Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Berangkat ke dokter


__ADS_3


Sesuai dengan yang di katakan oleh Arga, mereka berdua akan melakukan permeriksaan ke dokter kandungan. Ingin tahu lebih lanjut, mungkin saja ada hal yang perlu di tangani dengan cepat. Maya sudah mendaftarkan untuk jadwal pemeriksaan pada dokter kandungan atas nama Asha.


Sejak keberangkatan mereka berdua dari rumah menuju ke rumah dokter Gilar tempatnya praktek, tidak ada pembicaraan sama sekali di antara mereka berdua. Semua berkutat pada pikiran masing-masing. Terpaku pada satu hal mengenai kehamilan.


Apakah ada yang salah? Apakah salah satu dari mereka menjadi penyebab dari ketidakhadiran buah hati dalam rahim sang ibu? Arga menolehkan kepala ke samping. Dia menemukan wajah istrinya sedang gugup dan cemas. Tangannya terulur untuk meremas jari jemari istrinya.


"Semoga berita baik, yang akan kita dengar nanti. Walaupun bukan berita kehamilan, aku berharap itu berita baik. Tenanglah," ujar Arga yang tahu istrinya sangat cemas. Asha menoleh mengangguk.


Asha sangat cemas, karena dia tahu siklus haidnya tidak teratur. Dia takut itu memicu pada ketidaksuburan rahimnya. Kalau dulu, saat masih lajang, dia tidak terlalu memperhatikan hal ini. Karena dia yakin tidak pernah melakukan hal yang menjurus pada kehamilan, dia tidak khawatir akan siklus haidnya yang tidak lancar.


Ternyata saat menikah, itu terasa menakutkan. Apalagi saat suami menanyakan buah hati. Namun dia perlu berbesar hati. Itu semua hanya pemikirannya. Dia belum pernah benar-benar memeriksakan soal keadaan rahimnya pada dokter kandungan.


Mobil mereka akhirnya sampai di pelataran rumah dokter Gilar yang halamannya penuh dengan banyak tanaman. Walaupun tanah sudah di ganti dengan paving, tapi tanaman di sini sungguh rimbun. Langkah Asha terasa berat saat akan memasuki ruang praktek dokter Gilar.


"Tidak apa-apa. Kita bisa kembali kalau kamu mau. Lalu bersenang-senang di luar, jika ini masih terasa sangat berat buatmu. Aku tidak meminta lebih jika ini membuatmu tertekan. Kita akan kesini lagi kalau kamu sudah siap, sayang..." Arga memberi tawaran pada istrinya. Karena Asha tiba-tiba menjadi pucat. Bibir Asha tersenyum.


"Terima kasih, tapi aku tidak apa-apa. Aku memang harus memeriksakan diri secepatnya."


"Benar, kamu tidak apa-apa?" tanya Arga meyakinkan sambil menyentuh kedua lengan istrinya. Menelusuri seraut wajah sendu milik istrinya. Asha mengangguk. "Baiklah. Ayo kita masuk." Lalu mereka berjalan masuk ke dalam ruangan.


"Atas nama Nyonya Asha?" tanya petugas di depan menanyakan dengan ramah. Karena sudah ada janji terlebih dahulu, Arga dan istrinya bisa langsung mulai masuk ruangan untuk pemeriksaan.


Dokter Gilar tersenyum melihat Arga yang di kenalnya sebagai putra pemilik perusahaan Hendarto grup.


"Selamat datang, Tuan." Dokter Gilar mempersilakan tamu mereka untuk duduk. Beliau di temani seorang asisten yang tak lain adalah istrinya sendiri. "Anda ingin konsultasi soal program kehamilan, Nyonya?" tanya dokter Gilar ramah saat membaca map berisi catatan Asha.


"Ya, kami ingin berkonsultasi. Kami ingin periksa kesehatan serta tes kesuburan untuk memastikan bahwa saya dan suami, sama-sama sehat dan bisa segera memulai program hamil," jawab Asha sambil sambil menatap suaminya sebentar. Arga mengangguk.


"Aku ingin istriku cepat hamil," timpal Arga.

__ADS_1


"Kelihatannya tubuh istri anda sehat walaupun terlihat kurus," kata dokter Gilar yang merasa tidak ada yang salah.


"Ya... aku ingin segera menggendong bayi, Dok. Aku rasa istriku perlu mengikuti program kehamilan." Arga mengatakan keinginannya secara gamblang. Dia mengerti maksud dokter Gilar. Asha sehat tapi kenapa tidak segera hamil?


Setelah perbincangan tentang Asha yang masih belum hamil, dokter Gilar tersenyum bijak. "Kemungkinan hamil meskipun sudah berhubungan badan berkali-kali memang tidak bisa dipastikan dengan benar. Anda berdua tidak perlu merasa rendah diri." Pendapat dokter Gilar membuat Arga mengangguk-anggukkan kepala mulai sadar.


"Jadi saya rasa mungkin belum waktunya saja. Saya sarankan Anda membuat tubuh anda rileks. Pikiran rileks akan menghasilkan tubuh yang sehat, bukan?" Dokter Gilar berdiri dan menuju rak di belakang beliau.


"Saya salut kepada pihak suami yang mau ikut tes kesehatan dan kesuburan," ujar istri dokter Gilar memuji, saat suaminya sedang memgambil sesuatu di rak. Beliau sedang merapikan ranjang.


"Bukankah memang seharusnya suami begitu?" tanya Arga merasa memang sewajarnya dia datang memeriksa kesehatan juga. Pertanyaan mengherankan.


