Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Berkunjung


__ADS_3



"Asha," pekik Mbak Sri yang melihat Asha berjalan menuju warung. Ibu yang semula beranggapan bahwa mobil berwarna merah itu adalah pembelinya, mendongak. Nampak putri dan suaminya berjalan masuk ke arah warung. Bibir ibu tersenyum melihat kedatangan putrinya. "Bener kan Asha ...," ujar mbak Sri bangga bahwa dia benar. Ibu mengangguk. Tangan ibu langsung menyentuh celemek yang di pakainya dan mengelap selurih tangan agar bersih. Beliau tidak mau saat bersalaman dengan menantunya yang rapi dan tampan, tangannya bau masakan.


Kebetulan semua pembeli sudah di layani, jadi ibu Asha dan mbak Sri bisa ngobrol dengan nyaman.


"Kami datang, ibu," ujar Arga sopan dan hangat. Lalu mereka menyalami ibu satu persatu.


"Duduklah," pinta ibu mempersilakan mereka duduk di bangku-bangku yang biasa di pakai pembeli. Ada satu meja kosong yang letaknya di dekat etalase tempat makanan di letakkan. "Kenapa enggak nelpon dulu. Ibu jadi bisa tutup sementara. Bapak juga masih kerja." Ibu merasa tidak tepat menyambut menantunya di warung. Beliau yang tahu kehidupan Arga bagaimana, merasa tidak sopan.


"Dia ngajaknya dadakan, Bu." Asha memberitahu.Pada salah satu meja, ada beberapa pembeli yang sedang kasak-kusuk. Mungkin karena fokus hanya pada mertuanya, Arga tidak sadar bahwa beberapa dari orang yang makan di warung ini memakai seragam mall miliknya. Para pemuda-pemudi itu membicarakan Arga. Mungkin mereka sempat tahu wajah atasan mereka.


"Tidak perlu sampai tutup warung, Bu. Saya kan sedang mengunjungi orangtua. Saya bukan tamu agung." Arga tahu ketidaknyamanan mertuanya. Jadi dia harus melegakan mertuanya. "Seperti halnya Asha yang pulang sehabis bermain sampai malam. Yang seperti itu kan hal tidak perlu di sambut berlebihan." Arga melirik ke istrinya bermaksud meledek. Asha mengkerucutkan bibirnya merasa tidak setuju jadi contoh. Terdengar Asha seperti suka sekali bermain dan tidak cepat pulang. Arga tersenyum.


"Ya. Memang ibu tidak perlu menyambut. Apalagi saat ibu masih repot dengan pekerjaan rumah dan warung, ternyata putri ibu keluyuran dan pulang saat langit hampir gelap." Kali ini ibu yang terang-terangan mengingatkan Asha akan bandelnya dia saat masih sekolah. Arga melihat ke arah istrinya dengan mata berhasil menemukan kesalahannya.


"Ah, Ibu ... Itukan masa lalu. Dulu," kata Asha membela dirinya sendiri sambil menyeringai ketangkap basah. Wajah Asha malu. Bandelnya ketahuan. Ibu tersenyum geli melihat putrinya meringis karena beliau membuka riwayat tidak bagus pada diri Asha.


"Rame, Bu?" tanya Arga sambil melihat ke sekeliling warung. Asha mengikuti gerakan Arga.


"Lumayan. Berkat mall yang di buka sama keluarga Arga, disini orang berjualan makanan semakin laris. Karena banyak anak yang kerja di sana jadi sering cari makan disini " terang ibu sangat senang.


"Terima kasih lho, Mas. Mallnya membuat daerah yang awalnya ramainya tidak seberapa, sekarang sangat ramai. Mbak seneng ada mall besar kayak di tv itu. Jadi mbak bersyukur keluarga kamu bangun mall disini." Mbak Sri ikut mengutarakan rasa bahagianya.


Adanya mall baru yang besar di daerah ini memang membuat perekonomian maju dengan pesat. Pembangunan mall ini berdampak postif. Arga tersenyum. Mendengar itu hatinya juga senang. Pembangunan mall ini juga menyenangkan banyak orang. Termasuk mertuanya sendiri.


Pembeli mulai berdatangan lagi. Ibu kebelakang etalase makanan untuk melayani mereka. "Kalian pulang dulu saja. Tunggu ibu di rumah. Kalau di rumah bisa istirahat. Ibu akan pulang sebentar lagi," kata ibu memberitahu.


...----------------...



...----------------...

__ADS_1


Karena mendengar deru mobil di halaman, Juna keluar dari dalam rumah. Berdiri di ambang pintu menyambut saudaranya yang datang bersama suaminya.


"Wahh ... kakak ternyata." Juna merasa surprise. Saat berjalan menuju pintu mata Asha melihat seseorang di dalam. Seorang gadis.


"Siapa?" tanya Asha. Juna hanya meringis sambil garuk kepala. Arga juga melongok. Ikut ingin tahu siapa gadis yang duduk dengan sopan di kursi tamu. Saat gadis itu menoleh ke belakang, Asha terkejut. "Sandra." Gadis itu kaget juga melihat kemunculan Asha di kampung halamannya. Tidak menyangka akan melihat kakak ipar Paris ini muncul. Juna menggeser tubuhnya untuk membiarkan kakaknya masuk. Dia menyalami Asha dan suaminya.


"Halo kakak," sapa Sandra akhirnya.


"Kenapa kamu ada di sini? Ngapain?" tegur Arga yang juga mengenali teman adiknya ini.


