
"Jangan lupa, beri nama pada nomorku. Aku tidak mau kamu menyebutkan serentetan nama-nama pria yang membuat kepalaku sakit. Kamu tahu, itu juga bisa menjadi salah satu penyebab aku bisa memecatmu dengan cepat," imbuh Arga memberi tekanan pada kata jangan lupa dan pria.
"Baik tuan." Setelah perbincangan melalui telepon di hentikan, Asha menghela napas seperti habis mengerjakan soal ujian. Rike yang masih membungkukkan badan menoleh ke samping bingung melihat Asha yang tidak lagi membungkukkan tubuhnya.
"Ke, sudaaaahhh.... Jangan membungkuk lagi. Sudah selesai acaranya," ujar Asha gemes juga lihat adik seniornya itu polos. Lalu memaksa tubuh itu untuk kembali tegak berdiri. Jadi di panggil adik karena dia lebih muda dari Asha, tapi jadi senior karena lebih dulu bekerja di rumah ini. Jadi benerkan sebutannya adik senior. Hehe.
Dengan gerak cepat Asha menjamah cucian basah di keranjang dan mulai menjemur. Gerakannya sungguh lihai. Dia tukang cuci dan jemur yang sudah punya jam terbang tinggi. Bertahun-tahun dia sudah menggeluti bidang ini. Sejak SD kelas empat sampai sekarang dia sudah jadi tukang cuci di dalam rumahnya sendiri (mencuci pakaiannya sendiri maksudnya). Dia adalah tukang cuci pro.
Di lantai dua, Arga masih berada di tempatnya tadi dengan menyilakan tangan di depan dada. Mengangkat alis dan tersenyum. Matanya memandang wow ke arah pelayan perempuan di bawah sana.
Sepertinya ia benar-benar takut di pecat olehku. Memangnya dia bodoh sampai merasa putus asa tidak bisa mendapatkan pekerjaan lain kalau seandainya di pecat dari sini? Dia memang orang yang bersemangat.
Kemudian Arga menjauh dari jendela kamar tidurnya dan bersiap menuju ruang makan.
"Wahh... Mbak Asha semangat dan canggih sekali," puji Rike sambil memandang takjub yang melakukannya bagai mesin. Sampai Rike tidak lagi mendapat bagian untuk pekerjaan menjemur ini. Asha benar-benar bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat dan tuntas.
"Iya, aku punya tugas lain yang harus segera aku datangi. Aku pergi dulu. Yang lainnya tolong bereskan sendiri ya... Ini gawat darurat," ujar Asha dengan berlebihan lalu melesat pergi menuju dapur.
"Pekerjaanmu sudah selesai, Sha?" tanya Bik Sumi yang melihat Asha muncul dari pintu belakang. Kepala perempuan muda ini mengangguk pasti, yang langsung di sorot sama mata Tuan muda yang sepertinya juga barusan datang. Paris juga sudah ada di meja makan.
"Asha menyiapkan makanan saja. Letakkan di meja makan. Mereka sudah siap sarapan. Biar Bik sumi saja yang mencuci perabot," Nyonya memberi perintah.
"Iya, nyonya." Asha mulai membawa makanan di dapur untuk di letakkan di atas meja makan.
Di meja makan Paris dan Arga sepertinya masih bersitegang. Untuk Arga sih dia masih bisa bersikap biasa saja. Namun Paris yang sepertinya mengurangi bicaranya. Dia masih enggan berbicara dengan Arga. Nyonya Wardah yang sibuk memasak kurang memperhatikan kalau dua anaknya tidak akur hari ini.
Meskipun seorang Nyonya keluarga Hendarto yang kaya, Nyonya Wardah ini masih giat melakukan pekerjaan di dapur. Seringkali beliau sendiri yang memasak untuk makan seluruh penghuni rumah. Bik Sumi ataupun Asha hanya membantu membersihkan perabot, menata makanan dan lain sebagainya itu.
"Masih libur sekolah?" tanya Arga ke adiknya. Paris diam saja tidak menjawab sambil memainkan handphonenya. Arga menatap adiknya. Dia paham Paris masih marah, tapi dia tidak ingin memperpanjang masalah. Asha yang meletakkan sayur sop daging di atas meja, melirik ke arah dua bersaudara itu.
"Kenapa masih tidak mau ngomong sama kakak? Jangan memperbesar masalah...," Dengan volume suara yang pelan, Arga berusaha mendekati adiknya dengan sabar. Paris masih diam.
"Berhenti bersikap seperti itu," Mendengar ini Paris langsung naik darah dan menatap tajam kakaknya.
"Bun, kemarin ada Chelsea di ruangan kak Arga." Tiba-tiba Chelsea mengadu pada Nyonya Wardah. Arga membelalakkan matanya menatap saudara perempuannya. Asha juga kaget. Walaupun dia tahu kalau Paris akan mengadu, dia pikir Paris akan mengadukannya secara diam-diam. Bukan terang-terangan seperti ini.
__ADS_1
Asha jadi enggak enak sudah mendukung gerakan mengadu Paris ke Bundanya. Bik Sumi masih membersihkan sampah sisa bahan masakan di meja dapur.
"Ya?" tanya Nyonya Wardah yang tidak terlalu bisa mendengar karena suara berisik dari penggorengannya.
"Kemarin Kak Arga makan siang di ruang kerjanya di kantor, sama Chelsea," ulang Paris semakin lengkap tanpa peduli Arga yang yang menatap dirinya semakin tajam.
