Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Menemani


__ADS_3


Arga membimbing istrinya untuk duduk dan bersandar, demi mengurangi rasa sakit. Menempatkan bantal pada punggung agar nyaman. Sementara Asha masih memegangi perutnya karena sakit semakin terasa.


Asha mencoba menarik napas. Kemudian membuang napas demi mengurangi rasa sakit. Perlahan rasa sakit berkurang. Napas Asha naik turun dengan teratur. Raut wajahnya mulai membaik.


"Sha...," ujar Arga mencoba mendapat jawaban. Apakah istrinya mulai membaik atau tidak.


"Rasa sakitnya berkurang," ucap Asha setelah mampu mengatasi rasa sakit. Arga menghela napas panjang. Kemudian terduduk dengan perasaan lega.


"Kita harus ke dokter. Aku ke kamar mandi dulu." Asha mengangguk. Arga bergegas ke kamar mandi. Tidak lama dia sudah muncul.


"Cepat sekali mandinya?" tanya Asha heran.


"Aku enggak mandi, hanya cuci muka saja. Aku tidak bisa berlama-lama untuk membawamu ke dokter."


"Tidak. Kamu harus mandi. Aku enggak mau kamu enggak mandi untuk periksa. Lebih baik aku sama bunda."


"Aku cemas, Sha... "


"Tahu. Kamu jorok, kalau begitu." Arga melihat istrinya dengan bingung.


"Aku akan mandi kalau memang sakit itu tidak lagi membuatmu kesusahan." Asha menggeleng. Rasa sakit memang berkurang. Rupanya Asha meringkuk di atas ranjang menunggu suaminya selesai mandi hingga tertidur.


"Sha ...." Arga membangunkan istrinya dengan lembut. "Ayo, kita harus ke dokter." Asha mengucek matanya lalu mengangguk. Mereka segera berangkat ke dokter Murad.


...----------------...


Diruangannya dokter Murad tersenyum bijak. Setelah memeriksa Asha, beliau kembali duduk di kursi kerjanya.


"Bagaimana keadaan janin dan istri saya, dokter?"


"Sehat. Seiring dengan perkembangan janin di dalam perut perubahan pun semakin banyak terjadi. Perubahan pada tubuh pun semakin terasa, salah satunya adalah kram perut yang sering dialami oleh ibu hamil yang sudah memasuki hamil tua."


"Kram perut? Bukankah itu berbahaya dok?" tanya Asha yang sedikit mendengar soal ini. Mendengar kata berbahaya, Arga ikut menegang.


"Banyak yang berpikir kram perut ini adalah ... maaf, gangguan kehamilan yang berujung pada keguguran, tapi ..."


"Keguguran, dok?" potong Arga karena terkejut. Wajahnya pias mendengar kata itu. Asha terdiam. Dia pernah mendengar itu dari Ibu-ibu di arisan yang bercerita.


Dokter Murad tersenyum dengan tenang. "Sebenarnya kram perut yang dialami Ibu hamil itu merupakan hal yang wajar. Ini bisa di sebut juga kontraksi palsu. Itu sering terjadi pada trimester kedua dan trimester tiga. Biasanya muncul dengan tanda otot rahim mengencang sekitar 30-60 detik sampai dua menit. Istri Anda bisa berendam air hangat, dan minum air putih untuk mengurangi keluhan ini. Sepertinya nyonya kurang minum air putih."

__ADS_1


Asha menipiskan bibir. Tidak memungkiri kemungkinan kurangnya tubuhnya akan air putih. Karena meminum air putih terasa pahit di lidahnya.


"Saat kram perut melanda, nyonya cobalah untuk berbaring agar meredakan nyeri. Jika nyeri di bagian kiri, berbaringlah ke arah kanan atau sebaliknya. Sebisa mungkin posisikan kaki lebih tinggi dari kepala dan gunakan bantal sebagai pengganjal. Sebaiknya nyonya menghindari melakukan gerakan tiba-tiba saat kram perut melanda." Arga dan Asha mengangguk paham.


Kram perut juga mungkin muncul saat seorang ibu melakukan aktivitas sehari-hari seperti saat sedang berolahraga, berusaha bangun dari kursi atau tempat tidur, bersin, tertawa, batuk, dan beberapa aktivitas lain yang kerap membuat gerakan secara tiba-tiba. Kedua calon orangtua muda ini mendengarkan seksama.


Pada saat hamil tua, kram perut karena hal sepele juga bisa saja terjadi.


"Apakah Tuan dan nyonya masih melakukan kegiatan berhubungan badan?" tanya dokter. Meskipun sudah menikah dan hamil, di tanya seperti ini membuat Asha masih malu.


"Ya. Kadang." Arga akhirnya yang berinisiatif menjawab. "Apa itu tidak boleh, dok?" tanya Arga sedikit kecewa. Kalau kegiatan menyenangkan itu dilarang, dia pasti kesulitan.


"Tidak, tidak. Itu tidak dilarang." Dokter Murad langsung memberi konfirmasi. Arga menghela napas lega dengan kentara. Asha sampai menipiskan bibir apalagi saat dokter Murad tersenyum. Dia malu dengan kelegaan Arga yang tidak di sembunyikan.


