
Asha sudah memberikan pesan melalui ponsel bahwa Arga bisa istirahat terlebih dahulu. Tidak harus terus saja menemani bapak untuk mengobrol. Asha sudah berada di dalam kamar. Dia juga lelah.
"Iya. Sebentar lagi. Tidurlah dulu." Arga membalas pesan istrinya dengan cepat. Asha akhirnya tidur lebih dulu. Tak lama kemudian Arga muncul. Setelah mengganti baju, dia menyusul istrinya yang sudah terlelap. Menelusupkan tubuhnya kebawah selimut hangat yang membungkus tubuh istrinya. Memeluk erat tubuh istrinya yang tertidur dalam posisi miring. Lalu memejamkan mata kemudian.
...****************...
Pagi hari lebih terasa di rumah ini. Suara ayam jantan berkokok terdengar sangat lantang karena ada kandang ayam di kebun belakang milik tetangga sebelah. Cicit suara burung terdengar lebih merdu dan ramai. Alam pedesaan memang lebih sejuk daripada perkotaan.
Asha membuatkan dua teh hangat. Lalu membawa ke teras depan, beserta dengan membawakan satu piring pisang goreng yang sudah di goreng oleh ibu. Disana sudah ada suaminya dan bapak. Sedang duduk dan mengobrol lagi. Arga tersenyum mesra saat melihat istrinya datang membawakan teh. Asha membalasnya dengan malu-malu karena ada bapak disana.
"Keadaan Bapak, sehat?" tanya Arga. Tadi malam tidak sempat menanyakan karena setelah mendampingi beliau berbincang dengan ayah dan bundanya, tetangga datang berkunjung. Bapak mengangguk.
"Bagaimana Asha disana?"
"Dia tidak kesulitan beradaptasi. Mungkin karena sudah lama tinggal di rumah keluarga saya."
"Anak itu. Bisa-bisanya kerja jadi tukang cuci tanpa sepengetahuan Bapak." Beliau mendesah. Mengingat lagi.
"Saya justru bersyukur, Pak. Jadi saya bisa bertemu dengan putri Bapak."
Bapak tersenyum membenarkan. "Begitu ya.... Ayo dimakan pisang gorengnya." Arga mengangguk. Sepertinya para tetangga tidak pernah puas untuk melihat menantu beliau. Saat melintas, mereka tanpa ragu dan segan melihat langsung ke arah Arga dan mertuanya.
"Lagi santai sama menantu, Pak Akbar?" sapa mereka dengan senyum-senyum yang mengartikan mereka tertarik melihat kedatangan Arga. Kepala Arga mengangguk bermaksud menyapa.
"Iya, Bu." Setelah menyapa seperti itu mereka pergi. Setelah ibu-ibu tadi, muncul seorang bapak yang langsung datang mendekat.
"Pak, jadi memancing hari ini kan?" tanya bapak itu.
"Mungkin tidak jadi, Man. Ada menantuku."
"Oh, suaminya Asha? Sekalian ikut saja, Mas. Bisa mancing gak?" ajak bapak itu. "Saya bawa pancing dua ini." Orang itu menunjukkan pancingnya dengan senang. Dua alisnya terangkat. Mungkin mendapatkan satu teman lagi untuk ikut memancing lumayan menyenangkan.
"Sedikit."
"Ayo Pak. Mantunya setuju ikut kan?" ajak bapak itu semangat.
"Makan pisang goreng dulu. Aku mau ambil pancing." Bapak Asha beranjak berdiri. Teman bapak itu setuju lalu duduk di tempat duduk bapak Asha tadi.
"Saya juga masuk dulu, Pak. Mau pamit sama istri."
"Iya, iya. Pengantin baru memang harus begitu." Bapak itu terkekeh sambil memakan pisang goreng dengan lahap. Mempersilahkan Arga masuk ke dalam.
