Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Senyar menggelitik


__ADS_3


Asha bersiap akan mengantarkan tuan mudanya mencari makan. Dia paham ini bukan hanya sekedar mencari makan, tapi bisa juga di sebut kencan. Di dalam kamar, Asha mulai gelisah harus memakai pakaian apa.


Berkali-kali dia mematut diri di depan kaca. Mencoba berbagai padu padan pakaian yang ada. Sebenarnya pilihan pakaian Asha tidak banyak. Namun sekarang seperti mempunyai berpuluh-puluh pakaian. Bingung harus memakai apa.


Asha mencoba semua baju yang sudah dia keluarkan dari dalam lemari. Ada beberapa pilihan di sana. Blouse warna biru, kaos warna maroon dan baju rajut kerah sabrina berwarna hijau army.


Lalu pakai rok selutut apa celana panjang? Pakai sepatu apa pakai sandal? Terakhir yang di cobanya adalah rok dengan potongan lurus dengan ukuran panjang 7/8 bermotif kotak-kotak dengan atasan kaos oblong berwarna putih.


Biasanya dia melihat situasi ini saat Kiran temannya SMA dulu -yang satu kost dengannya- hendak berangkat kencan. Saat itu Asha heran. Kenapa Kiran bisa bingung memutuskan mau memakai apa acara jalan-jalan ini. Padahal bagi pemilik paras cantik itu, baju apa saja terlihat bagus padanya. Namun Kiran masih saja bingung memutuskan mau memakai pakaian apa.


Ternyata saat kita punya kekasih, kita akan selalu takut membuat pasangan kita kecewa dengan penampilan kita. Walau di lihat darimanapun kita sudah di anggap bagus dan menarik. Kita akan tetap merasa kurang percaya diri dan mematut di depan kaca berkali-kali. Seperti yang di alami Asha kali ini.


Maaf Kiran. Aku pikir dulu kamu bersikap berlebihan, ternyata sekarang aku seperti itu juga. Meskipun aku tidak seheboh kamu, tapi tetap saja aku sedikit gelisah memilih baju apa yang akan di pakai untuk keluar jalan-jalan bareng lelaki berlabel kekasihku ini.


Untuk pagi kala itu Asha masih bisa bersikap cuek bebek dengan pakaian karena itu hari pertama jadian, jadi Asha belum memperhatikan hal-hal semacam itu.


Gadis ini menghela napas panjang dan menghembuskan dengan melebarkan bola matanya. Ternyata kencan membuatnya berpikir keras. Dia menatapnya lagi rok dengan panjang di atas mata kaki yang sudah di pakai itu di depan cermin besar.


"Memakai rok seperti itu juga manis," tegur Arga yang berdiri di ambang pintu. Asha berjingkat dan memutar tubuhnya karena kaget.


"Sedang apa kau disini? Ini kamar perempuan," Asha menegurnya dengan wajah galak.


"Aku bertanya pada Rike dulu. Kata anak itu kamu sudah ganti baju, jadi aku kesini tanpa berpikir panjang. Aku pikir kamu sudah siap, aku sedang menjemputmu," Arga memberikan alasan tentang kenapa dia tiba-tiba ada di ambang pintu. Dia dengan ujung dagunya menunjuk Rike yang barusan keluar dari kamar tidur.


"Keluarlah. Aku ganti baju dulu."


"Tidak perlu. Kamu memakai itu saja. Aku tidak keberatan." Arga memaksa. Asha menipiskan bibir sambil menatap Arga. Kaki Arga melangkah masuk ke kamar Asha yang kecil.


"Ga... Ini kamar perempuan,"


"Aku pernah masuk kesini waktu itu. Jadi kali ini juga tidak masalah aku masuk kamar ini lagi." Dia majikan. Benar. Silahkan masuk semaumu, Tuan...


"Terserah," Asha pasrah. Arga duduk di atas ranjang di samping gadisnya. Tangan Asha masih melipat pakaian yang sudah di coba tadi sambil berdiri.


Mata Arga mengedar ke seluruh kamar tidur yang kecil ini. Saat Asha pingsan waktu itu dia tidak punya waktu melihat-lihat kamar tidur yang dipakai oleh orang yang bekerja disini karena terlalu panik memikirkan Asha yang pingsan.

