Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Lebih dekat


__ADS_3


Siang hari di ruang kerja Arga setelah menginap di rumah mertuanya.


"Kau terlihat lelah tapi juga bahagia. Ada hal yang menggembirakan?" tanya Arga yang sedang duduk berdua bersama Evan. Karena kerjasama dengan tuan William, mengharuskan mereka sering satu kantor.


"Ya. Banyak hal menggembirakan belakangan ini." Senyum geli terlihat dari bibir Evan. Arga melihat. "Sepertinya aku harus berterima kasih padamu."


"Soal apa? Aku tidak pernah membantumu dalam perkara apapun." Arga heran.


"Ya, kau memang tidak melakukannya untukku. Aku hanya merasa karena keputusanmu itu, bisa membuat perubahan besar dalam kehidupanku."


"Aku harus berbangga karena itu." Arga berkomentar dengan enggan. Evan mendengkus mendengarnya.


"Terima kasih sudah memutuskan mencintai Asha dan menikahinya." Arga mendongak.


"Tanpa rasa terima kasihmu, aku memang mencintai dia dan menjadikannya istriku," ujar Arga ketus seraya melemparkan pandangan mencela.


"Aku paham. Cintamu tidak ada hubungannya denganku. Namun berkat itu, Chelsea memilih tidak lagi mengejarmu dan bersikap pasrah menjadi istriku."


"Itu bukan hal yang patut di banggakan, Evan. Kau bisa mengatakannya jika Chelsea memilihmu karena mencintaimu, bukan memilihmu karena pasrah. Bukannya itu berarti dia terpaksa memilihmu?" Arga tiba-tiba merasa iba dengan Evan.


"Aku terlalu bahagia, jadi tidak memerhatikan itu. Namun aku hanya mengatakan ini padamu, bukan orang lain." Entah mengapa dia merasa lega saat Evan mengatakan ini. Apa jadinya pandangan orang-orang kalau dia mengatakan pada sembarang orang tentang ini. Memperistri Chelsea saja sudah membuatnya menjadi pria yang buruk dimata mereka.


"Aku senang bisa membuat kalian berdua bahagia. Selamat atas kebahagiaan kalian berdua."


Evan mendengkus lagi. "Aku justru merasa terpuruk jika kau memberiku selamat, Arga. Karena itu menunjukkan, bahwa di dalam pernikahan kami memang tidak ada kebahagiaan kecuali sekarang." Senyum merekah terlihat lagi di bibir Evan. Wajahnya menunjukkan bahwa dia benar-benar sangat bahagia. Arga merasa ikut senang melihatnya.


"Wajahmu sangat jujur saat mengatakan kalau kau sedang berbahagia." Evan terkekeh.


"Bagaimana kabar Asha?" tanya Evan.


"Baik."


"Dia memang perempuan hebat bisa membuatmu takluk. Apakah kalian masih tinggal di rumahmu?"


"Ya. Banyak tempat buat kita berdua di sana."


"Rumahmu memang besar. Apakah Asha bisa beradaptasi dengan kehidupan barunya sebagai istri Arga Hendarto?"


"Aku rasa iya. Itu tempat dia bekerja dulu. Tidak banyak hal yang harus di lakukan agar dia bisa beradaptasi. Itu sudah seperti rumahnya sendiri."

__ADS_1


"Bagus kalau Asha bisa begitu." Mata Arga memicing. Menemukan ada yang ganjil.


"Ada yang ingin kau katakan?"


"Tidak. Itu rumah tanggamu. Aku tidak perlu mengatakan pendapatku," jawab Evan menahan diri. Dia tidak harus menjadi seorang ibu-ibu nyinyir yang mencampuri urusan rumah tangga seseorang.


"Menantu dan mertua?" tebak Arga tanpa menoleh. Evan mendongak dari berkas yang di pegangnya.


