
..."Memangnya Arga bilang apa, Bik? Kok bunda sampai harus takut Arga marah," tanya Asha saat bik Sumi sudah memberikan minuman dan kue-kue kering untuk tamu....
..."Kamu tahulah tuan muda bagaimana. Tuan muda itu sempat sedikit memberi ultimatum pada kami, yaitu jangan membiarkanmu melakukan pekerjaan. Tuan muda tidak ingin kamu akan kelelahan dan membuatmu tidak sehat."...
..."Karena aku mual dan muntah tadi pagi?" terka Asha....
..."Mungkin saja. Beliau jadi sangat ingin kamu bebas tugas, apa saja."...
..."Mana bisa, Bi. Aku bisa bosan." Bola mata Asha memutar geregetan....
..."Bibik enggak tahu soal itu. Yang penting bibik harus bisa membuatmu tetap tidak melakukan apa-apa. Bibik enggak mau tuan muda marah karena membiarkanmu melakukan pekerjaan rumah." Bik Sumi tidak mau terpengaruh. Beliau lebih takut pada tuan muda daripada Asha....
...[ Episode Sebelumnya ]...
"Bersantailah selama bisa bersantai, Sha. Itu rezeki. Tidak semua ibu hamil bisa bersantai seperti kamu." Asha menoleh ke arah Bik Sumi yang mencuci piring. Melanjutkan pekerjaan yang tadi dilakukannya.
"Mungkin, tapi berdiam diri saja di rumah ini, sedikit tidak menyenangkan," desah Asha.
"Kamu mulai lagi. Merasa tidak enak, tidak nyaman." Bik Sumi memutar tubuhnya untuk menengok ke arah Asha. Membuat tatapan mata menuduh, juga menipiskan bibir. Sontak Asha mengatupkan rahangnya, merasa salah bicara.
Aku salah sepertinya.
"Merasa sungkan itu bagus. Baik malah. Karena kita jadi sangat peduli sama orang-orang di sekitar kita, tapi ... berlebihan juga tidak baik. Saat ini, semua orang di keluarga Hendarto mau menyambut kamu apa adanya. Mungkin memang karena tuan muda adalah kesayangan nyonya, tapi itu semua juga karena mereka baik. Kalau tidak baik, pasti hanya ada tuan muda saja mereka baik ke kamu." Asha mendengarkan penuturan Bik Sumi dengan seksama. "Coba kamu pikir, mana ada orang sebaik keluarga Hendarto ini?"
"Aku tahu."
Justru karena mereka terlalu baik, jadi aku tidak bisa berdiam diri saja. Ini membuatku selalu terkurung dengan perasaan harus membalas kebaikan mereka. Sedikit saja aku merasa lengah karena tidak berbuat baik untuk mereka semua, aku akan selalu merasa bersalah.
Aku merasa harus tahu diri tepatnya. Seperti kata-kata ibu-ibu arisan itu. Karena nyonya Wardah baik hati, aku tidak boleh seenaknya merasa nyaman, aman dan tenteram. Bukan bermaksud berburuk sangka, tapi sengaja tidak membiarkan diri untuk berlenggang ria dan serasa tidak tahu terima kasih.
"Jangan terlalu membuat dirimu merasa harus membalas budi, setiap perlakuan baik mereka padamu." Kali ini Bik Sumi sudah memutar tubuh. Membuat tubuhnya menghadap ke Asha. Beliau sedikit tahu apa yang ada dalam benak mantan rekannya.
"Emmm... itu." Beliau tahu, karena Asha adalah anak didiknya di dalam pekerjaan ini.
"Bibik tidak habis pikir sama kamu. Di kasih enak, di suruh bersantai saja ... malah ingin bekerja terus. Kamu itu istrinya tuan muda. Kalau di suruh bersantai, ya ... santai saja. Toh, kapan lagi kamu akan merasakan waktu sesantai ini. Saat kamu sudah melahirkan nanti, saat kamu sudah punya bayi, kamu tidak akan punya banyak waktu sesantai ini karena harus ngemong anak kamu. Mungkin memang akan ada pengasuh bayi, tapi apa kamu bisa mendapatkan waktu sesantai ini dengan mudah? Tidak. Kamu akan ribet terus sama anak kamu. Yakin sudah." Bik Sumi juga punya banyak pengalaman jadi seorang ibu.
"Benarkah?" tanya Asha sedikit gentar. "Tapi aku kan hanya melakukan pekerjaan ringan, Bik. Itu bahkan bisa aku lakukan dengan menutup mata." Asha mengatakannya dengan lagak bisa.
"Mana bisa cuci piring sambil merem, Sha. Kamu itu ada-ada saja." Bik Sumi tersenyum geli.
