Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Peduli


__ADS_3


"Beliau adalah orangtua Tuan Arga?" Wajah karyawan ini terkejut. Berarti dia tidak tahu. Yah ... disini yang di anggap pemilik adalah Arga. Jadi untuk para tenant wajar jika tidak paham kalau pemilik sebenarnya adalah ayah dan bunda Arga. Asha mengangguk. "Selamat datang di butik kami Nyonya ..." sapa karyawan itu sambil menundukkan wajah. Nyonya Wardah yang tadi sempat melihat ke arah Asha kini sudah melihat lagi ke arah gaun yang di pegangnya. Mendengar sapaan, beliau menoleh dan tersenyum. Berpura-pura bahwa beliau tidak mendengarkan percakapan mereka berdua.


"Ah, iya. Bisa kamu tunjukkan pada saya koleksi gaun terbaru?" tanya nyonya Wardah dengan sunggingan senyum pada bibirnya. Karyawan itu langsung sigap membimbing ke arah tempat koleksi terbaru di gantung. Lalu menunjukkan satu persatu koleksi terbaru milik butik ini.


Asha di tempatnya tengah memilih baju dengan bingung. Sebenarnya dia ingin menanyakan pendapat pada suaminya, tapi sepertinya keinginannya harus di tunda dulu demi menyenangkan hati suaminya yang menginginkan dia lebih banyak berinteraksi dengan bundanya.


Nyonya Wardah terlihat sibuk dengan dua karyawan yang melayani beliau. Asha patut lega bisa lepas dari interaksi yang tidak perlukan. Jadi dia bisa fokus mencari gaun sendiri. Bersama mertua jadi terasa menyesakkan begini.


"Tolong kamu juga tunjukkan koleksi ini pada menantuku disana," pinta nyonya Wardah. Karyawan itu menyuruh rekannya menuju ke arah Asha berdiri. Saat karyawan itu menawarkan, Asha menolak.


"Tidak perlu. Aku cukup yang ini saja." Dia menunjukkan setelan berwarna merah menyala.


"Mertua Anda yang menyarankan untuk melihat koleksi itu," ujar karyawan ini memberi tahu. Asha langsung menoleh cepat. Nyonya Wardah.


"Baiklah..." Asha pasrah. Kakinya melangkah menuju tempat ibu mertuanya berdiri.


"Kamu bisa memilih koleksi ini juga. Cobalah untuk memilih." Asha menurut. Tidak ada yang dirasa cocok untuknya. Mungkin melihat menantunya bingung, beliau memberi saran, "Kamu bisa coba yang ini." Nyonya Wardah menyodorkan pakaian. Karena beliau sendiri yang memilih, Asha terpaksa mencobanya. Namun mungkin karena selera tidak sama, pakaian yang di tawarkan nyonya Wardah tidak cocok. Untuk pakaiannya bagus, tapi kurang pas untuk Asha.


Bola mata beliau tertuju pada pakaian yang tergeletak di kursi butik. "Saya memilih itu?" tanya beliau heran.


"Bukan. Menantu Anda yang memilihnya tadi," jawab karyawan itu seraya mengambilkan setelan itu. Asha yang sudah berganti pakaiannya lagi barusan keluar dari kamar ganti. "Kamu ingin memilih yang ini?" tanya beliau membuat Asha tidak nyaman. "Tidak apa-apa, cobalah." Tangan Asha terulur mengambil pakaian itu.


Ternyata warna merah menyala tidak membuat Asha kalah saing dengan pakaiannya. Warna ini semakin membuat Asha lebih kelihatan aura cantiknya. Bibir ibu mertua tersenyum tipis pertanda setuju dengan pilihan menantunya.


***



Siang hari di ruang kerja Evan.


