
Ada arisan nanti sore. Setelah pekerjaan dapur semua selesai, Nyonya Wardah meminta Asha menemaninya belanja. Ini hal pertama baginya berinteraksi dengan Nyonya Wardah di luar rumah. Dada Asha berdetak kencang. Takut. Takut salah bersikap, salah berbicara.
Mereka berdua menuju ke pasar tradisional yang di datangi Paris dan Asha waktu itu.
"Ibu kamu itu pintar memasak ya, Sha?" tanya Nyonya Wardah memulai percakapan di dalam mobil.
"Iya ..."
"Kamu itu mungkin sebenarnya bisa memasak tapi kurang praktek. Makanya jadi kelihatan tidak bisa. Padahal sepertinya kamu punya bakat." Kalimat ini seperti menyimpan rasa kecewa bahwa menantunya kurang bisa memasak.
Asha diam. Merasa kecil karena tidak menguasai keahlian yang di miliki mertua dan orangtuanya. Belanjaan sangat banyak, tangan Asha membawa dua belanjaan besar di kedua tangannya.
"Wah ... Nyonya, bersama putrinya ya? Jarang-jarang Nyonya ini belanja bersama putrinya," tegur seorang pedagang daging sapi. Nyonya Wardah hanya tersenyum. Tidak membantah ataupun mengiyakan. Asha merasa sedikit kecewa. Nyonya Wardah seperti tidak ingin terlalu membahas soal dirinya. Ada helaan napas kecil yang di hembuskan lewat hidung oleh Asha.
Dari acara belanja ini Asha jadi tahu langganan keluarga Hendarto saat memenuhi kebutuhan sayuran dan lauk segar. Kalau dulu saat di suruh ke pasar dengan Paris, Asha hanya memilih tempat seenaknya saja. Jika saat ini sudah tahu tempat langganan, akan terasa lebih menyenangkan saat berbelanja sendiri lagi nanti.
Karena nanti akan ada acara makan-makan di rumah Hendarto, belanjaan kali ini menjadi lebih banyak dari biasanya. Dua tangan Asha penuh dengan dua kantong plastik penuh berisi belanjaan. Dia membiarkan Nyonya Wardah hanya membawa satu kantong kresek belanjaan.
Angga yang melihat Asha susah payah membawa belanjaan dari tempat dia memarkir mobilnya, segera mendekat.
"Saya bawakan Nyonya," ujar Angga. Nyonya Wardah menyerahkan kresek belanjaannya. Setelah itu Angga membantu Asha membawa satu belanjaanya.
"Terima kasih." Senyum Asha terbentuk di bibirnya. Angga mengangguk sopan. Dia juga jadi canggung karena Asha yang dulu jadi rekannya, sekarang jadi majikannya. Perubahan drastis.
Sejak siang tadi Asha sudah membantu nyonya Wardah di dapur. Menyiapkan acara arisan dan pasti ada acara makan-makan yang nanti sore di adakan di sini. Asha memang tidak ahli memasak, tapi dia cukup cepat juga saat memotong-motong sayuran dan bumbu. Ini biasa dia lakukan karena membantu Ibu. Sehingga pekerjaan juga tidak molor karena dibantu oleh tenaga amatir.
Sore tiba.
Ibu-ibu komplek perumahan mulai berdatangan. Semua langsung menolehkan kepala ke kanan dan ke kiri. Penasaran dengan menantu baru nyonya Wardah. Namun karena Asha ada di dalam, mereka tidak bisa melihatnya. Acara kali ini di letakkan di taman belakang. Langit sore ini cerah, yang bagus sekali buat acara outdoor.
__ADS_1
Sebenarnya mereka sudah bertemu dengan Asha saat acara resepsi waktu itu, tapi mereka tetap saja penasaran dengan dongeng cinderella ini. Si kaya memperistri si miskin. Asha muncul kemudian. Karena sudah menjadi warga perumahan ini, ketua arisan segera mencatat Asha sebagai anggota tanpa di minta.
Asha menyalami semua orang. Banyak reaksi tidak sama saat melihat Asha. Ada yang tertegun karena ini sungguhan nyata. Ada yang hanya tersenyum sekilas tanpa perlu berkomentar apa-apa. Ada juga yang langsung bertanya.
"Beruntung ya, jadi kamu. Bisa jadi menantu keluarga Hendarto," bisik seorang ibu yang di kenal Asha rumahnya berjarak tiga rumah dari rumah keluarga Hendarto. Asha hanya tersenyum bijak. Setelah dirasa cukup, Asha pamit ke belakang mempersiapkan makanan.
"Itu menantunya ya?" tanya Bu Haidar saat melihat Asha melintas, juga menyempatkan diri menyalami. Lalu pamit ke dapur membantu Bik Sumi.
"Iya," jawab Nyonya Wardah seraya tersenyum.
"Katanya Bu Ani dia bekas pelayan Anda, benar?" tanya ibu ini seraya menilik ke arah wajah Nyonya Wardah. Tidak ada rasa sungkan saat menanyakannya. Bu Haidar ini merasa biasa saja dengan pertanyaannya. Tidak ada yang aneh.
Apalagi pertanyaan Bu Haidar ini juga sudah sering di tanyakan tetangga-tetangga yang ingin tahu saja tentang orang lain. Mereka selalu mempertanyakan status Asha yang jadi pelayan di rumah ini. Itu menambah poin bahwa pertanyaan ini wajar jika di tanyakan.