"Berkunjung kerumah Juna. Kebetulan Juna jemput, jadi sekalian berkunjung," jawab Sandra polos. Asha dan Arga melihat ke arah Juna. Bocah ini kembali menggaruk, kali ini tengkuknya.


"Kenapa bisa kenal Juna?" tanya Asha yang langsung duduk di samping Sandra.


"Paris yang ngenalin." Asha dan Arga mengangguk paham.


"Juna, cepat antar Sandra pulang," titah Asha yang langsung di sambut gerutuan oleh Juna. Matanya mendelik, melebar, kesal dengan titah kakaknya. Mungkin maksudnya masih ingin bersama. "Nanti sampai sana gelap kalau kamu enggak segera mengantarnya pulang." Sandra yang jadi penyebab perdebatan mereka mengkedip-kedipkan mata.


"Iya. Bentar." Juna menggerutu.


"Sudah kok Kak." Arga di tangga kasih kode untuk segera naik. Sepertinya suaminya lelah.


"Aku tinggal ya. Cepat pulang saja, nanti keburu gelap," nasehat Asha lagi. Sandra mengangguk.


Sementara Arga menuju ke kamar dan merebahkan tubuhnya di sana. Dia lelah.


...----------------...



...----------------...


Saat Arga membuka mata, langit sudah gelap. Asha tidak ada di sampingnya. Pasti istrinya sudah turun berkumpul dengan orangtuanya. Bapak dan ibu pasti juga sudah ada di rumah. Arga langsung membersihkan diri dan turun.


"Sudah bangun?" tanya Asha yang sedang mengupas buah melihat Arga di undakan tangga mengangguk.

__ADS_1


"Bapak mana?"


"Di teras. Sedang ngobrol sama pak Rt."


"Aku mau kasih salam dulu sama beliau," ujar Arga menuju ke depan. Asha mengangguk. Ibu keluar dari kamar setelah mandi tadi.


"Mau kemana suamimu?"


"Menemui bapak di teras." Ibu mendekati putrinya. Mengeluarkan bahan-bahan makanan yang akan di buat masakan besok pagi. Di persiapkan dulu, biar nanti ibu bisa langsung memasaknya.


Setelah mengupas buah selesai, Asha membawa potongan buah apel dan pear yang di bawanya dari rumah mertua ke depan. Disuguhkan untuk para lelaki di depan dan pak RT yang datang mengobrol dengan bapak.


"Terima kasih, sayang...," bisik Arga mengatur suaranya agar pas dan tidak bisa di dengar sama bapak dan pak RT yang terlibat suatu obrolan seru saat melihat istrinya datang membawa potongan buah. Bibir Asha tersenyum mendengar kata-kata manis suaminya.


Setelah itu Asha Kembali ke dapur untuk membantu ibu. Kalau dulu dia melakukan pekerjaan membantu ibu dengan setengah hati, kali ini Asha ingin menuntaskan semuanya. Benar-benar tulus ingin membantu. Bandelnya hilang. Berpisah dan hidup sendiri di tempat lain menjadikannya ingat bagaimana ibu selalu bekerja sendiri. Itu membuatnya ingin membantu ibu sebanyak mungkin saat dirinya sedang berada di rumah ini.


Arga masuk ke dalam sambil membawa piring bekas buah-buahan tadi dan terkejut melihat Asha yang sedang mencuci perkakas dapur. Langkahnya langsung menghampiri dengan tergesa-gesa.


"Sini aku bantu. Lebih baik kamu duduk saja," ujar Arga mengagetkan. Bagaimana bisa di membantu mencuci seperti ini? Kening Asha mengernyit.


"Memangnya kamu bisa?" tanya Asha heran. Arga sedikit kebingungan, tapi dia mengangguk.


"Aku rasa ...," jawabnya meragukan. Ibu yang berdiri tidak jauh dari mereka menoleh. Melihat dan mencoba mendengarkan. Ada yang tidak tepat. Bagaimana mungkin menantunya itu akan mencuci perabot?


"Jangan bercanda. Kamu di luar saja sama bapak." Asha mencoba menyuruh suaminya tidak mengganggunya.


"Kamu itu kan hamil, jadi tidak boleh melakukan banyak kegiatan," cegah Arga.


"Tapi kan enggak mungkin kamu mencuci ini ...," ujar Asha membantah.


Ibu mendekat. "Biar ibu yang mencuci. Asha dan Arga jangan melakukan apa-apa. Nonton tv atau duduk di ruang tamu saja. Sebentar lagi makan malam jadi. Ibu akan panggil," ujar ibu menengahi.


Asha melihat ibunya. Pasti ibu sedang menahan diri untuk tidak membentak. Biasanya saat Asha dan Juna berdebat, ibu akan berteriak dengan tegas untuk menghentikan mereka berdua. Kalau sudah begitu, Asha dan Juna pasti langsung diam dan berhenti berdebat. Kali ini yang di hadapi adalah menantu tampannya. Tidak mungkin ibu membentak.


Arga lupa bahwa ada ibu mertua disana. Karena panik melihat Asha yang melakukan kegiatan yang biasa di larangnya, dia langsung memberi perintah untuk jangan melakukannya. Arga dan Asha berdiri dengan canggung. Kebetulan memang Asha sedang mencuci panci besar di tempat cuci bawah. Mereka berdua memilih menurut untuk duduk di ruang tamu. Karena ibu segera menggantikan posisi Asha.

__ADS_1



__ADS_2