"Aku sebentar lagi akan ke butik, menemanimu makan siang." Evan memberitahu lewat ponsel. Selagi ada waktu, Evan selalu menyempatkan diri menemani istrinya makan siang. Itu sangat jarang sekali di lakukannya saat dulu. Selain karena mereka berdua sama-sama sibuk, Chelsea enggan dan selalu menolak saat Evan menawarkan perlakuan manis. Namun kali ini Chelsea tidak menolak juga tidak mengiyakan. Dia hanya diam. Evan mengartikan itu iya. Mungkin saja Chelsea masih canggung karena dengan terbuka dia mengatakan bahwa menikahi Evan karena marah dengan Arga.

__ADS_1


"Cepatlah ... Aku merasa tubuhku lemah." Mendengar permintaan yang sangat jarang ini,  membuat Evan menyegerakan laju mobilnya lebih cepat. Dia ingin segera tiba di tempat Chelsea. Ada rasa khawatir yang mendera Evan.


Tiba-tiba mobil yang ada di depan Evan mengerem mendadak. Laju mobil Evan yang sudah cepat tidak bisa lagi berhenti secara mendadak. Walaupun kaki Evan sudah menginjak rem dengan dalam, badan mobil terus saja melaju. Evan membanting setir ke kiri dan akhirnya berhenti saat memaksa naik ke badan trotoar dan menabrak pohon.


Di butik, Chelsea menunggu. Matanya terpejam karena merasa pening. Asistennya tadi sudah membuatkan teh hangat. Jadi dia merebah di atas sofa panjang di kantornya. Ponselnya berdering. Tangannya perlahan menyusuri meja mencari ponselnya tanpa membuka mata.


Setelah menemukan ponselnya, Chelsea membuka mata. Ada nama Evan di sana. Namun saat seseorang berbicara di sana, suara itu terdengar asing.


"Iya, aku Chelsea istri Evan. Anda siapa? Aku tidak mengenal suara ini."


"Saya petugas medis rumah sakit, suami anda sedang berada di rumah sakit karena sebuah kecelakaan...." Tubuh Chelsea langsung bangkit. Kalimat petugas rumah sakit tidak terdengar lagi walaupun ponsel masih tersambung. Benak Chelsea sudah membayangkan hal buruk menimpa Evan.


"Anda mau kemana?" tanya asistennya terkejut.


"Aku harus ke rumah sakit."


"Anda akan periksa kesehatan Anda?"


"Apakah saya perlu menemani Anda? Tubuh Anda juga tidak sehat."


"Tidak. Aku bisa sendiri. Kamu jaga butik saja. Aku pergi." Asisten itu menatap punggung atasannya dengan cemas, karena tadi tubuh itu juga terlihat lemah.


***



Tanpa perlu lama, Chelsea bisa segera menemukan Evan di IGD. Pria itu terbaring lemah di atas tempat tidur. Sendirian. Chelsea perlahan mendekati. Ada perasaan baru yang menyerang hatinya. Lega. Pastinya. Karena pria itu masih bisa di bilang bisa selamat walaupun lengannya patah. Cemas. Mungkin saja karena bagaimanapun Chelsea adalah manusia. Ada manusia lain yang sedang mengalami kecelakaan dan sekarang terbaring lemah di atas ranjang rumah sakit, Chelsea pasti cemas.


Takut. Melihat mata itu masih menutup mata meskipun dengan tubuhnya yang seperti tidak banyak lecet, Chelsea merasa takut. Semua perasaan yang di anggapnya wajar itu sebenarnya mengherankan. Dia Evan. Mengapa Chelsea perlu merasa begitu?


Tangan Chelsea terulur menyentuh pelipis pria itu. Ada gerakan kecil yang menandakan pria itu menangkap sentuhan Chelsea. Perlahan mata itu terbuka.


"Chelsea?" tanya Evan terkejut. Tanpa diminta, Chelsea membantu Evan duduk. Senyum tipis terlukis di bibirnya yang masih menunjukkan raut wajah lemah. Tangan kiri Evan patah. Raut wajah Evan merasa sakit luar biasa di lengannya. Chelsea tidak bisa berkata-kata.

__ADS_1


"Kamu tidak apa-apa? Kamu bilang tubuhmu lemah," tanya Evan seraya berbicara pelan dan lambat. Chelsea mengangguk. Tiba-tiba bibirnya kelu tidak bisa mengeluarkan kata-kata. "Jangan menangis. Aku tidak apa-apa," kata Evan mencoba menenangkan.


