Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Tempat baru


__ADS_3


Entah ini hari keberapa Paris berada di tempat barunya. Sekolah umum yang isinya murid campur aduk. Ada laki-laki dan perempuan. Bukan sekolah khusus wanita seperti di tempatnya dulu. Keinginan Paris terkabul. Akhirnya dia bisa melihat cowok-cowok bertebaran. Meskipun tidak ganteng semua Paris patut bersyukur.


Paris yang punya rambut sebahu semakin menegaskan bahwa dia bukan tipe feminim. Beda dengan Asha yang punya rambut panjang yang terkesan feminim tapi aslinya juga seperti Paris. Kepala Paris menoleh ke samping, dimana ada lapangan basket. Melihat itu dia jadi ingat sama Asha. Bibirnya tersenyum merekah saat pandanganya mengedar ke seluruh penjuru sekolah.


Akhirnya masa-masa indah SMA akan terlaksana. Paris merasa bisa menjadi remaja sesungguhnya. Dimana dia bisa lirik-lirikan sama cowok. Kirim-kiriman chat sambil tersenyum-senyum sendiri. Impiannya terwujud. Namun konsekuensinya besar. Tiap hari setiap ada waktu, Paris harus mengerjakan pekerjaan rumah. Seperti menyapu, cuci piring dan paling berat nih dan bikin malas adalah belajar masak. Paris di tuntut untuk bisa masak. Paris wajib menyetujui di karenakan sebagai ganti keinginannya sekolah di sekolah umum.


Awalnya Ayah menatap dengan mata tajam seakan tidak setuju tentang permintaannya pindah sekolah. Namun Nyonya Wardah menjelaskan apa yang akan dilakukan putrinya jika permintaannya dikabulkan.


"Istri yang baik?" tanya Ayah Hendarto waktu itu seperti tertarik.


"Iya. Dia akan belajar menjadi istri yang baik," tutur Nyonya Wardah kepada suaminya. Sungguh di luar dugaan saat sang Ayah menyetujuinya. Jadi permohonan dikabulkan tanpa meminta pada bintang jatuh. Cukup bilang sama bunda dan Ayah, tambah dengan beberapa pengorbanan akhirnya terwujudlah impian sekolah di sekolah umum.


"Parissssss!!" teriak seseorang di lorong kelas. Paris yakin mendengar namanya di sebut. Meskipun heran kenapa ada seseorang yang memanggil namanya dengan akrab begitu. Tubuh Paris berputar kebelakang dimana seorang gadis sedang menuju kearahnya dengan setengah berlari. Paris mendelik lihat siapa yang dengan riang menghampirinya.


Sandra! Temannya itu muncul begitu saja di depannya. Apalagi dia memakai seragam yang sama dengan dirinya.


"Halo Pariss!!" Tubuh itu hendak menghambur ke arah Paris tapi langsung di tahan dengan barikade kedua tangan Paris yang terjulur kedepan. "Apa yang sedang kau lakukan? Apa yang sedang kau pakai itu?" tanya Paris panik sambil menyentuh seragam Sandra dengan ujung jarinya seakan jijik dan marah.


"Ihh.. kenapa sih? Ya jelas aku mau sekolah lahh.." ujar Sandra sambil menepis tangan Paris yang masih menatap dirinya dengan raut wajah tercengang.


"Kenapa kamu sekolah di sini? Bukankah seharusnya kamu ada di asrama?" tanya Paris heran dan bingung.


"Tidak seru. Disana tidak seru lagi karena tidak ada kamu. Kenapa kamu jahat sih enggak bilang ke aku kalau mau pindah sekolah," rengek Sandra sedang merajuk manja. Paris menepis tangan Sandra yang menyentuhnya dengan geram. "Makanya hari ini aku minta pindah kesini," jawab Sandra dengan santainya.


Bagaikan membalikkan tangan saja, segampang itu Sandra minta pindah sekolah. Beda dengan Paris yang perlu berjuang keras kalau ingin pindah sekolah.


"Jadi kamu pindah sekolah kesini juga?" tanya Paris melotot. Namun Sandra menjawab dengan anggukan kepala yang imut dan polos. Membuat Paris semakin uring-uringan.


"Jahat banget ninggalin aku," Sandra masih merengek menggunakan gaya manjanya.


