
Tangan itu mulai bergerilya menjelajahi tubuh lembab oleh air yang dipeluknya dari belakang. Menyentuh apa yang bisa di sentuh, karena di balik baju handuknya, tubuh itu polos tanpa sehelai kain apapun selain baju handuk yang menutupi. Istrinya tidak menolak. Tubuh itu menggeliat dan mengerang sensual secara lembut saat menerima senyar menggelitik yang di kirim lewat sentuhan-sentuhan menggoda jemari Arga.
Arga memutar tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. Wajah Asha sudah merona merah. Dia ketahuan sudah mengerjai suaminya juga... dia mulai terbakar hasrat karena sentuhan-sentuhan yang menggoda.
Tangan Arga mulai menarik baju handuk itu dengan pelan. Memperlihatkan pundak polos yang membuat Arga bergairah. Menjajaki pundak itu dengan permukaan bibirnya yang hangat. Membuat istrinya menggelinjang. Hampir saja erangan pasrah lolos dari bibirnya dengan lantang. Arga langsung membungkam mulut istrinya dengan bibirnya. Mencumbu dan membenamkan bibirnya di sana. [ Episode sebelumnya ]
.
.
Setelah meraup dan merebahkan tubuh istrinya dalam kelembutan ranjang yang besar, Arga memerangkap tubuh itu dengan kedua tangan yang memagari di sisi kanan dan kiri pada kepalanya untuk menopang tubuhnya agar tidak menindihnya.
"Benarkah kali ini aku boleh melakukannya?" tanya Arga yang membuat rona merah padam pada tulang pipi Asha. Bagaimana bisa Arga masih menanyakan itu. Pertanyaan itu terlalu sangat lugas tanpa di tutup-tutupi.
Asha memalingkan muka dengan anggukan pelan. Bukan marah atau benci. Dia sangat malu Arga dengan tenang menanyakan pertanyaan itu. Masih memalingkan wajah, bibir itu tidak mampu menjawab karena Arga yang mulai merunduk mencumbui pelipis istrinya. Juga mulai memindah bibir hangatnya pada ujung bahu polos di atas lengan itu.
Menciumi inci perinci bahu itu dengan lembut. Erangan lepas terdengar lagi dari bibir Asha. Membuat Arga yang berhasrat pada istrinya semakin bergairah. Bibir itu mulai menelusuri sisi bahu yang lain. Naik ke atas, menggigit cuping telinga dan menghembuskan napas panas yang membuat Asha menggigit bibirnya sendiri.
Arga membuka mata dan memindah bibirnya ke bibir Asha dan mencumbunya. Mencicipi tanpa ragu. Lalu ciuman itu turun ke bawah, ke bekas serabut baju handuk yang sudah tidak menutupi tubuh istrinya dengan sempurna. Tangan Arga memaksa baju handuk itu turun. Membuat tampilan istrinya tidak lagi tertutupi oleh apapun. Membuat tubuh itu meringkuk sedikit menahan gelenyar yang melingkupi tubuhnya karena tubuhnya yang polos.
Jari-jari Arga menelusuri bagian tubuh sensitif itu. Kaki Asha menjepit pada paha Arga yang menahan tubuhnya sendiri tanpa peringatan. Itu gerak reflek saat tubuhnya di jamah. Namun bagi Arga itu adalah sebuah rayuan yang membuatnya bergelora.
Erangan sensual terlepas dari bibir Asha. Suara itu kembali menambah rasa gairah Arga. Dia semakin merasa tak tertahankan lagi menyalurkan gairah dan hasratnya.
Erangan tadi menandakan perempuan ini sudah siap menerima Arga sepenuhnya.
Tanpa isyarat Arga membenamkan dirinya dalam kehangatan istrinya. Perlahan dan lembut. Napas mereka bersahut-sahutan saat Arga mulai melakukan penyatuan. Bibir perempuan ini mengerang, mendesah, melenguh sensual membuat pergerakan Arga semakin kuat. Bibir Arga menggeram penuh hasrat.
Tangan Asha menelusupkan kedua lengannya pada tubuh Arga yang berotot. Memeluk dan mencengkeram sekuat mungkin untuk menahan kenikmatan yang berpadu antara dua insan yang terikat dalam tali pernikahan yang sah. Bibirnya menyebut nama Arga berulang-ulang. Mengirim gelenyar pada gendang telinga Arga yang kemudian mampu menggugah tubuh Arga untuk semakin bergerak cepat.
__ADS_1
Arga menunduk menciumi bibir Asha hingga akhirnya mereka berdua mencapai pada batas tertinggi dalam puncak kenikmatan penyatuan ini bersama-sama. Lalu berbaring di sisi kanan Asha dengan napas keduanya yang terengah-engah.
Inilah surga dunia bagi dua insan yang sudah mengantongi ijin dari proses pengesahan yang resmi dan diakui. Yang tidak akan takut akan tergugat keabsahannya.
Tubuh Asha meringkuk menghadap dada Arga yang telanjang. Tangan Arga menarik tubuh itu untuk semakin mendekat. Lelaki ini mendaratkan ciuman sayang ke kening Asha. Lalu menyelimuti tubuh mereka berdua yang setengah basah dan lembab karena peluh. Mereka berdua akan merasakan sakit bersama-sama jika membiarkan tubuh mereka yang telanjang terkena udara dari pendingin ruangan.
