Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Gelisah


__ADS_3



Waktu dua hari terasa sangat lama bagi Arga. Bukan karena dia tinggal di rumah Asha yang memang lebih sempit dari rumahnya, tetapi lebih karena 'puasa' yang terpaksa di lakukan tubuhnya. Dia tidak bisa menyentuh tubuh perempuan yang sudah sah untuk di jamah. Itu menyiksanya.


Walaupun bibirnya bisa menyesap bibir ranum itu dengan mudah dan intens, bukan menghilangkan dahaga hasratnya, itu justru membuatnya menjadi-jadi. Pusat dirinya tidak bisa tenang. Haus ingin menjamah dan di jamah. Asha terus saja menenangkan suaminya yang sudah terbakar penuh oeh hasrat.


***


Arga dan Asha sudah kembali ke rumah keluarga Hendarto. Namun itu bukan hari tenang bagi mereka. Ketenangan di kampung Asha adalah rehat sejenak untuk mereka berdua, demi bertempur kembali menjalani kegiatan resepsi yang ternyata jauh lebih melelahkan.


Keluarga Hendarto bukan orang biasa. Ini juga terlihat pada para tamu undangan dalam pesta resepsi. Bermacam orang penting datang memberikan selamat. Meskipun Asha adalah orang kampung, dia tidak terlihat canggung dalam bersikap. Tetap sopan dan menunjukkan keramahan yang mengesankan.


Tubuh Arga dan Asha harus terus saja tegak berdiri melayani tamu-tamu yang tidak berhenti berdatangan. Lalu muncul Cakra di antara tamu-tamu itu. Ini sedikit menjadi oase bagi Asha yang tidak mengenal sama sekali tamu-tamu keluarga Hendarto, meskipun Arga selalu memberitahu dengan berbisik pelan setiap tamu yang di ketahui adalah orang penting.


"Aku tidak menyangka," ujar Cakra senang setelah sebelumnya menghela napas melihat penampilan Asha yang menakjubkan. Seperti bapak yang akhirnya melepaskan putrinya untuk menikah. Hubungan Cakra dan Asha memang sangat dekat. Bibir Asha melengkung, tersenyum tersipu. Arga melirik sebentar. "Jaga teman baikku, Ga. Berusahalah untuk tidak menyakitinya, walaupun tidak di sengaja." Asha menggigit bibir haru. Hampir saja tangannya memeluk Cakra kalau saja Arga tidak mendehem untuk menyadarkannya.


"Tenanglah... Dia tenteram bersamaku. Aku akan menjaganya," jawab Arga yakin. Cakra tersenyum.


"Harus. Selamat berbahagia, kalian berdua." Cakra menepuk bahu Arga.


"Terima kasih, Ca." Asha mengatakan ini sambil berkaca-kaca.


Dalam pernikahan ini juga membuat pasangan yang sempat menjadi buah bibir ini muncul. Mereka Evan dan Chelsea. Nyonya Wardah melirik.


Arga tersenyum menyambut mereka berdua. Asha juga demikian. Tidak ada rasa marah karena memang tidak seharusnya merasa jengkel dengan kehadiran mereka. Tidak ada yang salah dengan mereka. Chelsea terus saja menatap Asha dengan rasa kalah di dalam hatinya. Ya... pernikahan ini adalah bukti jelas bahwa Asha sudah mengalahkan Chelsea dalam segala hal. Chelsea mengetatkan pelukan pada lengan Evan.


Kedatangan mereka berdua dalam resepsi ini juga bukti bahwa mereka sedang berusaha memugar kembali cinta di hati mereka yang berantakan dan amburadul. Mereka ingin memulai dari awal dengan niat baik di dalam hati. Sebagai suami istri dalam rumah tangga yang baik.


***


Bulan madu yang direncanakan setelah dilangsungkan resepsi untuk keluarga Hendarto jadi percuma. Arga masih tidak bisa menyentuh istrinya. Mereka berdua tidak mengambil langkah untuk menjalani bulan madu kemana-mana. Setelah resepsi selesai mereka kembali kerumah keluarga Hendarto.


