Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Panik


__ADS_3

Terima kasih buat kalian yang masih setia membaca cerita ini. Juga yang sudah vote, like dan kasih komentar. Semua dukungan kalian terhadap cerita ini sangat menyenangkan❤❤ Terima kasih 😍_ salam dari ARGA dan ASHA.


Selamat membaca!


.


.



Paris yang juga berdiri ikut berlari mendekat bersama kakaknya. Dengan wajah terkejut dan tidak tenang, Arga mencoba mengangkat tubuh itu dengan lengannya. Kemudian memapahnya menuju kamar terdekat.


"Kamar terdekat, Paris!" Arga berteriak meminta bimbingan Paris yang sepertinya lebih tahu letak kamar paling dekat dengan tempat ini. Tentu saja kamar paling dekat dengan area penjemuran adalah kamar pelayan. Kamar Asha sendiri.


Dengan bimbingan Paris, mereka sampai di depan kamar Asha dengan lebih cepat. Kebetulan di lorong kamar pelayan ada Bik Sumi. Melihat Asha yang terkulai lemas di bopong Tuan Muda, Bik Sumi segera membukakan pintu lebar-lebar untuk Tuannya. Arga meletakkan dengan lembut dan hati-hati tubuh itu di atas tempat tidur. Paris yang mengikuti dari belakang langsung membantu menempatkan bantal agar kepala Asha terasa nyaman.


"Paris, telepon dokter Sapta untuk memeriksanya," perintah Arga. Paris mengangguk. Bik Sumi memberi jalan pada nona muda yang langsung melesat keluar dari kamar. Karena tidak membawa ponselnya, Paris menuju pesawat telepon yang berada di ruang tengah.


"Kenapa ya, Tuan muda?" tanya Bik Sumi cemas.


"Dia tiba-tiba pingsan saat menjemur, Bi." Arga menjawab pertanyaan Bik Sumi. "Bik Sumi, dimana Paris? Kenapa dokter Sapta belum datang juga?" tanya Arga tidak sabar. Padahal baru beberapa menit saja Paris keluar dari kamar. Tentu saja mungkin masih berbincang di telepon dengan dokter Sapta.


"Ambilkan minyak kayu putih dan air minum hangat Bi," pinta Arga.


"Baik, Tuan." Bik Sumi mengangguk. Lalu tergopoh-gopoh keluar kamar. Rike yang mendengar keributan saat Asha pingsan juga datang menengok. Namun Bik Sumi segera mencegah Rike masuk kamar karena di dalam ada Tuan muda.


"Aku mau lihat mbak Asha, Bi.."


"Nanti saja," cegah Bik Sumi.


"Aku kan cemas, Bi." Rike memaksa.


"Iya nanti saja. Sekarang di dalam kamar ada Tuan muda. Sudah kamu kembali saja ke belakang. Bibi juga akan kembali setelah membawakan air hangat dan minyak kayu putih," Bik Sumi mengusir Rike pergi dari sana. Keinginan Rike melihat keadaan rekannya tidak terwujud.


"Kenapa tuan muda ada disana, Bi?" tanya Rike polos mengikuti Bik Sumi yang melewati lorong.


"Sstt.... jangan tanya-tanya. Sudah diam saja. Do'akan saja Asha segera siuman. Kita menengoknya setelah di perbolehkan sama Tuan Muda."


"Itu kan kamar tidur aku juga Bi. Kok gak boleh masuk ya..." Rike masih saja melontarkan pertanyaan yang sensitif membuat Bik Sumi geram juga.


"Ini anaaakkk... Di bilangin jangan tanya-tanya, masih saja bertanya. Ayo cepat kebelakang. Bibi di suruh Tuan Muda ini," Bik Sumi gemas dan mendorong tubuh Rike untuk segera kembali ke belakang. Masih dengan sesekali melihat ke arah pintu kamar pelayan, Rike menjauh dari sana.


Di dalam kamar Arga menatap cemas dan khawatir ke arah Asha yang masih menutup matanya. Wajahnya pucat dan terlihat tidak sehat. Berarti saat melihat Asha kurang sejat saat di kamarnya adalah benar. Gadis ini sedang dalam keadaan tidak sehat. Tangan Arga tergerak untuk menyentuh pipi dan mengusap rambut Asha yang cepolannya sudah di lepas oleh Paris.


