Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Alasan sederhana


__ADS_3



Di depan gerbang sekolah siang itu, Paris yang masih menunggu Angga jemput, tak mendengar nada dering pada ponselnya. Dia sedang mendengarkan candaan cowok-cowok yang melintas. Karena ada cewek baru, mereka bersemangat ingin kenalan.


Dengan sikap yang anggun tapi juga dingin, Paris membungkuk memberi salam pada kakak kelas yang melintas. Ada juga yang tanya nama dan nomor handphone dan bercandaan lainnya yang masih tergolong sopan.


"Mereka enggak ngerti kalau sebenarnya kamu itu menakutkan," kata Sandra tersenyum geli.


"Hei... tutup mulutmu itu," cegah Paris tidak setuju. "Biarkan mereka menggoda kita berdua yang jadi primadona, hanya karena kita orang baru disini. Biarkan mereka menganggap kita istimewa. Toh, kita tidak memintanya. Coba saja kita jadi orang lama di sekolah, paling juga tidak ada orang yang bakal tertarik dengan kita," jelas Paris.


"Jadi nona-nona ini sedang menikmati godaan dari para cowok-cowok ini?" tegur seseorang dengan lembut. Rupanya Lei yang muncul di antara cowok-cowok yang heboh di depan gerbang. Paris mendelik. Pujaan hatinya muncul tanpa permisi.


"Kak Lei bisa aja nih, ya Paris?" Sandra menyenggol lengan Paris pelan. Bibir Paris hanya tersenyum tipis menanggapi.


"Jemputanku sudah datang," seru Sandra. Tangannya melambai memberitahu posisinya. Paris terkejut saat melihat ke arah bangku kemudi, ternyata yang menjemput adalah kakak Sandra yang sempat terkena pukulannya. Insiden di kelab malam itu.


Lei terkejut saat Paris memutar tubuhnya. Berusaha memposisikan dirinya membelakangi mobil jemputan Sandra dan menghadap kakak kelasnya itu.


"Kamu kenapa, Paris?" tanya Sandra heran.


"Aku harus bersembunyi," ujar Paris dengan mata membulat geregetan karena Sandra tidak paham. Paris masih belum menyadari bahwa dia sedang menghadap kakak kelasnya yang berada di sebelah kirinya. Matanya masih sibuk menunduk, menghindari pandangan mata kakak Sandra. "Ada kakakmu ...." Paris memberitahu dengan rinci.


"Sudah lama, Dra?" tanya Biema yang masih memakai pakaian kerjanya.


"Enggak kok, kak," jawab Sandra dengan tersenyum. "Paris, aku pulang dulu, ya ...," pamit Sandra sambil melambai. Paris hanya membalas dengan melambaikan tangan juga, tanpa memutar tubuhnya.


Sebenarnya Paris tidak bisa melihat Sandra yang melambai. Dia hanya memperkirakan kebiasaan-kebiasaan temannya itu. Dia masih menghadap Lei yang ada di sebelah kirinya tadi. itu berarti dia sedang memmbelakangi Sandra, yang artinya kakak Sandra tidak bisa melihat siapa orang yang sedang bersama adiknya.


Lei melihat interaksi ini dengan heran. Mengapa adik kelasnya ini harus membelakangi mereka? Bahkan terang-terangan sedang bersembunyi.


Biema tersenyum ke arah Lei saat Sandra sudah masuk ke mobil. Menunjukkan sikap sopan karena Lei sudah bersama adiknya tadi. Biema menjalankan mobil seraya memperhatikan gadis yang menghindari pandangannya lewat kaca spion mobil. Dia merasa kenal dengan tubuh dan wajah itu wajah itu dari samping.


"Sepertinya aku pernah melihat wajah temanmu, Sandra?" tanya Biema curiga. Sandra yang duduk di depan juga melihat ke arah kaca spion.


"Siapa? Kak Lei?" tanya Sandra.


"Bukan, gadis itu," ujar Biema yang sudah tidak lagi mrlihat kaca spion.


"O ... Paris. Dia kan ... Kakak janji enggak bakal marah lho ya?" tanya Sandra baru ingat. Kening Biema mengerut.


