
Tanpa banyak penolakan dan pertanyaan, Asha meminumnya. Cairan teh mulai membasahi kerongkongannya. Kehangatan teh itu mulai menyelubungi area perut. Sehingga terasa sangat nyaman.
Setelah yakin meminum dengan agak banyak, Asha menyerahkan mug itu ke mertuanya lagi. Nyonya Wardah menerima sodoran mug itu, kemudian meletakkannya di atas nakas.
Tangan nyonya Wardah menyentuh kening dan mengusap anak rambut yang jatuh ke pipi.
"Lebih baik tiduran saja dulu. Setelah merasa lebih baik, bisa mandi air hangat." Asha mengangguk. "Setelah itu antar istrimu ke dokter." Kali ini beliau melihat ke arah putranya. Arga mengangguk.
"Ke dokter sore nanti saja, Bun. Menunggu Arga pulang kerja." Mendengar Asha berkata seperti itu, raut wajah Arga langsung kaku.
"Tidak. Harus segera periksa. Kali ini lebih parah daripada biasanya. Aku enggak mau kamu kenapa-kenapa," tolak Arga. Sebenarnya nyonya Wardah juga akan menasehati, tapi sepertinya itu tidak perlu. Putranya sudah mengambil langkah tegas. Ini selalu di lakukan Arga jika berurusan dengan ibu hamil yang satu ini.
"Bunda paham, tapi Arga pasti menolak. Kamu tahu bagaimana dia jika itu menyangkut kamu sama bayimu." Nyonya Wardah melebarkan mata dan menepuk tangan menantunya agar menurut. Beliau paham benar bagaimana putranya.
"Ini bukan hal yang harus di sepelekan, Bunda." Arga menambahi.
"Iya. Bunda mengerti." Beliau memberi kode pada menantunya. Bahwa jangan membantah Arga sambil tersenyum jenaka. Bibir Asha tersenyum meski masih terlihat lemas melihat mertuanya yang berusaha mengiyakan semua kalimat putranya. "Sudah Bunda tinggal dulu."
"Ya. Terima kasih, Bun," ucap Asha. Nyonya Wardah mengangguk sambil mengelus kepala menantunya pelan. Mengambil mug di atas meja nakas, kemudian bergegas kembali ke dapur. Menyiapkan sarapan untuk suami dan penghuni rumah ini.
"Sudah mendingan?" tanya Arga yang kembali duduk di pinggir ranjang dengan raut wajah masih menyisakan khawatir.
"Iya."
"Kamu terlihat sangat pucat tadi." Arga mengatakan itu sambil melebarkan mata mengingat kejadian tadi.
"Ini mual muntah seperti biasanya. Aku perlu tiduran sebentar. Nanti juga tenagaku akan pulih lagi." Asha berusaha memberi penjelasan yang bisa menenangkan hati suaminya.
__ADS_1
"Jangan beralasan. Aku tahu ini lebih parah daripada biasanya," todong Arga yang tahu betul perbedaan mual muntah istrinya. Asha akhirnya menutup bibirnya. Berhenti membuat banyak penjelasan bahwa dia baik-baik saja seperti biasanya. "Kamu itu selalu saja berkata, 'aku baik-baik saja'. Aku ini suamimu."
"Lalu?" tanya Asha sedikit ingin menggoda suaminya yang sedang cemas dan juga kesal.
"Kamu ini...." Jari Arga mengetuk-ngetuk di atas dahi istrinya dengan gemas. Dia tahu istrinya tengah menggodanya di sela suara dan tubuhnya yang masih lemah. Asha tersenyum. Asha menangkap tangan suaminya dan memindahkannya di atas kepalanya. Tangan Arga paham dan mulai mengelus kepala istrinya. "Kamu tiduran saja dulu. Aku mau mandi."
"Baiklah." Arga melepaskan tangannya dari kepala istrinya dan membantu istrinya tiduran dengan nyaman.
......................
"Kok Bunda muncul dari sana?" tanya Paris heran melihat bundanya terlihat melewati lorong menuju kamar kakaknya.
"Kakakmu panik saat istrinya mual muntah lagi."
"Kak Asha sakit?" tanya Paris juga cemas.
"Bukan. Itu memang bawaan ibu hamil."
