
"Asha sedang tidak bisa di sentuh ya...," ujar Bunda memahami. Arga membuang pandangan ke arah lain. Ini memalukan. Sangat memalukan. Sampai tulang pipi Arga merah padam. Ada decihan kesal tidak terungkap di bibirnya.
Namun karena yang di ajak ngobrol adalah Bunda, Arga akhirnya tidak ambil pusing. Ini akan memalukan jika yang di ajak bicara adalah adiknya. Namun Arga tidak akan melakukannya, itu sangat gila. Nyonya Wardah tidak meledek atau menggoda putranya karena hal ini. Beliau paham. "Sejak kapan?"
"Emm... sejak awal pernikahan," jawab Arga enggan. Karena ini jelas sangat tidak nyaman buatnya. Nyonya Wardah mengangguk-angguk mengerti.
"Tergantung kapan dia sudah dalam masa itu, Ga. Setiap perempuan tidak sama. Namun pada umumnya memang hanya tujuh hari. Kamu tanyakan saja dia sudah bersih apa belum. Menurut bunda sih sepertinya sudah bersih." Sungguh, mendengar kata 'sudah bersih' membuat Arga sumringah dalam hati. Kata-kata lain yang Bunda ucapkan, terlewati begitu saja. Bunda melirik dan sedikit menahan senyum. Putranya murung karena belum menyelesaikan malam pertamanya.
Arga hanya mengangguk pelan lalu tidak bereaksi. Entah sekarang pikirannya kemana, yang jelas dia tidak lagi murung. Seperti ada secercah harapan baginya. Nyonya Wardah bisa melihat itu.
***
Arga kembali ke kamar untuk membersihkan diri. Ini sudah sore tapi matahari masih terang dengan cahayanya yang tidak panas dan tidak menyengat. Saat sudah selesai membersihkan diri, Asha muncul sambil membawa dua piring. Satu piring berisi kue lumpia dan piring satunya lagi berisi buah semangka kegemarannya.
"Aku membawakan ini untukmu." Senyum Asha mengembang seraya memamerkan apa yang sudah di bawanya.
"Semangat sekali. Bukannya itu kesukaanmu semua." Arga masih mengeringkan rambutnya yang masih basah.
"Benar." Asha terkekeh, karena ternyata dia memang membawa apa yang hanya di sukainya. "Kamu sudah mandi? Aku harus segera mandi juga. Ini sudah sore. Memasak atau membuat kue memang seperti apa yang aku bayangkan. Melelahkan juga ribet. Itu semua terbayar karena aku bisa memakan apa yang sudah aku buat tadi." Bibir Arga tersenyum juga melihat Asha bersemangat. Asha mengangkat satu kue lumpia untuk di suapkan ke mulut suaminya. Arga menurut. Lalu menggigit separuh kue lumpia itu. Mengunyah dan menelannya setelah di kunyah dengan baik.
"Bagaimana?" tanya Asha ingin mendengar pendapat suaminya.
"Karena kamu yang membuat, aku bisa bilang ini enak." Mendengar komentar Arga, mau tak mau Asha terkekeh lagi. Itu bukan bentuk dia senang, melainkan menertawakan Arga yang tidak jujur dalam menilai.
"Jawabannya itu seharusnya enak atau tidak enak. Kenapa menjawab samar-samar seperti itu... Takut aku sakit hati?" tanya Asha sambil menepuk pipi Arga pelan dan gemas. Masih dengan senyumnya. Lalu memasukkan potongan lumpia bekas gigitan Arga ke dalam mulutnya.
__ADS_1
"Memang. Anggap saja ini enak karena aku yang membuatnya," kata Asha pada dirinya sendiri dengan nada meremehkan yang sangat jelas. Kemudian terkekeh. "Jangan habiskan buah semangkanya. Aku mau mandi dulu." Asha sengaja mengancam duluan karena Arga juga menyukai buah merah nan segar itu. Arga hanya tersenyum geli.
"Aku mau turun." Lalu Asha menuju ke kamar mandi.
"Ya!" jawab Asha dari balik pintu kamar mandi. Arga mencomot satu buah semangka. Benar kata Asha, dia takut buah ini habis di makannya. Buah ini sangat menyegarkan.
***
Pintu kamar mandi terbuka. Aroma harum menyeruak dari balik kamar mandi. Asha keluar masih di balut baju handuknya. Netra Arga mengawasi perempuan itu. Asha terhenyak melihat Arga masih di sini.
"Aku pikir kamu turun."
"Tidak aku punya rencana lain."
"Apa?"
"Aku menjaga buah semangkamu agar tidak lenyap." Asha mendengkus lucu mendengar penjelasan Arga yang merebah di atas ranjang. Lalu kakinya berbelok menuju kaca besar, dimana ada meja berisikan semua perlengkapan kecantikannya. Walaupun disebut semua, tapi Asha tidak benar-benar mempunyai semua peralatan merias diri. Dia bukan perias yang handal. Bahkan untuk dirinya sendiri.
"Harum ini membuat kamu terlihat enak." Asha tersenyum saat mendengar Arga mengumpamakan dirinya sebagai makanan.
Tercium harum menyegarkan dari rambut Asha. Walaupun samar, Arga yakin itu bau sampoo yang biasa dipakainya. Itu meyakinkan dia, bahwa perempuan ini sudah mencuci rambutnya. Menandakan perempuan ini sudah bersih. Rambut itu tidak basah berarti dia sudah mencucinya kemarin malam atau tadi pagi. Arga mulai paham.
