Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Tentang seseorang


__ADS_3



Paris, Cakra dan Deni menyusul keluar dari lapangan basket karena mereka berempat tidak kunjung muncul. Untuk main basket lagi itu tidak mungkin. Mereka sudah tidak minat lagi main basket.


Mereka lebih penasaran dengan kelanjutan cerita Andre yang mendadak menarik tangan perempuan baru yang di bawa Arga. Selama ini mereka tidak pernah mendengar cerita dari Andre tentang gadis ini. Sekarang tiba-tiba saja Andre bersikap gentle. Seperti seorang pangeran yang menyelamatkan harga diri seorang putri cantik yang terjebak dalam situasi yang tidak menyenangkan.


"Kenapa si Andre?" tanya Deni menunjuk Andre dengan dagunya. Paris dan Cakra menoleh ke arah Andre. Saat melangkah keluar lapangan, mereka melihat Andre dan Hanny sudah berdiri bersebelahan. Masih dengan jarak wajar mereka berdiri dengan wajah canggung yang sangat kentara. Ada apa dengan mereka? begitu pikir ketiga anak manusia yang tidak tahu apa-apa ini.


Walaupun tidak seperti Arga yang tak berhenti menempel pada Asha seperti bodyguard yang takut seorang idol di sentuh fans-nya, hawa di sekeliling mereka terasa damai dan hangat. Sepertinya hal yang mengganggu sudah selesai.


Mereka bertiga mendekat. Lalu terkejut dengan Andre yang mengenalkan Hanny ke semua orang dengan canggung. Dari sini mereka paham pasti Andre ehem, ehem ke Hanny. Walaupun belum jelas hubungan mereka bagaimana, Andre sudah bisa bergembira bahwa Hanny mempunyai perasaan yang sama dengannya.


Setelah celetukan Arga soal Hanny yang tertarik kepada Andre. Soal Andre dan Hanny terselesaikan dengan sendirinya. Soal Asha dan Arga juga begitu. Mereka sudah membuka kesalahpahaman masing-masing. Kini masalah yang perlu di hadapi mereka adalah orangtua. Belum pasti bagaimana selanjutnya, tapi Arga dan Hanny paham bahwa ujung-ujung dari perkenalan ini adalah sebuah perjodohan.


"Kak Asha biar tetap pulang bareng aku. Kak Arga bisa pulang bareng kak Hanny," kata Paris mengatur kepulangan mereka. Karena tidak mungkin Asha muncul di rumah nanti satu mobil dengan Arga. Mata Arga melirik ke arah Asha yang mendengarkan usulan Paris dengan seksama.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Arga.


"Kenapa?" tanya Asha heran.


"Aku dan Hanny," Arga memberi penjelasan pendek. Asha tergelak. Paham maksud Arga.


"Aku biarkan kali ini kau dengan seorang perempuan...," bisik Asha dengan senyum bercanda.


"Tapi.."


"Tidak ada tapi. Aku tidak mau Bundamu tahu soal kita," potong Asha.


"Masih seperti itu?" tanya Arga tidak suka.


"Ya," jawab Asha pendek. Senyum tipisnya perlahan menghilang.


"Aku tidak suka ini, Sha. Aku lebih suka mengatakan langsung kepada beliau," ucap Arga pelan.


"Aku tahu, tapi jangan. Belum waktunya," kata Asha meminta pengertian Arga, lalu segera melihat ke arah lain. Asha tidak bisa menatap mata Arga lama saat mengatakan ini. Asha belum siap berjuang ke arah sana.


Benar kata Arga, dia belum siap di perjuangkan. Bodoh memang, tapi begitulah perasaan Asha. Dimana perempuan lain sangat berharap di perjuangkan, Asha mengulur waktu untuk mendapatkannya.


"Aku pulang dulu ya..." pamit Arga sambil mengusap rambut Asha. Kepala Asha mengangguk mendapat usapan lembut yang sekarang terasa sangat menenangkan. "Paris, cepat pulang. Jangan mengajaknya pulang malam dan aneh-aneh," Arga memberi peringatan. Dia tidak mau kejadian di klub malam terulang.