Sesampai di tangga dekat meja dapur, Arga kasih kode Asha untuk ikut ke kamar.
"Sebentar, Bu." Ibu mengangguk.
__ADS_1
Sesampai di dalam kamar, Asha menatap heran suaminya bertelanjang dada. "Mau kemana?" tanya Asha heran.
"Ikut bapak memancing."
"Mancing? Beneran mau ikut?"
"Iya."
"Memang bisa?" tanya Asha remeh.
"Sedikit. Tolong carikan aku kaos lengan panjang." Asha yang duduk di atas ranjang mulai berdiri mendekati lemari pakaian.
"Sedikit itu, berarti dianggap enggak bisa." Arga yang berdiri di sebelah Asha, mencubit hidung istrinya dengan gemas. Asha tertawa kecil. Menertawakan Arga yang sebenarnya tidak punya kemampuan memancing. "Sebaiknya tidak perlu ikut," nasehat Asha sambil mencarikan kaos yang di minta suaminya.
"Kamu takut aku akan membuatmu malu jika aku ikut?" Asha masih sibuk mencari baju.
"Tidak. Aku takut kamu tidak nyaman." Akhirnya ketemu juga kaos dengan warna hijau army itu. Lalu di berikan kepada suaminya.
"Meskipun begitu, aku akan tetap ikut." Arga menerima dan mulai memakainya.
"Kenapa? Bukannya kamu jadi canggung, kalau ketahuan tidak paham? Juga nanti jadi tidak nyaman karena tidak nyambung." Akhirnya Arga selesai memakai kaos itu lalu mendekat ke arah Asha.
"Tidak masalah. Yang penting aku berani maju untuk menunjukkan niat baikku mendekati bapak. Beliau pasti paham. Yah... meskipun mungkin aku tidak berguna karena tidak bisa. Aku kan masih bisa ikut tertawa seandainya beliau tertawa bersama temannya. Setidaknya aku ada disana melihat kesenangan bapak dan temannya." Asha tertegun. Matanya menatap suaminya lekat. "Ada apa?"
"Aku kagum melihatmu berusaha keras mendekati bapak."
"Aku bekerja keras?" tanya Arga.
"Bukankah itu sepadan? Orang yang aku dekati adalah pria yang menjadi ayah dari perempuan yang aku cintai. Aku rasa usahaku masih kurang, karena beliau adalah orang yang sangat berharga." Arga mengatakannya sambil memeluk istrinya. Namun wajah Asha terlihat malah bersedih. "Ada apa?" Tangan Arga menyusuri pipi istrinya dengan penuh perhatian.
"Aku merasa malu."
"Kenapa?"
"Aku belum berusaha apapun untuk dekat dengan orangtuamu. Terutama bundamu." Arga menarik tubuh istrinya. Memeluk dengan erat.
"Jangan menjadikan itu beban. Tidak ada paksaan. Aku tidak memaksa. Semua itu harus di lakukan dengan hati. Bukan hanya ingin terlihat bagus, tapi juga ikhlas dan sepenuh hati. Gunakan hatimu. Nanti juga akan terlihat hasilnya." Tangan Asha menelusup dari bawah lengan Arga untuk menerima pelukan erat tubuh suaminya.
"Bapak, mau berangkat Sha," kata ibu memberitahu diluar kamar.
"I-iya, Bu! Cepatlah..." Asha melepas pelukan. Arga tersenyum simpul.
"Memang kalau berurusan dengan istriku, membuat aku lupa waktu. Aku berangkat ya." Arga menyempatkan mencium kening istrinya dan segera menuju lantai bawah untuk menghampiri bapak.
...****************...
Di dapur setelah kepergian mereka berdua,
__ADS_1
"Keadaanmu bagaimana di sana, Sha?" tanya ibu saat mereka berdua sedang berada di d. Menyiapkan bahan mentah untuk memulai masak buat warung nanti malam.
"Baik, Bu."