Santai ya. Kelihatan bersantai dulu lebih baik.
...****************...
Setelah meletakkan sebuah oleh-oleh di meja, Arga yang datang dari tempat kerja, langsung menuju kamar mandi sebelum mendekati istrinya. Dia belajar dari rasa syok pertama yang membuatnya sangat tidak nyaman. Netra Asha melihat oleh-oleh yang di letakkan suaminya.
"Emping singkong!" seru Asha senang. "Dapat darimana emping singkong ini?" tanya Asha terpesona sambil menimang-nimang bungkusan emping singkong itu.
"Dari ibu. Aku tadi mampir sebentar ke rumah sana!" jawab Arga dari balik pintu kamar mandi. Ada suara gemericik air yang jatuh dari atas. Itu pertanda suaminya sedang menikmati guyuran air shower yang segar.
"Emm...." Asha mengangguk merasa memang sempat mengenali ciri khas kampungnya itu. "Bagaimana kabar bapak sama ibu?" tanya Asha masih memegang oleh-oleh itu.
Ada jeda beberapa detik saat Asha menantikan jawaban. Mungkin Arga masih membilas wajahnya, yang membuat dia tidak bisa memberikan jawaban. Karena masih terdengar suara air jatuh dari ketinggian.
"Aku selesaikan mandi dulu. Kita bisa ngobrol sebentar lagi."
"Ya." Asha mengangguk tanpa sadar sambil duduk di depan meja rias. Setelah menunggu beberapa menit, Arga keluar dari balik pintu kamar mandi. Tangannya masih mencoba mengeringkan rambutnya dengan handuk. Menggosok-menggosokkan handuk ke rambutnya yang basah. Asha berdiri dan mendekat. Meminta handuk yang di pegang Arga.
"Duduklah. Aku akan mengeringkan rambutmu." Lalu menghela suaminya untuk menuju kursi meja rias. Harum semerbak sabun dan shampoo yang di pakai, menguar dari rambut dan tubuh tegap itu. Asha menghirup dengan perasaan senang. Aroma ini menyenangkannya.
Melihat tengkuk polos dan lembab, membuat Asha iseng untuk mengecup pelan. Mendekatkan bibirnya yang panas dan mengecup pelan. Dia sangat menyukai aroma suaminya setelah mandi. Itu menenangkan.
Arga sedikit menahan senyar yang mendarat di tubuhnya dengan menyipitkan mata.
Tangan Arga menyambut kecupan istrinya dengan memegang belakang kepala istrinya lalu membawanya untuk mendekat ke wajahnya. Mengecup bibir istrinya pelan dan tersenyum.
__ADS_1
"Aku mencintai istriku."
"Ya. Itu harus." Asha tergelak. Kemudian mulai mengeringkan rambut dengan handuk yang di pegangnya. "Bagaimana kabar bapak dan ibu? Apa sehat?"
"Ya. Mereka berdua sehat."
"Juna? Bagaimana Juna?"
"Aku tidak bisa bertemu dengannya. Kata ibu sih, dia juga sehat." Asha menggosok rambut suaminya dengan lembut. "Kamu tidak pernah menelepon bapak lagi?"
"Masih kok. Cuma belakangan jarang."
"Bapak kangen sepertinya. Sebaiknya kita berencana untuk kesana," tanya Arga sambil melihat istrinya dari pantulan cermin.
"Nunggu waktu kamu senggang aja."
"Aku bisa menyegerakan. Aku tidak ingin membuat bapak harus memendam lama ingin bertemu kamu." Asha mengangguk mengerti. "Kamukan anak kesayangan beliau. Anak bapak," ledek Arga.
"Bukannya pria ini juga masih anak bunda. Kesayangannya bunda Wardah," balas Asha tidak mau kalah.
"Benar." Arga tergelak.
"Makanya bunda terus saja waspada jika aku mulai melakukan sesuatu yang membuatku lelah, karena ultimatum anak kesayangannya," sindir Asha.
Arga tahu, yang Asha maksud adalah titahnya kepada bunda tercinta dan Bik Sumi agar selalu menjauhkan istrinya dari mengerjakan pekerjaan yang membuat lelah. "Aku hanya ingin memastikan kamu tidak kelelahan."
"Tapi kamu sudah membuat aku tidak bisa bebas bergerak. Aku hanya bisa bersantai-santai saja."
"Bagus. Itu yang aku harapkan." Arga puas tapi tidak bagi Asha. Bibir Asha mengkerucut. Mencibir. "Aku bisa lihat bibir kamu yang mencebik. Tidak suka, kalau suamimu ini membuatmu jadi nyonya yang bisa bersantai ria?"
