
Asha masih bisa mengingat aroma maskulin milik Arga saat tak sengaja dirinya menabrak tubuh lelaki itu. Aroma seorang lelaki dan harum parfum yang menyatu jadi satu menjadikan aroma maskulin yang khas. Aroma itu mengingatkan Asha pada seseorang yang masih bisa terlihat jelas nampak saat mata Asha terpejam.
"Kamu sedang apa?" teguran Arga membuat kilasan masa lalu itu terhapus. Di depannya muncul lagi tuan muda berwajah tampan dengan tubuh tegapnya sedang menatap dengan dua bola matanya. Tubuh itu sangat dekat yang membuat Asha harus mundur. Tangan Arga menarik bahu Asha agar tidak mundur. Jelas membuat Asha kaget.
"Kita pergi kesana, ke tempat Cakra. Jangan berjalan di belakang, aku tidak bisa melihatmu," kata Arga yang akhirnya membuat Asha membiarkan tangan itu menyentuhnya. Kepala Asha mengangguk mengerti. Yah, sebagai tuan mudasudah jelas dia ingin selalu mengawasi pelayannya.
"Hentikan bunyi-bunyian aneh dari handphonemu," Arga menunjuk ke benda yang di biarkan tidak di urus karena dia terkejut dirinya menabrak tubuh Arga. Perempuan muda ini segera sadar dan mendekatkan handphone di depan dada dengan kedua tangannya. Lalu menyentuh tombol untuk menghentikan permainan. Rupanya dia sedang bermain game. Lalu memasukkan handphone ke dalam waist bag miliknya.
Mereka bertiga mulai melangkah lagi. Kali ini Asha di sebelah Arga. Sementara Paris berjalan di belakang mengikuti mereka.
"Rambutmu masih berantakan, tuh," Tangan Arga terulur untuk menyentuh rambut depan Asha yang tiba-tiba saja mencuat ke atas kayak antena. Mungkin rambutnya tahu, pemiliknya sedang tidak bisa bergerak leluasa karena berada di sebelah tuan muda.
"Aku bisa merapikan sendiri," ujar Asha yang menolak. Arga menarik kembali tangannya yang mau merapikan rambut Asha. Paris hanya menghela napas saat menyaksikan interaksi ajaib Arga dan Asha dari belakang. Setelah selesai merapikan rambutnya, Asha mencoba meneliti ke samping. Ke arah Arga yang melihat ke depan.
"Kenapa lihat-lihat? Kagum padaku?" tanya Arga narsis sambil noleh ke Asha. Namun karena Asha langsung menunduk sambil menipiskan bibir karena geram, dia lihat depan lagi.
Cih! Pede banget nih abang. Memang kamu ganteng juga, tapi bukan itu keperluanku melihat-lihatmu dengan hati-hati.
"Bukan. Aku... mau bertanya." Asha mengucapkannya dengan hati-hati. Arga melirik, "Kunci kamar yang sudah kamu berikan ke aku, apa di sana tadinya ada sebuah mainan berupa kotak bening mirip kristal?" Arga menarik lirikan matanya dan mencoba mengingat.
"Kenapa?" tanya Arga.
"Anu... Kalau memang ada, sekarang benda itu ada dimana, ya? Aku ingin memintanya kembali." Asha mendongak melihat reaksi tuan muda. Lelaki itu diam sambil mencoba berpikir sesuatu.
"Penting?" tanya Arga sambil menaikkan alisnya.
"Tidak terlalu sih.." Asha menggeleng pelan.
"Kalau tidak penting ya sudah, tidak perlu mencari lagi barang seperti itu kan..." Masih dengan lagaknya yang tidak mau tahu, Arga malah memberi solusi yang buruk.
__ADS_1
Kamuuu... Menyebalkan!
"Tidak penting, tapi aku memerlukannya," tandas Asha tegas dan serius. Arga mencoba membaca raut wajah itu.
"Buat apa?" Arga masih bertanya. Lagi dan bertele-tele. Asha geram. Ingin rasanya mencakar-cakar wajah tampan itu. Bicaranya berputar-putar membuat Asha kesal.
"Untuk di jadikan mainan kunci, agar kunci tidak hilang lagi," jawab Asha sambilĀ berusaha tetap sopan meskipun sudah kesal membumbung tinggi di ubun-ubun.
"Beli saja yang baru." Asha mendelik melihat kelakuan tuan muda menjengkelkan ini.
Siapa saja, tolong angkut orang menyebalkan ini! rengek Asha di dalam hati.
"Benda itu mungkin pemberian seseorang," celetuk Paris yang gemas dengar kakaknya tarik ulur soal benda itu. Ingin tangannya menjitak kepala kakaknya dan berteriak, "Cepat serahkan benda itu!" Asha menoleh tersenyum tipis karena Paris menjabarkan dengan benar.
Sesama perempuan, Paris tahu kebiasaan-kebiasaan wanita. Saat dengar Asha 'ribut' soal mainan kuncinya yang hilang, pasti bukan harganya yang di persoalkan. Melainkan ada kenangan di dalam benda itu. Perempuan punya sifat sentimentil seperti itu. Lelaki kadang tidak paham. Menurut mereka itu sangat tidak penting.
Mendengar perkataan Paris, alis Arga bertaut, "Benda itu tidak ada. Aku tidak tahu," Akhirnya Arga menjawab dengan pasti pertanyaan yang terkait dengan benda yang di cari Asha. Kepala perempuan muda ini miring sambil berpikir lagi. Kenapa mendadak bilang enggak ada?
