Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Kebenaran


__ADS_3



"Ga," tegur Asha. Mengingatkan Arga bahwa mereka masih berada di area kantor. Arga masih saja mendekap tubuh Asha.


"Kau takut aku akan merebutnya seperti Chelsea?" tanya Evan membuat Rendra gerah. Bukan karena percekcokan mereka soal Chelsea, tapi karena Asha. Jika Arga tetap ingin berjalan seperti biasanya, saat ini juga dia harus melepaskan tubuhnya mendekap Asha.


Namun apa daya bagi seorang Rendra. Teguran Asha saja yang di yakininya untuk menyadarkan Tuannya tidak di anggap, apalagi dirinya.


"Aku tidak apa-apa. Dia tidak akan mencoba mencuriku, karena dia tahu aku sangat berbeda dengan Chelsea," kata Asha sambil mendongak. Menatap Arga dengan hati lapang. Dia yang pernah kehilangan tentu tidak akan bisa bersikap biasa saja.


Tidak menghajar Evan saat ini saja masih bisa di kategorikan baik. Arga memang cukup baik. Asha paham itu.


"Dia benar. Dia tidak seperti Chelsea," Evan setuju dengan apa yang di ucapkan Asha.


"Aku hanya sedikit mengamankan dirimu," kilah Arga yang akhirnya melepaskan tubuh Asha. Rendra juga lega.


Orang yang kamu cintai sekarang benar-benar sudah melupakanmu Chelsea. Bila kau lihat sikapnya kepada gadis baru ini, kau akan paham seperti apa perubahan seorang Arga. Dia berubah Chelsea. Apa kamu masih bersikeras untuk mencintaimya? Bila kamu melakukannya itu bodoh. Sangat bodoh.


"Kau tahu Arga, apa yang membuat Chelsea berpaling darimu?" tanya Evan tiba-tiba. Dia akan mengungkap suatu hal yang sudah di kubur dalam-dalam oleh Arga. Rahasia di balik gagalnya pertunangannya dan Chelsea.


Selama ini Arga hanya tahu bahwa Chelsea dan Evan sahabatnya mengkhianatinya. Saat Evan bicara akan mengungkapkan suatu hal, berarti ada lagi alasan Chelsea gagal menjadi tunangan Arga dan memilih menikah dengan Evan.


"Aku tidak perlu tahu, itu masa lalu. Tidak seharusnya kau mengungkapkannya. Jadi tutup mulutmu untuk tidak membicarakan itu," hardik Arga lagi.


"Ini perlu, Ga. Untuk mengakhiri ketidakjelasan di antara kita," ujar Evan serius.


Ada apa sebenarnya dengan mereka? tanya Asha dalam hati.


"Aku akan pergi dengan sukarela kalau kalian akan membicarakan soal itu. Aku tidak masalah jika harus bersembunyi sejenak untuk membiarkan kalian membicarakan soal Chelsea. Lalu muncul lagi saat aku dibutuhkan. Karena telingaku tidak cukup ruang untuk menerima hal-hal yang tidak berkaitan denganku."


"Jangan Sha. Aku lebih bersalah kepadamu kalau hanya aku yang mendengar ocehan soal Chelsea dari mulutnya. Kalau dia memaksa mengungkapkannya itu berarti kau harus di sini. Kau berhak mendengarnya, apapun itu." cegah Arga menahan bahu Asha agar dia tidak beranjak dari tempatnya berdiri.


Evan melihat tangan Arga yang menyentuh bahu gadis kurus di depannya dengan penuh pemohonan pada kalimatnya. Mata Evan melebar sekilas.

__ADS_1


"Baiklah.." jawab Asha ringan tanpa beban. Evan menautkan alis heran mendengar gadis bernama Asha itu justru menyetujuinya.


Bukankah menyakitkan mendengarkan soal mantan? Bukankah perempuan merasakan itu? tapi kenapa dia dengan santai mengiyakan tanpa raut wajah marah?


"Kau cukup memberi aku kode, seandainya kau muak mendengar cerita soal Chelsea," nasehat Arga dengan mata penuh perhatian.


"Tidak perlu kau beritahu, aku akan pergi jika memuakkan," yakin Asha. Arga tersenyum paham Asha akan melakukan itu.