"Suka. Suka sekali, tapi aku kan tinggalnya sama ayah dan bunda."
"Tidak peduli. Aku tidak mau istriku harus mengerjakan sesuatu yang tidak perlu. Kan masih ada bunda sama Bik Sumi."
"Ih, pria ini..." Asha gemas. Arga memejamkan mata tidak menghiraukan. "Bagaimana harimu?" tanya Asha mencari pembahasan lain.
"Menyenangkan. Kamu tidak ingin sesuatu?"
"Sesuatu," jawab Arga dengan teka-teki.
"Sesuatu itu apa sih?" Asha tidak paham maksud perkataan suaminya. Alisnya menyatu tanda dia bingung. Tidak paham.
"Emm ... misalnya ...."
"Kamu ingin bercinta?" tanya Asha memotong kalimat suaminya dengan vulgar. Namun dia tidak peduli. Kalimat suaminya yang penuh dengan teka-teki membuatnya ingin segera menyelesaikannya.
Rupanya di todong pertanyaan seperti ini justru membuat Arga terkejut. Dia tidak menyangka Asha akan bertanya tentang itu. Karena tidak mendapat jawaban dan suasana senyap beberapa detik, Asha penasaran dan mendongak melihat ke arah cermin.
Asha menemukan suaminya sedang terperangah menatap dirinya. Tertegun mendapat pertanyaan yang baru saja terlontar. Melihat itu Asha tersenyum geli.
"Ih, apaan sih ... terkejut seperti itu. Memangnya kita tidak pernah melakukannya?" Wajah Asha jadi tersipu juga. Yang awalnya tadi tidak peduli karena merasa Arga pasti bilang iya, sekarang justru dia yang salah tingkah. Karena, ternyata Arga tidak bermaksud ke arah sana. "Aku jadi seperti terlihat yang lebih menggebu-gebu daripada kamu."
Arga tersenyum melihat istrinya jadi malu. Asha berdesis, merasa keliru sudah berucap seperti itu. Kemudian dia menyelesaikan kegiatannya dan melempar handuk ke arah pangkuan suaminya.
"Mau kemana?" Arga meraih handuk yang keseluruhannya sudah hampir basah.
"Berbaring. Rambutmu sudah kering. Sudah, cepat pakai baju." Asha langsung berbaring di atas ranjang. Tak di sangka suaminya menyusul. Memeluk tubuh istrinya dari samping. "Hei, kenapa enggak pakai baju dulu? Nanti masuk angin."
"Tubuhku kuat. Tidak apa-apa." Arga tersenyum geli melihat Asha panik. Melihat itu lengannya semakin memeluk erat. Asha menerimanya. "Benar, tidak ada yang kamu inginkan?" Arga bertanya soal yang sama.
"Ini pertanyaan soal apa? Jangan membuatku salah paham lagi," gerutu Asha.
"Apa kamu tidak sedang ingin makan atau minum sesuatu?"
"Hmmm... aku memang ingin makan malam. Karena menunggumu pulang, aku belum makan."
"Ha? Maaf. Kenapa tidak bilang dari tadi?" Arga terkejut. Lalu berguling menuju tepi ranjang dan berdiri. Beranjak menuju lemari pakaian dan mencari kaos yang nyaman. Memilah-milah dan akhirnya memakainya dengan segera. "Ayo. Kita harus makan dulu." Arga menjulurkan tangannya agar bisa membantu istrinya bangun dari tidurnya. Asha menggapai tangan suaminya dan ... tiba-tiba dia menarik tangannya dan menutup mulut. Wajahnya mengkerut menahan rasa tidak nyaman pada perutnya.
"Ada apa?" tanya Arga merasa aneh.
__ADS_1
"Aku mual. Aku mau muntah." Mata Arga membelalak mendengar keluhan istrinya. Tubuh Arga condong untuk meraih tubuh istrinya. Membantunya segera berdiri dan membimbing ke kamar mandi. Di dalam kamar mandi Asha memang mual-mual, tapi tidak ada muntahan yang keluar dari mulutnya. Arga mencoba membantunya dengan memijit pelan tengkuk istrinya. Asha memejamkan mata dan menghela napas.
"Sudah? Tidak mual lagi?" tanya Arga sambil memiringkan kepala merasa khawatir. Asha mengangguk. Arga membimbing tubuh istrinya menuju ranjang untuk duduk. Kaki Arga menuju meja, dimana ada teko. Menuangkan air dalam gelas kaca dan memberikan pada Asha. "Minumlah dulu." Asha menerima sodoran air minum dan meminumnya perlahan. "Kita ke dokter?"
