
Arga melempar tubuhnya begitu saja di atas tempat tidur hotel, usai melakukan peninjauan dan jamuan makan dengan orang-orang penting di kota 'S'. Menghempaskan punggungnya dan membiarkannya beristirahat sejenak. Lengannya terangkat untuk menutupi kedua matanya. Dia ingin memejamkan mata sebentar. Terasa nyaman walaupun masih memakai pakaian kerja. Dia memang merebahkan tubuhnya tanpa berganti pakaian dulu.
Arga sudah selesai meninjau keseluruhan pembangunan. Dia sangat bekerja keras hari ini. Tuan muda ini sangat ingin segera pulang ke rumah. Pekerjaan yang seharusnya bisa selesai besok siang, malam ini sudah selesai. Meskipun tidak semuanya, hanya tinggal sedikit saja, Arga bisa merampungkan semua pekerjaan. Namun itu pekerjaan yang bisa di lakukan dengan cepat. Mata Arga melihat ke arah arloji di tangannya, pukul 22.52 WIB.
Seharusnya langsung pulang masih bisa. Namun Arga mengurungkan niat karena merasa kasihan kepada Rendra kalau harus menyetir padahal dia juga sudah capek. Arga berpikir sekretarisnya juga pasti sudah tertidur dalam kamarnya.
Setelah beberapa menit rebahan dengan santai, Lalu dia bangkit. Dengan posisi masih duduk, Arga melepas arloji dan mulai membuka kancing kemejanya satu-satu persatu. Hanya bertelanjang dada, kakinya berjalan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mandi menggunakan air hangat terasa nyaman di tubuh. Rasa pegal dan capek menjadi berkurang.
Sedang apa Asha sekarang ya... Pasti dia sudah tidur. Mungkin pula tidak. Karena jam 10 tadi biasanya dia baru saja menghabiskan jam malamnya. Mungkin dia baru pulang dari bermain. Gadis itu masih saja suka bermain seperti Paris.
Bibir Arga tanpa sadar tersenyum saat membayangkan pelayan di rumahnya. Pelayan unik yang membuatnya mengalihkan pandangannya. Arga ingin meneleponnya saat ini. Mendengarkan lagi suara yang terdengar renyah di gendang telinganya. Namun itu tidak mungkin. Dia akan nampak sangat tidak pengertian kalau memaksa menelepon pada jam istirahat seperti ini. Walaupun itu mungkin karena dia adalah majikan.
Setelah lama berendam air hangat dan membersihkan diri dia beranjak keluar kamar mandi. Hanya berlilitkan handuk di pinggang yang memperlihatkan tubuh tegap dan bagusnya, lelaki ini menuju tempat dimana pakaiannya berada. Sambil mencari kaos yang nyaman, Arga menata pakaiannya ke dalam tas. Agar saat matahari muncul dengan sinarnya, dia bisa segera langsung pulang.
Handphone Arga di atas meja nakas berdering. Nama Rendra muncul pada layar. Orang yang pikir Arga sudah tertidur justru masih bangun.
"Ada apa Rendra?"
"Ada telepon dari kantor kepolisian kota 'J'," jawab Rendra membuat mata Arga menyipit dan dahinya berkerut samar karena heran.
Kantor Kepolisian? Jam berapa ini?
__ADS_1
Arga melihat jam dinding, 23.47 WIB. Ini sudah hampir tengah malam. Arga merasa ini bukan waktu yang tepat untuk menelepon kecuali saat gawat darurat. Rasa khawatir mulai menyerang, dadanya bergemuruh karena membayangkan hal-hal buruk.
"Soal apa Rendra?" tanyanya mendesak dan tidak sabar.
"Saat ini nona Paris sedang berada di sana, Tuan. Saya tidak di beritahu ada apa. Namun pihak kepolisian meminta anda segera kesana. Sepertinya ini penting," Mata Arga membeliak.
Paris? Ini sudah hampir tengah malam. Sedang apa bocah itu ada di sana? Dan kenapa juga harus ada di sana?
"Karena ini terdengar gawat, panggil pengacara keluarga untuk segera ke sana saat ini juga. Aku rasa kita pasti tidak bisa segera datang karena kita tidak sedang berada di kota 'J' sekarang," perintah Arga.
"Baik Tuan," jawab Rendra.
"Jangan memberitahukan hal ini pada Ayah dan Bunda. Soal ini hanya kita bertiga. Aku merasa ini adalah suatu hal yang tidak boleh di ketahui mereka,"
Arga bergegas berpakaian dan masukkan semua pakaian ke dalam tas tanpa memperdulikan kerapiannya. Dia ingin segera sampai di sana dan melihat keadaan adiknya. Karena Paris sengaja memberikan nomor telepon Rendra, berarti ini hal yang ingin di sembunyikan Paris. Kalau bukan, kenapa harus memberitahu Rendra yang berada jauh di luar kota? Lebih baik menelepon Ayah atau Bunda yang letaknya lebih dekat.