"Kenapa?" tanya Biema heran. Sandra menipiskan bibir. Ragu mau menjawab. "Katakan siapa?"


"Dia ... gadis yang sudah menyerang kak Biema di kelab waktu itu," ujar Sandra yang mengatakan dengan lambat di awal, lalu mengatakan sangat cepat saat mengatakan kalimat akhirnya.

__ADS_1


"Oh ... gadis itu," ingat Biema seraya mengerutkan kening. Sandra melirik dengan hati-hati kakaknya. Takut kakaknya marah. Ternyata kakaknya tidak melanjutkan pembicaraan membahas Paris. Sandra lega. Kalau kakaknya marah, Paris akan kena masalah, dan kalau begitu dia juga bakal kena semprot Paris juga.


"Kamu pindah sekolah karena mengikuti dia?" tanya Biema.


"Kok kakak tahu?" Seingat Sandra dia tidak bilang alasan pindah sekolah ke kakaknya, hanya bilang pada Papa. Pasti beliau yang bilang.


"Kenapa ikutin anak brutal begitu, apalagi dengan dua anak brutal. Kakak takut kamu jadi gadis yang ikutan brutal seperti mereka," kata Biema menasehati adiknya.


"Mereka itu hanya teman yang bersemangat bukan brutal. Lagipula dia baik. Aku hanya mengikuti Paris. Temanku dari sekolahku yang dulu hanya satu, yaitu Paris."


"Bukannya mereka ada dua orang?" tanya Biema heran. Seingatnya, ada dua gadis di kelab malam itu yang bertingkah layaknya jagoan.


"Oh, kak Asha? Dia pelayan di rumah Paris. Dia juga keren seperti Paris, majikannya," tutur Sandra tersenyum senang membayangkan dua orang itu berkolaborasi.


"Pelayan?" tanya Biema heran.


"Benar. Dia pelayan paling seru yang bisa jadi teman nongkrong juga. Dia itu juga jago main basketnya. Asyik pokoknya," jelas Sandra sangat seru. Biema mengerutkan kening. Pelayan? Jago basket? Sedikit tidak biasa, tapi Biema mencoba mengangguk mengerti penjelasan Sandra.


Masih di depan gerbang sekolah, Paris yang sudah tahu bahwa kakak Biema sudah pergi, mendongak. Dia lumayan kaget dengan tubuhnya yang masih menghadap Lei. Matanya mengerjap.


"Ada apa?" tanya Lei. Paris menggeleng gugup. Lalu perlahan memutar tubuhnya lagi agar kembali menghadap jalan. "Bersembunyi ya? Apa kamu juga melakukan hal yang sama padanya seperti padaku waktu di pasar itu?" tebak Lei dengan senyum tipis tapi terasa menggoda. Mengingatkan Paris akan pertemuan pertama bertemu.


"Tidak," bantah Paris.


"Memangnya kakak meneleponku?" Paris merasa tidak ada panggilan masuk.


"Coba cek aja," usul Lei. Paris merogoh ponselnya di dalam tas. Menyalakan ponsel dan melihat ada dua panggilan tidak terjawab yang menunjukkan barusan menelepon. Berarti itu saat dirinya sedang asyik mendengarkan godaan cowok-cowok tadi. "Kenapa enggak pernah chat aku?" tanya Lei lagi yang membuat Paris terkejut. Menolehkan kepala dengan cepat dan memicingkan mata melihat Lei.


"Eh, iya ...," jawab Paris yang akhirnya terkejut sendiri dengan jawabannya. Lalu menggeleng cepat. "Kenapa chat kakak? Kan enggak ada perlu," seloroh Paris kemudian. Meralat jawaban tadi karena sepertinya tidak tepat untuk menjawab pertanyaan Lei.


"Kalau aku ada perlu, kamu mau membalasnya?" tanya Lei.


"Mungkin. Coba aja, mungkin suasana hatiku lagi baik," ujar Paris sok jual mahal padahal berharap banyak Lei menghubunginya atau sekedar chat selamat pagi.