"Siapa? Si? Arga makan siang sama Si? Si itu siapa Paris?" tanya Nyonya Wardah kemudian. Karena makanan sudah selesai dimasak, suara Paris terdengar jelas.
"Aku makan siang dengan Asha," sebut Arga mendahului Paris bicara.
Hah? Aku?Tuan muda itu menyebut namaku? Mungkinkah dia sedang meminta pertolonganku saat ini? Mungkin saja. Karena dia pasti ada maksud saat menyuruhku segera ke ruang makan.
Paris menoleh dengan tatapan sengit. Lalu menghadap Bunda mereka lagi.
"Bukan. Dia makan siang dengan...," Arga sudah menyiapkan jawaban dan alasan. Paris sudah tidak bisa terbendung lagi. Saat kalimat itu sudah sampai pada pangkalnya, Bunda pasti akan bertanya dengan marah dan kecewa saat nama itu di sebut.
"Dengan saya Nyonya. Tuan muda makan siang dengan saya..." Tiba-tiba Asha juga ikut ngomong. Baik Arga maupun Paris heran. Bik Sumi menautkan alisnya yang membuat kulit keningnya yang tua semakin berkerut.
Paris mendelik. Syok. Tidak percaya.
Salah? Ini bukan jawabannya?
Gawat! Mulut ini kenapa justru mendukung perkataan tuan muda. Aduh, abaikan, abaikan. Anggap sedang bermimpi. Mimpi, mimpi dan mimpi.
"Kak Asha?" tanya Paris tidak percaya. Dia kecewa.
Tidak tahu, tidak tahu. Merem saja. Ini pasti mimpi buruk di pagi hari. Tidak mungkin merem, aku kan lagi kerja di dapur.
"Makan siang sama bekal yang di bawakan kemarin ya, Sha?" tanya Nyonya Wardah sambil tersenyum geli. Asha tersenyum terpaksa merespon perkataan majikannya. Paris masih mengkerjap-kerjapkan mata.
Arga yang tadinya hanya keheranan Asha berkata seperti itu, akhirnya mengulas senyum di kulum pada bibirnya. Sebenarnya dia ingin tertawa, namun tidak ingin kelepasan saat mengeluarkan suara tawanya. Yang terlihat hanya sebuah senyum yang seperti tertahan.
"Paris panggil Ayah," perintah Nyonya Wardah.
"Yah!! Ayahhh!!" panggil Paris tanpa melihat. Dia sedang kesal. Karena tidak bisa lagi mencerna dengan baik kenapa Asha seperti itu, Paris memainkan handphone lagi setelah sebelumnya menatap tajam Arga.
"Heiiii.... Kalau manggil orang tua itu yang bener. Sana panggil!" Nyonya Wardah mulai menggunakan spatula tidak pada semestinya. Beliau menunjuk Paris dengan spatula yang di gunakan untuk menggoreng perkedel karena geregetan sama kelakuan Paris. Dengar ini Paris semakin mengkerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Tidak perlu di panggil, Ayah sudah bisa datang sendiri," kata Ayah dengan menipiskan bibir lihat kehebohan di pagi hari. Paris tidak biasanya seperti itu. Dia sedang merajuk.
Arga masih terpukau dengan 'bantuan' Asha tadi.
***
"Kakak sini, Paris mau ngomong...," panggil Paris memanggil Asha untuk ngomong empat mata dengan serius. Asha menjerit menyesal dalam hati. Namun dengan langkah yang di kuatkan dia melangkah mengikuti kaki Paris yang menuju ruang tengah.
"Hh.." Paris menghela napas dulu.
"Kakak ini bagaimana sih, kok tadi berkata seperti itu? Aku kan sudah bilang mau melapor ke bunda," Asha diam membatu. Arga yang hendak berangkat kerja menyaksikan Asha tengah di adili Paris.
"Rendra, tunda keberangkatan sebentar lagi. Aku masih ada perlu," Arga menelepon Rendra yang sudah menunggu di depan.
"Baik," jawab Rendra. Arga mendekati mereka berdua.
"Seharusnya kak Asha jangan membela kak Arga," protes Paris tapi masih dengan nada sopan. Asha menunduk merasa bersalah.
"Paris, jangan menyalahkan dia terus." Melihat Arga muncul di situ Paris melirik tajam dan melengos. Arga melirik Asha yang enggak lihat dia karena menunduk saja.
"Pariss..," sebut Arga berusaha mencari perhatian adiknya.
"Apa sih?!" tanya Paris kesal.
"Kamu masih marah soal Chelsea yang ada di ruangan kakak?" Paris diam tidak menjawab.
"Maaf, kakak sudah tidak peduli sama rasa sayang kamu ke kakak. Padahal kakak sudah di sakiti tapi masih saja menerima Paris yang datang mengunjungi." Dengan lambat-lambat Paris menoleh ke Arga. Sementara itu Asha yang masih menunduk mendengarkan juga.
"Kakak berjanji tidak akan bertemu Chelsea lagi kalau kamu juga berhenti memarahi dia." Ujung mata Arga sekali lagi melirik ke arah perempuan di sebelah Paris. Kali ini Paris benar-benar mendengarkan.
"Itu tidak mungkin," desis Paris.
"Percayalah, kakak bicara serius."
"Sekarang bilang gitu, tapi nanti balik lagi," Paris mencebik.
"Enggak. Kalaupun ada perlu sama dia aku akan memberitahumu dulu." Paris menatap ke Arga yang berkata dengan sungguh-sungguh. Lihat itu Paris berusaha mempercayai.
__ADS_1