"Iya. Kenapa, Bu? Ada yang salah?" tanya Nyonya wardah tenang.
"Tidak... Saya berpikir Anda ini sangat baik hati. Mau menerima perempuan yang pernah jadi pelayan di rumah ini jadi menantu. Saya salut. Menantu Anda harus benar-benar tahu diri," jawab Bu Haidar dengan mimik wajah menyebalkan. Semua yang merasa sependapat dan sepaham mengangguk mengiyakan. Setuju dengan pendapat nyonya Haidar.
Sekarang menginjak pada waktunya acara makan, Nyonya Wardah mempersilakan ibu-ibu untuk menuju ke meja makan panjang yang sudah di sediakan. Semua mata tidak mengarah ke meja makan, mereka melihat ke arah Asha yang sudah ada di sebelah meja. Tersenyum menyambut kedatangan mereka. Masih saja merasa tidak cukup untuk meneliti orang yang sangat beruntung ini.
Cerita si miskin menjadi menantu si kaya ini sangat menyita perhatian mereka. Nyonya Wardah tahu mereka selalu ingin melihat Asha. Bukan karena ingin kenal, tapi karena kisah cinta perempuan ini dengan putranya.
Asha mempersilakan mereka makan. Berusaha bersikap wajar walau mata ibu-ibu itu menatap penuh selidik.
"Ayo, kamu tidak makan juga?" tanya seorang nyonya yang Asha tahu rumahnya ada di ujung blok ini. Asha tersenyum sambil menggeleng.
"Silakan saja." Tangan Asha terbuka sambil menunjukkan makanan di atas meja.
"Sudah, ayo ...." Tangan Nyonya Rene menarik tangan Asha untuk ikut gabung. Sepertinya nyonya ini sedikit iba melihat Asha seperti kaku dengan predikat barunya. Istri dari Arga Hendarto. Juga karena kalimat-kalimat nyinyir ibu-ibu yang mungkin merasa Asha tidak sepadan dengan mereka atau sebenarnya mereka iri dengan nasib mujur Asha.
Bibir Asha tidak bisa menolak saat sudah seperti ini. Dia menuruti keinginan Nyonya Rene. Nyonya Wardah melihatnya. Beliau memperhatikan menantunya di tarik untuk ikut gabung oleh Nyonya Rene. "Udah ... ayo ikutan makan." Nyonya Rene sudah mengambilkan piring dan menyodorkan ke Asha. Ini memaksa.
"Sha, minta ambilkan air putih dong...," pinta seorang nyonya sambil tersenyum.
__ADS_1
"Sepertinya ada yang membutuhkan pertolongan saya." Asha hendak meletakkan piring, tetapi nyonya Rene mencegah.
"Biarkan. Biar mereka ambil sendiri," bisik Nyonya Rene. Asha diam.
"Kamu kan orangnya baik," kata nyonya itu sambil menyentuh pundak Asha. Orang ini tidak patah semangat untuk memaksa dirinya.
Bohong. Tidak mungkin aku baik. Nyonya ini hanya ingin menyuruhku saja.
"Di dekat Anda tadi juga ada air kemasan, Bu. Ambil itu saja. Asha sudah terlanjur mau makan ini...." Padahal piring Asha masih kosong. Nyonya Rene mengedipkan mata supaya Asha segera mengambil nasi dan lauk.
Nyonya itu terpaksa menurut dengan bibir menipis. Geram sepertinya. Mereka memang seperti sengaja terus menerus meminta tolong, padahal mungkin saja biasanya juga tidak seperti ini. Asha paham ini karena statusnya yang merupakan mantan pelayan.
"Saya tidak enak sama mereka, Nyonya..."
"Mereka itu biasanya juga tidak begitu. Sangat aneh kalau tiba-tiba mereka jadi manja karena ada kamu." Nyonya Rene tahu tentang ketidaknyamanan ini. "Makan saja. Masakan mertuamu memang enak," ujar Beliau sambil tersenyum.
Berkat Nyonya Rene, Asha bisa tersenyum jujur. Kalau tadi memang hanya sebatas menghormati mereka, tapi senyumannya kali ini tulus. Asha benar-benar tersenyum karena berterima kasih.
"Kamu ikut juga arisan ini, toh?" tanya Nyonya Rene mencari topik pembicaraan. Asha hanya mengangguk. Mulutnya masih penuh dengan makanan. "Belum pernah datang ke rumah mereka, ya?"
"Iya belum. Ini pertama kali saya ikut."
"Sekarang jadi tinggal di rumah saja ya, tidak ada kegiatan."
"Benar."
"Pasti bosan, ya...,"
"Tidak juga. Disini kan tempat saya dulu bekerja. Jadi ya ... sudah terbiasa sih."
"Mertuamu hebat bisa menerima kamu. Patut bangga nih, sama mertuanya ...." Walaupun isinya sama seperti nyonya-nyonya tadi katakan, cara penyampaiannya beda. Tidak ada nada mengejek atau merendahkan Asha. Nyonya Rene mengatakannya seperti sebuah nasehat, bukan hinaan. Juga pujian tulus pada nyonya Wardah.
__ADS_1