Ini juga tidak hanya mengejutkan pria itu, Chelsea sendiri merasa terkejut dengan kalimat Evan. Menangis? Tangannya menyentuh pipi dan menemukan butiran airmata meleleh dari matanya. Ya. Dia memang sedang menangis. Dan airmata itu terasa semakin deras. Chelsea terus saja diam dan mengeluarkan airmata. "Aku benar-benar tidak apa-apa. Mungkin sedikit sakit di lengan kiri, tapi tidak apa-apa." Dalam keadaan biasa, tanpa diminta pun Chelsea enggan mendekat ke arah Evan. Namun kali ini, Chelsea mendekat ke tubuh Evan tanpa di minta. Memeluknya erat dengan berhati-hati pada lengan kiri Evan. Ada rasa sejuk pada relung hatinya. Ini pertama kali perempuan ini memeluknya dengan inisiatifnya sendiri.


Tangan kanan Evan menerima pelukan itu. Lalu menepuk pelan punggung istrinya.


"Aku cemas. Aku khawatir," ucap Chelsea di antara isakan tangisnya. Evan tersenyum.


"Aku benar-benar tidak apa-apa, Chelsea. Tubuhmu tidak apa-apa? Kamu bilang ingin aku datang dengan cepat." Mendengar ini Chelsea menjauhkan tubuhnya dengan cepat dan menatap pria di depannya yang sepertinya meringis menahan kejutan yang di sebabkan tubuhnya yang tadi menjadi sandaran dan tiba-tiba saja menjauh.


"Kamu mengalami ini karena cemas denganku?" selidik Chelsea. Evan tersenyum kecut. Walaupun itu tidak bisa di jadikan alasan, tapi memang karena rasa cemas yang menderanya yang di sebabkan kalimat Chelsea, dia memercepat laju mobilnya.


"Bukan." Evan mengatakannya agar Chelsea tidak cemas.


"Aku memang merasa lemah dan pusing tadi, tapi kalau melihatmu seperti ini aku juga merasa dua kali lipat pusing. Bahkan lebih."


"Maaf," ucap Evan yang merasa lebih bersalah. Melihat Chelsea menatapnya marah, Evan merasa salah.


"Hentikan itu. Kamu tidak salah." Chelsea mengusap airmatanya. Lalu datang seorang petugas yang meminta Chelsea menyetujui pengoperasian lengan Evan yang patah. "Aku pergi dulu." Evan mengangguk. Menatap tubuh istrinya dari belakang dengan bahagia. Dia mengalami patah tulang tapi merasa senang. Bibirnya tidak berhenti tersenyum.


Banyak hal yang membuatnya mensyukuri kecelakaan ini. Seperti Chelsea yang memeluknya dan juga kecemasan di wajah perempuan itu yang di tujukan untuknya. Ini pertama kalinya perempuan itu menunjukkan respon khawatir. Itu sangat membahagiakan baginya.


***



Sekitar jam 7 malam, Arga dan Asha berkunjung ke rumah sakit untuk menjenguk. Dia memang baru saja di kabari, setelah berusaha menelepon ponsel Evan berkali-kali. Karena Evan sudah ada janji, untuk bertemu dengan Arga siang tadi. Baru saat Evan sudah selesai di operasi dan di pindahkan ke kamar pasien kelas 1, dia bisa menerima panggilan. Chelsea tahu itu Arga yang menelepon, tapi dia merasa tidak ingin menerimanya.


Arga mengetuk pintu. Tak lama kemudian, seseorang membukakan pintu untuk mereka. Ternyata Chelsea. Mata mereka bertiga beradu. Karena orang yang mengetuk pintu tidak segera masuk, Evan melongok dari ranjangnya.


"Masuklah...." Chelsea akhirnya mempersilakan mereka masuk, setelah beberapa detik berada dalam kesunyian tadi.


__ADS_1


__ADS_2