
Malam selanjutnya, di auditorium mall milik perusahaan Arga, diadakan acara pesta ulang tahun perusahaan.
"Asha ada di sini?" tanya Arga terkejut saat Rendra membisikkan sesuatu. Rendra mengangguk. Sebenarnya Asha tidak memberitahu kedatangannya, tapi Rendra mendapat informasi dari security yang berjaga di depan, bahwa nona Paris datang bersama seorang teman.
Rendra mendatangi Paris dan menemukan Asha yang terlihat berbeda. Rendra perlu melihat dengan seksama lagi, baru yakin itu pelayan rumah keluarga Hendarto.
Paris memang sengaja mengajak Asha dalam pesta kali ini. Dia ingin memberi pengalaman baru bagi Asha. Juga semakin asyik kalau dia tidak harus di temani karyawan kakaknya, karena Asha sudah menemaninya.
"Kenapa harus berdandan seperti ini? Kalau begini aku tidak bisa bekerja..," bisik Asha ke Paris yang ada di sebelahnya.
"Tidak. Kakak masih bisa bekerja. Dengan menemani kakakku ke pesta ini," kata Paris menegaskan.
"Itu lebih menakutkan. Aku tidak mau kakakmu bertingkah aneh di depan orang-orang. Lagipula menemani saja bukan pekerjaan namanya, hanya bersantai," kilah Asha berusaha menghindari pertemuan dengan Arga di kantor.
Asha juga masih cemas dengan tatapan Nyonya Wardah yang melihatnya dengan aneh.
"Kakak juga bertugas menemaniku. Jadi jangan menganggap ini bukan pekerjaan," ujar Paris tetap mempertahankan pendapatnya. Dua bersaudara ini memang punya hak untuk itu. Asha terpaksa menerima undangan ke pesta ini juga karena telah di bohongi Paris.
Awalnya Paris bilang ingin Asha mencoba baju barunya karena takut tidak cocok. Akhirnya sampai pada keputusan, karena terlihat cocok ke Asha, Paris menyuruh Asha untuk mengambil gaun itu.
Asha heran, tapi juga senang di beri baju pesta yang tidak pernah terpikir untuk membelinya. Selain mahal, juga butuh berpikir beribu kali membeli gaun seperti ini. Buat apa Asha harus membeli gaun pesta yang tidak akan pernah di pakainya ke pesta? Karena tidak ada pesta yang bisa di datangi Asha.
Rendra memberitahu posisi Asha dan Paris dimana. Arga menemukan gadis itu di sana. Mata Arga memandang takjub. Dia terpesona dengan penampilan Asha malam ini.
Arga tak berhenti menatap Asha yang sedang berbincang dengan Paris. Matanya terpesona dengan gadis itu. Dia mendengarkan obrolan-obrolan dengan para pengusaha lainnya, juga sesekali meneguk minuman di tangannya sambil melirik Asha dari balik gelasnya.
__ADS_1
Asha memang terlihat sangat berbeda malam ini. Dengan gaun yang diberikan oleh Paris, Asha seperti berubah menjadi cinderella. Yang awalnya hanya seorang pelayan, sekarang jadi puteri cantik.
Gaun yang di berikan Paris kali ini sederhana, bukan gaun yang sangat melekat seperti waktu bersama Sandra. Meskipun hanya selutut, tapi tidak terlalu melekat pada tubuh Asha. Roknya lebih mengembang dan indah.
Arga tahu gadis itu memang manis, tapi Arga masih belum tahu kalau gadis itu semakin menakjubkan dengan terusan pesta sesederhana itu. Arga semakin tidak ingin melewatkan waktu untuk memandanginya.
Asha melihat ke sekeliling tempat pesta dan mendapati Arga sedang memandanginya. Asha ingin beralih ke obyek lain tapi rasa setianya terhadap majikan mengalahkannya. Apalagi yang melihatnya adalah kekasihnya. Asha membungkuk memberi hormat ke Arga yang memandangnya. Tapi respon Arga tak berubah. Matanya masih memandanginya. Jadi Asha berinisiatif menatap Paris.
"Apaan tuh Kak Arga. Seperti enggak pernah lihat perempuan." Ternyata Paris menyadari kakaknya selalu mencuri pandang ke Asha. Dia mendengkus melihat Arga selalu memandang takjub ke Asha. Lalu melihat Asha dan mengacungkan jempol. Karena usahanya mendandani Asha sangat baik. Tatap mata Arga yang berkilat terpesona membuktikan hasil kerjaannya sangat bagus.
Kenapa melihatku seperti itu? Asha meneguk minumannya.
Padahal baru saja berpikir tentang Arga, lelaki itu sudah berjalan ke arahnya. Setelah meminta ijin kepada para undangan dan menitipkan mereka pada Rendra, Arga melangkah mendekati Asha.
"Ikut denganku," perintah Arga setengah berbisik saat melewatinya. Asha merasa ini tidak baik. Jadi dia minta pertanggung jawaban Paris yang sengaja mengajaknya ke pesta. Padahal tadi dia berangkat dari rumah bersama Paris tapi Arga dengan leluasanya ingin menculik Asha.
