
Terima kasih buat kalian yang masih setia membaca cerita ini. Juga yang sudah vote, like dan kasih komentar. Semua dukungan kalian terhadap cerita ini sangat menyenangkan❤❤ Terima kasih 😍_ salam dari ARGA dan ASHA.
Selamat membaca!
Masih di area yang sama tapi tempat yang berbeda, dimana ada Paris dan Sandra temannya. Paris yang sengaja menjauh dari kakaknya sebenarnya tidak punya ide untuk pergi kemana. Dia hanya ikut kakaknya agar punya alasan lagi untuk mengajak Asha kencan.
"Barusan kak Arga sama kak Asha kan? Pelayan di rumah kamu, itu..," kata Sandra sambil mengemut permen lolipop. Paris mengangguk, "Mereka kayak pacaran, deh."
"Bukan kayak, tapi iya." jelas Paris. Wajah Sandra sudah merona merah dan indah. Bibirnya mengkerucut gemas dengar cerita Paris soal jadian kakaknya dengan pelayan rumah, kak Asha. "Eits, gak boleh ember kemana-mana soal ini, ya. Mulut kamu harus di jaga. Awas kalau sampai berita ini di dengar keluarga kamu. Bisa-bisa laporan sama bundaku," kata Paris memberi ancaman dan peringatan pada Sandra sebelum semuanya menjadi luas.
"Mmm... ini so sweet, Paris. So sweet. Kakakmu seperti seorang pangeran yang sedang mencintai seorang perempuan biasa tapi istimewa. Mmmm... Ini seru, Parissss...." ujar Sandra sambil memukul-mukul lengan Paris dengan kegemasan yang sudah tidak bisa di tolerir.
Paris mengangguk-angguk tidak antusias dengan kegemesan Sandra.
"Cerita kakakmu seperti di dunia dongeng para barbie... Aku jadi geregetan sendiri membayangkan mereka berdua pacaran sembunyi-sembunyi. Kak Asha memang keren sih, kayak kamu gini. Jagoan tangguh yang anti mainstreem." Sandra menjentikkan jari sambil mengangkat kedua alisnya ke arah Paris. Tubuh Sandra terus saja bergerak karena gemetar kesenangan.
"Sudah. Jangan gerak-gerak terus. Kamu mirip ulat bulu deh.." maki Paris lihat Sandra tidak bisa diam gemetar-gemetar gemes karena cerita cinta ini.
"Yah, Paris enggak paham cinta sejati deh."
"Memangnya kamu sendiri ngerti cinta sejati? Kita yang selalu bertemu perempuan dan di pingit setiap hari di asrama sekolah itu mana tahu cinta-cintaan..."
"Memang. Disekolah aja kamu yang jadi idaman para perempuan di sekolah asrama. Kejantananmu sebagai jagoannya sekolah itu membuat mereka memandangmu seperti idola. Itu aneh tapi seru. Makanya aku mau jadi temanmu," Sandra memeluk tubuh Paris.
"Berarti kalau aku enggak keren, kamu tidak mau jadi temanku nih.."
"Mungkin," jawab Sandra menjulurkan lidahnya. Paris mendengkus manyun. Langkah mereka terus menyusuri lorong Mall yang luas ini tanpa tujuan. Ada outlet jam tangan di sebelah kanan, Paris membelokkan kaki menuju ke arah outlet itu.
Sebentar lagi ulang tahun kakaknya, dia ingin memberikan kado nantinya. Karena Arga sering kali memakai jam tangan analog dan digital. Berarti kado ini akan berguna. Sandra sih walaupun enggak minat, kalau Paris yang ngajak, oke-oke saja.
"Kakakmu bagaimana, Dra?"
"Kak Biema? kenapa?"
"Kok kenapa, sih? Kan gara-gara ulahmu aku jadi menyerangnya, tahu!" Paris jadi naik darah lagi. Padahal dia sendiri yang memulai membahas ceita ini.
"Iya, ya.. Aku ingat. Awalnya dia marah sih. Apalagi mukanya pas itu sempat lebam karenamu dan di tanyakan sama Mama."
"Gimana respon mamamu?" tanya Paris berbalik melihat Sandra cenas.
"Tenang... Kakakku tidak akan mengungkapkan kekalahannya sendiri kok. Dia cukup tahu bahwa dengan memberitahu kejadian itu, mama akan tahu bahwa dia telah di kalahkan oleh seorang perempuan. Jadi kakak bungkam dengan beralasan jatuh dan sebagainya," jelas Sandra dengan sesekali mencebikkan bibirnya. Menganggap itu hal biasa. Bukan hal yang bisa patut membuat Paris takut.