"Tidak. Tidak perlu. Aku hanya laparrr ... Aku harus segera makan," keluh Asha manja.
"Iya. Ayo ke ruang makan."
...****************...
...****************...
Karena yang lain sudah makan, tinggal mereka berdua yang berada di ruang makan. Bik Sumi sudah menyiapkan makanan untuk tuan muda dan istrinya.
"Jadi mualmu tadi karena lapar?" tanya Arga ingin tahu.
Asha tersenyum geli. Menertawakan dirinya sendiri. "Ya. Sepertinya aku mual karena lapar." Arga mengangguk paham. Dia sedang mencoba mengisi kamus 'gangguan pada ibu hamil' yang di buat oleh otaknya. Dia harus paham ini. "Makanlah yang banyak kalau begitu."
"Tidak harus banyak. Yang penting jangan sampai telat saat waktunya makan."
"Berarti kamu harus selalu punya snack buat mengisi perut."
"Mungkin seperti itu."
"Aku akan coba googling."
"Buat apa?" tanya Asha sambil menyuapkan makanan pada mulutnya.
"Nyari info. Lalu bikin daftar makanan ringan apa saja yang tepat buat ibu hamil. Juga enggak bikin kamu mual." Asha tersenyum senang suaminya antusias.
"Terima kasihh ... Suamiku memang yang terbaik," puji Asha tulus sambil mengusap rambut Arga. Bibir Arga melengkung membentuk senyum.
"Harus. Bagaimanapun aku yang sudah bikin kamu hamil." Mendengar ini Asha tertawa sambil menutup mulut. Karena dia sedang mengunyah makanan. Setelah yakin makanan di kunyah dan di telan, Asha menepuk lengan suaminya. Masih tertawa.
"Itu memang benar. Kamu harus bertanggung jawab." Asha membenarkan perkataan suaminya sambil menaikkan alisnya. Arga ikut mengusap rambut Asha.
"Setelah ini, kamu mau makan apa?"
"Enggak. Sudah kenyang."
"Sudah?" tanya Arga tidak yakin. Asha mengangguk. "Tidak mau makan makanan yang lain?"
"Enggakkk ... maksa banget sih." Asha geregetan. "Aku memang tadi lapar, tapi setelah makan ya sudah. Kenyang. Aku tidak mampu jika harus makan lagi." Arga mengangguk-anggukkan kepala.
"Bukannya ibu hamil biasanya ingin sesuatu."
"Benarkah? Aku kurang paham."
"Biasanya kan ibu hamil itu ingin maka makanan yang di sukai."
"Emm... Karena sudah kenyang, aku tidak ingin makan lagi. Sebaiknya kita segera ke kamar tidur saja. Bukannya kamu mau googling buat bikin list camilan buat ibu hamil?" Asha memeluk lengan suaminya. Mengingatkan suaminya akan rencana mulia itu. Dia bisa membayangkan kegiatan itu di kerjakan berdua.
"Sepertinya kamu sangat menantikan ini."
"Benar. Sebelum itu aku harus cuci piring yang sudah kita pakai."
"Tidak. Biarkan di sini. Bik Sumi akan membersihkannya," cegah Arga. "Kita akan kembali ke kamar. Seperti yang kamu minta." Asha meletakkan lagi piring kotornya. Menumpuk jadi satu agar rapi.
"Ijinkan aku membawa piring kotor ini ke bak cuci, tanpa mencuci piring." Asha menegaskan dia bisa di percaya. Arga mengangguk untuk mengijinkan. Setelah itu mereka naik ke lantai dua untuk melakukan tugas yang Arga katakan tadi, googling.
Sementara Paris, di dalam kamarnya tengah gelisah. Mendengar langkah seseorang di tangga, Paris keluar. Dia sudah menduga itu Asha dan kakaknya. Lalu mendekat ke arah mereka berdua.
"Kak, bisa pinjam kak Asha, gak?" tanya Paris. Arga noleh. Melihat adiknya dan coba membaca raut wajah agar tahu maksud adiknya. Asha mengerjapkan mata. Setelah lama dia tidak 'di ganggu' oleh kesablengan gadis ini, kali ini tiba-tiba saja dia bertanya tentang hal yang tidak biasa.
"Kamu mau apa?" tanya Arga tidak begitu saja menyerahkan istrinya.
"Ada perlu," jawab Paris.
__ADS_1
"Harus lebih detail penjelasannya. Hingga aku bisa dengan mudah tahu, keperluan apa itu." Arga tetap bersikeras tidak mau menyerahkan istrinya. Asha hanya menyaksikan. Menatap Arga dan adiknya bergantian.