
Asha kembali ke meja tempatnya memesan. Dia tidak menemukan sosok yang di lihatnya. Mungkin itu ilusi. Seringkali Asha seperti melihat dia berada di dalam mall ini. Seperti saat dirinya berada dalam lift dengan kaca transparan itu. Matanya juga merasa melihat dirinya di sana.
Mungkin aku kelaparan jadi aku melihat sebuah ilusi. Lebih baik makan saja dulu.
Asha mencoba menenangkan diri dengan mulai makan. Di lihatnya tidak ada balasan dari Arga. Mungkin mereka masih membicarakan pekerjaan dengan sangat lama. Dia tidak ambil pusing. Tangannya meletakkan handphone di atas meja.
***
Di ruang kerja, Arga masih membicarakan soal butik milik Chelsea. Dia berencana membuka butik di Mall milik keluarga Hendarto yang baru.
"Soal ini kau bisa membahas dengan manajer penyewaan, bukan denganku," kata Arga yang menyayangkan dia harus meninggalkan Asha demi pekerjaan yang tidak harus dia urusi sendiri.
"Aku lebih nyaman berbicara denganmu dan juga... Aku ingin tahu siapa Asha itu?" tanya Chelsea tanpa menyembunyikan rasa ingin tahunya dari Arga. Rendra yang ada di sana juga mendengar pertanyaan ini.
"Kenapa perlu tahu?" tanya Arga dengan rasa enggan tidak terbantahkan.
"Aku ingin tahu karena kamu menjadi aneh, Ga. Kamu terlihat sangat dekat dengannya. Itu aneh rasanya." Chelsea mengatakannya dengan menautkan alis pertanda itu hal baru yang bisa di lihat oleh dia.
Arga menarik tubuhnya untuk bersandar di bahu sofa. "Kenapa aneh? Itu bukan lagi urusanmu, Chelsea. Ini sudah di luar area yang patut kamu pertanyakan." Arga mengatakannya dengan dingin. Chelsea menipiskan bibir.
"Apakah dia...."
Tok! Tok! Suara pintu terketuk membuat kalimat Chelsea tidak terselesaikan. Semua mendongak. Apakah Asha? Raut wajah Arga mengatakan demikian. Rendra sigap dan berdiri mendahului Tuannya. Arga memang hendak berdiri untuk membuka pintu.
Chelsea tidak bisa melanjutkan apa yang dibicarakannya karena mata Arga lebih fokus melihat ke arah pintu. Seperti menanti seseorang muncul dari sana. Dia seperti tahu siapa yang di nanti Arga.
"Anda harus menerima tamu kita," kata Rendra penuh penegasan dan misteri. Chelsea lelah melihat raut wajah ketertarikan Arga akan tamu kali ini. Dia hanya melihat ke arah ponselnya. Sementara Rendra mempersilakan tamunya masuk.
"Selamat datang...," sapa Arga dengan sapaan formal. Chelsea mendongak karena dia mengira tamu ini pasti bukan Asha gadis pelayan tadi. Arga tidak akan menyambutnya dengan formal seperti itu. Apalagi suara itu suara seorang laki-laki. Kepala Chelsea menoleh dan terkejut melihat Evan bersama Tuan William muncul disana.
Mereka saling memandang. Ada rasa terkejut yang terpancar dari wajah keduanya. Mereka saling mempertanyakan ada keperluan apa mereka ada di sini? Mereka suami istri yang penuh rahasia.
"Silahkan duduk," ujar Arga mempersilakan. Tuan William tersenyum dan tersentak saat melihat ada perempuan duduk di sofa.
"Kamu ada tamu ya?" tanya Tuan William. Arga mengangguk. "Bukannya ini istrimu Evan?" Ternyata Tuan William mengenali Chelsea. Tubuh perempuan itu berdiri dan memberi salam.
__ADS_1
"Selamat siang, Tuan William," sapa Chelsea ramah. Mata Evan masih saja menatap ke arah istrinya. Perempuan ini tidak membalas tatapan suaminya.