"Aku bisa merasa lega?"
"Bisa. Urusan sama kak Biema aman kok."
"Syukurlah. Aku bisa tenang," ujar Paris menegakkan bahunya lagi.
Mendadak kaki Paris berhenti dan mengajak Sandra pergi, tapi dia lupa pintu itu ada disana. Sandra yang ditarik-tarik oleh Paris bingung.
__ADS_1
"Kenapa sih, Paris?"
"Kita harus mengindar. Menghindar," kata Paris merapalkan sesuatu.
"Menghindari siapa?" tanya Sandra enggak paham. Paris berwajah panik saat ini.
"Aku yakin kamu sedang menghindari aku," ujar sebuah suara. Aahhh!! Paris berteriak dalam hati.
"Oh, kakak kelas. Halo.." sapa Sandra ramah. Benar. Paris melihat kakak kelas ini di pintu kekuar. Dia, pria dengan tubuh sempurna dan bagus yang bertemu Paris di pasar tradisional. Paris ikut mengangguk untuk menyapa tanpa mengucapkan apa-apa. Terpaksa.
"Kenapa kamu menghindari kak Lei?" tanya Sandra tanpa mengecilkan suaranya. Paris menepuk punggung Sandra pelan. Bermaksud menyuruh Sandra menutup mulut embernya. Mata Sandra menoleh ke Lei dan meringis karena keceplosan.
"Padahal aku berharap bisa lebih mengenal kalian, karena kita satu sekolah," kata Lei bohong. Matanya hanya menatap Paris. Kata kalian dipakai hanya untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang mengganggu Paris. Gadis ini hanya merasa malu, dia juga sebenarnya senang bertemu dengan dia, Lei.
"Iya, kak. Kita juga anak baru di sekolah. Mohon bantuannya, ya. Nomor kakak berapa?" tanya Sandra tiba-tiba. Mata Lei terangkat kaget mendapat todongan minta nomor handphone dari seorang cewek. Namun bibirnya tersenyum. Dia menyanggupi memberi nomor handphone.
Lalu Lei menyebutkan dua belas angka ke Sandra, dengan sigap Sandra mengetik di handphone dan menyimpannya. Setelah itu mengirim nomornya sendiri.
"Sudah. Aku save ya. Lalu... dia?" tanya Lei sambil melirik ke Paris. Gadis ini seperti tidak berminat. Sandra menyenggol lengan Paris. Kepala Paris noleh. "Kak Lei tanya nomormu," Sandra memberitahu.
"Oh, kasih aja lewat nomormu," ujar Paris sambil nunjuk ke handphone Sandra. Lei tidak menyangka gadis itu dengan mudah akan memberikan nomornya. Soalnya, Paris sudah memasang raut wajah enggan.
"Iya, kak. Aku kirim ke nomor kakak, deh," Lei mengangguk.
"Kalian sedang apa? Lagi cari kado yah?" tanya Lei yang melihat kesekeliling.
"Iya, kado ulang tahun," jawab Sandra. Gadis ini memang ramah, dia melihat Paris yang sepertinya enggan menjawab, jadi dia memposisikan dirinya sebagai juru bicara.
"Bukan. Kakakku." Kali ini Paris sendiri yang jawab. Seperti tidak ingin menjadi ambigu kalau-kalau Sandra yang jawab lagi. Lei mengangguk dengan wajah seperti sedang menahan senyum. Dia sepertinya sedang senang. Handphone Lei berdering, matanya tertuju pada layar.
"Aku pergi dulu, ya.. Kita bisa jumpa lagi di sekolah. Terima kasih buat nomor handphone-nya," ujar Lei berpamitan dan beranjak pergi. Paris menghela napas panjang dan membuangnya perlahan.
"Kamu kenapa sih? Enggak seperti Paris biasanya," tanya Sandra heran. Paris itu cewek paling cool dan tangguh di sekolahnya dulu.
"Dia ganteng. Aku gak kuat sama cowok ganteng. Badannya bagus pula. Aih, gak tahan sama yang begitu," ujar Paris benar-benar seperti kehabisan napas. Matanya melebar karena merasa takjub.
"Waaa... kamu lagi terserang penyakit jantungan ya.."
"Benar. Kegantengannya gak baik buat jantung. Berdetak dengan kencang terus jantungku."
"Tapi bagus buat mata dong," selidik Sandra dengan nada menggoda.
"Benar," Paris mesem.
"Trus, kenapa malah menghindar dan banyak diam tadi?"
"Karena itu aku jadi gugup dan salah tingkah. Aku merasa berdebar di sini," tunjuk Paris ke dadanya dengan wajah menerawang dan suara pelan. Sandra cekikikan.
