
"Kenapa, kak?" tanya Paris karena Asha melihat ke arah lain. Paris mengikuti arah mata Asha. Ternyata dia sedang menatap tajam ke arah kakaknya yang entah kenapa jadi seperti sedang ketahuan melakukan kesalahan. Arga belingsetan di bangkunya.
"Tidak," tukas Asha segera menarik pandangannya kembali, saat sadar Paris mengikutinya untuk melihat Arga. Matanya melihat Paris lagi. Sementara itu Arga beranjak dari bangku kayu yang panjang itu dan pergi. "Lanjutkan ceritamu," kata Asha masih ingin mendengar cerita nona mudanya.
"Enggak, enggak ada lagi," jawab Paris sambil tersenyum tersipu malu.
"Jadi ceritanya sudah seperti itu saja?" tanya Asha. Paris mengangguk. Asha mengerjap, "Kenapa heboh kalau begitu saja?"
"Yaitu kak... Aku enggak berani bicara banyak ke dia. Lihat dia aku langsung kabur," ujar Paris dengan ekspresi senang tapi juga sedih. Asha menipiskan bibir merasakan bibirnya yang terasa sedikit perih.
Arga sialan!
"Kapan-kapan kakak aku ajak keluar buat lihat dia. Uuuhh... dia gantenggg!" Paris geregatan menyebut teman sekolahnya itu.
"Tahu. Bukankah kita pernah bertemu di pasar waktu itu." Asha masih ingat karena visual cowok itu yang bagus. Paris terus saja mendeskripsikan kesempurnaan laki itu di matanya. Asha tersenyum melihat nona mudanya membuat bermacam-macam ekspresi. Paris mungkin menebar aura bahagia karena mengagumi seseorang.
Apakah aku juga begitu? Bukankah kalau resmi jadi sepasang kekasih, itu menunjukkan kita sedang jatuh cinta? Entahlah..
Tuan muda sedang jatuh cinta pada pelayannya. Terdengar agak janggal. Yang benar mungkin, seorang pelayan jatuh cinta pada Tuannya. Itu terdengar lebih masuk akal. Karena sisi sempurnanya terletak pada Tuan muda. Kenyataannya, memang Arga yang menjadi tuan muda sedang jatuh cinta padaku. Itu nampak bagus, Sha. Walau bagaimanapun Arga memang punya paras tampan yang tidak terbantahkan. Saat ini kau beruntung ada pada posisi itu.
Setelah bercerita soal lelaki itu, Paris kembali masuk rumah. Asha yang akan membawa timba ke dalam ruang cuci menemukan sekeranjang cucian baru yang belum di jemur di sekitar tempat penjemuran.
Rike!
Sementara itu Rike di tempat cuci sedang terguncang. Menghela napas berkali-kali. Menatap arah tempat jemuran dengan mata tidak percaya. Dia seperti habis melihat sesuatu yang sangat mustahil tadi.
Tadi saat dia yang selesai mencuci, membawakan cucian untuk di jemur oleh Asha. Namun saat tiba di tempat penjemuran, dia melihat tuan mudanya yang sedang bersama Asha. Memeluk tubuh Asha dan mencumbu bibir rekan kerjanya itu.
Mata Rike membeliak. Dadanya juga berdegup kencang melihatnya. Tangannya menutupi matanya secara refleks. Namun, karena dia juga penasaran, jari-jarinya terbuka satu persatu untuk melihat lagi. Mata Rike mengerjap berkali-kali saat itu memastikan lagi bahwa itu memang tuan muda dan mbak Asha. Setelah itu Rike memilih melangkah menjauh dari area penjemuran, sesaat setelah mereka membuka mata karena selesai bercumbu.
Dering handphone yang ada di tempat duduk mengagetkannya karena sedang melamun. Ternyata itu handphone milik Asha. Rike diam saja sambil melihat ke arah benda itu. Kemudian berjingkat kget saat ada langkah kaki memasuki ruang cuci. Ternyata itu Asha.
Entah kenapa Rike jadi canggung sendiri. Dering dari handphone milik Asha berhenti hingga Asha tidak tahu ada yang sedang meneleponnya. Rike menulan ludah. Dia jadi seperti sedang menghadapi tuan muda juga. Gugup, ketakutan dan tegang.