"Terima kasih, Sha. Istriku...," bisik Arga sambil mendaratkan ciuman yang agak lama pada pucuk kepala Asha lalu memeluk tubuh itu dengan lebih erat lagi.
"Ehmm...," Asha bergumam sambil meringkuk. Karena lelah, Asha menutup matanya.
"Akhirnya kamu jadi milikku, wanita bebal," bisik Arga sambil mengecup pelipis Asha.
"Ehmm... " balas Asha merespon pernyataan kepemilikan tubuh di sampingnya. Suasana senyap senjenak. Hanya terdengar napas keduanya yang mulai teratur. "Kamu benar-benar melakukannya saat nuansa langit belum menggelap, Ga," ucap Asha terseret-seret lelah dan masih dengan memejamkan matanya. Arga terkekeh mendengar itu.
"Tidak mandi?" tanya Arga.
"Entahlah. Sebenarnya aku malas. Setelah tubuhku di buat kotor olehmu, aku harus dan wajib melakukannya. Aku harus mandi."
"Mau aku mandikan? Aku bisa membantumu."
"Maaf aku membuatmu begitu." Arga menggosok-gosokkan dagunya ke pucuk kepala Asha. Bola mata Asha memejam lagi. Di luar langit sudah gelap. Namun ini bukan waktunya tidur.
Tok, tok, tok! Pintu terketuk.
"Siapa?"
"Paris, Kak. Bunda bilang menyuruh Kakak dan Kak Asha turun untuk makan malam! Makanan mulai hampir siap," kata Paris memberitahu.
"Ya. Kita akan turun, setelah membangunkan Asha yang tertidur. Kalian bisa makan malam terlebih dahulu."
"Oke!" Suara Paris lenyap. Itu menandakan bahwa adiknya sudah tidak berada di depan pintu. Mendengar informasi Paris tadi, membuat mata Asha membuka lebar. Ini seperti alarm untuk memaksanya bangun. Kalau makan malam bersama berarti itu ada Nyonya Wardah dan Tuan Hendarto.
__ADS_1
Asha bangkit segera dengan menutupi tubuhnya yang polos dengan selimut. Setelah berhasil menemukan baju handuk teronggok di sampingnya, Asha langsung memakai baju handuk dengan cepat dan melesat masuk je dalam kamar mandi.
Arga heran melihat tingkah istrinya yang mendadak jadi superwoman. Tadinya merengek, sekarang sudah segar bugar karena panggilan makan barusan. Bahkan mandi saja sangat cepat.
Asha keluar sambil mengerigkan rambutnya yang basah. "Tidak usah terburu-buru. Aku sudah menyuruh mereka untuk makan terlebih dahulu."
"Aku harus mengeringkan rambut ini dengan cepat."
"Untuk apa? Kamu kedinginan?"
"Aku tidak mau rambutku terlihat basah saat bertemu dengan keluargamu," ucap Asha terlihat gusar. Kening Arga bertaut jadi satu. Membentuk kerutan samar pada keningnya. Dia tidak paham. "Kau tahulah... Sebagai pengantin baru. Aku merasa malu jika terlihat selesai membersihkan rambut."
"Karena itu berarti kita selesai bercinta?" tanya Arga yang masih duduk di atas ranjang bersandar pada bahu ranjang.
"Ya seperti itulah...." Entah kenapa membicarakan ini masih terasa malu. Tangan Asha masih saja mengeringkan rambutnya. Sementara Arga mulai mengenakan pakaiannya. Berjalan mendekat dan menyambar handuk pada tangan Asha dengan pelan.
"Sini aku keringkan rambutmu."
"Kamu tidak segera mandi? Semuanya pasti sudah menunggu. Apalagi gara-gara kamu aku tidak membantu memasak di dapur."
"Baikah..." Arga memberikan handuk kecil itu dan segera bergegas membersihkan diri. Arga termasuk pria yang tidak berlama-lama di dalam kamar mandi. dia membersihkan diri secukupnya saja. Tidak berlebihan.
***
Di ruang makan satu keluarga sudah berada di meja makan. Tanpa Arga dan istrinya tentunya. Saat mereka berdua tiba, yang lain sudah menyantap makanan masing-masing. Asha membungkuk memberi hormat.
"Kalian berdua ayo makan bersama," ajak Ayah. Indra penglihatan Nyonya Wardah memperhatikan raut wajah putranya yang sudah mulai cerah. Tidak semurung tadi. Lalu bola mata beliau melihat Asha, menantunya. Kali ini Asha nampak berseri-seri juga walaupun terlihat sedikit canggung daripada tadi di dapur. Bibir Nyonya Wardah menyunggingkan senyum. Beliau tahu putranya sudah menuntaskan malam pertamanya yang tertunda.
Sesuai janjinya. Arga yang datang menawarkan sebuah dongeng manis, benar-benar menjadikan dongeng itu menjadi sebuah kenyataan. Asha yang bermimpi, benar-benar merasakan indahnya dongeng manis yang di tawarkan Arga. Pria yang mencintainya menerima diri Asha dengan segala kekurangan dan kelebihan. Dia, Arga Hendarto. Menjadikan dua dunia mereka yang berbeda di jadikan dalam satu wadah, yaitu pernikahan. Sah tanpa terbantahkan.
Perjalanan cinderella telah usai.
__ADS_1
P E L A Y A N K U , A S H A
L A D Y V E R M O U T H