Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Di belakang Asha


__ADS_3



Kelanjutan lamaran Arga tidak ada. Lamaran pada pagi itu seperti tiba-tiba lenyap. Seolah-olah sudah berdiskusi sebelumnya, semua orang yang tahu cerita ini bungkam. Mereka seperti bermimpi bersama-sama lalu bangun bersama-sama pula. Cerita di meja makan hilang tak berbekas. Lamaran Arga di meja makan itu layaknya uap yang segera hilang saat naik ke udara.


Tidak ada kemarahan yang meledak di meja makan. Tidak ada makian atau hinaan kepada Asha. Nyonya Wardah tidak mengatakan kata-kata kejam apapun. Beliau hanya diam menatap Asha.


Hendarto sebagai kepala keluarga juga memberi ultimatum apapun. Tidak ada pengusiran dan pemecatan. Asha tidak mengalami itu. Dia masih berada di dalam rumah Hendarto. Dia masih menjadi tukang cuci seperti biasanya.


Namun, aksesnya dalam rumah ini seperti terhapus. Tanpa peringatan yang tegas dan mengintimidasi, Nyonya Wardah seperti mengurangi pekerjaan Asha di dalam rumah. Tidak ada pekerjaan di lantai dua. Tidak ada pekerjaan di dapur. Semua kembali seperti semula. Seperti saat Arga tidak mengenal Asha.


Bik Sumi kembali yang memberikan pakaian kotor tuan muda dan nona muda pada Asha dan Rike, lalu mereka mencucinya. Asha kembali bekerja penuh pada area tempatnya.


Nyonya Wardah juga tidak memasang wajah seram. Beliau tetap tersenyum dan ramah seperti biasanya saat melihat Asha melintas di halaman depan. Ya, Asha hanya bisa di kamar pembantu. Tidak bisa lagi masuk dalam rumah inti.


Tidak ada interogasi lebih rinci yang menyudutkan Asha. Semua kembali dari awal. Layaknya sebuah game yang di reset dan kembali pada level pertama. Mulai dari awal lagi.


Sebenarnya itu lebih meringankan pekerjaannya saat Nyonya Wardah mengurangi banyak pekerjaan untuknya. Bukankah Asha harus berterima kasih?


Setelah Arga meluapkan kesalnya di depan tempat mencuci, lelaki itu tidak muncul lagi seperti biasa. Tirai kamarnya pun terbuka tapi tak pernah terlihat tubuh pemilik ruangan tersebut. Arga seperti menghilang.


Telepon dan pesan dari Arga tidak pernah lagi ada. Arga sangat marah. Ini tidak main-main. Lelaki itu mengabaikan Asha. Arga pasti sangat kecewa dengan sikap diam Asha yang di anggap penolakan olehnya.


Asha tidak berani menghubungi ataupun mengirim pesan.


Dengan sembunyi-sembunyi, Paris mendatangi halaman belakang. Asha terkejut dan segera menjauh.


"Nona Paris pasti mendatangi Mbak Asha."


"Nona itu..." desis Asha geram.


Apa yang di lakukannya di sini?

__ADS_1


Buakankah dia tahu semua akses dirinya di cabut, itu berarti Nyonya Wardah marah. Walaupun tidak ada kata makian yang meluncur pasti beliau kesal dengan putranya yang ingin menikahi pelayannya.


"Ada apa, Paris?"


"Tidak ada, hanya melihat area mencuci."


"Jangan kamu bilang akan belajar mencuci. Alasan itu aneh," kata Asha curiga. Paris hanya tersenyum tipis.


"Kakak, baik-baik saja?"


"Tentu. Aku sudah makan pagi tadi."


"Hanya setangkup roti yang di beli kemarin, Nona," ujar Rike tanpa di duga mengadu pada Paris.


"Itu kurang mengenyangkan, Kak."


"Setelah pekerjaan selesai, aku bisa makan banyak."


"Begitu ya... Hmmm...." Kepala Paris mengangguk-angguk. Seperti sedang berpikir sesuatu. Ya, Paris sedang memikirkan kakaknya saat ini. Dia di beri tugas melihat keadaan Asha oleh Arga. Lelaki itu tidak ingin menemui Asha bukan karena keluarganya, tapi karena marah. Namun dia masih juga khawatir pada keadaan perempuan muda itu.


Tak sengaja, Asha bisa bertemu Arga di luar. Saat Asha menyenangkan dirinya sendiri dengan bermain basket di sekitar daerah gedung olahraga. Dia bersama Kiran dan Rezky tunangannya. Ini tentu saja mengundang kedatangan yang lain termasuk Cakra dan Reksa.


