
.
Arga memperhatikan perempuan muda di depannya yang memalingkan muka dengan tatapan mata yang tak mampu berpaling. Dia terus saja memandang Asha yang bisa di pastikan sedang terguncang karena kepergok sedang memindai tubuhnya.
Senyumnya merekah saat melihat rona merah itu. Keinginannya untuk bangun pagi ini walaupun tubuhnya lelah, tidak salah. Melihat gadis dengan cepol lucunya sangat menyenangkan. Menjadi vitamin tersendiri bagi dirinya, dalam pagi yang melelahkan. Keinginannya bertemu dengan dia sejak tadi malam terobati.
Asha masih terdiam setelah kepergok menelanjangi tubuh tuannya dengan kedua bola mata itu. Asha menggigit bibir bawah dan mengkerucutkan bibir kemudian tanpa sadar. Dia sedang terbuai oleh rasa malu yang sangat. Asha jadi merasa canggung. Dia Ingin membuang pemikiran tidak benar barusan dengan cepat.
Walaupun dia perempuan normal dan sudah dewasa, tapi untuk berpikiran seperti itu pada majikan sendiri terasa tidak sopan dan aneh. Apalagi di dalam kamar tidurnya, pun sampai ketahuan oleh orangnya sendiri.
Asha berpikir keras mencari cara mencairkan suasana. Juga berusaha menghilangkan rasa canggungnya. Gadis ini merasa aneh saat tidak merasakan tanda-tanda Tuannya ingin mengurangi suasana aneh yang tercipta tadi. Seperti ingin membiarkan dirinya larut dalam rasa malu yang berkepanjangan.
.
.
Arga memang sengaja membiarkan gadis itu berperang dan berunding dengan pikirannya sendiri. Dia tidak berusaha membuat gadis itu nyaman dengan mencoba mengalihkan pembicaraan dengan topik lain. Arga tidak ingin kehilangan moment seru ini untuk di nikmati.
Sambil memasukkan tangan pada kantong celana pendeknya, dia hanya memandangi Asha. Memperhatikan dan mencari sendiri arti dari apa saja yang sedang dipikirkan Asha melalui raut wajahnya yang berubah-ubah. Arga yakin gadis itu kebingungan mencari cara agar dia kembali tenang walaupun sudah ketahuan memindainya. Arga bisa tahu dari tangan Asha yang terangkat dan memberi perintah pada jari-jari mungil untuk menggaruk keningnya sendiri. Gadis itu kebingungan.
.
.
"Saya salah Tuan," ujar Asha memberanikan diri setelah menghempas napas. Arga tersenyum dalam hati akhirnya Asha bisa berhasil menemukan kata untuk memulihkan keadaan.
"Tidak. Tidak ada yang salah. Tidak perlu meminta maaf, karena aku tidak masalah soal itu. Silahkan berimajinasi tentang tubuhku sesuka hatimu kalau kau mau...," Arga mengatakannya dengan mata nakal dan senyum menantang. Seperti mengatakan bahwa dia tahu apa yang sedang dipikirkan Asha saat ini.
__ADS_1
Mata Asha melebar sekali lagi. Kalimat ini jelas membuat Asha menjerit dalam hati. Asha memalingkan muka lagi yang menciptakan semburat merah di telinganya, membuat Arga terkekeh menang. Asha sedang merasa malu dengan kalimat Arga barusan. Rasa malunya bertambah.
Asha mencoba menyamarkan rona merah pada pipinya dan telinganya dengan mengusap-usap telinganya dengan tidak sabar. Tuan muda ini rupanya sangat bermurah hati ke Asha. Melihat pelayan rumah ini memindai tubuh bagusnya seperti itu Arga tidak marah. Dia justru mempersilahkan Asha menikmatinya. Gadis itu menggumamkan sesuatu di bibirnya.
Kaki Arga bergerak perlahan untuk mendekat. Asha yang sibuk menghilangkan rona merah di pipinya tidak bisa menyadari lagi tubuh Tuan muda yang mendekat.
