maaf mengganggu anda saat bekerja." ujar Asha menyegerakan menghentikan obrolan. Arga tidak jadi membahas perkataan Asha soal dirinya yang katanya baik hati tapi kadang-kadang.


Kamu mengganggu. Kamu sedang mengganggu pikiranku, ucap Arga dalam hati sambil tersenyum.


"Kamu sudah selesai, Ren?" tanya Arga yang menyadari keberadaan Rendra yang hendak mendekatinya, ternyata sudah selesai meninjau bersama Gilang.


"Sudah, Tuan," jawab Rendra sambil membungkuk hormat.


"Apakah kita bisa segera menyelesaikan peninjauan satu hari ini saja?" tanya Arga sambil memutar tubuhnya menghadap ke Rendra.


"Maaf, Tuan. Tidak bisa. Masih banyak yang perlu anda tinjau," jawab Rendra mengerti Direkturnya ingin segera pulang.

__ADS_1



__ADS_2