Asha berdecih kesal. Tidak seharusnya dia berada di sini jika ada pria itu. Kaki Asha segera melenggang keluar lapangan ingin marah. Saat itulah, dia menemukan Arga sedang mengawasinya.


Mata Arga melihat ke arah lapangan basket di sebelah kiri. Dimana di dalam pagar kawat yang mengelilngi seluruh area lapangan itu nampak beberapa teman Asha.


"Aku tidak menyangka menemukanmu di sini. Di luar rumah," ujar Asha tanpa bisa menyembunyikannya rasa senangnya bertemu. Karena, dia tidak bisa menemukan lelaki ini di dalam rumah sama sekali meskipun tinggal dalam satu atap.


Apakah dia tahu aku disini, dan sengaja ingin menemuiku? tanya Asha dalam hati dan sedikit berharap. Namun dia segera menepis semuanya harapan manis.


"Apa kebungkamanmu hanya sebuah alasan agar kau bisa dekat dengannya?" Asha diam berusaha mencerna pertanyaan Arga.


"Apa yang kau maksud?" tanya Asha menarik senyuman pada bibirnya.

__ADS_1


"Apa ini hanya sebuah alibi untuk membengkokkan jalan cinta kita, agar kamu punya alasan bersamanya?"


"Siapa yang kau maksud?"


"Reksa. Pria dari kantor pajak itu." Arga masih saja berpikir kebungkamannya adalah karena keberadaan Reksa. Mungkin ini seperti Nyonya Wardah yang selalu mengaitkan Arga dan Chelsea. Saat ini Arga seperti itu.


"Itu tidak ada hubungannya dengan Reksa atau pria lain Arga," tegas Asha menajamkan matanya.


"Apa kau merasa menemukan tangkapan yang lebih besar dari aku? Hingga perlu membuangku untuk mendapatkannya? Dia mungkin lebih kaya dariku..."


Plak!


Asha tidak menghajar dengan tinju dan tendangan, Asha hanya menamparnya. Tangannya menampar lelaki di depannya dengan keras, hingga ngilu yang terasa pada  telapak tangannya. Arga menyentuh tepat pada pipi yang di tampar Asha barusan. Ada rasa perih di sana.


"Apa aku mulai terlihat begitu murahan di depanmu, hingga kalimat barusan terlontar tanpa tertahan?" tanya Asha dengan mata berkabut dan nanar. Ngilu di tangannya tidak seberapa bila di bandingkan dengan rasa perih di hatinya. Sakit, pedih dan tersayat. "Apa aku tampak begitu hina di depanmu hingga mulutmu dengan mudah mengatakan hal barusan?!" tanya Asha lagi dengan geraman marah.


Arga terdiam. Dia mulai sadar. Emosinya meluap dan itu menjadikan sebuah rangkaian kata yang menyakitkan. Namun hatinya juga sakit. Dia melakukannya karena terdorong oleh pemberontakan hatinya yang menuntut untuk di balaskan.


"Aku tidak tahu," jawab Arga masih samar. Arga mengucapkannya dengan sunggingan senyum mengejek. Lalu pergi melangkah meninggalkan Asha yang sekuat tenaga untuk tidak menangis.


Asha berdecih dan memalingkan wajah. Baru saat laki-laki itu menghilang pergi, Asha merasa seluruh sendi-sendinya runtuh. Itu membuatnya ambruk dan terduduk di lantai. Topeng dinginnya hancur.


"Keluarlah! Dia sudah pergi," kata Asha yang masih duduk jongkok sambil memegang kepalanya yang pening dengan kedua tangannya. Suara Asha terdengar tegas dan yakin, hingga membuat kaki itu bergerak. Mengajak tubuh itu keluar dari tempat persembunyiannya. Lelaki itu muncul dari balik mobil yang di parkir di depan lapangan basket. Reksa menghela napas sambil melihat kepergian mobil Arga.


"Dia benar-benar hanya sebentar di sini...," gumam Reksa. Asha tidak menghiraukan gumaman Reksa di sebelahnya. Dia masih memegang kepalanya dengan kedua tangan. "Kau tidak apa-apa?" Reksa melihat ke bawah.


"Ya." Lalu Reksa mengulurkan tangan ingin membantu Asha berdiri. Kepala Asha menoleh ke samping, ke arah telapak tangan Reksa.


"Berdirilah. Jangan di sana," pinta Reksa.


"Tidak perlu membantuku. Aku bisa berdiri sendiri," ujar Asha yang langsung berdiri dan berjalan ke belakang. Lalu duduk di tembok pembatas bagian bawah lapangan basket yang sedikit menonjol keluar. Membuat orang bisa menggunakannya sebagai tempat duduk.


Dia mengabaikan tanganku. Reksa mengikuti Asha dan duduk di sebelahnya.

__ADS_1



__ADS_2