
Rike mendelik heboh saat tahu ada oleh-oleh. Tangannya langsung memeluk tubuh Asha erat.
"Jadi kak Asha beneran keluar sama tuan muda ya...," bisik Rike. Wajah Rike terlihat senang menggoda Asha. Sementara Asha menganggapinya dengan tenang. Tanpa ada kehebohan tidak perlu.
"Tolong, di bagi ke semua orang ya. Bilang tuan muda yang membelikannya." Asha tidak lupa mengatakan ini. Rike mengangguk. Asha menghela napas lega. Menemani Tuan muda jalan-jalan ternyata melelahkan. Penuh dengan drama dan emosi yang bermacam-macam. Asha mencoba menikmati semuanya.
Yahh...nikmati saja Asha. Meski lelah, hatimu senang bukan?
**
Setelah Paris tahu bahwa Asha sudah resmi jadi kekasih kakaknya, Paris seperti sering memperhatikan dirinya diam-diam. Hubungan mereka tetap seperti biasanya, hanya saja gadis sableng ini lebih intens memindainya.
Sebenarnya Asha tidak nyaman, tapi dia membiarkan Paris melakukannya. Dia sadar, mungkin nona muda itu masih terkejut mendengar pengumuman Arga. Apalagi perempuan yang jadi kekasih kakaknya adalah pelayan di rumah sendiri. Sebagai nona muda mungkin dia berpikir, pelayan satu ini agak keterlaluan. Berani mendekati dan merayu tuan mudanya.
Namun Paris paham bagaimana pelayan ini. Dia paham Asha bukan tipe perempuan genit yang senang bermain mata pada lelaki. Justru Asha tipe perempuan dingin yang cuek dengan laki-laki kecuali soal basket tentunya.
"Jangan memperhatikan aku terus, Paris," tegur Asha saat sedang berada di dapur bersama Paris petang ini. Setelah semua selesai makan, mereka ingin mencoba membuat sesuatu. Pelajaran memasak di mulai. Menurut bahan yang ada di dalam lemari pendingin, mereka bisa belajar membuat tumis. Ada bok choy, wortel dan baso beku.
Sebenarnya apapun bahan masakan yang tersedia di dalam lemari pendingin, Asha akan tetap memaksa memasak tumis. Itu memasak dalam mode aman menurutnya.
"Eh, aku terlihat selalu memperhatikan kak Asha, ya?" tanya Paris seperti baru sadar bahwa dia terus menerus memperhatikan kakak pelayannya. Dia tahu. Hanya saja beralasan. Lalu Paris nyengir.
"Ya," jawab Asha seraya memulai mengupas wortel dengan memakai alat pengupas. Itu lebih mudah dan cepat daripada memakai pisau.
"Biar aku yang mengupas itu. Sepertinya seru," Paris yang tadinya hanya duduk di meja makan, kini beranjak berdiri. Berjalan menuju Asha dan berdiri di depan meja dapur. Asha menyerahkan wortel dan alat pengupas itu. Lalu memberi contoh mengupasnya, serta bentukan dari hasil potongannya.
"Memang harus berbentuk seperti ini, kak?" tanya Paris yang sepertinya punya ide untuk membuat potongan yang lain.
"Tidak. Itu potongan tercantik untuk wortel saat di buat tumis. Menurut aku begitu," jelas Asha. Paris mengangguk-anggukan kepala.
"Kamu punya ide memotong dengan bentuk lain?" tanya Asha membuat Paris tersenyum.
"Tidak. Nanti malah aneh lihatnya. Biar seperti ini saja," jawab Paris seraya terus mengupas. Asha juga memotong bok choy. Setelah usai, dia melanjutkan untuk mengupas bawang putih dan bawang merah sebagai bahan untuk membuat bumbunya. Lalu mengambil cabe rawit sebanyak mungkin untuk menciptakan sensasi pedas yang amazing.
Suasana hening tiba-tiba merayapi dapur. Paris fokus pada wortel. Masih. Asha fokus dengan bumbunya. Mulut mereka diam. Asha gelisah, dia berpikir soal jadinya dia sebagai kekasih tuan muda.
"Maaf," ucapan maaf Asha memecah keheningan dan kesunyian suasana di antara mereka berdua.
__ADS_1
"Kenapa Kak?" tanya Paris tanpa menoleh.
"Soal aku dan kakakmu,"ucap Asha berhati-hati setelah melihat kanan dan kiri, memastikan tidak ada siapa-siapa. Paris menoleh dengan lambat. Matanya melihat Asha dengan pandangan paham. Seperti sudah menanti pembicaraan soal ini.
"Aku tidak tahu. Itu keputusan kak Arga bukan aku. Jadi aku tidak punya hak untuk membicarakan hal itu," Asha mengangguk. Kurang paham maksud perkataan Paris. Seperti menyetujui dan tidak. Kejelasan masih samar. Namun Asha hanya bisa mengangguk dan menghentikan pembicaraan yang sensitif ini.