"Kamu kenapa?" tanya Asha melihat mata Rike yang terus saja menatapnya waspada. Kepala Rike menggeleng. Gelengan kuat seakan-akan dia telah menjadi saksi sebuah pembantaian. Asha yang meletakkan dua keranjang cucian itu kembali pada tempatnya menatap Rike lurus. Melihat Asha seperti itu, Rike memalingkan wajah.
Aneh. Namun Asha tahu penyebab keanehan Rike. Melihat sekeranjang cucian yang sudah bersih dan siap di jemur itu, Asha bisa menduga Rike melihat kejadian di tempat penjemuran.
"Aku sama tuan muda itu enggak sama, Ke. Jangan ketakutan seperti itu," tegur Asha pelan sambil memasang wajah hangat seperti biasanya. Rike memasang senyum terpaksa. "Kamu tadi dari tempat menjemur?" pertanyaan Asha makin membuat Rike gugup.
__ADS_1
"Eh, i-iya mbak. Aku tadi kesana dan melihat mbak.... sama tuan muda," ungkap Rike. Asha berdecak. Dia sudah menduganya. "Emmm... mbak Asha sama tuan muda itu... Anu.." Rike bingung mengucapkannya. Dia sedang mencoba memilah kata-kata untuk mengungkapkan apa yang sedang di pikirkannya.
"Tumben kamu bisa gugup saat bicara denganku?" potong Asha menghentikan kegugupan Rike.
"Habisnyaaa... embak sama tuan muda itu.." Asha menempelkan jari telunjuk tepat di depan bibirnya sendiri.
"Jangan bilang siapa-siapa ya?" pinta Asha kemudian sambil tersenyum agak malu. Bisa di pastikan Rike melihatnya dicium oleh tuan muda. Wajah Rike berubah. Saat ini Rike sedang memasang raut wajah terkejutnya. Tangannya menutup mulut karena perkiraannya benar. Tuan muda memang sedang mencium Asha di tempat penjemuran. Pasti Tuan muda sangat menyukai Asha, begitu pikir Rike.
"Emmmm... Mbak Asha ini...," ujar Rike jadi gemes sambil memeluk teman kerjanya itu. "Aku memang takut sama tuan muda, tapi juga tidak menyangkal kalau tuan muda itu ganteng. Jadi kalau mbak Asha jadian sama tuan muda, rasanya gak kebayang..." Lagi-lagi Rike memeluk tubuh Asha dengan gemas. Asha meringis menerima pelukan kebahagiaan Rike.
"Ingat, jangan bilang siapa-siapa. Gak boleh ada yang tahu kecuali kamu, ngerti?" tegas Asha sambil menangkup kedua pipi Rike. Kepala Rike mengangguk paham sambil senyum-senyum.
Aku jadian ya? Kalau orang lain yang mengatakannya, jadi terdengar seperti tidak mungkin. Kamu seperti pemain utama dalam drama romantis, Sha.
Handphone Asha berdering. Asha mendekat ke arah handphone-nya yang tergeletak di atas kursi, dimana dia sedang menunggu cuciannya selesai.
Arga? Kenapa dia meneleponku?
Asha menerima panggilan itu.
"Ada apa?" tanya Asha.
"Aku mau keluar, ikut ya," ajak Arga.
"Aku tidak melihatmu di luar. Kurasa kamu sudah selesai. Aku menunggumu," kata Arga langsung mematikan sambungan teleponnya.
Dia memaksa? Dasar tuan muda!
"Kenapa mbak?" tanya Rike.
"Tuan Muda memanggil. Ada tugas," jawab Asha bohong. Rike langsung memasang tampang gemesnya lagi.
"Emmm... Mbak Asha mau kencan nihh..." ledek Rike. Asha hanya meringis. Sekarang Rike sudah bisa meledeknya.
"Bukan. Pekerjaan. Sudah, aku pergi dulu," pamit Asha.
***
"Halo, kak!" sapa Paris di dalam mobil.
"Halo," balas Asha terkejut. Arga datang kemudian melewati pintu depan.
__ADS_1
"Kenapa diam saja? Masuklah bareng Paris," ujar Arga pelan saat melewati dirinya yang masih berdiri di depan mobil. Asha mengikuti kata Arga dengan masuk lewat pintu belakang dan duduk bareng Paris.
"Mau kemana?" tanya Asha.