"Kau sengaja?" tanya Arga sambil menyisipkan rambut Asha di balik telinga. Lalu mengunci tangan Asha. Jantung Asha berdetak cepat dari biasanya. Asha merasakan debaran yang hebat.
"Soal apa?" tanya Asha sambil memperhatikan Arga dari pantulan cermin besar di depannya. Tangannya yang di pegang Arga tidak bisa bergerak. Lelaki itu seperti sengaja mengunci pergerakannya.
"Kau sengaja menghindar untuk waktu penyatuan kita...," ucap Arga sambil berbisik dan menggigit cuping Asha. Membuat bola mata Asha menyipit menahan senyar menggelitik.
"B-bagaimana mungkin," sahut Asha gugup membantah tuduhan Arga. Arga menyingkap rambut Asha dan tubuh itu mulai menggeliat saat bibir Arga menjejaki leher jenjang dan tengkuknya.
__ADS_1
"Kenapa diam saja saat tubuhmu sudah bisa aku sentuh sepenuhnya, Sha?" tanya Arga.
"B-bukan." Arga tak mengindahkan kalimat Asha dan terus saja menjajahi cekungan antara leher dan bahu saat mengatakan kalimatnya.
"Aku yakin kau sengaja menghindar, untuk menyiapkan dirimu sendiri." Arga mengatakan ini saat berhenti menjajahi leher Asha dengan bibirnya sambil menatap cermin. Begitu juga Asha yang terengah menahan gelenyar yang di kirim Arga. Karena Arga memeluk tubuh lembab ini dari belakang, mereka berdua berkomunikasi lewat pantulan tubuh mereka pada cermin. "Kau bersiap demi aku yang sangat ingin menjamahmu." Asha mulai tidak bisa menjawab. Dia diam.
"Kamu akan menolakku kalau memang belum bersih. Ini bukti bahwa tubuh ini sudah siap untukku." Itu benar. Bukti bahwa Asha tidak menolak saat tangan Arga melewati celah dari baju handuk berwarna merah marun yang terbuka adalah jawaban bahwa Arga benar. Asha menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya sudah bersih.
Tangan itu mulai bergerilya menjelajahi tubuh yang dipeluknya. Menyentuh apa yang bisa di sentuh, karena tubuh itu polos tanpa sehelai kain apapun selain baju handuk yang menutupi. Perempuan ini tidak menolak. Asha menggeliat dan mengerang sensual dengan pelan saat menerima senyar menggelitik yang di kirim lewat sentuhan-sentuhan menggoda jemari Arga.
Arga memutar tubuh istrinya agar menghadap ke arahnya. Wajah Asha sudah merona merah. Dia ketahuan sudah mengerjai suaminya juga... dia mulai terbakar hasrat karena sentuhan-sentuhan yang merayu. Dia hanya bermaksud menyiapkan diri. Terburu-buru tidak membuat nyaman pada tubuhnya.
"Aku menemukanmu, Sha. Menemukan tubuhmu yang sudah siap kujamah...," ujar Arga parau di dekat telinga. Asha menggigit bibir. Bibir Arga turun melewati kulit di balik telinga. Mengirim getaran aneh yang menggelikan tapi juga menyenangkan ke seluruh tubuh Asha.
Arga membuka matanya. Mendongak untuk melihat istrinya yang masih menggigit bibir menahan gelenyar yang semakin membakar kulitnya. Bibir Arga tersenyum menang sambil menjajahi sisi lain leher. Mengendus harum asli tubuh ini yang bercampur dengan aroma dari sabun mandi. Bibir Asha mendesis sensual lagi merasa ikut terbakar hasrat.
Asha tidak melawan.
Asha tidak bisa berkata-kata. Dia terlampau sibuk merasakan gelenyar yang dirasakan tubuhnya. Arga mendesak tubuh istrinya ke dinding di dekat cermin besar. Mendesakkan bibir di sisi lain bawah dagu Asha. Erangan-erangan pelan mulai terdengar dari bibir Asha. Perempuan itu mulai mendesah. Arga menarik bibirnya dan melihat perempuannya dengan senang. Asha mulai mengatur napas.
"I-ini masih terlalu terang untukmu menerkamku, Ga." Kata-kata Asha membuat Arga menyeringai.
"Aku tidak punya pilihan. Harus saat ini, di saat aku berhasil menangkapmu yang sedang mencoba menghindar. Aku sudah cukup lama menahannya" Arga menghembuskan napas panas ke arah telinga Asha. Lalu turun ke bawah dagu.
Tangan Arga memaksa untuk menarik baju handuk itu. Memperlihatkan pundak polos yang membuat Arga bergairah. Sekali lagi membuat Asha menggelinjang. Hampir saja erangan pasrah lolos dari bibirnya dengan keras. Arga langsung membungkam mulut Asha dengan bibirnya. Mencumbu dan membenamkan bibirnya di sana.
Arga meraup tubuh Asha yang kecil dan mulai lunglai oleh kenikmatan sentuhan, ke dalam gendongan dan membawanya menuju ranjang, yang kini sudah di ganti dengan king size.
"Badanmu berat," bisik Arga di sela dia membawa tubuh Asha ke atas ranjangnya.
__ADS_1
"Aku memang berat," sahut Asha pelan. Tanganya masih melingkar di leher Arga. Arga tersenyum dan mendekatkan wajahnya untuk mencoba mencumbu bibir istrinya.