__ADS_1


"Iya..." jawab Paris dengan malas. Walaupun malas, dia menundukkan kepala juga menerima peringatan kakaknya. Sementara Andre berdiam diri melihat Hanny yang masih berdiri di depannya. Andre memasukkan satu tangannya ke dalam saku, lalu tangan yang lain menggaruk tengkuknya dengan canggung.


Hanny berdiri sambil menatap Andre dengan mata sayunya dengan penuh arti.


"Apa?" tanya Andre gugup. Hanny tidak bergerak, dia masih berdiam diri. Hanny mengerjapkan mata seperti menunggu sesuatu.


"Tidak," jawab Hanny tidak jadi mengutarakan apa yang ada di dalam benaknya. Arga sudah masuk dalam mobilnya. "Aku... pulang," pamit Hanny. Andre mengangguk. Hanny melangkahkan kaki menuju mobil untuk menyusul Arga.


"Han," panggil Andre saat Hanny sudah berada di dekat sisi mobil. Hanny menoleh ke belakang. Andre menghampiri perempuan itu dan tiba-tiba mengulurkan tangan menyentuh kepala Hanny sebentar dan menarik tangannya lagi. "Hati-hati," ucapnya pelan. Mata Hanny yang bening berbinar. Tertegun juga terpana. Bibirnya tersenyum karena tersipu.


"Mereka sedang apa, sih? Seperti sedang acara perpisahan mau berangkat perang. Padahal hanya mau pulang ke rumah," dengkus Paris kesal mereka berlebihan dalam menunjukkan rasa sayang mereka.


"Anak kecil enggak boleh iri," nasehat Deni sambil terkekeh.


"Makanya cari pacar, Paris. Biar tidak nyinyir saat ada orang bahagia," ledek Cakra sambil menyenggol lengan Paris pelan dengan sikunya. Paris mencebik. Setelah Hanny naik mobil bersama Arga pergi, Asha mendekati Andre. Lalu menepuk punggung Andre.


"Enggak nyangka, temenku yang pecicilan ini, bisa sebungkam itu di depan perempuan." Asha sudah mulai melayangkan serangan-serangan meledeknya.


"Hmm..." jawab Andre.


"Hmm.. apaan? Iya, kamu memang seperti itu. Lagaknya aja udah kayak 'Hulk' Tapi tiba-tiba aja mendadak jadi beku di depan Hanny, heh?" serang Asha.


"Hmm.." jawab Andre lagi sok cool. Dengan badannya yang tegap terawat -karena seorang security juga di tuntut untuk selalu bugar- Andre berusaha bersikap cool dengan ledekan Asha. Dia sedang menahan diri.


"Tapi kalah sama kak Andre nih, yang ternyata hatinya sangat manis. Pakai gugup segala pula," kali ini Paris juga ikut meledek.


"Namanya juga di depan perempuan yang di suka. Gugup pasti ada, lah..," ujar Andre membela diri. Asha mencebik. Semua ketawa. Mereka bertiga masuk lagi kedalam lapangan basket karena tas mereka masih ada di sana. Cakra dan Asha menyusul di belakang mereka.


"Ternyata kamu mulai bisa menunjukkan rasa sayang sama orang yang di sukai, Sha?" tanya Cakra pelan saat langkah mereka sejajar.


"Memangnya iya?" tanya Asha dengan wajah enggannya. Langkah mereka mengantar di pintu lapangan basket. Mereka bertiga sudah masuk ke dalam terlebih dulu.


"Memangnya, tidak?" balas Cakra seperti menantang Asha. Bibir Asha menipis dengan sebelah mata menyipit dan juga mendengkus. "Arga yang baru beberapa waktu menjadi kekasihmu saja tahu bahwa kamu mulai menyayanginya, bukankah berarti kamu seperti itu?"


"Mungkin..." jawab Asha masih enggan.


"Itu seperti bukan dirimu saja." Cakra tersenyum melihat perubahan temannya. "Atau sebenarnya tidak seperti itu? Kau hanya mengikutinya tanpa melibatkan hatimu?" pertanyaan Cakra membuat langkah kakinya berhenti dan menoleh ke arah Cakra dengan cepat.


