Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Masih


__ADS_3


Nyonya Wardah berbaring di atas tempat tidur dengan segera. Beliau memejamkan mata sebentar. Asha mengambil selimut tebal yang sudah ada di atas tempat tidur sejak tadi. Menyelimuti tubuh perempuan yang sudah melahirkan suami tercintanya.


Tak lama kemudian beliau membuka mata lagi. Menatap menantunya dengan mata memandang lemas.


"Apakah saya harus memesan sesuatu untuk sarapan pagi Anda?" tanya Asha.


"Tidak. Bawakan saja makanan yang sudah kamu buat."


"T-tapi saya rasa itu..." Asha ragu. Itu masakan ala kadarnya.


"Bawakan saja. Tidak apa-apa," pinta beliau lemah.


"Baik. Saya akan bawakan makanan. Jadi anda bisa meminum obat setelahnya." Asha berjalan keluar ruangan.



...****************...


Pagi yang sama di rumah kecil milik Evan.


Kalau biasanya Evan menahan diri untuk tidak terlalu menunjukkan rasa sayangnya, kali ini Evan menunjukkan rasa sayangnya secara terang-terangan. Dia tidak peduli lagi saat Chelsea menolak dengan raut wajah enggan. Dia bersikeras membuat Chelsea paham tentang cinta yang ada di dalam hatinya adalah nyata untuk dia, istrinya.


Walaupun perempuan yang sudah resmi menjadi istrinya ini tidak mencintainya sama sekali, dia masih punya harapan. Karena Chelsea tidak memintanya bercerai. Itu berarti ada celah yang bisa di masukinya menjadi suami dalam artian sesungguhnya.


Chelsea mengucek matanya perlahan. Menghilangkan kabut pada bola matanya. Masih memakai piyama tidur, dia keluar kamar dan terkejut mendapati Evan sedang membuatkan sarapan. Kamar mereka masih saja berbeda. Keduanya tetap tidur dalam kamar masing-masing. Seperti syarat yang Chelsea ucapkan saat itu.


"Kamu sudah bangun? Aku belum selesai membuatkanmu sarapan pagi." Chelsea melirik ke arah pantry yang masih belum bersih karena Evan tengah sibuk mempersiapkan sarapan.


"Tanganmu barusan saja di operasi, itu tidak baik jika kamu sudah melakukan banyak hal," ujar Chelsea mengingatkan.


"Aku tidak apa-apa. Tangan kananku cukup mampu menyelesaikan pekerjaan ini tanpa membebani tangan kiriku."


"Aku tidak sarapan. Aku cukup ... " Tangan Evan yang tiba-tiba menyentuh kedua bahunya membuat Chelsea terkejut.


"Bersihkan dulu tubuhmu, lalu kembali kesini." Evan mendorong tubuh itu pelan untuk menuju kamar mandi.


Setelah mendengar itu, dengan angkuh Chelsea melangkah menuju ke kamar mandi. Dia memang ingin ke kamar mandi tapi bukan karena disuruh Evan, melainkan karena dia memang harus mandi. Itu terlihat jelas pada wajahnya meskipun bibirnya tidak mengungkapkannya.


Setelah pesta pernikahan Arga waktu lalu, Evan memaksanya untuk tinggal di rumah miliknya. Chelsea tidak mau, karena rumahnya akan kosong. Evan memaksa dan memohon. Memang sebuah rumah yang kecil, tapi bagus untuk mereka berdua. Hanya saja tidak ada pelayan yang melayani.


Akhirnya setelah berpikir lagi, Chelsea mau meninggalkan rumah peninggalan orangtuanya untuk tinggal di rumah yang sudah di beli Evan. Awalnya mereka berdua tinggal dalam rumah orangtua Chelsea.

__ADS_1


Setelah selesai membersihkan diri, Chelsea menatap ragu ke arah dapur. Antara menghampiri Evan atau tidak. Namun saat lelaki yang jadi suaminya itu melihat dirinya sudah selesai membersihkan diri, senyumannya mengembang seraya mendekatinya. Memaksa Chelsea untuk mengikuti kemauan pria itu.