__ADS_1


Ujung mata Asha melihat tuan muda ini memperhatikan kamar tidurnya yang sempit.


"Tidak perlu memindai isi kamarku. Ini tidak menarik, sebaiknya kamu menunggu di luar," usul Asha yang sudah melipat pakaian yang terakhir.


Untung saja tidak ada pakaian dalam atau semacamnya yang saat ini terlihat di area kamar. Semua sudah tertata rapi pada lemari triplek dua pintu. Satu sisi untuknya dan sisi lain untuk  Rike. Memang tidak semestinya tuan muda ini langsung masuk begitu saja ke dalam kamarnya.


"Benar. Aku tidak perlu melihat isi kamarmu. Jadi aku hanya perlu menatapmu." Kepala Arga mendongak dan menatap Asha yang berdiri di dekatnya. Asha melirik sekilas. Arga benar-benar sedang menatapnya. Dengan mata berbinar indah, dia terus saja menatap Asha. Ini membuat gadis ini canggung dan salah tingkah.


"Kamu masih saja gugup saat aku menatapmu," ujar Arga sambil tersenyum. Bagaimana mungkin Asha tidak gugup? Seorang pria tampan sedang menatapinya dengan jarak yang tidak bisa dikatakan jauh. Tubuh Asha berdiri di samping kaki Arga yang sedang duduk di atas ranjang.


Mata takjub itu kadang membuat Asha merasa sedang bermimpi. Sampai saat ini dirinya masih tidak percaya bahwa yang jadi kekasihnya adalah dia, putra orang terpandang Arga Hendarto.


Tangan kiri Arga yang dekat dengan tubuh Asha, mendadak menarik lengan Asha. Karena itu memaksa Asha membungkukkan badan yang membuat wajahnya mendekat ke wajah Arga. Mata Asha membeliak terkejut. Lalu Arga menggeser wajahnya hingga dekat dengan telinga.


"Aku sayang kamu," bisik Arga di dekat telinga Asha. Suara parau ini membuat Asha menyipitkan mata merasakan gelenyar yang melewati leher dan tengkuknya. Seperti seakan-akan cuping telinganya digigit pelan. Badannya bergerak menjauhkan wajahnya untuk menekan senyar itu agar tidak merayap ke seluruh tubuhnya.


"Sha!" panggilan bik Sumi yang datang tanpa permisi di ambang pintu membuat Asha terlepas dari tangan Arga pada akhirnya dan tidak membungkuk lagi.


"Ada apa, bik Sumi?" tanya Arga langsung menoleh ke arah pintu, seraya melukis senyum seorang tuan muda yang ramah kepada Bik Sumi. Arga bertanya dengan tenang.


Tidak seperti Asha yang masih perlu beberapa detik menenangkan diri dari bisikan Arga juga keterkejutannya dengan munculnya Bik Sumi. Mata Bik Sumi membulat karena terkejut. Beliau tidak menyangka ada tuan muda di dalam kamar pembantu.


Kenapa malah menggenggam tanganku?


"Tidak apa-apa, Bi." Arga mengangguk paham dengan kedatangan Bik Sumi yang tidak permisi dulu. Memang Bik Sumi tidak perlu mengucapkan kata permisi karena ini kamar Asha, pelayan rumah ini.


Ekor mata Bik Sumi melirik ke Asha yang ada di sebelah Arga yang sempat memalingkan wajah sebentar barusan. Namun kini sudah menoleh ke arah Bik Sumi lalu tersenyum canggung. Bik Sumi masih memandang agak lama ke Asha.


Kenapa Asha tidak beranjak mendekat ke arahnya? Malah berdiam di sana. Pasti karena tuan muda.


Bik Sumi tidak tahu kalau tangan Asha di genggam oleh Tuan Muda. Dari posisi Bik Sumi memang genggaman tangan Arga tidak terlihat, karena tangan itu tertutup oleh tubuh Arga.


Asha sudah memberi kode ke Arga untuk melepaskan tangannya, tapi lelaki itu semakin erat menggenggam tangan Asha. Saat ini jelas membuat Asha tidak bisa bertindak apa-apa. Pergerakan apapun akan membuat Bik Sumi curiga. Sebab itu Asha tidak bisa kemana-mana selain berada di dekat Arga.