"Karena kamu mengatakannya, aku jawab, iya." Arga terdiam. Memang itu yang jadi pikirannya saat ini. Soal Asha dan bundanya. Mereka berdua terlihat kaku dan tidak akur. Canggung karena barusan saja menjadi menantu dan mertua itu mungkin ada. Namun suasana canggung itu hanya bisa normal dengan usaha dari keduanya, terutama istrinya, Asha. Dia hanya perlu memberikan semangat kepada istrinya.


"Semuanya tetap baik-baik saja. Asha bisa melakukan semuanya dengan baik."


"Aku memang merasa kalau Asha pasti bisa. Dia perempuan yang kuat." Mata Evan melebar mengisyaratkan akan kekuatan Asha. Arga tergelak.


"Tentu saja."


...****************...



Nyonya Wardah merasa tidak sehat lagi. Setelah opening mall baru, beliau kelelahan lagi. Asha mengambil alih di dapur lagi. Kali ini ada Bik Sumi yang menemani. Setelah memasak buat semuanya, Asha segera membawa nampan makanan. Asha sedikit berani memberikan masakannya, karena beliau pernah memakan hasil kreasinya.


"Saya sudah membawakan Anda makanan. Sebelum meminum obat, lebih baik Anda sarapan dulu." Nyonya Wardah mengangguk saat Asha menyodorkan sepiring nasi beserta lauknya.


"Tidak apa-apa. Saya ingin menemani Anda. Di sana ada bik Sumi," kata Asha yang terkejut sendiri saat kalimat itu terucap. Dia bertekad mendekatkan diri. Nyonya Wardah mungkin sedikit terkejut tapi memilih membiarkan menantunya menemaninya di dalam kamar. Mereka berdua masih saja diam seperti biasanya. Tidak ada topik yang ingin di bahas untuk mengurangi rasa tidak nyaman ini.


Beliau makan dengan pelan. Sementara Asha diam sambil sedikit menunduk. Nyonya Wardah memperhatikan menantunya.


"Apa semua baik-baik saja, Sha?" tanya nyonya Wardah. Beliau sudah menyelesaikan setengah makannya.


"Iya." Senyum Asha menghiasi bibirnya saat menjawab. Entah mengapa atmosfir di dalam ruangan ini menjadi semakin ringan. Entah karena Asha yang sudah bertekad mendekatkan diri atau karena pertanyaan nyonya Wardah.


"Sebenarnya ... saya memang agak kecewa dengan kamu yang katanya tidak bisa masak." Nyonya Wardah mulai membuka suara. Asha terkejut. Namun dia sudah siap. "Tapi ... saya lebih kecewa lagi, kalau kamu bersikap begitu saja tanpa mencoba. Saya pernah bilang ke kamu kalau kamu itu punya bakat, karena ibu kamu itu juga pintar memasak. Saya rasa itu benar. Contohnya masakan ini," beliau menunjuk masakan yang di buatnya tadi. "Masakan ini sudah menunjukkan kalau kamu masih bisa di bilang bisa memasak. Itu berarti kamu hanya enggan memulai, karena melihat saya sudah memasak berbagai makanan."


Ya. Asha yang anak kost bertahun-tahun tidak mungkin tidak bisa masak. Hanya saja melihat keahlian nyonya Wardah yang sudah pro membuatnya berkecil hati. Jadi dia langsung menghakimi diri sendiri bahwa dia tidak bisa memasak.


"Maaf."


"Apa kamu nyaman tinggal di rumah ini, Asha?" Tanya Nyonya Wardah yang sepertinya hampir menghabiskan makanannya.


"Iya." Tentu saja Asha menjawabnya seperti ini. "Karena saya pernah bekerja disini, jadi saya sudah terbiasa." Sengaja menambahkan kalimat itu agar terdengar wajar.

__ADS_1


"Senang mendengarnya jika kamu merasa nyaman. Tapi...." Asha mendongak. Hatinya berdebar. Apa yang akan di katakan beliau? Mengapa seperti sedang memikirkan hal yang pelik? Masih ada lagi yang mengganjal hatinya. "Jangan membiasakan dirimu disini sebagai orang yang melayani keluarga Hendarto seperti dulu. Karena dirimu sekarang adalah istri dari putraku."