"Tuan dan nyonya masih boleh untuk berhubungan badan. Akan tetapi, saya ingatkan... Saat mencapai puncak kenikmatan, itu dapat menyebabkan kram perut saat hamil yang kerap diikuti dengan sakit pinggang ringan," pesan dokter.


Arga langsung melirik istrinya cemas.


...----------------...


Asha menyandarkan punggungnya pada badan kursi mobil. Helaan napas berat terdengar dari bibirnya. Semakin tua umur kehamilan, banyak perubahan yang terjadi. Perutnya yang semakin besar, bobot tubuh yang kian bertambah, juga napas yang terasa berat.


"Lelah?" tanya Arga khawatir.


"Melihatmu yang tambun ini, aku berpikir jika bayi kita kembar."


"Memangnya di keluargamu ada riwayat kembar?" tanya Asha balik. Kalau dari riwayat keluarga orangtuanya, tidak ada yang kembar.


"Tidak, tapi seandainya saja kita di beri keturunan kembar. Bisa langsung rame keluarga kita." Arga sudah membayangkan dengan senang. Asha tersenyum melihat raut wajah suaminya.


"Kamu tidak kerja?" tanya Asha tiba-tiba teringat.


"Bolehkah aku libur dulu. Aku ingin menemanimu."


"Aku tidak tahu. Coba saja tanya ayah." Asha tidak berani memberi keputusan soal pekerjaan.


"Aku bukan meminta ijin untuk tidak bekerja. Ayah pasti setuju saat aku beritahu kalau habis datang dari dokter kandungan."


"Lalu apa? Bukannya tadi kamu tanya boleh libur atau tidak?"


"Kamu ini begitu rumit, Sha. Kalau ada pertanyaan seperti itu biasanya seorang istri akan merasa senang. Bahkan mereka menyuruh suaminya untuk tidak berangkat kerja karena ingin di temani. Namun kamu justru menjawab tidak tahu dan berpikir serius."

__ADS_1


"Memangnya salah?" Asha bertanya sambil menaikkan kedua alisnya.


"Bukannn... hanya terdengar janggal saja."


"Tidak janggal kok. Hanya bersikap pengertian saja. Aku pastinya ingin jadi prioritasmu yang pertama..."


"Kamu tetap prioritasku Sha," potong Arga.


"Dengerin aku ngomong dulu," gerutu Asha tidak setuju kalimatnya di potong. Bibirnya mengkerucut. Sangat imut bagi Arga karena jarang melihat sosok manja istrinya.


"Eh, iya iya." Arga membiarkan istrinya meneruskan kalimatnya.


"Terima kasih, kalau aku tetap jadi prioritasmu." Bibir Arga tersenyum geli mendengar ini. Dia tetap fokus menyetir sambil mendengarkan istrinya bicara. "Namun aku juga harus memerhatikan banyak hal. Kamu, keluargamu, pekerjaanmu. Aku merasa tidak harus mau menangnya sendiri meski kamu suamiku."


"Wahh... istriku perempuan yang sangat, sangat pengertian rupanya," ujar Arga menanggapi.


"Nada bicaramu seperti palsu," cela Asha.


"Hei, mana mungkin."


"Barusan kamu seperti tidak percaya." Arga tertawa akhirnya.


"Aku sangat tahu kamu, luar dan dalam. Apa saja yang ada di dalam sana ... aku sudah tahu." Arga melirik tubuh istrinya dengan nakal. Asha melihat itu. Bola mata Asha melebar. Bibirnya menipis melihat kelakuan suaminya. Arga terkekeh. "Apapun itu aku sangat tahu siapa Asha. Jadi ... mau menemaniku jalan-jalan hari ini?"


"Ya. Dengan terpaksa," ucap Asha setengah hati. Arga mengelus kepala istrinya sambil tersenyum. Bibir Asha juga tersenyum senang. Hari ini dia akan di temani suaminya seharian.


...----------------...


"Bagaimana keadaan istri tuan muda, Nyonya?" tanya Bik Sumi yang mendengar Asha di bawa ke dokter karena sakit pada perutnya.


"Tidak ada masalah serius, Bik. Seperti biasa, Arga menanggapi secara berlebihan. Namun ya, untung enggak ada apa-apa. Hanya kram perut normal saja," jelas nyonya Wardah sast usai menerima telepon dari Arga. Bik Sumi menghela napas lega dan berucap syukur.


"Tuan muda belum pulang, nyonya?"


"Iya. Arga meminta ijin libur kerja. Mereka sedang ingin jalan-jalan. Bisa saja Asha itu rindu pada Arga ya, bik?"


"Ya, iya nyoya namanya suami."


"Jadi ingat saat dulu hamil. Bagaimana enaknya masa pertama hamil. Si suami itu selalu kasih perhatian lebiihhh...." Nyonya Wardah mendeskripsikan secara berlebihan hingga membuat bik Sumi tertawa geli.


"Jadi tuan besar tidak perhatian saat hamil kedua?"

__ADS_1


"Bukan juga." Nyonya Wardah mulai mengenang masa-masa itu.



__ADS_2