Bukankah justru kamu yang akan terguncang, jika mendengar cerita tentang perempuan yang berada pada level tertinggi dalam kehidupan cintamu?


"Beberapa hari sebelum acara pertunanganmu, Nyonya Wardah berkata padanya.. Apakah kamu yakin bisa membahagiakan Arga? Beliau memberikan banyak pertanyaan yang membuat Chelsea sangat tertekan. Nyonya Wardah memberikan pilihan, kalau memang Chelsea yakin bisa membahagiakanmu dengan segala kelebihan dan kekuranganmu, Nyonya Wardah mempersilakan Chelsea menjadi tunanganmu. Kalau merasa tidak yakin, Nyonya Wardah menginginkan Chelsea pergi meninggalkanmu. Apakah kau tahu cerita itu?" Arga diam tidak merespon.


Sama. Peringatan yang sama yang seperti Paris katakan padaku.


"Dia menjadi stress. Ketenangannya menjadi goyah. Nyonya Wardah berhasil menggoyahkan keyakinan Chelsea akan dirimu. Itu berarti keluargamu kurang setuju menerima dia. Lalu dia memohon padaku untuk menikahinya tanpa mempedulikan rasa cintanya kepadamu. Dia kecewa. Aku mencintai Chelsea walaupun dia tidak bisa mencintaiku. Aku tidak apa-apa, walaupun hanya sebagai pengganti dirimu. Aku bisa menerimanya," pungkas Evan.


Asha menghela napas. Tiba-tiba Asha merasa ada yang bergemuruh di hatinya. Ada rasa marah yang timbul. Marah yang tidak tahu kemana arahnya.


Matanya mengerjap dan menolehkan kepala ke samping. Menanti suara dari lelaki yang ada di balik punggungnya. Tidak ada suara apapun dari Arga yang berada di belakangnya. Pasti Arga memikirkan lagi apa yang sudah di alami Chelsea. Arga mulai mengerti kenapa Chelsea mengatakan bahwa dia dan Evan tidak seperti suami dan istri pada umumnya. Jadi ini maksudnya.


Apa yang ada di benak gadis ini sekarang? Pasti dia tahu Arga menjadi goyah karena mendengar kebenaran cerita pisahnya Chelsea dan dia. Arga pasti akan menyadari bahwa Chelsea bukan mengkhianatinya. Dia hanya mendapat tekanan.


"Kenapa kau diam saja, Ga?" tanya Asha tidak terduga. Rendra yang menjadi saksi dari interaksi mereka bertiga sejak tadi mulai memahami, Asha adalah perempuan yang bisa meledak-ledak dan juga bisa menjadi sangat dingin tidak peduli apapun.


Kalau Arga masih mencintai Chelsea, apa yang harus aku lakukan? Bodohnya aku. Membantu menjernihkan cerita cinta istriku sendiri? Sangat bodoh. Ini tidak aman. Di saat aku tahu Chelsea memang tidak pernah mencoba mencintaiku aku malah membicarakan ini? Namun melihatnya terus menerus tersiksa tidak bisa bersama Arga, membuatku ikut merasakan sakit. Kadang cinta tidak perlu suatu syarat bukan?


"Apa yang kau harapkan?" tanya Arga sambil melongok ke depan untuk melihat raut wajah Asha yang berada di depannya. Asha mendongak.


"Kau terharu dengan cerita mantanmu, hingga tidak bisa berkata-kata?" tanya Asha.


"Kau ingin jawaban seperti apa?"


"Apa saja. Aku tidak suka kesunyian barusan. Bicaralah. Apa saja. Karena jika aku yang bicara, itu tidak mungkin. Aku tidak tahu menahu soal kau dan Chelsea." Tangan Arga memeluk bahu Asha dari belakang. "Aku bilang bicaralah. Bukan memelukku..." desis Asha tidak tertahankan, menekan rasa kesal karena Arga memeluknya lagi. Rendra menghela napas lagi. Evan terperanjat kaget.


"Terima kasih sudah menceritakan hal itu padaku, Evan. Tapi maaf cerita itu tidak mengubah keadaan. Aku mencintai Asha dan masih tetap mencintainya walaupun tahu cerita ini. Bukankah kau mengatakannya hanya ingin menggangguku dan dia?" Arga tahu apa yang ada di dalam benak Evan saat ini. Arga benar. Evan tertawa terbahak-bahak. Raut wajah Asha semakin kesal.

