Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Arga cemas


__ADS_3


Semua terjadi karena salah paham. Semua terselesaikan, karena memang sebenarnya tidak ada apa-apa. Sandra dan kakaknya sudah pulang lebih dulu. Itu karena ajakan Sandra. Sebenarnya Biema, direktur perusahaan textil terbesar itu ingin menunggu kedatangan pihak keluarga Paris. Namun Sandra memaksa untuk segera pulang karena takut terjadi kekacauan.


Itu juga karena drama Sandra dan kakaknya yang membuat Paris dengan jiwa penolongnya ingin membantu sahabatnya jiwa dan raga. Sementara Asha merasa perlu melindungi majikannya juga maju tanpa banyak pertimbangan.


Mereka berhasil keluar dari kantor polisi sekitar jam setengah dua. Masih di depan mobil di area parkir.. Paris, Asha dan Angga masih diam seribu bahasa. Ini adalah pengalaman pertama mereka masuk ke dalam kantor polisi sebagai tersangka dan di interogasi. Paris tidak lagi ceriwis. Angga dan Asha terus menunduk.


"Karena sudah selesai, aku boleh pulang kan?" tanya Dirga yang sudah menjelaskan ulang semua kejadian dengan tuntas kepada Arga.


"Silahkan," kata Arga mempersilahkan.


"Whoaammm.... " Dirga menguap, "Paris memang menakjubkan. Malam ini aku berencana tidur sore tapi sepertinya tidak diperbolehkan. Karena Paris lebih membutuhkanku daripada tidur soreku," kata Dirga menggoda. Namun Paris memilih diam daripada mengomentari kalimat Dirga. Saat ini yang nampak ceria hanya Dirga. Karena sudah bisa menyelesaikan masalah dengan keluarga Nugraha.


Namun untuk mereka bertiga masih harus menghadapi Arga. Untuk Rendra, dia memang seperti itu. Dia diam karena memang kebiasaannya.


"Sepertinya aku memang harus segera pulang," kata Dirga sambil mengangkat alisnya baru sadar suasana tidak memungkinkan. "Aku pulang dulu ya..." pamit Dirga. Asha dan Angga membungkuk hormat. Rendra mengangguk. Arga hanya mengangkat tangan.


"Terima kasih."


"Oke."


Sepeninggal Dirga semua masih terpaku di sana. Tidak ada yang berani beranjak masuk mobil karena Arga tidak memberi perintah apapun. Mereka sedang menunggu titah. Arga ingin marah dan menghukum Paris saat ini juga, tapi melihat jam pada arloji sudah sangat malam, Arga mengurungkan niatnya. Dia juga punya hati nurani. Apalagi Rendra yang terpaksa mengikutinya di kantor Polisi padahal sudah menyetir sejak tadi.


"Rendra, kamu ikut mobil Angga. Aku yakin kamu sudah sangat lelah. Biar Angga mengantarmu pulang sampai ke rumah." Rendra menghela napas lega. Dia sangat lega tidak harus menyetir lagi.


"Baik tuan. Terima kasih. Saya mengambil tas saya dulu di dalam mobil," Arga mengangguk. Rendra berjalan membuka pintu mobil dan mengambil tas berisikan pakaiannya. Lalu menyerahkan kunci mobil ke Arga.


"Paris juga masuk ke dalam mobil Angga. Aku tidak bisa menghukummu saat ini," kata Arga mengemeretakkan giginya karena geram. "Kalian bisa pulang lebih dulu," lanjut Arga. Paris hanya mengangguk mematuhi perintah kakaknya dan berjalan menuju mobil di ikuti Angga yang mempercepat langkah kakinya karena Rendra sudah siap untuk masuk mobil. Tidak ada bantahan, tidak ada gumaman tidak jelas. Semua mulut diam dan hanya mengikuti intruksi dari Arga.

__ADS_1


Karena ketegangan yang tercipta, mereka jadi lupa sudah membiarkan Asha yang sedang menautkan jari-jarinya karena cemas. Kenapa hanya nama dia yang tak di sebut? Namun Asha tidak mau berpikir apa-apa. Dia sudah cukup lelah. Semua terpaku dengan pikiran masing-masing sambil melakukan perintah.


Mobil Angga akhirnya melaju pergi. Asha sebenarnya melihat mobil Angga pergi dengan sedih. Mereka meninggalkan Asha hanya berdua dengan Arga. Wajah Asha yang tadi bingung sekarang nampak canggung karena enggak ada orang lagi di sana.


Brigadir Neptu muncul dari pintu depan kantor polisi dan mendapati Arga masih ada di sana dengan perempuan itu.


"Hei, Arga!" seru laki-laki yang hanya berpakaian biasa. Atasan berbahan kaos berkerah dan celana pendek berbahan denim selutut. Arga yang tadinya sedang memandang Asha, teralihkan oleh sosok jangkung itu.


Asha mendongak dan terkejut melihat laki-laki yang ada di klub malam yang ternyata anggota polisi muncul. Juga terkejut melihat mereka sepertinya dekat.


"Kenapa masih ada di sini? Memangnya belum selesai?" tanya Neptu melihat Arga yang ada di situ.


"Sudah. Hanya belum pulang saja,"


"Aku tidak menyangka kalau itu adikmu," kata Neptu sungguh-sungguh. Dia memang kurang mengenal Paris.


"Ya. Dia adikku yang sedikit nakal."


"Dia, bodyguard?" tanya Arga balik.


"Ya. Dia dan adikmu beraksi dengan sangat hebat di dalam klub malam tadi. Dia nekat begitu untuk melindungi adikmu. Mereka kompak. Bahkan merobek gaun pestanya juga bersamaan. Mereka serasi." Untuk kalimat ini berisi banyak makna. Pujian ada. Ledekan juga ada. Asha hanya perlu menggeram dalam hati karena malu.