"Tapi perempuan itu memang wajib hamil kalau memang di beri rejeki untuk hamil. Jangan merasa lelah dan kesal karena wanita punya kewajiban hamil." Paris mulai merasa bunda akan memperpanjang kalimatnya. "Kamu juga, seharusnya bangga jika nanti menikah bisa hamil dan melahirkan anak. Bukannya menggerutu. Kamu sebagai wanita..."
"Bun. Aku mau bersih-bersih. Seperti kata Bunda, aku wajib bersih-bersih." Paris langsung memotong kalimat bundanya. Senyumannya dibuat seindah mungkin agar mampu menahan omelan bunda saat kalimatnya di potong. Firasat buruk tadi sungguh menjadi nyata. Bunda agar memberi dia wejangan panjang lagi. "Benar kan, Bun? Mumpung masih pagi." Paris menunjuk ke jendela besar di lantai bawah yang memperlihatkan suasana pagi masih dengan embunnya. Beliau menoleh mengikuti arahan putrinya.
"Bersihkan yang benar," titah nyonya Wardah segera.
"Baik, Bunda. Siap." Lalu nyonya Wardah menuju tangga dan turun menuju dapur. Paris menghela napas. Lega karena telah selamat dari wejangan bundanya.
"Bunda mah begitu. Apa-apa itu selalu di hubungkan sama, 'suatu hari kamu akan jadi seorang istri'. Yah jelaslah... Masa aku jadi suami," gerutu Paris sambil masuk ke dalam kamar. Itu dia katakan setelah yakin bundanya berada di lantai bawah.
Istri. Memangnya aku akan secepat itu akan jadi seorang istri? Sekolah saja belum selesai. Ini aku masih kelas dua. Pacar saja susah minta ampun dapatnya. Sudah punya pacar, malah keponakannya musuh bebuyutan. Hhh....
__ADS_1
Sambil berkaca dan mengikat rambutnya, Paris juga menggerutu soal dirinya.
......................
......................
"Non Asha bagaimana, Nyonya?" tanya Bik Sumi yang sudah menyelesaikan beberapa makanan. Sebagai orang yang juga dekat dengan istri putra pertama tuan Hendarto, beliau juga merasa cemas.
"Asha terlihat sangat pucat. Dan sepertinya memang mual muntahnya lebih parah. Walaupun sebenarnya banyak ibu hamil yang memang mengalami hal itu." Nyonya Wardah menuju bak cuci dan meletakkan mug bekas teh tadi di sana.
"Bukannya kalau berlebihan juga berbahaya, Nya?"
"Iya. Melihat Asha sih, masih belum separah itu. Mungkin memang mual muntah pagi ini sangat parah di bandingkan biasanya, makanya Arga sangat panik." Beliau mendekat membantu bik Sumi memasak. "Asha juga bilang kalau dia tidak apa-apa."
"Tapi dia memang sering bilang enggak apa-apa, Nya. Meskipun sebenarnya dia kenapa-kenapa." Bik Sumi membeberkan sifat mantan anak didiknya itu dengan hati-hati. Ekor mata beliau melirik ke arah majikannya. Ingin tahu respon beliau.
"Saya berpikir juga begitu. Dia anaknya suka enggak enakan. Padahal saya juga sudah menganggap dia seperti anak sendiri." Mendengar ini Bik Sumi jadi merasa keliru. Nyonya Wardah jadi merasa bersalah.
"Bukan begitu Nyonya..." Bik Sumi kelimpungan. Memukul mulutnya pelan karena salah membahas topik.
"Aduh, bik Sumi kok jadi begitu." Beliau tertawa melihat kelakuan bik Sumi yang memukul mulutnya sendiri.
"Maaf..."
"Ih, Bik Sumi ini..." Tangan beliau menyentuh bahu pelayan tua ini dengan gemas. "Sudah berapa lama kita bareng begini? Lama toh?" Bik Sumi mengangguk." Dari lamanya itu kita sampai cerita macam-macam. Dari a sampai z. Kok tumben bik Sumi jadi ketakutan begitu saat membahas saya dan menantu saya itu?"
"Iya, iya. Maaf Nyonya."
__ADS_1
"Enggak apa-apa, Bi. Cerita saja. Ngomong saja. Mungkin saya belum paham soal menantu saya itu. Mungkin memang dia lebih dekat sama Bik Sumi daripada saya. Jadi mungkin saya juga keliru."