Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Kenyamanan Arga


__ADS_3


Di dalam ruang kerja Arga, masih tersisa tiga orang. Paris yang sudah meluapkan ketidaksukaannya soal Chelsea ke Arga masih cemberut di sofanya. Arga juga merasa kesal karena harus bertengkar soal Chelsea dengan adiknya di depan Asha. Apalagi saat Paris menanyakan soal perasaan Arga sekarang ke Chelsea.


Arga menjadi tidak tenang.


Sementara itu Asha sibuk membersihkan meja yang penuh dengan sampah bekas makanan. Juga merapikan tempat bekal yang akan di bawa pulang lagi. Rupanya, Tuan mudanya tidak menghabiskan makanannya. Mungkin dia dalam suasana tidak nyaman. Dimana ada paris, Chelsea juga dia.


Arga sepertinya berusaha membuat semuanya nyaman dengan mengabaikan kenyamanannya sendiri. Bisa saja dia segera mengusir Chelsea atau Paris dari ruangannya, tapi itu di lakukannya demi membuat semua nyaman. Walaupun Arga sakit hati atas pengkhianatan Chelsea, dia tidak harus menjadi sadis dengan tidak menerima Chelsea yang hanya berkunjung.


Untuk menyapa dan berbincang, Arga masih tetap mau menampungnya. Namun untuk sentuhan fisik seperti pelukan atau ciuman, jelas Arga tidak mau menerimanya. Dia juga punya batasan sebagai seorang lelaki untuk tidak melangkah terlalu jauh karena status yang berbeda.


Dan karena Arga masih mau mendengar keluh kesah soal Evan, mungkin ini yang justru membuat Chelsea merasa di atas angin. Dia berpikir bahwa Arga masih menerimanya seperti dulu. Lelaki itu hanya merasa iba dengan kehidupan Chelsea yang sudah tidak punya orangtua dan sekarang Evan mengkhianatinya. Mungkin hatinya memang masih ada sedikit rasa sayang untuk Chelsea, tapi sebenarnya dia juga merasa tidak nyaman bila harus berada di dekat Chelsea yang berstatus istri Evan. Arga hanya berusaha bersikap sopan.


Meskipun dia harus memisahkan mereka karena tidak mau ada bentrok antara Chelsea dan Paris pada akhirnya, untuk memaksa Paris pulang juga tidak mungkin. Arga tidak mau melakukan itu. Dia melihat Asha sengaja membawakan bekal dari rumah untuknya. Ini juga yang jadi pertimbangan baginya untuk tidak menyuruh Paris pulang kerumah.


Arga menghela nafas sambil menjauh dari sofa menuju di kursi kerjanya. Paris diam saja sambil menekuk wajah dan mulutnya. Asha masih terus membereskan meja yang berantakan. Kalau yang lain bisa bersikap diam dan menghela nafas kesal, tapi untuk Asha tidak ada waktu untuk itu.


Kalaupun ingin menghela nafas kesal karena suasana yang membuat tidak nyaman, dia harus melakukannya sambil bersih-bersih. Sebagai pelayan, Asha harus bergerak cepat saat ada sesuatu yang mencolok ingin di bersihkan seperti meja di depannya ini.


"Mau di bawa kemana?" tanya Arga saat melihat Asha hendak membawa keluar cangkir untuk air minumnya tadi.


"Keluar dan mencucinya, Tuan," jawab Asha yang belum membuka pintu.


"Tidak perlu. Kamu letakkan saja di dispenser sana. Biar karyawan kantor yang mencucinya."


"Baik." Kaki Asha tidak jadi melangkah keluar tapi menuju meja kotak penyimpanan dan meletakkan di sana. Lalu kembali ke sofa setelah membuang sampah di tempat sampah di dalam ruangan. Duduk dan diam.


"Asha, minta tolong bawa Paris pulang. Dia sudah cukup lama di sini dan menggangguku," Asha seperti merasakan radarnya bereaksi. Alarm berbunyi. Tuannya merasa terganggu dengan kedatangan mereka berdua.


"Maaf tuan, telah mengganggu anda." Arga mendongak dan tertegun. Tidak menyangka kalimatnya membuat perempuan yang awalnya duduk itu mulai berdiri. Menyatukan tangannya dan membungkuk merasa bersalah. Arga membuang nafas lelah sebentar.


"Aku tidak menyalahkanmu. Aku sedang marah dengan Paris yang...," Tiba tiba Paris berdiri dan berjalan menuju pintu. Arga menatap adiknya heran. Paris menyentuh handle pintu dan membuka pintu. Lalu pergi tanpa pamit.