"Apa maksudmu? Aku tidak suka itu," protes Asha dengan jari telunjuknya mengarah ke wajah Cakra.


"Dia saja sampai saat ini belum tahu kalau kamu dulu sangat menyukainya, karena kamu terlalu dingin. Itulah yang aku tahu tentangmu," Mendengar ini Asha menatap ke arah Cakra dengan tatapan yang mengisyaratkan banyak pertanyaan. Bibir Asha seperti hendak berucap tapi enggak bisa. Hanya mata Asha yang menunjukkan dia sedang bertanya suatu hal.

__ADS_1


"Dia...?"


"Ya. Aku bertemu dengannya," jawab Cakra sambil mengangguk.


Jadi kamu muncul lagi? Asha tersenyum tipis. Otaknya berputar mengingat lagi tentangnya. Tentang seseorang.


"Kak," panggil Paris yang menariknya kembali ke saat ini dari cerita lama yang sudah berlalu itu. Asha tersenyum, menetralkan perasaannya yang tiba-tiba jadi aneh. "Kita pulang dulu, yok." ajak Paris. Asha mengangguk.


"Ca, aku pulang dulu ya.." pamit Asha.


"Ya."


"Hei! Aku pulang dulu!" teriak Asha ke Andre dan Deni. Mereka mengangkat tangan merespon teriakan Asha.


***


Di dalam perjalanan pulang, Arga membiarkan Hanny tanpa mengajaknya berbicara seperti saat berangkat tadi. Namun kali ini wajah Arga tidak menakutkan seperti saat sedang berusaha menemui Asha.


"Maaf aku membuat kalian tidak nyaman," ucap Hanny.


"Tidak ada yang salah dengan aku dan kamu. Kejadian kecil tak berarti ini hanya jalan bagi kita untuk mengerti bagaimana sebenarnya perasaan kita. Seperti kamu dan Andre," kata Arga masih fokus ke arah jalan. Dia tidak menoleh ke Hanny.


"Benar. Ini jalan kita untuk mengerti hati dan perasaan kita ke siapa..." Hanny mengangguk setuju. "Berarti kita bisa menjadi teman?"


"Sudah aku katakan tadi. Memang hanya sebuah pertemanan yang bisa aku tawarkan padamu, karena aku mempunyai Asha," Arga menjawabnya seraya menoleh dengan serius dan tegas ke arah Hanny.


"Beruntung sekali Asha mendapatkan cinta dari lelaki sepertimu..." Hanny tersenyum merasa memang selayaknya lelaki itu seperti itu.


"Bukan hanya dia. Aku juga beruntung mendapatkannya," ujar Arga sekali lagi menegaskan bahwa Asha sangat berharga baginya.


"Asha itu sekarang bekerja di mana? Pasti dia menjadi atasan yang baik. Dia bisa menempatkan diri dan berpikir bijak saat aku muncul tanpa permisi tadi. Walaupun kekasihnya membawa seorang perempuan lain, dia tidak serta merta marah. Dia juga masih bisa tersenyum saat kamu mengenalkan aku padanya,"


"Bukan. Dia bukan atasan. Dia bawahanku," ujar Arga mengendalikan kemudi membelok di perempatan menuju rumahnya.


"Sekretaris kamu?" tebak Hanny yang mulai membayangkan cerita cinta seorang sekretaris dan direkturnya.


"Bukan. Dia bekerja di rumahku, sebagai pelayan keluarga Hendarto. Asha adalah seorang pelayan," ungkap Arga yang membuat Hanny menarik napas dan mata membeliak kaget mendengar penuturan Arga.


Hanny terkejut dan tidak percaya. Arga mengatakannya dengan raut wajah biasa. Tanpa ada risih, canggung atau malu saat menceritakannya. Arga menerima Asha apa adanya.


Lagi-lagi Hanny merasa takjub dengan keseriusan cinta Arga ke perempuan bernama Asha.

__ADS_1



__ADS_2