"Anda memang suami yang punya pemikiran yang terbuka. Kadangkala ada suami yang hanya merasa pihak perempuan saja yang salah, saat sebuah kehamilan tidak segera menghampiri istri mereka," bisik istri dokter.


Arga dan Asha sedikit mendekatkan telinga karena ingin mendengar dengan jelas. Asha mengerjap dan menghela napas paham. Arga melebarkan mata merasa bersalah. Dia sempat bertanya dalam hati, kenapa istrinya belum hamil? Bahkan bisa di dahului pasangan Evan dan Chelsea.


"Semoga cerita istri saya tidak mempengaruhi pemikiran Anda berdua," kata dokter Gilar yang kembali datang setelah keluar sebentar. Dia tahu istrinya membicarakan soal lelaki barusan.


"Tidak. Istri Anda membuat wawasan kita bertambah," sahut Arga. "Sekarang kita memulai pemeriksaan."


"Kondisi Anda berdua sangat sehat. Tidak ada yang mengkhawatirkan. Hanya saja untuk Nyonya Asha, mungkin tubuh Anda butuh waktu istirahat banyak. Atau perlu menjaga kualitas tidur dengan baik. Itu mengurangi stress."


"Apa juga karena menstruasi saya yang tidak teratur, dokter?" tanya Asha tetap berpikir bahwa mungkin dirinyalah penyebab kehamilan belum menghampirinya.


"Menstruasi tidak teratur juga berkaitan dengan kesuburan karena masa ovulasi yang tidak pasti. Namun itu bukan perkara sulit. Pertama kita harus membuat Anda jauh dari stress. Tidur cukup dan konsumsi suplemen kehamilan dan penyubur kandungan. Dengan mengkonsumsi nutrisi yang diperlukan ini diharapkan kinerja hormon akan perlahan membaik dan memengaruhi siklus haid menjadi teratur."


"Jadi itu bukan masalah besar?" tanya Asha lagi.


"Memang kesempatan wanita dengan kondisi menstruasi tidak teratur memiliki kesempatan hamil yang jauh lebih sedikit untuk hamil setiap tahunnya karena masa ovulasi yang tidak pasti. Siklus menstruasi tidak teratur memang bisa membuat program kehamilan menjadi lebih sulit. Tetapi bukan artinya Anda tidak memiliki peluang untuk bisa hamil. Anda bisa hamil. Tenang saja. Anda tidak punya riwayat penyakit yang mempengaruhi kesuburan," sambung dokter Gilar memberikan penjelasan yang menenangkan.


"Bagaimana dengan yang aku katakan tadi, Dok?" tanya Arga khawatir.

__ADS_1


"Saya rasa walaupun bertekstur encer, masih dapat membuat pasangan Anda hamil. Karena sebenarnya hanya butuh satu saja untuk bisa membuahi sel telur dan menghamili pasangan. Itu bukan hal besar yang perlu dikhawatirkan, tapi perlu di perhatikan." Dokter Gilar juga membahas soal ****** yang di bicarakan Arga.


"Untuk Anda, Tuan ... Mulailah rutin dalam mengonsumsi susu, yogurt, ikan salmon, telur dan berbagai jenis sayuran hijau. Kualitas ****** bisa normal dan mengental kembali dengan rutin jika berbagai asupan yang menyehatkan sudah ada di dalam tubuh." Dokter Gilar menuntaskan kalimatnya dengan senyum.


"Anda berdua juga masih muda, saya rasa masih bisa menghasilkan banyak momongan nantinya. Mungkin saat ini masih belum di kasih, bisa jadi besok-besok bisa dapat dua sekaligus alias kembar," kata dokter Gilar sedikit bergurau. Arga dan Asha tersenyum simpul menanggapi.


"Saya beri tips. Berhubungan badan di pagi hari, memiliki peluang besar untuk hamil," kata dokter Gilar sambil tersenyum. Tips ini menancap dan terpatri dalam otak Arga.


"Terima kasih," ujar Arga setelah di beri resep oleh dokter Gilar.



***


Keluar dari ruang doter kandungan, Arga dan Asha menghela napas. Di dalam tadi keduanya sangat tegang. Keduanya di anggap sehat walaupun ada sedikit masalah. Bukan hanya Asha atau Arga, tapi keduanya. Keduanya punya sedikit hal yang di anggap bisa menjadi penyebab tidak terjadinya pembuahan pada rahim pasangan. Bukan hal besar tapi perlu di perhatikan.


"Tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri, karena rahimmu sebenarnya sehat," ujar Arga yang tahu kekhawatiran istrinya. Memeluk tubuh itu dari samping saat menuju mobil. Pasti tadi Asha takut akan dirinya yang merasa tidak sehat.


"Dan suamiku juga tidak perlu berkecil hati karena masih bisa di anggap masih sehat dan bisa membuatku hamil," ujar Asha menimpali kalimat suaminya seraya mendongak dan tersenyum.


"Benar. Tidak ada masalah pelik di antara kita berdua. Kita hanya belum mendapat anugerah ini."


Keduanya mencoba saling mengerti.


"Baik, kita sama-sama harus berusaha. Berarti... tidak ada waktu bercinta dengan lama yang membuatmu lelah?" tanya Arga yang justru membuatnya kecewa sendiri.


"Mungkin," goda Asha.


"Kenapa ini membuatku kecewa." Asha tersenyum geli. Lalu melingkarkan lengan pada pinggang suaminya.


"Demi kebaikan kita berdua, juga... demi kemunculan baby yang sangat di nanti-nanti."

__ADS_1


"Benar. Baiklah. Kita lihat saja nanti."



__ADS_2