Walaupun Arga gelisah karena puasanya, tapi dia langsung tenggelam dalam lelah karena terus saja menegakkan punggung untuk menyambut tamu. Tidur mereka sangat lelap.

__ADS_1


Pagi ini setelah beberapa hari acara resepsi. Arga di bangunkan oleh cicit suara burung di luar jendela kamar. Tangan Arga menyapu sisi ranjang di sebelahnya. Mencoba mencari tubuh kecil itu. Asha. Istrinya. Karena tangan itu tidak menemukan apa yang di cari, mata Arga terbuka. Lalu menolehkan kepala ke samping. Asha tidak ada di tempatnya tertidur tadi malam.


Kemana dia?


Arga segera melonjak dari ranjang untuk menuju pintu. Tangannya membuka pintu dan ingin segera keluar kamar, tapi tidak jadi. Dia harus membersihkan diri dulu.


Setelah selesai membersihkan diri dia mencari perempuan itu. Di lorong kamar ada Paris yang bersih-bersih. Adiknya itu terus saja melakukan perjanjian tanpa batas dengan bundanya. "Kakakmu kemana, Paris?" Ini penyebutan baru dari Arga. Paris sempat mikir juga.


"Turun ke bawah." Akhirnya Paris mengerti.


Setelah mendapat jawaban, Arga menuruni tangga. Di dapur. Dimana hanya ada Bik Sumi dan Bunda. Kemana dia?


"Asha tidak di sini?" tanya Arga seperti ingin menggeram marah. Nyonya Wardah dan Bik sumi menoleh dengan sedikit terkejut.


"Tidak. Dia..." Arga langsung melesat ke pintu belakang tanpa mendengar kelanjutan kalimat Nyonya Wardah. "Aduh itu anak."


"Maklum, Nya... Pengantin baru." Bik Sumi tersenyum saat mengatakannya. Nyonya Wardah akhirnya ikut tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat kelakuan putranya pagi ini.


Akhirnya Arga menemukan perempuan itu di tempat kesayangannya yaitu tempat cuci.


"Akhirnya aku bisa menemukanmu disini." Arga lega.


"Kamu..., bukankah seharusnya kamu masih berada di dalam kamar bersamaku?" tegur Arga seraya mendekatinya.


"Tidak mungkin. Aku tinggal di rumah mertua, mana mungkin aku masih berada di dalam kamar pada jam segini?" Mata Asha membulat gemas. Bibirnya mengkerucut. Tak pelak, Arga menghadiahi kecupan di pagi hari tepat pada bibirnya. Namun kecupan itu berubah menjadi cumbuan yang erat.


"Ga," desis Asha terkejut dengan bibir di bungkam oleh kenikmatan bibir Arga. "Di ... sini ... masih ..." Arga tidak memberikan kesempatan istrinya untuk berbicara. Bibirnya terus saja mencumbu istrinya hingga napasnya tersengal-sengal. Rike melihat pemandangan pagi ini dengan mata membelalak. Arga tidak lihat-lihat tempat. Rike langsung kabur otomatis.


Arga melepaskan bibirnya dan membuat Asha megap-megap mengatur napas. Asha menghadiahi tepukan pada lengan Arga. "Jangan brutal saat ada Rike..." Mata Asha membulat gemas. Arga hanya tersenyum tipis.


"Kamu sedang mencuci?" Asha mengangguk. "Aku tidak suka kamu masih melakukannya. Tapi kalau ini membuatmu senang, teruskanlah. Aku tidak perlu melarangmu," kata Arga seraya mengusap surai hitam pekat milik Asha.


"Belum?"


"Apa?" tanya Asha sambil menoleh. Sedikit mendongak karena Arga sangat dekat dengannya.

__ADS_1


"Tubuhmu." Mata Arga memberi kode dengan melempar pandangan ke arah tubuh Asha. Menyertakan dagunya untuk lebih memudahkan Asha paham. Tanpa di beritahupun sebenarnya perempuan ini paham.


"Iya. Belum," jawab Asha sambil mulai duduk di ikuti Arga.


"Lama?"


"Mungkin."