Paris melongo kakaknya bersikap seperti itu mendengar penjelasannya tadi. Apakah kakak sedang merasa tidak suka karena alasan itu? Melihat ini Paris membuat keputusan agar dirinya berjalan dengan mensejajari langkah Asha. Tangan Paris meraih lengan Asha dan memeluknya.
"Kita jalan bareng," pinta Paris dengan senyuman yang meski di buat-buat tapi ada jujurnya juga. Daripada jalan sendirian. Paris melirik ke kakaknya yang berada di sisi kanan Asha. Mata Arga juga melirik sebentar ke arah tangan Paris yang menggandeng lengan Asha lalu lihat ke depan lagi.
"Oke," Asha senyum setuju. Hubungan Asha sama anak majikannya yang sempat terlihat renggang karena pembelaan Asha ke Arga sekarang terlihat baik lagi. Kaki mereka melangkah membawa sampai tujuan, yaitu lapangan basket dimana Cakra menunggu yang ternyata tidak sendirian. Trio geblek sedang berkumpul.
"Jadi mau main basket? Tidak ada acara makan atau apa nih?" tanya Paris kecewa. Karena dia tidak bisa main basket. Paris sudah berpikir macam-macam karena kakaknya tiba-tiba menyuruh Asha masuk ke dalam mobilnya. Hanya berdua. Paris yang punya waktu luang sangat banyak menyempatkan diri untuk ikut mereka berdua. Ingin tahu kelanjutan tentang kakaknya dan Asha.
"Aku tidak pernah bilang akan mengajakmu. Jadi jangan salahkan aku kalau kamu kecewa ternyata kita hanya ke lapangan basket," kata Arga tidak mau tahu dengan kekecewaan adiknya itu. Bibir Paris manyun. Cakra melambaikan tangan menyambut kedatangan mereka bertiga.
"Semakin ramai saja nih ada kalian," Cakra tersenyum bahagia. Andre dan Deni hanya melambaikan tangan ke Arga dan Paris tanpa mendekat. Kalau Cakra senang karena banyak orang, sebaliknya buat Asha tidak. Kalau banyak orang seperti ini pengeluaran juga akan banyak. Asha mendorong tubuh Cakra agar menjauh dari kerumunan itu. Mata Arga memperhatikan tangan perempuan itu dengan seksama.
Dirasa sudah tidak pada lingkaran kumpulan para majikan, Asha melihat Cakra dengan tatapan tajam. Dia mulai menginterogasi.
__ADS_1
"Kenapa kamu bilang ke Arga kalau mau keluar denganku?" desis Asha sangat kesal. Melihat raut wajah Asha yang sedang kesal, Cakra mencoba menenangkan.
"Tenang... Jangan terbawa emosi."
"Bagaimana bisa enggak kebawa emosi. Kamu sadar kan kalau dia itu majikanku? Bagaimana bisa aku bebas kalau ada dia?" Asha membeliakkan mata dengan geregetan.
"Maaf... Dia mau mengajak ku keluar, tapi aku kan ada janji denganmu. Jadi aku bilang kita mau kesini. Enggak mungkin aku tolak tanpa alasan," Cakra membela diri. Asha tetap menggertakkan giginya karena sebal. Acara jam malam bebas yang seharusnya benar-benar bebas kini tidak ada lagi. Bagaimana dia bisa bebas kalau ada tuan muda dan nonanya ada di depannya.
Arga mendekat yang langsung membuat Asha menjaga sikap. Dia tidak jadi melanjutkan obrolan yang menjurus pada teguran ke Cakra. Tangannya yang sibuk menunjuk ke dada Cakra segera terhenti dengan cepat.
"Nona ini mau mengajak kita makan dimana, Ca?" tanya Arga menunjuk ke Asha. Kepala Asha melihat ke arah lain.
Tidaak!! Jangan minta belikan makanan. Dengan banyaknya orang-orang iniii akan membuatku selalu tersedak saat makan, karena memikirkan biaya pengeluaran.
"Sepertinya tidak jadi. Dia enggak mood buat traktir kita makan," sindir Cakra. Asha enggak jawab. Memang!
Rencana makan-makan gugur karena tidak memenuhi syarat. Ini melebihi kuota. Asha sangat tidak setuju akan pelanggaran kuota traktiran. Jadinya mereka hanya bermain-main basket.
Asha dan Paris duduk di pinggir lapangan basket. Duduk di bawah.
"Jadi kita kesini jadi penonton, nih?" gerutu Paris. Asha senyum enggak enak hati. Lalu melihat ke arah lapangan basket. Dimana tuan mudanya sedang bermain dengan trio geblek.
"Dia, memang sering main basket yah?" tanya Asha enggak jelas.
"Siapa?" tanya Paris tanpa menoleh. Untuk sebutan 'Dia' itu sangat banyak, karena mereka ada empat orang.
"Anu... Tuan muda," Asha jadi canggung menyebut nama Arga saat bicara dengan Paris. Dia belum pernah menyebut hanya dengan nama Arga di depan orang lain. Mengingat dia pelayan, sangat tidak pantas di dengar orang-orang yang tahu hubungan Asha dan Arga hanya pelayan dan majikan.
"Untuk saat ini sih enggak. Dia lebih suka mendekam dalam kamar saat hari libur kantor. Kalau dulu pas sekolah kakakku itu jago, tapi sepertinya dia bakal sering main basket lagi, dan juga tidak selalu berada dalam kamarnya. Dia akan gemar mengelilingi rumah dengan gembira," kata Paris sambil melirik penuh arti. Asha mendengarkan secara seksama sembari sesekali lihat ke lapangan dimana tuan mudanya sedang bermain.
Namun Asha jadi heran kenapa tuan muda gemar mengelilingi rumah dengan gembira?
__ADS_1