__ADS_1


"Maafkan tuan," Asha masih membungkuk dan mengucapkan maaf sekali lagi. Arga mengusap wajahnya mencoba meredam sendiri amarahnya yang memuncak. Menggeram dalam hati.


"Saya permisi tuan. Saya akan mengajak nona Paris pulang, Permisi." Asha segera keluar ruangan meninggalkan Arga yang mulai memejamkan mata. Hhh....


Hari ini sangat melelahkan..



**


Di luar, Paris menunggu Asha di pintu lift.


"Menyebalkan bukan?" tanya Paris langsung saat Asha sudah keluar dari ruangan Arga dan berada di depannya.


"Siapa? Nona itu?" tanya Asha sambil menenteng tas bekal.


"Keduanya. Chelsea dan kakakku." sungut Paris dengan wajahnya yang ditekuk.


"Memangnya aku sudi harus terus-terusan ngomel soal Chelsea. Capek tahu. Aku itu bersikap menyebalkan seperti ini karena untuk menyadarkan bahwa tidak hanya Chelsea yang ada di depannya," omel Paris panjang.


"Iya." jawab Asha sekedar merespon nona mudanya bercerita.


"Disini kakakku adalah korban pengkhianatan. Melihat itu bukankah wajar kalau aku berlebihan dengan kemunculan Chelsea. Aku mau melindunginya," Lagi. Mulut Paris mengomel.


"Iya," jawab Asha sekali lagi. Formalitas bekerja.


"Di dunia ini tidak hanya Chelsea yang bertubuh bagus. Yang lain itu masih banyak. Dasar kakak sih, otak mesum," maki Paris kesal.


"Iya memang. Dasar otak mesum," jawab Asha tanpa sadar dengan geram. Karena dia jadi teringat kejadian di dapur malam hari itu. Paris noleh dengan pandangan heran.


"Memangnya kak Asha pernah lihat Kak Arga mesum?" tanya Paris yang membuat Asha terkejut.


"Hah?" Asha baru sadar bahwa mulutnya salah bicara.

__ADS_1


"Sungguh aneh, Kakak terlihat lebih geram daripada aku," kata Paris menerjemahkan ekspresi raut wajah Asha tadi.


"Tidak, tidak. Aku hanya mengiyakan apa yang kamu bilang," bantah Asha dengan panik sambil menggoyangkan kelima jarinya. Seketika Asha meringis menetralkan kecurigaan Paris terhadapnya.


Busyett, jadi ingat kelakuan gila tuan muda itu.


"Aku harus melapor sama bunda biar Arga kapok," Paris menemukan ide brilian untuk menumpahkan kekesalan tadi.


"Iya, iya.." Sebenarnya Asha enggak mau ngompor-ngomporin Paris untuk mengadu pada Nyonya Wardah, tapi demi menyelamatkan diri dari kecurigaan Paris soal mesum tadi, Asha jadi menyemangati gadis ini.


"Ihhh.. kemana si Angga, sih. Di telpon enggak bisa." Paris ngomel lagi. Ini anak sudah ngomel terus sejak tadi. Pip, pip... Ada pemberitahuan baterai melemah dari ponsel yang di pegang Paris.


"Yah... Baterai mau habis pula. Kak, telponin Angga gih, bateraiku mau abis. Tinggal empat persen!" Paris menunjukkan layar ponselnya ke Asha. Benar, gambar baterai di sebelah kanah berwarna merah dan ada tulisan empat persen.


"Ya." Asha merogoh ponselnya. Kanan kiri, depan belakang. Tidak ada ponsel di saku manapun.


"Kenapa kak?"


"Ponselku, hilang."


"Aduh, sini aku telpon." Paris mencoba menelpon lewat ponsenya yang sudah hampir habis baterainya. Pip, pip, peringatan lagi.


"Tidak, tidak!!" Teriak Paris menyaksikan kepunahan baterai ponselnya. Asha mendesis gemes.


"Pasti ketinggalan di ruangan kak Arga nih," kata Paris. Asha coba mengingat, tapi dia masih tidak ingat.


"Aku lihat kesana dulu deh," usul Asha merasa berat hati. Padahal sudah aman dia akan segera pulang. Sambil membawa bekal di tangannya, dia kembali ke ruangan direktur.


"Aku tunggu di lobi depan ya..." kata Paris karena mereka sudah sampai di lantai bawah. Asha mengangguk dan menuju lantai atas lagi sendirian.


Aku harus berjumpa lagi dengan tuan muda itu.


__ADS_1


__ADS_2