"Nyonya Wardah bagaimana?"
"Baik."
"Meskipun kamu belum bisa memasak?" Asha diam. "Masalah rumah tangga memang bukan hanya karena kamu tidak bisa memasak, tapi itu jadi masalah jika ada orang yang iseng untuk menjadikan itu suatu masalah."
"Aku tidak apa-apa, Bu. Tidak ada yang iseng soal itu."
"Suasana diantara kamu dan orang rumah keluarga Arga pasti aneh. Kamu yang dulunya jadi pelayan dirumah itu, sekarang malah jadi istri putra atau majikan para pelayan yang lain." Apa yang di pikirkan ibunya adalah benar, tapi Asha tidak membahasnya. Tidak harus membahasnya. "Apakah kamu sedang berusaha mengambil hatinya?"
"E... seperti itulah."
"Kadang orangtua itu punya pola pikir sendiri dalam menghadapi menantunya. Meskipun ibu belum pernah, tapi ibu paham. Kalau dia baik, dia akan coba memperlakukanmu seperti dia memperlakukan anak-anaknya."
"Aku rasa seperti itu." Asha menjawabnya tanpa menoleh. Jadi dia tidak tahu bahwa ibu melihatnya mendesah pelan.
"Namanya ibu itu pada dasarnya dimana-mana sama. Cerewet. Bukan berarti itu sama dengan nyinyir. Cerewet, karena ingin anaknya menjadi lebih baik. Apa ibu mertuamu cerewet?"
"Tidak sama sekali."
"Mengherankan. Melihat kamu dirumah biasanya banyak bersantainya daripada bekerjanya, mertuamu itu tergolong baik." Bibir Asha mengkerucut tidak setuju.
"Aku disana itu tidak malas, Bu. Pagi-pagi saja aku sudah bangun dan mencuci. Bantuin Rike seperti biasanya."
"Yang masak siapa?"
"Bundanya Arga sama bik Sumi."
"Seharusnya ya kamu yang masak sama mertuamu, bukan bik Sumi. Kamu itu kok lucu. Nanti ya mertuamu tidak dekat sama kamu. Kalian akan tetap canggung. Dekatnya ya tetap sama Bik Sumi."
"Memang mereka dekat kok, Bu. Bik Sumi kan memang sudah lama kerja disana. Kalau aku harus menemani bundanya Arga masak, Bik Sumi akan tersisihkan." Tiba-tiba ibu memukul kepala Asha pelan dengan centong sayur dengan gemas. Tidak keras. Namun sempat membuat Asha mengaduh karena terkejut.
"Ini bukan soal memperebutkan posisi untuk lebih dekat sama nyonya Wardah itu. Kamu itu melakukannya sebagai bentuk kewajibanmu berbakti sama orangtua suamimu. Mertuamu. Bukan mau saingan sama pelayan yang lain. Kamu itu istrinya tuan muda disana. Dekat sama orangtua Arga adalah salah satu kewajibanmu." Ibu mendesah sambil meneruskan memasaknya. "Bik Sumi pasti paham itu."
"Aku juga sudah belajar masak untuk keluarga mertua, kok." Asha membela diri.
"Pasti masakan ala kadarnya seperti di tempat kost," tebak ibunya benar. Asha menipiskan bibir. "Ayo, sebentar lagi harus bisa masak itu," tunjuk ibu ke arah ayam mentah. Sepertinya beliau hendak memberi putrinya pelajaran memasak hari ini. Liburan kali ini akan jadi spesial karena di isi dengan belajar. Asha bertekad. Mendengar suaminya tengah berusaha dekat dengan keluarganya, dia juga merasa tergugah untuk melakukan hal sama. Menyadari kalau bukan hanya diri kita sendiri yang berjuang itu membuat pikiran ringan.
Jika berkenan, silahkan singgah dalam cerita Lady Vermouth yang lain [ Slow update ].
Terima kasih
__ADS_1