Mengharap restu dari adiknya? Aku lumayan berpikir yang tidak-tidak. Semakin hari aku semakin kreatif. Bagus! Bukankah Arga bilang aku perlu berpikir kreatif?
Dalam hati Asha juga ketakutan kalau saja Paris memberitahu Nyonya Wardah. Asha tidak berani membayangkan majikan tahu bahwa putra kesayangannya menjalin kasih dengan pelayannya.
"Aku tidak memberitahu Bunda," jelas Paris tahu kecemasan Asha, "Seperti yang aku bilang, aku tidak punya hak untuk membicarakan hal itu kepada siapapun," sambung Paris seakan menekankan bahwa dia tidak memberitahu siapapun di dalam rumah ini soal jadian kakaknya dan Asha.
Berarti aku boleh lega?
Bahan masakan sudah siap dimasak. Tinggal nunggu wortel di tangan Paris yang belum selesai-selesai. Asha membiarkan nona mudanya berjuang menyelesaikan tugasnya sendiri. Tidak ada bantuan apapun. Hanya arahan saja.
"Aku sudah menduga kak Arga punya perhatian lain ke kak Asha, karena aku sering menemukan dia sedang menggoda dan memberi tatapan lain ke kak Asha. Kalau hanya satu kali dua kali mungkin wajar, tapi kak Arga berkali-kali menatap dan tersenyum penuh arti saat melihat kak Asha." Tiba-tiba Paris menguak apa yang dipikirkan dia selama melihat interaksi kakaknya dan Asha. Tanpa menoleh. Membahas soal itu dengan terbuka. Asha terhenyak kaget. Tidak menyangka Paris sudah memperhatikan kakaknya sudah lama.
"Tapi aku heran, kenapa kak Asha juga punya perasaan sama dengan kak Arga?" Pertanyaan Paris membuat Asha mengerjap mata dan malu. Kali ini Paris menatapnya.
"Oh itu..," jawab Asha ngambang.
Asha terdiam mendengar kalimat Paris yang terdengar sangat dalam. Gadis kecil yang sableng ini sedang menanyakan keyakinannya menerima Arga sebagai kekasih. Gadis ini melakukan interview khusus dimana dia bisa di terima sebagai kekasih Arga sepenuhnya atau hanya sebagai identitas saja. Atau hanya sedang mengintimidasi seorang pelayan yang berani menjalin kasih dengan tuan mudanya.
Asha menelan ludah. Mata Paris menatapnya sangat dalam. Keseriusan Paris menciptakan ketegangan yang tidak main-main. Bagaimanapun dia adalah nona muda. Majikan Asha. Dia punya aura berkuasa yang mutlak. Ketegangan ini melebihi saat Paris marah ke Chelsea soal pengkhianatan itu.
"Dia tidak mudah mencintai, itu yang aku tahu. Tapi ternyata kak Arga bisa mencintai kak Asha saat dirinya masih berputar soal Chelsea di hatinya. Dia membuang semua tentang Chelsea dengan mudah karena kak Asha. Aku takjub soal itu." Paris tidak marah. Nada bicaranya tenang. Bahkan sangat tenang. Namun setiap perkataanya sangat dalam. Seperti berisikan semua emosi dirinya di dalamnya.
"Kakakku orang yang rapuh jika menyangkut cinta. Aku lebih paham itu daripada dirinya. Dia juga bukan tipe pendendam yang membuat aku jengkel. Itu sifat yang baik sih, tapi untuk bisa bersikap biasa saja setelah dikhianati jelas menjengkelkan," Asha tahu soal ini. Berkali-kali nona mudanya ini menjabarkan kebenciannya ke Chelsea. Perempuan yang sudah mengkhianati kakaknya.
"Jangan memperpanjang daftar orang yang aku benci kalau kak Asha tidak bisa yakin benar-benar mencintai kak Arga sepenuh hati," tukas Paris tenang. Namun Asha mendengar ini sebagai ancaman dan peringatan. Raut wajah itu tanpa emosi marah atau benci dan tidak suka, tapi Asha bisa paham aura menggelap di balik bibir Paris yang mengucapkan kalimat itu. Sekali lagi dia menelan ludah.
"Aku orang yang mudah. Jadi baik kalau orang lain baik. Jadi jahat kalau orang lain jahat." imbuh Paris lalu menyerahkan potongan wortel yang sudah lunas terpotong. Asha menerima hasil potongan itu dengan diam. Pikiran Asha jadi bercampur aduk. Pelajaran memasak yang baru di mulai ternyata membawa beban yang berat karena tambahan materi.
"Aku percaya kak Asha baik kok," ujar Paris kemudian sambil menepuk pundak Asha pelan yang jadi menegang akibat perbincangan serius barusan. Asha melirik ke arah nona muda yang berdiri di sampingnya. Ini seperti menenangkan Asha.