"Tadi malam sudah membuatku tidak bisa tidur karena cemas, sekarang membuatku tergugah ingin terus saja mendekat karena berani memindaiku..." gumam Arga pelan tapi masih bisa di dengar indra pendengaran Asha yang berdiri tidak jauh dari dia. Hanya berjarak serentangan tangan saja. Kepala Asha langsung menoleh cepat mendengar gumaman pelan tadi.
"Kamu sengaja menggodaku ya?" tanya Arga dengan dua kakinya berjalan untuk mendekat. Asha menggelengkan kepala dengan melangkahkan kaki mundur. Matanya mengerjap. Tidak menyangka akan di tuduh seperti itu.
"Bukan, bukan itu maksudku...," Wajah Asha langsung menunjukkan pembantahan yang jelas. Raut wajah itu tercengang-cengang dengan kalimat Arga barusan. Kepalanya menggeleng dengan yakin.
"Kau ingin menyentuhku?" tanya Arga tanpa melepaskan pandangannya dari gadis bercepol di depannya. Asha dibuat ternganga keheranan dengan pertanyaan tambahan Tuan mudanya.
"Tidak. Aku tidak sedang melakukan apa yang kamu tuduhkan padaku," bantahnya dengan menggoyangkan kesepuluh jarinya di depan tuannya yang terus saja melangkahkan kaki menuju ke arahnya. Dia tidak mau di anggap mesum atau terobsesi dengan tubuh yang bugar dan bagus itu. Walaupun dia tidak memungkiri akan eloknya dada bidang dan bahu lebar nan luas itu. Karena pikiran itu hanya sepintas saja. Bukan niatan dari dalam hatinya, untuk sengaja menelanjangi tubuh itu dengan kedua bola matanya.
"Aku yakin kau sangat terobsesi ingin menyentuhku," desak Arga hingga Asha sampai batas dinding di belakangnya.
"Tidak," tegas Asha dengan amarah tertahan. Dengan mengikutsertakan kedua tangannya yang menahan tubuh Arga agar tidak semakin mendekat. Mata Arga masih tetap memandang perempuan muda di depannya dengan kilatan dingin yang serasa ingin menelan Asha bulat-bulat. Menerkam dan menerjangnya.
"Berhenti, Arga!" pinta Asha kesal. Akhirnya tanpa sadar bibirnya menyebut nama itu dengan lancang tanpa rasa hormat sama sekali. Tangan Asha yang menahan tepat pada dada bidang itu merasakan tubuh Arga tidak lagi mendesaknya. Penegasan Asha barusan rupanya berhasil menahan tubuh laki-laki ini berhenti. Sebenarnya Arga berhenti karena tubuh Asha memang sudah terdesak di dinding.
"Ternyata kamu masih ingat jika hanya berdua denganku, untuk menyebut namaku saja. Akhir-akhir ini aku terlalu lama membiarkanmu menyebutku Tuan." Akhirnya Arga menjadi tenang lagi. Dia tidak lagi menjadi buas seperti tadi. Asha yang menunduk sambil menahan tubuh itu menipiskan bibir dengan geram. Arga sedang berusaha mempermainkannya.
Arga melirik tangan yang menahan tubuhnya seperti ingin mencengkeram lebih keras karena situasi ini membuatnya kesal dan sebal. Dari kulit dada bidangnya, Arga bisa merasakan sentuhan yang mengeras itu. Arga melihat ke bawah dagunya. Gadis itu masih menunduk. Dia membiarkan gadis itu diam beberapa detik. Rasa penasaran menyelubungi hatinya. Apa yang sedang di pikirkan dia saat ini?
Tiba-tiba dengan cepat Asha mendongak ke atas. Menatap rahang tegas milik Arga yang juga sedang menatapnya. Karena tubuhnya yang tinggi, Asha perlu sedikit memaksa dagunya untuk menatap laki-laki itu.
"Hentikan mempermainkanku. Jadi kau ingin aku memanggilmu dengan santai, Arga?" tanya Asha dengan mata yang melemparkan tantangan yang nyata. Arga yang sedang menatap Asha dengan sedikit menunduk menyeringai seperti mendapatkan ide yang membuat tubuh Asha waspada.
__ADS_1
"Perlindunganmu terbuka. Boleh aku menciummu?" tanya Arga dengan seringaian yang luar biasa menggoda.