Arga memikirkan banyak kemungkinan yang membuat Paris harus memaksanya pulang untuk menemuinya di kantor kepolisian larut malam seperti ini. Setelah selesai, Arga bergegas berangkat keluar kamar. Ternyata Rendra juga sudah siap dengan membawa tasnya. Sebenarnya pulang kerja tadi Rendra juga sudah menata semua pakaiannya untuk dibawa pulang. Dia beranggapan direkturnya ingin segera pulang malam ini, tapi sepertinya tidak. Karena ada masalah ini, akhirnya keinginan Arga untuk pulang malam ini tercapai.
Setelah menyelesaikan pembayaran saat check out hotel, mereka berdua menuju tempat parkir dan segera pulang. Perjalanan pulang membutuhkan waktu satu jam setengah. Karena malam hari jalanan sepi hingga akhirnya bisa sampai pada kota 'J' mungkin hanya satu jam. Namun mobil yang di jalankan terasa sangat lamban karena Arga rasa cemas memikirkan adiknya berada di kantor polisi saat ini.
"Pengacara Dirga sudah berada di sana Tuan. Dia akan mengurus semua tanpa menunggu anda datang," Rendra memberitahu dengan sedikit menoleh kebelakang.
"Bagus. Apa tidak ada yang sedikit yang Dirga bicarakan tentang hal ini?" tanya Arga penasaran.
__ADS_1
"Pengacara Dirga hanya menyinggung sedikit soal bodyguard yang sedang bersama nona Paris di sana. Tuan Dirga berkata anda tidak perlu khawatir," jelas Rendra lagi.
Bodyguard? Berarti Paris sedang bersama Angga, sopir rumah yang tubuhnya gempal mirip bodyguard. Sebenarnya ada apa? Apakah Angga membuat keributan?
Arga memijit pelipisnya karena merasa sakit pada kepalanya. Matanya melihat jalanan yang sepi dan sunyi. Dia berharap mobil ini bisa melaju dengan cepat.
***
Arga langsung membuka pintu mobil tepat saat Rendra berhasil membelokkan 'besi berjalan' ini ke halaman kantor POLRES kota 'J'. Mempercepat langkah kakinya menuju ke dalam kantor polisi. Arga tersenyum sopan saat ada seorang polisi yang mengetahui identitas Arga, segera menyambutnya dengan ramah. Tanpa bertanya dia membimbing langkah Arga dan Rendra yang sudah bisa menyusul di belakang mereka, ke arah ruangan di mana Paris sedang berada di sana dengan Dirga.
Lelaki berkulit sangat putih hingga pucat ini mendekati Arga terlebih dahulu. Pengacara muda tetapi berkharisma ini segera menjelaskan secara mendetail pokok permasalahannya. Seorang Bapak polisi yang ada di sana juga tersenyum hormat menyambut kedatangan Direktur perusahaan terkemuka di kota 'J'.
Mata Arga melihat Paris dengan wajah setengah menunduk masih terdiam di atas tempat duduknya sambil melirik ke kakaknya yang baru datang. Dan... indra penglihatan Arga teralihkan oleh dia yang sedang duduk bersama Paris. Tepat berada di sebelah adiknya. Semua penjelasan Dirga terkait adiknya mulai samar-samar terdengar di gendang telinga Arga.
Saat ini dia hanya memusatkan perhatian pada sosok itu. Perempuan dengan rambut panjang yang saat ini sedang di ikat ke atas, yang lebih sering di sebut kuncir ekor kuda. Gadis yang masih diam tanpa melihat ke belakang sama sekali saat kemunculannya, membuat Arga menyamarkan semua orang-orang yang berada di situ. Dia hanya memandang gadis itu. Dan memang hanya sosok itu yang nampak jelas terpantul pada netranya. Arga sangat hapal dengan tengkuk dan leher yang jenjang itu. Apalagi dari sudut samping ini. Raut wajah Arga tertegun.
Kenapa dia juga ada di sini?
Tanpa mengindahkan Dirga, netra Arga terus saja melihat ke arah gadis itu. Dirga mengangkat alisnya dan kedua matanya mengerjap. Merasa Arga, teman dan juga atasannya sedang tidak memperhatikan semua penjelasannya. Lalu menatap Rendra yang berada di sebelah Arga dengan tatapan bertanya.
"Dia sedang tidak mendengarkanku bukan?" Dirga sedang mencoba mencari teman dan saksi bahwa Arga memang terbukti tidak mendengarkan penjelasan pengacara. Karena dia tidak ingin lelaki yang kadang kaku itu menyalahkannya tidak memberitahu pokok permasalahan yang menimpa adik kesayangannya.
Rendra hanya mengangguk sopan tanpa berkata apa-apa. Dia paham kenapa Tuannya tidak mendengar penjelasan pengacara Dirga dengan serius. Dia tidak bisa mendengarkan dan melihat hal lain saat ini. Satu hal sudah mengusiknya.
__ADS_1