"Hei... ngomong soal jahat, aku rasa keliru deh kalau kamu menuduhku sebagai orang jahat. Bukankah orang jahat sebenarnya adalah kamu?!" tunjuk Paris ke dada Sandra dengan geram.


"Apaan sih, aku kan orangnya baik."


"Baik katamu?" Paris menyeret Sandra ke pinggir lorong. Karena mereka ngobrol di tengah jalan, banyak anak-anak lewat dengan bergumam tidak suka. Karena mereka menghalangi jalan. Ini sangat jauh dari sekolahnya yang lama, dimana di dalam sekolah Paris di takuti oleh teman-temannya.

__ADS_1


Paris sengaja mendesak Sandra di dinding kelas yang entah kenapa membuat semua orang melihat panik dan terkejut kearahnya. "Kamu bilang baik? Padahal kamu sudah membuatku di giring ke kantor polisi, wahai kawan sialannnn.." bisik Paris geram sambil mencengkeram kerah Sandra. Diperlakukan itu Sandra diam saja masih dengan menunjukkan wajah polosnya.


Namun dimata mereka yang ada di situ, sikap Paris ini diartikan lain.


"Hei berhenti! Berhenti!" teriak orang-orang yang entah kenapa mengumpul di situ. Paris yang masih memegang kerah Sandra bingung. Sandra juga di landa kebingungan dengan kerumunan orang disana. Mereka semua menatap geram ke arah Paris.


"Kenapa sih, San?" tanya Paris heran setengah berbisik


"Enggak tahu," jawab Sandra berbisik juga.


"Siapa sih kamu? Pagi-pagi sudah bikin heboh mau membully," tukas seorang cewek dengan kesalnya. Bully?


"Iya. Ini masih pagi lho. Kenapa enggak siangan aja baru membully."


"Sarapannya banyak kali makanya pagi-pagi sudah melancarkan serangan," timpal lainnya.


Paris bengong sebengong-bengongnya. Semua mulai menghujat dan geram terhadap Paris. Mereka menuduh Paris sedang melakukan perisakan. Saat itu sebuah tangan menariknya untuk menjauh dari tubuh Sandra. Paris noleh.


"Berhenti. Jangan merisak yang lemah," ujar pemilik tangan yang sudah menariknya dari tubuh Sandra.


"Aku tidak merisak. Aku sedang berbicara dengannya," kilah Paris yang memang sedang berbicara dengan Sandra. Semua anak-anak yang ada di situ mendengung tidak percaya. "Sandra! Katakan pada mereka kalau kau memang tidak sedang di bully olehku," perintah Paris gusar. Sandra mengangguk.


Bagus. Akhirnya ada juga yang mampu menghapus salah paham dan membubarkan mereka. Semua bubar tanpa membantah. Saat tubuh itu memutar melihat ke Paris, tubuh Paris mundur sesaat karena terkejut. Dia lelaki di pasar waktu itu!


***


Arga masih belum berangkat kerja. Dia masih mengerjakan sesuatu di dalam ruang baca. Ada yang perlu di kerjakannya sampai harus sarapan pagi perlu di antar ke dalam ruang baca.


"Arga itu sedang mengerjakan apa, kok belum sarapan?" tanya Nyonya Wardah sambil membereskan sisa sarapan pagi. Ayah Hendarto sudah menyelesaikan makannya.


"Antarkan saja makanannya. Mungkin dia sedang mengerjakan sesuatu yang penting, hingga harus di kerjakan sepagi ini di rumah," kata Ayah.


"Baiklah..." Beliau juga sepertinya ada janji temu di Mall lain milik keluarga Hendarto pagi ini. Belakangan ini Ayah Hendarto dan Arga sibuk dengan pembukaan Mall baru di luar kota yang sebentar lagi di adakan.


Semuanya Mall juga perlu pemantauan menyeluruh oleh Tuan Hendarto selaku pemilik. Jadi beliau selalu menyempatkan diru dengan sering muncul di tiga Mall miliknya. Meskipun sebagai pemilik beliau bisa bersantai santai juga tapi pemantauan juga di perlukan.


Tuan Hendarto tak harus selalu percaya dengan laporan dari orang kepercayaan sekalipun. Semua butuh pemantauan dari pemilik walaupun tidak setiap hari.