"Ayo duduklah..." Evan membimbing tubuh istrinya untuk duduk. Di meja makan kecil itu sudah tersedia makanan untuk sarapan pagi ini. "Jus apel kesukaanmu. Minumlah dulu untuk membuat tubuhmu tidak kekurangan cairan setelah bangun tidur."


Meski enggan, Chelsea mengikuti saran Evan. Segar. Sepertinya ada tambahan yoghurt dan madu di sana. Bukan memakai gula pasir untuk pemanisnya. Chelsea sangat menyukai ini.


Lalu Evan duduk di seberang, yang juga sudah tersedia makanan dan minuman.


"Makanlah. Kamu harus sarapan pagi untuk memulai aktifitasmu." Evan menambah senyuman pada saat mengatakannya. Chelsea menggaruk tengkuknya canggung. Pagi ini lelaki itu menyiapkan sarapannya dengan riang. Melihat pria ini sangat berantusias menyiapkan ini untuknya, mau tak mau, Chelsea menuruti makan satu meja dengan Evan.


Pengalaman baru bagi mereka. Chelsea biasanya tidak sarapan pagi dirumah kalau Evan sudah berada di meja makan terlebih dahulu. Juga sebaliknya. Evan ingin mendobrak kebiasaan itu.


...****************...



Dalam langkahnya menuju ke kamar ibu mertua setelah menyiapkan makanan dalam nampan, Asha terus berpikir. Berdoa. Semoga saja makanannya tidak membuat beliau justru semakin sakit. Mengingat level masaknya hanya sekedar dapat kenyang saja.


Asha membawa nampan berisi makanan untuk ibu mertua. Nyonya Wardah membuka mata saat mendengar menantunya masuk. Dengan dirinya yang penuh dengan kegugupan, Asha meletakkan makanan di atas meja dekat obat.


"Ini...." Asha memberikan satu porsi makanan dengan ukuran sedang ke arah ibu mertuanya.


"Itu apa?" tunjuk ibu mertua ke arah minuman dalam cangkir berwarna putih porselen.


"Kamu meminumnya?"


"Iya. Saya meminumnya belakangan ini."


"Bisa kamu ambilkan obat untukku? Diatas meja itu," tunjuk beliau ke arah meja nakas di sebelah ranjang. Asha mendekati meja yang berwarna senada dengan dinding. Lalu mengambil obat yang sudah di resepksn dokter. Rupanya, selagi Asha dan suaminya menjenguk Evan, ibu mertua sedang di periksa oleh dokter pribadi.


"Kamu bisa meninggalkanku. Tubuh ini tidak terlalu lemah untuk terus di temani."


"Baiklah. Anda bisa memanggil saya jika membutuhkan bantuan." Asha berpamit keluar. Nyonya Wardah memandang ke arah punggung perempuan yang kini berstatus istri putranya. Beliau menghela napas. Ada yang tersekat di tenggorokannya. Pembicaraan penting yang harus ditahan demi putranya.


Agak siang saat bersantai dengan Rike, Asha menelepon ibu dan mengatakan rencananya. Beliau terdengar senang. Seperti dugaannya, ibu tidak mau di undang dalam pembukaan mall.


"Ajak saja Juna. Dia pasti mau." Ibu malah menawari adiknya Juna. Asha tidak memaksa. Namun akhirnya Juna yang dapat undangan untuk ke acara itu. Tentu saja bocah itu tidak menolak.


...****************...



Sehari sebelum acara opening mall baru, Bik Sumi sudah kembali dari pulang kampung. Saudaranya mulai sembuh. Nyonya Wardah juga mulai terlihat sehat hingga bisa mendatangi pembukaan mall.