"Ada perlu, Bi?" tanya Arga membuyarkan lamunan Bik Sumi yang sedang memandang Asha.


"Ee... tidak. Tidak ada, tuan. Nanti saja. Saya bisa membicarakannya nanti dengan Asha. Sepertinya tuan muda ada perlu. Saya permisi dulu." Bik Sumi meminta ijin pergi sambil membungkuk dan menganggukkan kepala.

__ADS_1


"Bik Sumi pasti bertanya-tanya Ga, kenapa aku tidak mendekat padanya," Asha cemas dan gusar Arga masih saja tidak melepaskan tangannya. Kepala Arga mendongak dan menatap Asha  yang mendengkus melihat dirinya tidak melepaskan tangannya.


"Tidak. Bik Sumi akan berpikir kalau kau tidak mendekatinya karena aku," tatapan mata Arga sangat hangat, Asha mulai paham itu.


Lelaki itu seperti sedang mencurahkan semua cintanya lewat tatapan itu. Membuat Asha merasa getaran di dadanya semakin menjalar ke seluruh tubuhnya. Asha menunduk dan menipiskan bibir. Dia malu sendiri perasaanya semakin besar terhadap lelaki ini.


"Jawabannya mana?" tanya Arga yang tidak di pahami Asha.


"Apa?"


"Aku sayang kamu. Kamu tidak menjawabnya?" Asha memalingkan wajah.


"Kita sudah jadi sepasang kekasih, tidak perlu menjawab itu, kamu sudah tahu," Asha tidak pernah sekalipun mengatakan hal semacam itu ke Arga. Lelaki ini diam.


Masih dengan menggenggam jari-jari Asha, lelaki ini beranjak dari tempat duduknya hingga berdiri dengan tegak di depan Asha. Sedikit membungkuk untuk mencapai telinga Asha dan berbisik, "Kamu terlihat manis memakai ini. Tidak perlu ganti baju lagi, paham?" bisik Arga.


Lagi-lagi Asha perlu memejamkan mata menahan rasa menggelitik yang membuat senyar merayapi tubuhnya. Arga melepaskan genggamannya.


"Jangan bicara di dekat telingaku lagi, Ga! Itu membuat tubuhku...," Asha menutup mulutnya. Dia yang awalnya berbicara dengan nada jengkel, mendadak bungkam. Arga menengok ke belakang dan memutar tubuhnya.


"Membuat tubuhmu kenapa, Sha?" tanya Arga penasaran. Asha menggeleng kuat dan jari-jarinya mengibas di depan tubuh Arga. Tubuh pria itu mendekat lagi ke Asha. Kali ini dengan raut wajah buas dan kilatan mata yang sensual. Bagaimana mungkin Asha berbicara soal ini kepada dia! Asha mundur menghindari Arga. "Aku semakin penasaran," kata Arga lagi.


"Mau berangkat cari makan atau tidak?" tanya Asha memutus tatapan Arga yang buas. Arga menyentuh pipi Asha.


"Wajahmu memerah, itu menandakan kau sedang berpikir yang tidak-tidak," ujar Arga dengan senyum menggoda.


"Sudah aku katakan, tidak. Berhenti dan segera kita pergi. Karena nanti makin malam," Asha mencari alasan.


"Aku tunggu di depan, ya.." Kepala Asha mengangguk. Arga pergi keluar kamar terlebih dahulu. Lalu gadis ini menghela napas panjang dan menghempaskannya dengan kuat. Pikirannya jadi ngawur karena Arga. Ya! Bisikan Arga membuat tubuh Asha merinding tidak jelas. Ini gila!!


Handphone Asha berdering nyaring. Ternyata Paris yang sedang menelepon.


"Ada apa?" tanya Asha.


"Jangan terlalu lama di kamar. Aku nungguin sampai menjamur nihh..." gerutu Paris di ujung sana. Asha bergegas keluar dan menyambar waist bag warna silver mengkilatnya. Asha minta ijin dulu ke Bik Sumi. Rupanya Bik Sumi sudah di beritahu Arga.


Lalu lewat pintu belakang Asha keluar. Dengan setengah berlari, Asha mendatangi halaman depan rumah besar keluarga Hendarto.

__ADS_1



__ADS_2