Kedua netra Asha melebar dan nanar. Secara spontan dia menarik kedua tangannya yang sedang menempel pada dada tuan muda untuk menutupi bibirnya. Melindungi bibirnya dari serangan tidak terduga dengan segera. Sayangnya gerak tangan Arga lebih cepat. Dia bisa segera menangkap kedua tangan Asha untuk menutupi bibirnya. Asha menjadi panik saat kedua tangan Arga berhasil mencengkeram kedua tangannya. Arga bisa mengunci gerakan tangan-tangannya.
Lagi-lagi Asha harus memalingkan wajah. Napasnya jadi tidak beraturan karena jantungnya berdetak kencang. Lebih kencang daripada saat menghadapi para pengawal di klub malam. Saat ini posisinya sangat tidak aman. Dia sedang di dalam ruang pribadi lelaki ini. Hanya berdua. Tuan muda gila ini bisa melakukan apapun pada tubuhnya semaunya. Mata Arga melirik ke bawah. Ke arah dua kaki Asha yang bersiaga.
"Jangan kaku seperti itu. Aku hanya bertanya, bolehkah aku menciummu? Kamu tidak perlu ingin menghajarku," bisik Arga seraya menyeringai di telinga Asha. Lalu melepaskan tangan Asha dan tersenyum kemenangan melihat Asha menatapnya tajam. Kemudian tangannya terangkat seraya menedikkan bahu seperti tidak merasa bersalah.
"Kau Tuan muda yang sangat menyebalkan," umpat Asha tidak tertahankan. Arga menyeringai mendengar umpatan Asha. Saat ini dia merasa di permainkan Tuan Mudanya.
Arga tidak mempedulikannya.
Kemudian Arga memutar tubuhnya untuk kembali ke tempat dia meletakkan tas berisi pakaian kotornya. Tadi, dia mengurungkan niat membawa tasnya saat melihat raut wajah Asha yang terlihat tidak sehat. Hanya itu.
Namun bola mata bulat Asha yang sedang menatapnya takjub justru membuatnya tergugah untuk mendekat. Arga yang memang ingin menemui gadis manis ini ingin memeluknya erat. Apalagi melihat Asha mendongak dengan bibir ranumnya. Yang terlihat masih merah dan segar. Menandakan bibir itu belum tersentuh oleh seseorang.
"Sepertinya kuda-kuda itu kau siapkan untuk menghajarku kalau aku mendekat dan menyesap bibirmu," kata Arga tanpa menoleh. Dia sempat menemukan gadis ini siap menyerangnya. Asha diam sambil mengepalkan tangan ingin marah. Mencabik-cabik tubuh Tuan mudanya. Tubuhnya sudah gemetaran merasakan kemarahan yang memuncak di ubun-ubun. Tak lama Arga sudah mendekati gadis itu lagi sambil membawa tas berisi pakaian kotor.
"Ini pakaian kotornya," Asha menyambar tas berisi pakaian kotor itu dengan kasar. Arga tidak terkejut ataupun marah. Dia hanya membiarkan.
"Tadi Aku benar-benar sedang bertanya. Karena aku tidak akan mencium bibir itu lagi tanpa seijin pemiliknya," kata Arga dengan tenang. Asha diam tidak mengindahkan perkataan Arga. Raut wajahnya menunjukkan bahwa dia masih sebal.
"Melihat ranumnya bibirmu, apakah itu pertama kalinya bibirmu tersentuh seorang lelaki? Saat aku mengecup lembut bibirmu malam itu.." Perhatian Asha teralihkan oleh ingatan Arga soal mencium bibirnya dengan tepat.
"Diam dan hentikan," Asha menggunakan telunjuknya untuk menunjuk Arga dengan marah. Melihat ekspresi marah ini justru membuat Arga bahagia. Itu menunjukkan tebakannya tepat. Lelaki yang pertama kali mencicipi bibir gadis ini adalah dia. Arga menyeringai lagi dengan raut wajahnya yang menyiratkan kemenangan. Gadis itu akhirnya keluar kamar tapi dengan uring-uringan. Asha komat-kamit ngomel dengan perlakuan Arga yang gilanya kumat.
"Jadi aku yang pertama ya... Sungguh menyenangkan," gumam Arga lagi.
__ADS_1