Setidaknya ada sejumput rasa lega yang bisa aku hirup, untuk memberi udara pada paru-paruku, agar aku bisa bernapas dengan ritme yang teratur.
"Aku bersiap melihat kak Asha memasak," sambung Paris dengan nada normal seperti biasa. Gadis kecil ini mencoba mencairkan suasana. Asha menipiskan bibir.
__ADS_1
"Bukan ahli tapi silahkan melihat dan mempelajari," ujar Asha mempersembahkan pada Paris menyaksikan demo memasak level satu miliknya.
"Siipp.." jawab Paris sambil mengacungkan jempol.
Karena masih amatir, acara memasak mereka memakan waktu agak panjang walaupun akhirnya selesai. Arga yang baru datang dari kantor, melihat ada bayangan-bayang di ruang makan yang menyatu dengan dapur itu. Karena instingnya atau dia hanya penasaran, kakinya terhenti untuk naik ke lantai dua dan melangkahkan kaki ke tempat bayangan itu.
Arga memegang handle pintu dan membukanya. Di pantry, dua gadis kesayangannya sedang tertawa kecil. Mata Arga beredar melihat keadaan dapur yang masih amburadul. Melihat pintu di buka seseorang mereka menoleh.
"Kalian sedang apa?" tanya Arga sambil melangkah menuju meja makan.
"Latihan memasak. Kak Asha memberitahu cara memasak tumis," jawab Paris bergembira. Ini acara memasak pertama baginya. Mendengar nama Asha disebut, Arga semakin berantusias mendekat. Mata Asha melebar saat menemukan mata Arga melirik ke piring berisikan masakannya barusan. Dia panik kalau-kalau lelaki itu akan mencicipi masakannya. Asha masih belum punya kepercayaan diri untuk mempersembahkan masakannya pada orang lain, apalagi pada lelaki ini.
Tangan Asha meraih piring itu untuk menghindari Arga.
"Aku ingin mencoba masakanmu," kata Arga mencegah Asha membawa pergi masakannya.
"Tidak. Ini hanya untuk aku dan Paris," tolak Asha pelan.
"Kakak bisa makan bareng kita kalau mau," tawar Paris tidak berperasaan. Asha padahal sudah sengaja meyambar piring masakan untuk menghindari itu, Paris malah menawarkan.
"Aku yakin dia tidak menyukainya, Paris." Asha masih bertahan.
"Kenapa?" tanya Paris heran. Arga menarik wajahnya dan mengerutkan kening.
"Dia tidak tahan dengan masakan pedas," ucap Asha pelan sambil menatap Arga. Hampir saja Paris menanyakan kenapa Asha bisa tahu Arga tidak menyukai pedas. Karena keterlibatan Asha dalam memasak di dapur dalam rumah ini sangat sedikit. Lalu Paris memutar ulang kotak memori pada otaknya, iya... mereka kan sepasang kekasih. Jadi soal itu bisa mudah diketahui.
"Buatkan lagi, untukku." pinta Arga.
"Tidak," protes Paris mendelik. Asha tidak menyangka dia protes soal ini. "Jangan meminta kak Asha memasaknya lagi. Sudah cukup dia repot dengan satu masakan saja. Kalau harus membuatnya lagi mulai awal, dia akan tidak istirahat pada jam kerja yang sudah habis ini." Paris paham benar ribetnya memasak bagi pemula, walaupun hanya satu masakan.
Dimana jika setelah mencicipi, rasa masakan terlalu asin dan sebagainya. Ini mematahkan semangat untuk memasak lagi.
"Baiklah.. antar aku keluar cari makan ya, Sha?" tanya Arga. Paris melirik ke Asha.
"Di sana ada masakan Bi Sumi. Aku bisa menghangatkan bila kamu ingin makan," Asha menunjuk masakan Bik Sumi di meja belakangnya. Arga menggeleng. Dia bukan hanya ingin makan di luar, tapi juga ingin kencan. Karena Asha masih saja meminta Arga menyembunyikan hubungan, lelaki ini harus punya alasan untuk bisa mengajak Asha kencan.
"Kak Asha keluar saja," timpal Paris seperti tahu Asha seperti ingin kabur saja dari hadapan kakaknya. Mungkin salah satu penyebabnya adalah perkataannya tadi. Walaupun Paris yakin Arga punya cara sendiri saat hatinya terluka, dia juga ingin sedikit memberi gambaran bagi siapa saja yang mengisi hati kakaknya. Dia juga tidak peduli siapa perempuan itu. Sebagai pelayan sekalipun seperti Asha, kalau mampu menjaga dengan baik, hati kakaknya semuanya menjadi mungkin.
Silahkan mencintai kak Arga selama kamu mampu memberinya kebahagiaan.
__ADS_1