"Ikut saja kak, Kak Arga tahu apa yang sedang di lakukannya," ujar Paris yang seperti sudah mengira kakaknya akan bertingkah demikian, menculik Asha dari pesta kantor. Kalimat Paris hanya di sambut senyum terpaksa dari Asha. Bagaimana bisa Paris menyerahkan dirinya begitu saja ke Arga. Walaupun ini pesta perusahaan Arga, akan sangat mencurigakan jika direktur mereka mendadak hilang.
Saat di lorong yang lumayan sepi, Arga menghentikan langkahnya menunggu Asha. Kaki Asha terasa berat harus mendekati Arga dengan pakaiannya yang tidak biasa. Apalagi bola mata Arga tampak sangat lekat memandang gadis itu saat menunggu kakinya mendekat.
Saat Asha sudah mendekat, lengan Arga sudah segera mendorong tubuh gadis itu pada tubuhnya sendiri. Asha terkejut saat Arga mendekatkan wajah. Arga tidak tahan lagi melihat Asha yang tampak menakjubkan di matanya.
Tanpa mempedulikan tempat, Arga mencium bibir Asha. Walaupun sebentar, ini membuat Asha was-was. Setelah itu berbisik di telinga Asha, "Kamu cantik." Lengannya masih membelenggu tubuh Asha saat mengucapkannya.
"Bukankah ini kedua kalinya kamu melihatku memakai gaun pesta?" tanya Asha.
"Mmm ... saat kita belum jadian itu?" tebak Arga. Kepala Asha mengangguk, " Saat aku pertama kali sangat mencemaskanmu," sambung Arga.
Bibir Asha tersenyum membayangkan saat itu Arga sudah peduli padanya. "Aku tidak percaya kamu sudah bisa seperti itu padaku saat itu."
__ADS_1
"Aku memang sudah lama memperhatikanmu. Kita pergi cari kesenangan sendiri," bisik Arga lagi di telinga Asha.
"Iya ...," Asha setuju. Arga melepaskan pelukannya. Akhirnya mereka berdua menuju area parkir lewat lift. Sesampainya di dekat mobil, Arga mengulurkan tangannya membantu Asha masuk ke dalam mobil.
"Aku seperti seorang puteri dalam dongeng," ujar Asha sambil tersenyum tipis sambil menatap tangan Arga.
"Kau memang seorang putri bagiku," sahut Arga. Asha mendongak lalu tersenyum menyambut ucapan Arga. Lelaki ini memang lagaknya sudah seperti pangeran.
"Jadi begini kelakuanmu disini?" Tiba-tiba muncul suara yang mengagetkan mereka berdua. Seorang cowok bertubuh tinggi tapi badannya tidak seberapa besar muncul di depan mobil. Mungkin dia seumuran dengan Paris. Dia sedang berdiri di depan mereka dengan tatapan mata tidak suka. Asha yang belum masuk ke dalam mobil menoleh ke asal suara. Dan matanya membelalak kaget.
"Jadi seperti ini? Alasanmu ingin mandiri, jadi seperti ini? Ingin dekat dengan lelaki itu?" kata pemuda itu membuat Asha melepaskan tangan Arga dan menghampiri lelaki itu. Mata Arga langsung menatap tajam ke arah pemuda itu saat Asha memilih melepas tangannya.
"Bukan," jawab Asha seraya mendelik dan menunjuk wajah pemuda itu dengan geram.
"Ada apa, Sha?" tanya Arga yang mendekat. Asha kalang kabut. Dia harus mendekati Arga yang mulai gusar. Asha segera mencegah langkah Arga mendekati pemuda ini. Dengan raut wajah yang kaku, Arga menunggu jawaban Asha.
"Tidak ada apa-apa," jawab Asha sambil mencoba menenangkan Lelaki ini.
"Setelah jadi preman, kau jadi simpanan orang-orang kaya?" tanya pemuda itu penuh dengan amarah. Telinga Asha panas dan matanya semakin nanap saat melihat Arga menghampiri pemuda itu dan ingin menghajarnya. Tapi dengan cepat Asha menarik lengan Arga.
"Jangan!" cegah Asha. Memeluk tubuh Arga agar tidak bisa mendekati pemuda itu untuk melayangkan pukulan.
"... Dan kau! Tutup mulutmu kalau hanya ngomong yang enggak ada guna!" Asha meneriaki pemuda itu dengan kesal dan juga menunjuk dengan marah. Arga melirik ke arah Asha yang sedang memeluk tubuhnya. Marahnya sedikit mereda dengan seketika. Kemudian menarik napas panjang dan membuang rasa kesal, karena seorang pemuda telah lancang mengatakan hal-hal yang buruk ke Asha.
Namun Arga juga curiga. Kenapa Asha menahan tubuhnya dengan keras agar tidak bisa menyerang pemuda itu.
"Kau tahu! Aku juga ingin sepertimu yang bebas memilih sendiri jalan hidup setelah lulus sekolah. Bukan harus di dikte seperti ini!" pekik pemuda dengan raut wajah emosi campur aduk. Arga mengerutkan kening. Tidak paham dengan kalimat barusan.
"Jangan curhat disini. Diam dulu. Kita bicara baik-baik," sahut Asha menanggapi pekikan pemuda itu. Asha masih memeluk tubuh Arga.
__ADS_1
"Kau kenal? Dia siapa?" tanya Arga kemudian sambil menatap Asha yang mulai melepas pelukannya dan berdiri di sebelahnya. Bibir Asha berdecak kesal seraya mendelik marah ke arah pemuda itu.