"Selamat siang. Duduk saja, duduk saja. Pembicaraan saya tidak rahasia. Istri Evan bisa mendengarkan juga. Evan, kamu tidak tahu istrimu ada disini?" tanya Tuan William heran melihat Evan tidak mengeluarkan kata sepatah pun.
"Ah, iya Tuan," jawab Evan samar. Chelsea bergeser dan pindah tempat duduk di samping Rendra. Sementara Tuan William dan Evan di depan mereka.
Mata Evan masih saja menatap istrinya dengan banyak pertanyaan. Dugaan-dugaan juga banyak terlintas di benaknya. Ada perlu apa Chelsea kesini sendirian? Mata Rendra juga sesekali melihat ke arah mereka berdua.
Chelsea hanya tersenyum menanggapi dengan senyuman saat Tuan William juga melibatkan dia dalam perbincangan ringan. Dia tidak bisa menatap Evan yang sangat dia tahu pasti, bahwa sedang memandanginya saat ini.
***
Asha sudah menyelesaikan makannya dan keluar sambil membawa satu cup tea dingin ukuran sedang. Dia tidak menghabiskannya tadi saat makan, jadi dia membawanya keluar.
Berjalan lagi di area city walk di dalam Mall. Asha tidak tahu seseorang sedang memandanganya dari arah berlawanan. Mencoba memandang Asha dari tempatnya berdiri. Rambut Asha yang panjang bergelombang di biarkan tergerai semua.
Setelah di gelung tadi, Asha merasakan akar-akar rambutnya kesakitan. Jadi sekarang dia membiarkan rambutnya tergerai. Kepalanya melihat ke kanan kiri melihat outlet-outlet yang berjajar rapi. Akhirnya dia bosan untuk melihat kesana-kemari. Dia memutuskan melihat ke depan.
Saat ini matanya menemukan sesuatu yang membuat tubuhnya membeku. Langkahnya terhenti. Ini bukan lagi karena dia lapar. Bukan pula karena malas untuk melangkah. Tubuhnya membeku karena seseorang di sana. Berdiri dengan kemeja berwarna navy.
Asha mendapati dia yang bertransformasi dengan baik. Benar. Tubuh itu semakin tinggi dari yang ia ingat, mungkin hanya beberapa centi saja atau tubuhnya hanya terlihat menjulang tinggi karena lama tidak bertemu. Dia tidak memahami.
Asha berhasil menemukannya. Dia! Salah satu manusia yang sangat di inginkan Asha untuk bertemu lagi. Ya, pria itu. Sejak perginya seseorang bermata hitam pekat itu, sampai detik ini netranya masih menemukan gurat wajah hangat yang sangat di inginkannya. Asha terpana menemukan dirinya. Matanya nanar.
Ingatan Asha kembali ke masa-masa itu. Masa dimana hati dan matanya selalu terpaut dan terpaku pada dia. Bahu tegap, hidung mancung, pipi tirus dan rahang kuat yang menegaskan bahwa dia lelaki kuat dan berotot. Alisnya terlihat seperti mengernyit setiap waktu yang menunjukkan tatapan matanya juga tajam.
Setiap melihat ke arah jalanan, yang di inginkannya adalah menemukan dia yang dulu selalu tersenyum hangat kepadanya. Ya. Dia Reksa.
Dia juga sedang membeku disana. Memandang Asha dengan tatapan berbinar karena mendapat sebuah kejutan. Setelah berhasil memastikan bahwa indra penglihatannya benar, kakinya melangkah mendekat. Asha masih berdiri di tempatnya. Seperti tidak bisa kemana-mana selain menunggu pria itu mendekatinya.
Akhirnya pria itu berhasil berdiri tepat di depannya. Asha sedikit mendongakkan kepalanya menatap pria itu. Bibirnya terbuka sedikit karena tertegun dengan temuannya. Matanya masih saja takjub.
"Hai, Sha. Kamu kah ini?" tanya Reksa dengan tersenyum. Mata Asha mengerjap. Menyadarkan dirinya sendiri untuk sadar.
"Ah, ya... Ini aku," jawab Asha sesudah bisa mengumpulkan semua kesadarannya. Tangan Asha menyisir rambut dan membasahi bibir guna menetralkan keterkejutannya dari semua rasa yang ada di hatinya. Banyak wanita mencoba menyembunyikan rasa gugupnya karena bertemu orang di cintainya, dengan menyisir rambut tanpa sadar atau menyelipkan rambut ke belakang telinga.