"Aku gelisah." Arga mendesah sambil menyandarkan punggung pada badan kursi. Asha melirik. Ada kegugupan dirinya yang tidak terbaca oleh suaminya. Mata Arga hanya melihat keatas. Menghela napas dan terlihat putus asa.


"Bertahanlah." Mata Asha mengerjap. Melebarkan mata lalu melihat ke arah lain.


***


Siang ini ada keramaian di dapur. Empat perempuan yang ada di rumah ini sedang menyibukkan diri dalam membuat kue lumpia. Sebenarnya tanpa beramai-ramai beliau bisa membuatnya. Ini kegiatan Paris yang ingin bisa membuat sesuatu. Tentu saja Asha turut meramaikan suasana.


Nyonya Wardah menjadi layaknya seorang tutor yang sedang memberi bimbingan kepada siswanya. Beliau memberi pengarahan kepada putri dan menantunya yang minim pengalaman membuat macam makanan. Namun mungkin karena bakat yang turun dari ibunya yang ahli memasak, Asha mudah memahami dan cepat bisa.


Arga melihat kesenangan di dapur dengan bahagia dan juga desahan lelah di bibirnya. Bola mata Nyonya Wardah tidak bisa mendengarkan desahan itu tapi tahu. Arga sedang gelisah. Apalagi melihat putranya tidak mendekat justru pergi ke ruang tengah. Padahal ada istrinya yang selalu dicari-carinya.


"Di bantu Bik Sumi yah... Bunda ada keperluan." Bik Sumi mengangguk. Sementara Asha dan Paris mengerahkan kemampuan untuk mewujudkan apa yang sedang di kerjakannya terwujud.


Melihat Arga seperti sedang uring-uringan, membuat Nyonya Wardah ingin tahu ada apa. Jadi beliau mengikuti Arga di ruang tengah. "Kenapa, Ga? Seharusnya wajah kamu itu bahagia setelah pernikahan, kenapa wajahmu di tekuk begitu?" tanya Bunda yang melihat Arga gelisah di depan tv. Ini masih dalam masa cutinya, makanya dia ada di rumah. Apalagi ini minggu, Paris ada di rumah.


"Tidak apa-apa, Bun."


"Jangan bilang, baru menikah beberapa hari kalian sudah bertengkar?" tanya Nyonya Wardah cemas.


"Tidak. Kita tidak bertengkar. Itu tidak mungkin." Arga menoleh sedikit dengan tatapan mengatakan itu hal mustahil.


"Lalu apa? Bunda tidak suka raut wajah seperti itu. Pasti ada yang membuatmu risau. Kalau yang kamu pikirkan adalah karena Asha masih saja meneruskan tugas mencucinya, Bunda akan mengatakan padanya untuk tidak melakukannya. Maaf Bunda tidak bisa mencegahnya. Bukan karena bunda jahat."


"Bukan. Biarkan saja dia seperti itu, Bun. Dia juga perlu kegiatan untuk mengisi hari-harinya. Aku memang tidak suka dia tetap bekerja keras seperti itu, karena tubuh itu kadang tidak bisa bertahan, tapi aku lebih tidak suka jika dia merasa tidak tenang jika diam saja. Itu membuatnya tidak nyaman."


"Lalu? Apa yang membuat putra Bunda murung seperti ini? Coba cerita pada Bunda." Arga nampak ragu. "Sebenarnya sebagai orangtua kita tidak boleh terlalu ikut campur urusan rumah tangga anaknya. Kalau memang dengan bercerita bisa membuatmu menemukan solusi, bukankah itu lebih baik?" Bunda duduk di sebelah Arga sambil membawa minuman yang dibuatnya saat mengawasi dua orang amatir di dapur.

__ADS_1


"Emm... itu." Jari Arga menggaruk tengkuk pelan. Mencoba berdiskusi dengan pikirannya sendiri. Apakah perlu mengatakannya atau tidak? Aku sangat ingin tahu. "Masa perempuan menstruasi itu berapa lama?" tanya Arga sedikit malu. Alis Nyonya Wardah terangkat dan menyipitkan mata, kemudian tersenyum paham.



__ADS_2