
"Selamat datang Nona Chelsea?" sapa Rendra segera. Suaranya di buat agak keras agar dua orang yang hendak masuk dalam ruangan itu bisa mendengarnya. Benar juga, karena sapaan ini, Arga dan Asha menoleh cepat.
Semua mata saling memandang. Asha agak terkejut dengan kemunculan wanita bahenol nan sempurna ini. Setelah lama tenggelam setelah pengusiran Arga kala itu, wanita ini sudah tidak muncul. Sekarang dia berdiri di hadapan mereka lagi. Dengan cerita yang tidak sama.
Kalau dulu Asha masih dan tetap hanya bergelar sebagai tukang cuci, sekarang gelar itu bertambah, yaitu tukang cuci dan kekasih Arga. Kombinasi yang aneh, tapi begitulah Arga dan Asha ini. Si 'Double A' ini.
Mata Chelsea masih terpaku pada tangan Arga yang menyentuh kepala gadis pelayan itu. Karena di tatap dengan mata penuh selidik itu, Asha juga menegaskan wajah dan pandangannya ke arah Chelsea. Wanita yang berdiri pada level tertinggi dalam kisah cinta Arga.
"Ada yang bisa saya bantu? Anda bilang ada perlu dengan Direktur Arga, di karenakan Direktur masih akan istirahat, mohon sekiranya Anda membicarakan keperluan Anda kepada Saya," ujar Rendra memecah fokus Chelsea menatap mereka berdua. Rendra berinisiatif karena sudah di beri wewenang untuk menghalau perempuan mana saja yang datang bukan dengan kepentingan bekerja, kecuali keluarga tentunya.
"Aku ingin berbicara dengannya sendiri," tepis Chelsea. Dia merasa tidak perlu berbicara dengan Rendra karena ada Arga di depannya.
"Maaf, Direktur akan beristirahat. Silahkan Anda masuk dalam ruangan saya untuk berbicara."
"Istirahat? Arga masih ada di sini, bukan? Aku bisa mengajaknya bicara," Chelsea tidak suka Rendra mencegahnya berbicara ke Arga.
"Aku sedang beristirahat Chelsea. Jika ada perlu silahkan bicarakan dulu dengan Rendra," sahut Arga melihat Chelsea memaksa.
"Kenapa menolak saat aku ingin bicara denganmu, Arga? Biasanya kau dengan senang hati menerimaku saat datang ke kantormu." Chelsea tertegun mendengar penolakan Arga. Dia tidak percaya.
"Aku bisa menerimamu dan menunda jam istirahatku kalau kita akan membicarakan pekerjaan," tegas Arga.
"Itu ...." Kalimat Chelsea terhenti dan menatap tajam ke arah Asha yang diam saja tapi memperhatikannya sejak tadi. "Aku tidak tahu ada apa dengan dirimu tapi aku memang juga akan membicarakan pekerjaan," ujar Chelsea akhirnya. Dia mencoba mengalah jika ingin berbicara dengan Arga.
"Rendra, ikut masuk ke ruanganku," perintah Arga yang membuat Rendra menaikkan kacamatanya. Dia lelah. Ini pekerjaan melelahkan jika berhubungan dengan masa lalu Direktur.
"Baik."
"Aku harus menerima tamu dulu, Sha. Kau bisa menunggu?" tanya Arga meminta pengertian. Chelsea tetap menatap raut wajah Arga yang berbicara dengan gadis itu. Dia hampir menemukan jawaban, mengapa aura mereka nampak lain. Namun Chelsea segera menepis pikirannya.
"Tidak masalah. Aku bisa menunggu di luar atau di ruangan Rendra," jawab Asha yang masih berpakaian seragam butik. Arga tersenyum hangat. Chelsea menangkap itu. Dia tidak suka.
__ADS_1
Ada apa dengan Arga?
"Tidak perlu mengantar, Senior. Aku bisa ke ruanganmu sendiri," kata Asha pasti saat Rendra hendak mengantar. Arga menangkap sesuatu aneh tadi. Telinganya mendengar kata asing. Senior? Pandangan Arga menoleh ke Rendra bermaksud bertanya. Rendra hanya menundukkan pandangan.
Asha duduk di ruangan Rendra. Perutnya menabuh gendang minta di isi makanan. Tangannya mengusap perut dengan pelan. "Aku harus cari makan nih, lapar sekali...," gumam Asha dengan mengeluh. Namun ada yang terlupa. Dompetnya ada di dalam tas. Sementara tas itu ada di ruangan Arga. "Tahan dululah... Aku sanggup menunggu beberapa belasan menit," kata mencoba menghibur diri.
Sambil bersandar di sofa Asha merasakan suara perut karena laparnya menjadi-jadi. "Arggghh... aku tidak bisa menahan diri. Aku sangat laparrrr....," keluh Asha akhirnya berdiri. Melangkah menuju ruangan Arga.
Mengetuk pintu dan menunggu. Beberapa detik ada seseorang yang membuka pintu.
"Ada apa?" tanya Rendra pelan.
"Aku harus mengambil pakaianku, Senior," ujar Asha memohon. "Aku juga perlu mengambil dompetku. Aku lapar. Aku tidak bisa membeli makanan," ujar Asha memelas dengan pelan juga.
"Siapa Ren?" tanya Arga yang akhirnya terusik, karena Rendra berdiri sangat lama di depan pintu.
"Asha," jawab Rendra.