"Aku tidak menyangka bisa menemukanmu lagi," ujar Reksa dengan mata hangatnya. Seperti sangat lega bisa menemukan gadis ini.
Aku juga. Aku bahkan tidak pernah bermimpi akan bertemu denganmu. Karena, mimpi saja tidak menginginkan aku untuk bertemu denganmu.
__ADS_1
"Semua baik-baik saja, Sha?" tanyanya khawatir karena melihat Asha masih seperti terjebak dalam pikirannya. Tangan
Reksa menyentuh lengannya. Membuyarkan lamunan Asha.
Bangun Asha! Kamu tidak harus bersikap seperti ini.
Asha mendengkus akhirnya, "Ya. Semuanya baik-baik saja. Bagaimana kabarmu?"
"Baik. Aku melihatmu di sana dan tidak yakin itu kamu. Akhirnya aku harus menunggumu keluar dari sana untuk memastikan bahwa itu adalah kamu." Cerita Reksa sambil menunjuk tempat dia makan tadi.
Sesaat setelah berbincang dengan seseorang di ujung jalan tadi, pria ini menoleh kebelakang. Seperti melihat seseorang yang di kenalnya. Namun Asha sudah masuk ke dalam untuk melanjutkan makan.
Dia sengaja kembali, mencoba memastikan bahwa memang ada seseorang yang dikenalnya ada di sana. Saat itulah dia melihat Asha. Masih belum yakin, pria ini sengaja menunggu Asha keluar.
Ternyata usahanya menunggu tidak sia-sia. Dia menemukan gadis ini. Ya, Reksa menemukan Asha sedang berjalan membawa cup tea dan mematung di sini.
"Aku senang bisa melihatmu lagi, Sha." Reksa tidak menyembunyikan kegembiraannya sehingga membuat Asha semakin berdebar kencang.
Jangan menunjukkan raut wajah itu, Rek. Jangan... Raut wajah itu bukankah seharusnya dingin? Kamu biasanya hanya menatapku tajam, bukan? ataukah kamu memang seperti ini? Mendadak ingatannya buram. Seperti sengaja menghilang karena Asha sudah berhasil menemukannya.
Pria ini sepertinya memang punya kepentingan disini. Pakaiannya rapi. Celana formal dan sepatu pantofel hitam membuatnya semakin memukau di mata Asha. Reksa memang seperti sedang dalam jam kerja. Apakah dia kerja disini? Di dalam mall ini? Dimana dia?
Dering terdengar. Asha yakin itu dari handphone milik Reksa. Tangan Reksa mengambil dari saku celana dan menerima panggilan telepon itu. Mata Asha masih tetap memperhatikan pria di depannya.
Aku rindu, Rek.
"Maaf, Sha. Aku tidak bisa berlama-lama berbincang denganmu. Aku masih bekerja." Mata Asha mengerjap saat tiba-tiba Reksa mengajaknya berbicara. Dia sudah selesai berbicara lewat telepon rupanya. "Bisa ... Tidak, tidak. Aku akan menemukanmu dalam waktu dekat, pasti. Jaga dirimu sebelum kita bertemu, Sha," ujar Reksa masih dengan senyuman hangat.
***
Entah punya firasat atau hanya sebuah kebetulan, handphone berdering sesaat setelah kaki Reksa melangkah pergi.
"Dimana? Sendiri?" tanya Arga lewat handphone-nya. Seperti sedang menginterogasi. Seperti tahu bahwa gadisnya baru saja bersama seseorang.
"Area citywalk. Aku akan ke kantormu kalau memang aku harus kesana," kata Asha.
"Pembicaraan sudah selesai. Aku sudah menunggumu," ujar Arga ingin segera bertemu.
"Baiklah." Asha menghela napas berat. Mengkedip-kedipkan mata seakan tengah melakukan senam mata. Matanya sempat berembun tadi. Saat menatap Reksa dari dekat. Asha ingin menangis.
__ADS_1