__ADS_1


Chelsea dan Evan juga datang ke acara grand opening di mall baru milik keluarga Hendarto. Melihat dari cara mereka berdua yang datang bergandengan dengan sedikit mesra, menunjukkan bahwa hubungan mereka berdua memang sudah berjalan lebih baik. Walaupun wajah Chelsea kadang terlihat enggan, tapi semuanya tampak lebih baik.


Paris dan Juna terlihat akrab. Bukan sebagai saudara ipar, lebih kepada seorang teman. Umur mereka sama. Mereka berdua nampak sedang merundingkan sesuatu. Lalu menjauh dari ramainya acara. Asha hendak mendekati mereka tapi suaminya mencegah.


"Biarkan mereka."


"Aku takut Juna mengajak Paris ke tempat aneh-aneh."


"Tidak akan, tapi kalau memang itu terjadi, aku juga berhak memarahi mereka berdua. Paris dan Juna," tegas Arga. Asha menurut. Arga menempatkan dirinya sebagai seorang kakak. Tidak hanya bagi Paris yang merupakam adik kandungnya. Dia juga memperlakukan hal yang sama kepada Juna yang merupakan adik iparnya.


Malam ini juga acara berjalan lancar sesuai dengan yang di rencanakan. Walupun ada beberapa hal yang sedikit di luar perencanaan, tapi keseluruhannya membuat puas. Acara pembukaan sukses.


Ternyata mertua berniat berkunjung sebentar. Hanya sebuah ramah tamah seorang besan. Setelah itu mereka pulang. Sementara Asha dan Arga tinggal. Mereka berniat menginap satu malam di sini. Ibu sudah merapikan kamar Asha yang akan di tempati menantu dan putrinya.


Walaupun lelah Arga masih menyempatkan diri menemani bapak yang sedang berbincang dengan beberapa tetangganya di ruang tamu. Arga terlihat membaur dengan mereka walaupun baru kenal. Pria ini termasuk orang yang supel.


"Arga enggak langsung di suruh istirahat, Sha? Pasti dia capek." Ibu melihat menantunya cemas.


"Dia sendiri yang ingin menemani bapak, Bu. Biarkan saja. Ibu lagi goreng apa?" Asha tahu dia tidak bisa melarang suaminya.


"Camilan buat bapak dan orang-orang disana. Kalau hanya minum teh atau kopi nanti bisa kembung." Di dalam wajan ada ote-ote sayur yang masih di goreng. Lalu di piring sudah ada tahu isi dan tahu petis yang siap di santap. "Bawa dulu ke depan. Ote-otenya menyusul." Asha mengangguk. Lalu membawa dua piring gorengan ke depan.


"Waduh, ada camilannya ini. Gini kalau main di rumah Pak Akbar, banyak suguhannya. Soalnya istrinya pandai memasak," ujar salah seorang bapak membuat yang lain tersenyum senang.


"Jadi kerumahku ini hanya mau makan?" ledek bapak yang membuat semua tertawa. Arga terlihat ikut tersenyum.


"Asha ini pasti juga pintar memasak. Ibunya kan pintar memasak. Benar kan, Mas?" tanya bapak yang lain ke Arga. Asha terkejut. Arga tersenyum.


"Tidak begitu pintar, tapi istri saya selalu menyiapkan segala kebutuhan saya. Dia istri yang pengertian," puji Arga. Asha mendengar pujian itu dengan malu.


"Ah Mas ini pintar merendah diri. Anaknya Pak Akbar pasti berbakat. Iya, kan Pak?"


"Tentu saja. Asha kan anak saya. Siapa lagi yang bisa memuji kalau bukan bapak dan suaminya sendiri." Semua tertawa lagi. Asha segera kebelakang karena dia tidak ingin lagi jadi bahan topik pembicaraan. Namun dia masih harus membawakan satu piring ote-ote sayur yang sudah matang. Asha menghela napas.



Jika berkenan anda juga bisa singgah di ceritaku yang lain




__ADS_1


__ADS_2