Arga berpikir lagi kenapa gadis ini mendadak pingsan. Apakah karena perlakuannya di dalam kamarnya? Disana memang tidak terlalu sehat tapi dia masih tidak apa-apa. Hanya marah. Apakah karena disuruh mencuci bajunya? Bukankah biasanya itu juga yang biasa dia lakukan..  Apakah karena kata-katanya saat mengingatkan bahwa bisa saja Asha di pecat oleh Ayah Bunda kalau mereka tahu soal keonaran itu.


Arga menggeleng. Mungkin dia memang sedang lelah. Bik Sumi datang dengan membawa segelas air putih hangat dan minyak kayu putih bersama Paris.


"Dokter Sapta masih dalam perjalanan," kata Paris memberitahu. Arga menggerakkan tangannya meminta minyak kayu putih yang di pegang Bik Sumi tanpa menoleh. Paris dan Bik Sumi menoleh ke Arga bersamaan.


Merasa Bik Sumi tidak segera memberikan minyak kayu putih, Arga menoleh ke belakang. Rupanya Paris dan Bik Sumi sedang mematung melihat Arga.


"Apa yang kalian lakukan? Bukankah seharusnya tubuh Asha segera di beri minyak kayu putih terlebih dahulu agar terasa hangat? Mengapa kalian justru diam saja seperti itu? Cepat berikan padaku," tanya Arga sedikit membentak dengan tidak sabar.


"Kakak serius akan membaluri tubuh kak Asha dengan ini?" tanya Paris menunjuk minyak kayu putih yang di pegang Bik Sumi.

__ADS_1


"Apa yang kau tanyakan Paris? Bukankah itu sudah jelas? Tubuh Asha menjadi pucat dan dingin. Itu akan membuatnya sedikit hangat." Ada nada tidak senang di sana karena Paris seperti tidak sependapat.


"Bik Sumi cepat berikan padaku," kata Arga meminta Bik Sumi menyodorkan sebotol minyak kayu putih. Setelah mengerjapkan mata, Bik Sumi menoleh ke nona muda untuk meminta pendapat seraya memberikan minyak itu ke Tuan Muda. Namun Paris segera menyambar minyak kayu putih.


"Hei..." Arga tidak setuju. Paris mendekat ke tubuh Asha yang terbaring.


"Apa kakak sudah gila. Kalau kak Arga yang melakukannya, bukankah kakak harus memasukkan jari-jari kakak ke balik baju Kak Asha seperti ini..." Paris mulai memasukkan jarinya-jarinya -masih dengan menahan kaos agar kulitnya tidak terlihat- untuk menjangkau perut Asha. Arga tertegun. Karena panik dia lupa akan hal itu. "Kalau kakak yang melakukannya, bukankah kakak akan menjamah tubuh kak Asha seenaknya?" imbuh Paris yang membuat Arga mengerjapkan mata.


Bik Sumi melirik Tuan mudanya yang menutupi sebagian wajahnya dengan tangan kemudian mengusap wajahnya. Bibir Arga akhirnya mengulas senyum. Merasa bodoh dan lucu. Terdorong oleh rasa khawatir dan cemas yang berlebih, Arga hampir saja mengabaikan itu. Dia tidak boleh menjamah tubuh itu sembarangan.


"Tolong Bibi lihat pekerjaan Asha di belakang ya," pinta Arga ke Bik Sumi yang berada di belakangnya.


"Iya tuan," Bik Sumi beranjak pergi keluar meskipun sebenarnya cemas melihat Asha yang masih belum membuka mata. Usai membaluri tubuh Asha dengan minyak kayu putih secara merata, Paris berdiri dan keluar sebentar. Arga kembali duduk di bibir ranjang.


Arga masih saja menatap Asha dengan cemas. Dia tidak beranjak dari sana sama sekali. Arga menunggu dokter Sapta datang dengan duduk di bibir ranjang. Sudah dua puluh menit sejak dia pingsan di tempat penjemuran. Sampai saat ini pun mata itu tidak terbuka. Arga semakin cemas.


"Kenapa belum membuka mata, Sha?" bisik Arga parau. Pintu terbuka, Dokter Sapta muncul dengan Paris yang datang bersamanya.


"Tolong kau periksa dia. Tiba-tiba saja dia pingsan di taman belakang," Arga langsung memberi perintah. Sebenarnya dokter keluarga Hendarto ini heran dengan pasiennya kali ini. Dia belum tahu sama sekali siapa pasiennya.


Namun dia tidak berani bertanya saat melihat wajah Tuan Muda lebih pucat karena merasa cemas.