"Jatuh cinta nehh.."
"Iya kali," masih dengan nada yang pelan dan bibir yang tersenyum terus. Dering handphone milik Paris membuyarkan lamunannya akan Lei. "Halo Kak Arga. Iya, kak..." Sepertinya Arga sudah selesai nyari makannya dan ingin pulang.
__ADS_1
"Kak Arga mau pulang," kata Paris sambil menekan tombol merah menghentikan panggilan telepon Arga.
"Dihh... begini saja nih. Enak di kamu dong,"
"Kenapa?"
"Kamunya sudah bisa ketemu kakak Lei yang ganteng. Lha... aku, gimana dong?"
"Jangan berisik. Anggap saja ini penebusan kamu yang telah bikin aku di giring ke kantor polisi," ujar Paris sambil mendekatkan tubuhnya ke Sandra. Berbisik dengan geram. Sandra pias.
"Ya ampun Pariss.. Belum lunas ya. Kalau bahas itu sih aku pasti kalah dong," rengek Sandra.
"Terserah." Paris cuek. Sandra memeluk lengan Paris dan bergoyang-goyang tidak jelas.
"Iya, iya. Jangan cemberut gitu dong," rayu Sandra. Dia tidak bisa kalau harus berpusah sama Paris temannya.
Arga dan Asha duduk dulu di bangku berbahan stainless yang di sediakan pihak Mall yang tak lain adalah bawahan Arga. Asha memandang takjub. Bukan karena besarnya Mall ini, tetapi karena lelaki di sebelahnya. Dia adalah anak pemilik tempat ini. Sekarang dia berstatus sebagai kekasihnya. Apakah berlebihan jika Asha merasa takjub dan sering tidak percaya?
Dia bagaikan seorang manusia yang sedang hidup dalam kisah dongeng. Bibir Asha tersenyum.
"Senyum senyum sendiri, kenapa?" selidik Arga.
"Kamu, aku dan semua yang saat ini terjadi padaku, seperti cerita dongeng," ujar Asha mengulas senyum lagi. Namun mata itu menatap sedih.
"Kita ke mobil yuk, Paris sepertinya bentar lagi sampai," Arga mengulurkan tangan meminta asha berdiri. Asha menurut. Lalu Arga meletakkan tangannya di bahu Asha. Lalu kaki mereka melangkah menuju area parkir.
**
Paris sebenarnya ingin cerita soal Lei tadi, tapi.dia tidak ingin mengganggu momen berduaan dua orang di depannya. Jadi Paris tetap membungkam mulutnya sampai di depan rumah.
"Aku masuk dulu.." pamit Paris.
"Ya," jawab Arga dan Asha hampir bersamaan. Arga memutar dan menghampiri Asha.
"Aku masuk juga. Aku lewat belakang," pamit Asha.
"Aku temani," ujar Arga dengan tegas tanpa ingin di bantah. Akhirnya mereka berdua berjalan beriringan menuju pintu belakang. Entah kenapa mereka diam dan tak bersuara sepanjang jalan menuju pintu belakang.
Akhirnya sampai juga di depan pintu berwarna abu-abu dan dua lampu hias di kedua sisinya. Ada pohon cemara kipas setinggi pintu, juga di kedua sisinya.
"Sha," panggil Arga membuat langkah Asha terhenti. Kaki Arga berjalan mendekat. Mata Asha menatap menunggu lanjutan kalimat Arga. Secara tiba-tiba tangan besar itu memeluk tubuh Asha. Mata Asha membeliak terkejut. Ini di area rumah. Meskipun ini larut malam, tapi untuk berpelukan di sini sedikit menakutkan.
"Ga... Ini di rumah. Jangan seperti ini." Asha memberi peringatan.
"Diamlah. Jangan bergerak. Ini hanya sebentar. Aku yakin ini aman," pinta Arga. Asha mendiamkan lelaki itu melingkarkan tangannya pada pinggang dan memeluknya.
Arga menenggelamkan kepalanya pada lekukan antara bahu dan leher. "Aku, kamu dan semua yang terjadi pada kita itu bukan dongeng, Sha. Ini kenyataan. Jangan menganggap semua ini tidak nyata," ucap Arga membuat Asha tersenyum tipis. "Hubungan kita nyata. Kamu bisa merasakan aku yang sedang memelukmu malam ini. Jangan berpikiran macam-macam." Arga bisa menangkap kegelisahan gadis ini. Asha selalu merasa cemas dan was-was. Setiap bersama Arga, Asha memang tidak bisa membiarkan dirinya tenang. Ada saja hal yang mengganggu pikirannya.
__ADS_1