__ADS_1


"Asha, tolong bawakan makanan ini ke ruang baca ya," perintah Nyonya Wardah sambil melambai ke Asha yang melintas.


"Saya bawa ini ke belakang dulu ya, Nyonya?" Asha minta persetujuan Nyonya Wardah karena dia sedang membawa pakaian kotor di dekapannya dari kamar Paris.


"Iya. Lalu kesini," kata Nyonya Wardah mengijinkan.


Setelah menyerahkan pakaian kotor ke Rike, Asha kembali menuju dapur. Mendekat ke arah meja makan saat Nyonya Wardah menyiapkan makanan dalam nampan untuk di bawa Asha ke ruang baca.


Kalau tuan Hendarto sudah sarapan pagi berarti di dalam ruang baca ada Tuan muda. Asha perlu mengambil napas panjang saat sudah di depan pintu ruang baca. Tangannya terangkat untuk mengetuk pintu. Sepertinya orang yang ada didalam ruang baca segera bisa mendengar ketukan pintu tangan Asha.


Pintu terbuka dan tanpa di duga muncul Sekretaris Ren dari balik pintu. Asha tersenyum ramah dan senang tentunya. Tuan muda tidak sendirian di dalam ruangan.


"Membawakan sarapan untuk tuan muda," ujar Asha meminta ijin. Bagi Rendra walaupun perempuan didepannya ini merangsek masuk tanpa permisi sekalipun akan dibiarkan masuk olehnya. Dia tahu benar posisi perempuan ini dimana. Jadi tidak ada wewenang bagi Rendra untuk membatasi wilayah bagi perempuan yang mulai di hapalkan namanya dengan tepat.


Benar. Namanya adalah Asha.


"Silahkan masuk," Rendra mempersilahkan dengan sikap sangat sopan dan hormat. Asha di dera kepanikan yang baru. Dia panik karena Rendra bersikap hormat padanya. Itu membuatnya canggung. Jadi saat Rendra membungkukkan tubuhnya sedikit, Asha juga mengikutinya.


"Sampai kapan kau akan terus bersikap seperti itu ke Rendra? Bukankah kau ada perlu dengan ku, bukan Rendra?" tegur Arga menghentikan sikap Asha. Tubuh Asha berjingkat sedikit lalu segera menghampiri Tuan muda.


"Saya membawakan sarapan," ujar Asha sambil menunjukkan nampan makanan. Arga mengangguk dan menyuruh Rendra mengerjakan pekerjaannya sendirian.


"Duduklah dulu." Asha meletakkan nampan di meja dan duduk sesuai dengan apa yang sudah dikatakan Tuan mudanya. "Apakah kau sudah sarapan?"


"Ya," jawab Asha singkat. Di tidak enak dengan keberadaan Sekretaris Rendra yang berada di situ


"Apakah banyak?" tanya Arga. Asha menggeleng. "Bukankah kau akan menjadi lemah dan pingsan kalau makan sedikit? Tanganku masih terasa sakit kalau harus memapahmu lagi. Juga pekerjaanku banyak hari ini," desah Arga lelah seolah memapah Asha saat pingsan adalah kewajibannya. Bibir Asha menipis mendengar lagak tuan mudanya.


"Hmm?" desak Arga yang tiba-tiba saja akan menyuapkan nasi kemulut Asha. Mata Asha mendelik.


"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Asha berbisik sambil menahan geram tertahan. Takut suaranya terdengar Rendra karena dia sedang menyebut tuannya dengan kata 'kau'. Ekor mata Asha melirik ke arah Rendra yang entah memang sibuk atau pura-pura sibuk.


"Dia sedang bekerja bukan bermain-main. Jadi dia tidak akan peduli pada apa yang akan aku lakukan," ujar Arga mengerti maksud ekor mata Asha. Namun Asha menggeleng menolak suapan Arga.


"Sha!" panggil Nyonya Wardah yang langsung membuat Asha berjingkat kaget dan segera berdiri dari tempat duduknya.


"Ya!" jawab Asha keluar ruang baca tanpa permisi. Arga hanya tersenyum tipis. Di tempat Rendra duduk, dia menghela napas pelan. Agar tuannya tidak tahu dia ikutan tegang seperti Asha tadi.

__ADS_1


Sepertinya hal seperti ini akan sering terjadi..



__ADS_2