Ini ulah Paris! Yang membuatnya bersedia jadi gila.


"Aksi yang bagus walaupun salah cerita," Neptu memberi jempol pada Asha. Ini semakin membuat Asha sangat malu. Dia menunduk lagi. Arga diam dan hanya melihat ke arah perempuan muda itu. "Aku tinggal ya.." pamit Neptu lalu pergi.


Lagi-lagi tinggal Asha sendirian. Arga menghela napas sambil memandang ke arah Asha. Karena keterkejutannya dan ketidakmengertiannya yang masih perlu memahami dulu kejadian ini, Arga tidak memperhatikan bahwa gaun gadis ini robek sampai di atas lutut. Hingga memperlihatkan kulit pahanya. Berarti cerita Neptu anggota polisi yang tak lain adalah temannya itu benar. Saat melihat ke bawah, dia juga bertelanjang kaki.


Jadi yang di maksud bodyguard itu Asha?

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arga menanyakan keadaan Asha. Perempuan muda itu mengangguk. Saat ini tubuhnya tidak apa-apa walaupun nampak memprihatinkan. Bayangkan saja gaun pestanya robek, dan dia tidak memakai alas kaki. Yang lagi galau itu hatinya dan perasaannya. Pertama kali jadi orang yang di interogasi di kantor polisi itu tidak pernah ada di buku daftar cita-cita Asha. Tidak pernah sama sekali. Walaupun itu saat dirinya sedang gila sekalipun, Asha tidak pernah terpikir berkunjung ke kantor polisi dengan status tersangka biang onar.


Arga masih memandanginya dengan tatapan penuh pertanyaan. Karena terus di pandangi seperti itu, Asha memilih menunduk lagi.


"Hhh... Sebenarnya apa sih yang sedang kamu lakukan?" tanya Arga gusar. Asha menggaruk tengkuknya. Laki-laki ini sedang cemas melihat keadaan Asha. Lalu tangannya membuka jas dan menghampiri perempuan muda ini. Karena melihat Tuan Mudanya mendekat, Asha mendongak. Kedua netra Arga menatap wajah Asha yang kedua bola matanya sedang mengkerjap-kerjap karena jarak tubuh mereka terlalu dekat.


Tanpa aba-aba Arga membungkukkan tubuhnya sedikit. Mata Asha membeliak dan tubuhnya kaku saat melihat tuannya melingkarkan lengannya untuk menjangkau jas yang di pakaikan di pinggang Asha agar kulit paha mulus itu tertutupi.


"Kamu itu benar-benar membuat cemas," bisik Arga parau di telinga Asha. Suara yang masuk ke dalam gendang telinga ini membuat Asha semakin membeku. Dia tidak bisa apa-apa lagi selain membiarkan Tuan mudanya membuat ikatan simpul dengan ujung lengan jasnya. Udara malam sangat dingin. Tentu berada di luar ruangan dengan memakai pakaian seperti itu dan tanpa alas kaki membuat tubuh sangat menggigil.


"Masuklah mobil denganku. Kakimu semakin membeku jika tidak segera masuk," kata Arga kemudian. Kaki Asha melangkah dengan sedikit berjingkat karena lantai halaman parkir yang sudah di paving terasa semakin dingin. Membuat Asha ingin segera menuju mobil.


"Duduk di depan," perintah Arga tanpa ekspresi. Asha mengangguk. Akhirnya mereka berdua masuk mobil. Udara yang dingin terasa berkurang.


"Apa-apaan gaun itu. Sangat seksi dan vulgar. Kenapa harus memakai baju yang tidak layak seperti itu?" tanya Arga agak dingin saat sudah menjalankan mobil. Asha diam tidak menjawab. Arga nampak marah.


Siapa pula yang mau memakai gaun begini. Ini kan ide Paris. Dan demi melindungi dia aku juga kena dampak tidak menyenangkannya.


"Apa Paris yang menyuruhmu memakai itu?" tanya Arga lagi masih dengan nada dingin yang mencekam.


"Iya." Suasana sunyi dan mencekam. Asha yang sudah melakukan kesalahan semakin merasa terancam dengan keberadaan mereka yang hanya berdua. Apalagi Arga hanya diam saja di dalam perjalanan menuju rumah. Asha jadi merasa sesak dan tidak bisa bergerak. Ruangan di dalam mobil yang sempit semakin menekan Asha.


"Maafkan saya karena telah membuat masalah," ucap Asha memecah kesunyian. Rasa sesak tadi meledak untuk memaksanya meminta maaf. Kepala Asha menunduk sambil menghadap Arga. Tiba-tiba Arga membelokkan mobil ke tepi dan berhenti.


Kenapa berhenti?! tanya Asha panik di dalam hati. Kepalanya menoleh ke kanan ke kiri. Pandangan Arga masih di depan dengan kedua tangannya masih memegang kemudi. Setelah berpikir sejenak, lalu dia noleh dan menatap Asha.


"Melihatmu di dalam kantor polisi tadi membuatku cemas dan khawatir. Ada apa denganmu. Apalagi melihatmu dengan gaun ini. Entah kenapa aku jadi sangat marah." Asha diam tapi tidak tenang. Namun dia tidak bisa melihat ke arah lain. Asha terpaku melihat Tuan Mudanya.


"Aku sangat ingin memarahimu, tapi aku urungkan. Melihatmu tidak apa-apa saja aku sudah merasa lega. Aku tidak perlu memarahimu lagi." Entah kenapa hawa di dalam mobil terasa lebih hangat daripada tadi.

__ADS_1



__ADS_2