__ADS_1


Lalu Evan menghentikan tawanya saat mulai bicara, "Memang aku sengaja ingin mengganggu kalian, tapi apakah hatimu tidak bersimpati pada Chelsea? Apakah kau juga tidak ingin meminta maaf padanya?" desak Evan dengan nada bicara mulai serius.


Rendra mendongak. Apalagi ini? Rendra menggelengkan kepala seraya membetulkan letak kacamatanya.


"Meminta maaf? Kenapa Arga yang harus meminta maaf pada Chelsea? Bukankah itu salah dia sendiri." kali ini Asha yang menjawab bertanya. Mata Evan menatap tajam kearah Asha. Arga dan Rendra menoleh cepat ke arah Asha.


"Kau tidak perlu ikut campur. Tahu apa dirimu soal Chelsea?" Evan mulai menaikkan nada bicaranya.


"Tidak tahu," jawab Asha menggeleng dengan santai. Namun dia masih berani melihat ke arah Evan.


"Sha.." Tegur Arga. Menghalangi mereka berdua dengan tubuhnya.


"Lalu, kenapa kau ikut campur dalam pembicaraan soal Chelsea?" Evan mengatakannya dengan marah.


"Diam Evan!" Hardik Arga. Rendra bereaksi. Mereka mulai serius. Mata Rendra beredar ke sekeliling. Asha memaksa tubuhnya keluar dari perlindungan Arga dan menghadapi Evan.


"Karena aku tahu sesuatu.." ucap Asha pelan. Rendra mengerutkan keningnya dengan heran, kenapa Asha masih saja melontarkan kata-kata padahal sudah melihat keadaan yang tidak memungkinkan ini.


"Apa karena kau adalah kekasihnya? Jadi kau merasa berhak ikut campur soal Chelsea dan Arga?" tanya Evan dengan wajah yang mulai merah karena kesal. Mata Arga melebar geram, "Kau yang hanya seorang pelayan ternyata berani ikut membicarakan Chelsea yang berbeda dari dirimu, apakah itu pantas?" Evan mulai marah.


Rendra tidak tahu harus berbuat apa. Benar! Yang perlu aku lakukan adalah menjaga area ini untuk tetap kosong. Akhirnya Rendra menemukan tindakan apa yang harus dia lakukan.


"Tutup mulutmu, Evan!" teriak Arga dan melayangkan pukulan ke arah Evan. Tubuh Evan terhuyung ke belakang. Asha tak bereaksi. Raut wajahnya aneh. Dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.


Rendra yang akan melangkah mendekati Arga akhirnya berhenti. Dia tidak jadi menghampiri Arga untuk menghentikannya, karena Arga segera berhenti memukul Evan dan mendekati Asha. Evan juga tidak membalas pukulan Arga. Dia hanya mengusap sudut bibirnya yang perih.


"Aku tidak memungkiri perbedaan aku dan Chelsea.."


"Sudahlah Sha. Berhenti dan jangan dengar perkataan dia lagi.." mohon Arga. Mata Asha menjadi tajam. Masih memaksakan diri menghadapi Evan.


"Aku bisa bicara soal Chelsea, karena aku paham. Aku tidak menyangka ternyata Chelsea yang hebat saja tidak bisa bertahan. Kalau Chelsea langsung tertekan dan ciut karena di tekan oleh Bunda Arga, bukankah berarti dia tidak mampu? Bagaimana dia bisa membahagiakan Arga, kalau dirinya sendiri tidak mampu menghadapi itu," ujar Asha dengan raut wajahnya mengeras dan dingin. "Seharusnya dia bisa yakin akan perjuangannya. Seharusnya dia bisa menjawab iya, aku bisa membahagiakan Arga walau bagaimanapun keadaannya. Seharusnya dia tidak perlu mundur karena langkahnya sudah dekat dan bahkan sangat dekat. Dan juga, dia bukan orang yang pantas ketakutan hanya karena sebuah ancaman kecil, karena dia bukan..." Emosi Asha meningkat dan mata nanar. Mendengar ini Arga langsung memeluk Asha lagi. Tidak memberikan kesempatan Asha melanjutkan kalimatnya. Memeluk lebih erat dan lebih lekat.


Karena dia bukan orang miskin sepertiku..


__ADS_1


__ADS_2