"Wahh ... susah ya, kalau menunggu suasana hatimu lagi baik," ujar Lei kecewa. Sepertinya hendak mundur untuk tidak menghubungi Paris. Geraham Paris mengetat. Rencana jual mahalnya membuat dia mundur, dan ini membuat Paris geram.


"Ya, usaha dong. Gimana supaya aku punya suasana hati yang baik," gerutu Paris enggak sabar. Lei terkejut dan kemudian tersenyum geli.


"Oke, oke. Berarti aku harus berusaha lebih keras nih ...," ujar Lei paham. Dia tidak membahas sikap Paris yang terasa lebih aktif dari dia. Lei hanya mengikuti alur yamg sudah gadis ini sediakan. Paris mengerjap lagi. Barusan sadar bahwa dia melakukan hal di luar dugaan barusan.


Busyet! Kenapa aku yang seperti sengaja minta di hubungi. Payah. Hati ini lemah, kalau lihat muka tampan.


Angga muncul didepannya persis.


"Jemputan sudah datang, aku pulang," pamit Paris.

__ADS_1


"Iya. Jangan terkejut kalau aku menghubungimu tanpa tahu waktu," kata Lei yang membuat mata Paris melebar.


Dia mau menerorku? Hmmm ... lumayan. Di teror makhluk tampan sih, apa yang perlu dipikirin? Terima saja, pikir Paris seraya masuk ke dalam mobil. Lei melambaikan tangan. Paris mengangguk sok cool. Padahal dalam hati sangat senang.


_____


Di dapur, Asha mencuci tempat bekal milik Arga. Setelah itu berjalan keluar untuk menemui Rike. Saat berjalan menuju tempat Rike, ponselnya bergetar. Asha merogoh dari saku celana, ternyata Arga.


"Ya," jawab Asha.


"Sudah sampai rumah?"


"Iya tadi."


"Seharusnya kabari aku setelah kamu sampai," ujar Arga sambil mendesah lega. Jadi Arga sempat khawatir saat Asha pulang.


"Maaf. Aku sudah sampai dengan selamat kok," kata Asha menenangkan Arga. Asha melihat ke kanan dan kiri. "Aku belum tanya, kau kasih alasan apa ke Nyonya Wardah soal aku yang tidak segera pulang? Pasti alasan yang aneh-aneh ya?"


"Tidak. Aku hanya memberi alasan yang mudah orang pahami. Bukan alasan aneh-aneh," sanggah Arga.


"Apa?" tanya Asha penasaran dan tidak sabar.


"Aku memberitahu Bunda kalau aku meminta kamu untuk menemaniku. Jadi butuh waktu yang lama untuk bisa pulang," ujar Arga santai. Mata Asha mendelik. Jalannya langsung berhenti. Mulutnya menganga karean sangat terkejut.


"Kamu bilang itu bukan alasan yang aneh?" tanya Asha tidak percaya.


"Memang bukan. Karena aku tidak memberi alasan seperti, aku sedang menyuruh Asha membersihkan seluruh ruang kerjaku jadi pulangnya masih lama. Itu baru alasan yang aneh, karena aku tidak mungkin menyuruhmu melakukannya bukan? Alasan ku sangat simple," jawab Arga masih dengan nada suara yang tenang dan merasa tidak ada yang salah.


"Bukankah itu justru aneh, Ga ...," kata Asha geregetan. Jelas saja Nyonya Wardah sempat melihat dengan tatapan aneh tadi. Asha merasa sedang di pindai. Namun Nyonya Wardah jadi tidak meneruskan pertanyaannya karena pasti beliau juga heran dengan alasan putra kesayangannya. Nyonya Wardah berusaha mengabaikan.


Asha menggeram sambil menjauhkan ponsel dari wajahnya. Agar Arga tidak mendengar geramannya karena kesal. Disana Arga memanggil nama Asha berkali-kali karena tidak ada suara apapun.


"Sha," sebut Arga lagi.


"Ya," sahut Asha setelah bisa mengendalikan rasa kesalnya.


"Bunda bertanya macam-macam padamu?"


"Tidak."


"Syukurlah .... Aku tutup ya?" tanya Arga.


"Ya ...." Asha mendesah. Ini tidak bagus.


__ADS_1


__ADS_2