"Baiklah.." Arga menggeser tubuhnya untuk membiarkan dokter Sapta memeriksa Asha. Saat itu ada sedikit pergerakan. Perlahan mata Asha terbuka. Matanya terasa masih berkabut dan tak lama kemudian setelah mengkerjap-kerjapkan mata akhirnya pandangannya menjadi sangat jelas.


"Sha...," sebut Arga lembut. Asha melihat wajah Arga di depannya. Lelaki itu sedang menatap dirinya dengan wajah cemas.


Kamu bisa berwajah bodoh seperti itu juga, ucap Asha dalam hati saat melihat Arga menunjukkan wajah gelisahnya.


"Dia kelelahan. Juga anemia," tukas dokter Sapta. Asha memejamkan matanya lagi saat mendengar kata anemia itu. Bukankah itu penyakit orang yang kelaparan?


Dokter Sapta memberikan beberapa obat dan vitamin untuk Asha yang di berikan ke Paris. Karena Arga lebih mempedulikan gadis yang terbaring lemas itu. Akhirnya Paris terpaksa yang berbicara dengan dokter Sapta.


.


.



.


.


"Halo... Untung ada kak Arga yang memapah kak Asha. Bagaimana bisa pingsan sih. Kan kita berdua jagoan," sapa Paris saat sudah kembali ke kamar Asha. Bibir Asha mengulas senyum. Saat ini Asha sudah bisa duduk dengan bersandar di bahu ranjang yang beralaskan bantal. Rambutnya juga sudah rapi walaupun tidak serapi saat sudah di sisir dengan sisir rambut. Pucatnya juga sudah berkurang.


"Jagoan juga manusia," kata Asha lemah. Arga hanya diam memandangi. Dia lega Asha tidak apa-apa. Asha tahu lelaki itu terus saja memandanginya. Itu membuat Asha tidak bisa melihat ke sisi ranjang dimana Arga duduk disana. Asha hanya melihat ke Paris.


"Paris. Karena Asha sudah siuman tolong keluar, karena kamu bisa mengganggu istirahatnya," Arga yang tahu Asha hanya melihat ke arah Paris, jadi sengaja mengusir adiknya.


"Heh? Habis manis sepah di buang nih?" gerutu Paris. Arga hanya menunjuk ke arah pintu keluar dengan jarinya tanpa menoleh ataupun bicara. Wajah Asha panik. "Aku keluar. Kak Arga tidak suka aku di sini," kata Paris bukan dengan wajah marah. Hanya mengatakannya kalau dia juga tidak mau berlama-lama disini. Lalu berjalan menuju pintu.


"Biar dia di sini..," pinta Asha. Arga menggeleng. Paris membuka pintu lalu keluar. "Tunggu," cegah Arga. Asha sedikit lega Arga tidak jadi menyuruh nona muda pergi. "Tolong kasih tahu Bik Sumi untuk membawakan makanan dan minuman kesukaan Asha," Paris menghempas napas. Tidak menyangka kakaknya memberi tugas.


"Tidak perlu Paris," sergah Asha merasa lancang.


"Tolong.." pinta Arga tanpa mengindahkan kata-kata tolakan Asha. Paris menipiskan bibir melihat raut wajah kakaknya sedang memohon.

__ADS_1


"Baiklah... Aku keluar," ujar Paris lalu hilang di balik pintu. Tiba-tiba Asha memejamkan matanya.


"Sha." Arga terkejut, mendekatkan tubuhnya dan menyentuh kepala gadis itu. Asha tidak berani membuka mata karena jika itu di lakukan, dia akan merasakan sekelilingnya seperti berputar-putar dan berjalan dengan dia porosnya.


"Aku tidak apa-apa," ujar Asha mengangkat tangannya. Matanya masih tertutup. Menyatakan dirinya benar-benar tidak apa-apa. Arga menurunkan tangannya.


"Lalu kenapa kamu masih tidak bisa membuka mata?"


"Aku masih harus menutup mata. Semuanya akan terasa berputar-putar kalau aku membuka mata," jawab Asha masih menutup mata.


"Bukan sesuatu yang parah?" Asha menggeleng, "Baguslah," jawab Arga mencurigakan.


"Apa yang akan kau lakukan?" tanya Asha merasa was-was.


"Tidak ada. Aku hanya perlu memandangi wajahmu di saat lemah seperti ini. Ternyata pingsan juga bisa membuatku puas melihatmu," Benar! Arga memanfaatkan ini untuk memandangi Asha.