Asha mengerjap. Dia tertegun. Mulutnya hampir menganga. Tangannya terulur untuk menutupi mulutnya.


"Saya tahu kamu masih canggung dengan perubahan ini. Saya juga begitu. Namun... jika kamu tetap saja bersikap seperti saya adalah majikan kamu, saya juga kesulitan untuk mendekati kamu sebagai menantuku."


"S-saya...." Asha jadi gagap. Dia kesulitan berbicara karena berdebar.


"Mungkin kamu bersikap seperti itu karena menghormati saya. Namun cara kamu menghormati saya, bukan sebagai mertua kamu, tetapi sebagai majikan kamu. Saya tidak menyalahkan itu. Kamu sudah bisa di anggap lama bekerja di sini sebagai pegawai saya, daripada sebagai kekasih Arga." Beliau menghela napas. Asha jadi menunduk. Dia merasa bersalah.


"Maaf...." Sekali lagi.


"Cobalah sedikit terbuka denganku...," kata nyonya Wardah sambil menyentuh punggung tangan menantunya lembut. Kali ini kalimat beliau terdengar sangat lembut. Senyuman seorang ibu terlukis di bibirnya. Mata Asha berkaca-kaca karena terharu.


"Maaf saya terlalu gugup jika berhadapan dengan Anda...."


"Bunda. Panggillah aku bunda seperti dua anakku yang lain memanggilku. Kamu tidak perlu canggung menyebutnya." Mata Asha membeliak. Wajahnya diliputi rasa takjub. "Aku sadar, kamu terlalu takut menyebutku bunda." Wajah Asha merona malu. Itu memang yang dirasakannya. "Jangan merasa kecil dengan kamu yang dulu jadi pelayan di rumah ini. Dengan putraku menikahimu, itu berarti kamu juga bagian dari keluarga ini." Asha mengangguk. Sebutir airmata tak sengaja jatuh. Tiba-tiba tangan nyonya Wardah menyentuh kepala. Asha berkedip untuk menghilangkan genangan airmata yang belum meleleh dan mendekat dengan cemas. Mengambil piring nasi dari tangan ibu mertuanya lalu meletakkan di meja.


"An ... Maaf. B-bunda tidak apa-apa?" Asha meralat cara dia menyebut ibu mertuanya dengan cepat. Walaupun cara menyebutnya masih kaku dia bisa melakukannya.


"Tidak apa-apa. Hanya butuh merebah." Tubuh itu meluncur turun dengan pelan dan merebah. "Sebenarnya bunda ini sudah lama ingin membicarakan ini, tapi Arga mencegah. Dia bilang untuk membiarkanmu dulu. Putraku itu takut kamu akan merasa tertekan jika harus ditata untuk ini dan itu. Jadi bunda mengurungkan niat membahas ini denganmu." Asha tersenyum. Kemudian beranjak dari tempat duduknya dan berdiri.


"Maafkan sikap saya. Juga terima kasih sudah mau mengerti saya." Asha membungkukkan tubuhnya.


"Sudah, sudah. Jangan bersikap seperti itu. Ayo duduk lagi." Tangan beliau berayun menyuruh Asha kembali duduk. Asha menurut.


"Bunda pernah bilang ke kamu, kalau kamu itu sebenarnya bisa masak, hanya saja tidak kamu di praktekkan di sini." Mata Asha mengerjap saat ibu mertua mengatakannya. "Kalau rasa sih, tergantung selera masing-masing. Bunda lebih suka makanan pedas. Sementara tumis ini yang bunda pikir akan terasa gurih dan pedas, ternyata tidak ada rasa pedas sama sekali."


"Karena biasanya para pria tidak menyukai pedas, saya hanya menggunakan dua cabai." Asha tersenyum malu-malu. Namun dia mulai bisa santai bicaranya.


"Benar. Ayah sama suamimu memang tidak terlalu suka pedas." Nyonya Wardah tersenyum.



Jika berkenan, kalian dapat singgah ke cerita Lady Vermouth yang lain [ Slow Update ]


Terima kasih...



__ADS_1



__ADS_2