"Sebentar Chelsea," ujar Arga beranjak berdiri dan mendekat ke pintu. Chelsea menghempas napas dengan kesal. Asha terkejut Arga ikut menghampirinya. Dia tidak mau mengganggu Arga dengan berbisik pada Rendra.
Dahi Chelsea terus saja mengerut melihat interaksi mereka.
Pakaian pelayan ini ada disini? Dia ganti baju di ruangan Arga? Sebenarnya apa yang terjadi diantara mereka berdua? Apa yang mereka lakukan berdua di dalam ruangan ini?
"Aku akan ke ruangan Rendra saja. Aku akan menunggumu di sana," ucap Asha yang mengerti bahwa manik mata Chelsea terus saja memperhatikan gerak-geriknya secara seksama.
"Kenapa pakaianmu ada di sini?" tanya Chelsea tiba-tiba. Asha melirik. Rendra membuang napas pelan. Dia bersiap untuk menerima ledakan dari mereka berdua. Mantan dan kekasih Tuan Arga.
"Dia tidak harus menjawabmu Chelsea." Arga menjawab.
"Kenapa? Itu pertanyaan mudah yang bisa segera di jawab olehnya," bantah Chelsea.
"Karena tadi aku mengganti bajuku disini," jawab Asha lugas yang membuat Chelsea merasakan raut wajahnya masam. Arga tidak jadi menaikkan intonasi suaranya untuk menghardik Chelsea.
"Mengganti baju disini?" Chelsea sungguh terkejut saat gadis pelayan ini mengatakannya. "Kenapa kamu harus mengganti bajumu di sini? Bukankah masih ada ruangan lain. Juga masih ada kamar mandi, dimana setahuku, semua karyawan pasti akan menggunakannya bila ada keperluan semacam itu."
__ADS_1
"Kenapa aku harus ke ruangan orang lain yang tidak aku kenal? Arga mempersilakan aku menggunakan ruangannya dan juga menemaniku disini saat aku berganti pakaian. Bukankah di sini lebih baik?" Setelah mengucapkannya, Asha baru sadar ada yang keliru pada kalimatnya. Karena Rendra dan Arga agak terkejut mendengarnya.
Kalimatnya mengandung pemikiran yang salah. Disana dia mengatakan bahwa Arga sedang melihatnya berganti pakaian. Ia ingin meralatnya. Namun saat melihat wajah Chelsea terhenyak kaget dan terguncang, Asha membiarkannya.
Dia ingin memberi sensasi kejutan yang menyebalkan bagi wanita itu. Rendra membuang napas lagi. Arga tersenyum mendengar kalimat nyeleneh Asha. Bagaimanapun terasa aneh jika saat Asha berganti pakaian disini, sementara Arga menemaninya. Akan banyak dugaan-dugaan tidak benar. Melihat ketenangan Asha, Arga tahu gadisnya sedang bermain-main.
"Ka-kalian ...," Bayangan Chelsea mungkin liar yang membuatnya terlihat sangat terguncang hingga gagap.
"Begitulah... Kau tahu bagaimana pria dan wanita jika dalam satu ruangan hanya berdua," imbuh Asha sangat jahat dengan santai. Itu membuat mata Chelsea semakin membeliak. "Aku keluar dulu. Silahkan anda sekalian membicarakan pekerjaan," ujar Asha undur diri. Rendra menggelengkan kepala mendengar kalimat Asha terakhir. Sementara Arga hanya tersenyum senang.
***
Asha mengetik pesan pada Arga bahwa dia keluar untuk mencari makan. Dengan mengenakan celana pensil warna hitam dan kaos warna merah, Asha mencari makan sembari melihat-lihat outlet kue yang berjejer. Godaan mata untuk membeli kue-kue cantik itu begitu besar. Namun Asha tidak membelinya.
Asha menekankan pada diri sendiri untuk makan nasi terlebih dahulu baru kue atau camilan lain. Itu membuatnya tetap merasakan keinginan untuk makan nasi dengan lahap. Jika makan lain selain nasi dulu, dia akan tidak nafsu makan saat memakan nasinya.
Asha terpaksa membeli makan di salah satu outlet. Harganya lumayan murah soalnya ada promo. Duduk di dekat dinding kaca dan memesan. Setelah itu dengan tenang menunggu pesanan datang. Mengeluarkan handphone dari
Saat menatap area city walk, bola mata Asha menemukan sepotong kilasan masa lalu yang begitu ingin di jumpainya. Matanya terpaku melihat sosok itu berjalan dengan langkah tegapnya. Dada Asha bergemuruh. Jantungnya berdetak lebih cepat persekian detik. Pernapasannya menjadi berat karena debaran di dada.
"Pesanannya Mbak...." pelayan resto datang dan membawa pesanan Asha. Membuat Asha mengalihkan pandangan sebentar.
"Terima kasih," ucap Asha. Saat mencoba kembali melihat keluar, sosok itu tidak bisa di temukan lagi. Kaki Asha melangkah keluar. Mencoba memastikan apa yang di lihatnya tadi benar. Asha kehilangan lelaki itu. Apa yang dicarinya itu, tidak lagi ada di sana. Mungkin dia sudah berjalan menjauh atau ... itu hanya sebuah ilusi.
Asha menghela napas dan mendengkus saat merasa debarannya masih tersisa dan menetap. Merasa lucu dan lelah saat mengetahui dirinya masih tetap seperti itu jika melihat Dia.
Merasa konyol karena pikirannya sangat berlebihan ingin bertemu dengannya.
.
.
__ADS_1