Pintu di ketuk seseorang. Arga mendekat dan membuka pintu. Ternyata Bik Sumi datang membawakan makanan. Bik Sumi melihat heran ke arah Asha yang memejamkan mata. Arga memberi kode agar Bik Sumi meletakkan makanan di meja kecil di dekat ranjang. Bik Sumi mengangguk. Masih dengan membisu tanpa mengeluarkan suara Bik Sumi keluar kamar lagi.


"Jangan menerkamku," pinta Asha melakukan defense bagi tubuhnya. Sangat kentara terjelma banyak pikiran aneh yang bersarang di otaknya. Saat ini dia benar-benar tidak bisa membuka mata dan bertindak apa-apa. Pening berputar-putar yang menyerangnya memaksa dia harus diam dan menutup mata beberapa menit.


Terdengar kekehan kecil disana. Arga menutup mulutnya seraya menahannya untuk tidak tertawa lepas. Masih dengan tatapan geli mendengar permintaan Asha, retina Arga terus memperhatikan gadis di depannya.


"Memangnya aku binatang buas yang bisa seperti itu?" Asha diam. Menurut Asha itu sering terjadi. "Mungkin... imajinasimu terlalu liar." Tuduhan Arga ini membuat Asha sedikit malu. Karena dia memang sempat berimajinasi liar tentang Arga. Merasa sudah agak baikan, Asha membuka matanya.


"Kalau hanya ingin di gendong aku, tidak perlu berpura-pura pingsan. Aku mau kok kalau kau memintanya," kata Arga sambil tersenyum nakal. Asha memutar mata dengan malas.


"Sampai kapan, kamu berada di kamarku?" tanya Asha yang melihat Arga tidak ingin keluar kamar.


"Tidak ada yang melarangku disini," kata Arga pongah. Lalu Arga berdiri mengambil nampan yang berisi makanan.


Memang! Karena anda majikan.


"Aku meminta Bik Sumi membawakan makanan untukmu," kata Arga menunjukkan nampan makanan di tangannya. Asha melihat dengan tidak suka.


"Jangan lagi menyuruh Bik Sumi membawakan sesuatu untukku. Ini tidak tepat," Sebagai junior di rumah majikan, tindakan ini seperti sangat lancang. Apalagi Bik Sumi adalah orang yang lebih tua dari Asha.


"Kamu tidak ingat, aku berhak menyuruh siapapun di sini?" kata Arga lagi. Untuk ini keputusan majikan memang mutlak. Arga seperti menyalahgunakan wewenangnya sebagai majikan. "Anggap saja sebagai cara mereka mendukungmu untuk sehat. Ayo makan." Arga meletakkan nampan di pangkuan Asha.


Asha benar-benar jadi pasien. Sedikit risih tapi Asha mencoba mengiyakan.


"Aku dengar dari Bik Sumi kamu pemakan segala." Mendengar ini Asha tersedak dan terbatuk-batuk. Arga memberikan air putih yang sudah dingin. Pemakan segala itu bukankah berarti rakus? Asha sangat tidak setuju julukan itu.


"Bukan," protes Asha hendak meletakkan gelas tapi Arga mengambilnya terlebih dulu. Lalu meletakkan gelas. Tidak memperbolehkan Asha bergerak, kecuali makan.


"Pemakan segala juga tidak apa-apa kalau itu kamu," Arga menunjuk Asha dengan jarinya. Asha mengalihkan pandangan ke arah nampannya. Dia merona lagi.


"Aku akan makan, lalu pergilah. Ini kamar perempuan," hardik Asha. Lalu menyuapkan nasi ke mulutnya dengan risih karena Arga terus saja memandanginya dari jarak dekat.


"Sha, aku ingin menjamahmu," kata Arga tenang yang membuat mata Asha membeliak terkejut. Untung saja makanan di mulutnya sudah tertelan habis. Kalau tidak, akan menyemprot wajah Arga yang sedang memandangnya dengan tatapan tanpa merasa ada yang salah dengan kata-katanya.


Asha menjadi tidak tenang, "Apalagi melihatmu lemah seperti ini. Tidak ada tenaga untuk kamu menghajarku," Arga mendekatkan wajahnya.


"Hentikan!" ucap Asha panik sambil menahan bibir Arga dengan kedua tangannya. "Hentikan dan jangan berkata yang aneh-aneh lagi," pinta Asha dengan menahan diri. Dia tidak bisa lebih kasar dari ini. Selain tubuhnya lemah. Lelaki ini sudah memapah tubuhnya.


Dari balik tangannya, Asha tahu lelaki ini tersenyum melihat wajah paniknya. Sial!! teriak Asha dalam hati.

__ADS_1


.



__ADS_2