"Kak Arga mau ke mini market, aku ngikut. Karena katanya aku bisa minta apa saja disana." kata Paris sambil mengangkat alisnya bangga. Layaknya anak kecil yang akan di belikan mainan dan makanan.
"Memangnya tidak pernah di belikan apa-apa sama Tuan Muda?" tanya Asha.
"Kakak agak pelit sih," jawab Paris sambil bersedekap. Arga mendongak dari kaca kecil di atasnya. Melihat Paris yang berlagak. Asha manggut-manggut.
"Apa yang sedang kau bicarakan Paris?" tegur Arga pura-pura marah. Paris meringis saja.
"Kakak juga mau di traktir kak Arga camilan?" tanya Paris. Asha menggeleng. Dia tidak tahu kenapa harus ikut. Mungkin untuk meramaikan suasana.
Di dalam mobil Paris masih berceloteh masih seputar cowok itu. Asha masih bertahan mendengar celotehan Paris dengan sesekali menutupi wajahnya dari sisi kiri, karena sepertinya mata laki-laki di depan sana juga seringkali melihatnya.
Arga menghentikan mobilnya di depan mini market. Ternyata apa yang di bicarakan oleh mulut Paris benar. Kakaknya mengajak beli-beli di mini market. Setelah keluar dari mobil, Paris langsung membuka pintu mini market lebih dulu. Menyambar keranjang belanja berwarna merah dan mulai menyusuri lorong.
"Jadi kamu mengajakku kesini?" tanya Asha yang merasa enggak puas. Demi kesini, dia harus meninggalkan Rike sendirian. Dia yang punya posisi sama dengan semua pekerja di rumah itu, saat ini sedang bersantai bersama tuan mudanya, yang entah kenapa tiba-tiba saja jadi kekasihnya. Asha jadi merasa Arga telah tidak adil dengan mereka semua.
"Kamu mikirin Rike? Bik Sumi?" tanya Arga yang berada di samping Asha. Dia bisa membaca pikiran Asha saat ini. Kepala Asha menoleh ke samping sebentar lalu lihat kedepan lagi, tidak menjawab. Arga paham. Kemudian dia mengambil keranjang belanja dan mengajak Asha untuk mulai memilih snack di rak-rak yang berjajar. "Pilihlah untuk mereka atau siapa saja yang mau di belikan," pinta Arga.
"Kenapa?"
"Aku paham kamu enggak enak sama mereka karena meninggalkan rumah pada jam kerja untuk pergi bersamaku. Jadi aku mau menggantinya dengan oleh-oleh seperti ini. Kalau kamu setuju.." Asha sih setuju saja asal bukan dari kantongnya.
"Aku merasa tidak nyaman jika melakukan itu," kilah Asha menyembunyikan rasa senangnya.
"Sejak kapan? Saat aku membelikan makanan untuk Cakra dan yang lainnya padahal itu rencanamu, kamu bersikap biasa saja."
"Sudahlah...," Asha beranjak ke rak yang lain. Paris masih berdiri di salah satu rak berisikan makanan.
"Aku tentu saja hanya mengajakmu, karena kamu kekasihku," bisik Arga di dekat telinga. Mata Asha membulat. Bisikan Arga yang dekat di telinganya membuat getaran di tubuhnya.
"Jangan terlalu dekatt.." desis Asha geram. Dia takut jika tiba-tiba ada pegawai mini market datang mengecek barang, atau pengunjung datang. Arga tersenyum. Asha sedang melongok ke dalam mesin pendingin yang berisikan banyak minuman. Tangannya merogoh masuk kedalam mesin pendingin dan mengambil minuman vitamin c kesukaanya.
"Bibirmu masih sakit?" tanya Arga pelan. Sepelan apapun pertanyaan itu terasa seperti teriakan keras yang menuju langsung ke gendang telinganya. Membuatnya tiba-tiba membasahi bibirnya.
"Jangan tanya hal-hal aneh di sini.." Asha salah tingkah juga Arga menanyakan itu.
"Aku kan harus tanggung jawab, Sha. Pelakunya kan aku," kata Arga dengan nada biasa. Paris yang sejak tadi asyik memilih snack kesukaanya, jadi berhenti. Lalu memandang Asha dan kakaknya yang berdiri di depan lemari pendingin. Dia yang awalnya mau memanggil Asha tidak jadi karena melihat mereka berdua kasak kusuk di sana. Mereka terlihat lebih dekat.
__ADS_1