Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Membantu Rendra atau...


__ADS_3



Rendra yang menelepon pada jam seperti ini saja sudah sangat mengerankan, apalagi meminta bantuan. Sebenarnya Rendra sedang apa?


***


Asha bergegas mengambil jaket dan keluar kamar dengan pelan. Berjalan dengan berjingkat agar tidak membangunkan Rike. Juga tidak ingin Bik Sumi terbangun. Dia tidak perlu ganti pakaian karena sejak datang di antar Cakra tadi, dia belum mengganti pakaian.


"Ah! ... mmph." Asha membungkam mulutnya sendiri karena takut berteriak. Takut semua orang bangun karena teriakannya. Dia di kejutkan oleh Paris yang muncul di lorong kamar pembantu. Setelah yakin dia sudah selesai terkejut, dia membuka tangan yang membekap pada mulutnya, "Apa yang kamu lakukan disini, Paris...?" Asha melebarkan mata karena gemas. Mendesis geram.


Paris hanya diam. Melihat Asha dan akhirnya membuka suara. "Aku antar," ujarnya pelan membuat Asha heran. Kakinya melangkah.


"Antar? Kemana?" tanya Asha masih berbisik dan diam tidak mengikuti kaki Paris. Dia masih di tempat yang sama.


"Kak Arga," jawab Paris sambil memutar tubuhnya menghadap Asha. Mata Asha menelisik ke dalam raut wajah Paris. "Aku tahu. Rendra menghubungiku lebih dulu, tapi aku lebih menyarankan untuk menghubungi Kak Asha," ungkap Paris.


Saran yang baik, geram Asha dalam hati.


"Mungkin kak Arga ingin bertemu Kak Asha, makanya aku menyarankan Rendra untuk menghubungi Kak Asha," lanjut Paris seperti mendengar suara hati Asha.


Ingin bertemu denganku? Yang benar saja... Tadi saja sudah membuat kepalaku pusing dengan berkata buruk tentangku. Sekarang ingin bertemu denganku? Sialan! Tangan Asha mengepal karena geram.


Sebenarnya tadi Asha sudah menolak saat Rendra meminta bantuan.


"Aku tidak bisa memaksa direktur untuk segera pulang. Beliau harus bisa bangun pagi karena besok Tuan Hendarto akan mengadakan rapat penting soal Mall baru."


"Aku tidak bisa. Maaf...."


"Aku tahu kalian sedang ada masalah. Tapi aku tidak bisa peduli dengan itu untuk saat ini. Ini lebih penting. Direktur harus bisa bugar besok pagi. Dia tidak boleh dalam keadaan pengar. Kalau direktur tidak bisa tampil dengan bugar, aku yakin Tuan Hendarto akan sangat marah. Kamu tahu sendiri bagaimana Tuan Hendarto kalau menyangkut soal pekerjaan."


Asha diam. Rendra benar soal Tuan Hendarto. "Dia sedang marah padaku. Apa bisa aku membuatnya mendengarkanku? Saat dia berusaha untuk mengabaikanku?"


"Aku tidak tahu. Yang pasti kamu lebih tampak berharga daripada aku. Kamu adalah orang yang di cintainya."


"Mungkin tidak lagi," gumam Asha dengan suara berat karena merasa tersakiti sendiri dengan kalimatnya.


"Cobalah Asha. Lakukan hal terbaik yang bisa kau lakukan untuk membuat Arga lepas dari amukan Tuan Hendarto," mohon Rendra.


"Aku tidak tahu." Asha mengatakannya dengan enggan.


"Aku akan menjemputmu."


"Aku tidak mengatakan bersedia," bantah Asha.

__ADS_1


"Aku tahu," jawab Rendra dengan dingin. Mendengar ini, Asha jadi merinding sendiri. Membayangkan betapa dinginnya raut wajah Rendra di balik kacamatanya.


Mungkin Rendra menelepon Paris dan mengatakan semua percakapannya dengan Asha. Hingga Paris berjaga di lorong kamar pembantu. Menunggu Asha keluar sendiri dari sarangnya. Keluar dan memutuskan membantu Rendra.


Harapan Paris terkabul saat melihat pintu kamar pembantu terbuka. Paris bisa melihat Asha keluar kamar.


"Angga sudah ada di luar menunggu dengan motor," kata Paris yang ternyata melibatkan Angga lagi dalam misi kali ini. Dia menyuruh Angga mengeluarkan sepeda motor dan mendorongnya sampai dekat pintu gerbang. Menunggu Paris memberi tanda pada ponsel Angga, kalau Asha keluar dari kamarnya.


***


Asha mendatangi 'Vegas club' dengan di antar oleh Angga. Paris menanti di rumah. Mengawasi keadaan rumah dan menyampaikan pada Angga kalau keadaan tidak memungkinkan. Di sana, salah satu pegawai kelab sudah siap mengantarkan Asha ke tempat dimana Rendra berada. Angga menunggu di depan meja bar.


Rendra sudah berdiri di depan lorong yang menuju ruang VIP dengan cemas. Ungkapan cemas sebenarnya tidak ada dalam raut wajah Rendra. Namun melihat senyuman tipis tergambar pada bibir Rendra, itu sudah bisa di anggap dia senang. Berarti Rendra benar-benar sedang menunggu kedatangan Asha.


"Maaf aku mengganggu waktumu." Rendra mengucapkannya sambil membungkuk hormat.


"Sudah aku katakan kamu tidak perlu bersikap sangat hormat kepadaku," kata Asha yang tidak di jawab oleh Rendra.


"Rasa hormatku bukan karena kamu kekasih direktur, tetapi karena bersedia membantuku." jawaban yang dingin muncul saat mereka sudah berjalan menyusuri lorong dan tidak lagi berhadapan. Asha mendengkus pelan.


"Ada pertemuan dengan teman bisnis atau sebagainya?" tanya Asha sambil memerhatikan ke sekeliling. Ke seluruh bagian lorong ini yang temaram. Mungkin sengaja di desain seperti ini.


"Tidak."


"Kenapa kalian berdua berakhir di sini?" Kali ini Asha melihat Rendra.


Asha paham itu darimana. Dia pasti dari tempat Asha. Mungkin saat dirinya tak sengaja bertemu Arga di lapangan basket. Lelaki itu memang tampak sangat marah. Hingga muncul kalimat hinaan yang sangat menjengkelkan. Tangan Asha mengepal dan menggeram lagi.


Tadi saat pertama kali mendengar kalimat hinaan itu, Asha sangat terkejut hingga hanya mampu menampar. Namun kali ini berbeda. Asha sudah bugar setelah menangis. Kadang, airmata itu adalah jalan terbaik untuk mengurangi rasa sakit yang di dera oleh hati.


"Beliau berada di dalam," Rendra mempersilakan. Mata Asha menatap pintu sebuah room yang bertuliskan VIP di depannya.


Jadi dia ada di dalam ruangan ini?


"Kamu harus siap apapun yang kamu lihat di dalam. Tegakkan punggung dan dagumu dulu, sebelum melangkah masuk," nasehat Rendra.


"Tanpa membuka pintu pun aku tahu apa yang di lakukannya di dalam. Aku bukan anak kecil. Jangan cemas. Aku tahu bagaimana aku harus bertingkah." Suara Asha terdengar ringan. Sepertinya Asha memang sudah siap. Tidak ada perkataan yang mengungkapkan kemarahan. Rendra melirik. Hanya saja wajah perempuan ini mulai mengeras. Akhirnya Rendra mempersilakan Asha masuk.


Tangan Asha membuka pintu masuk ruang VIP. Di dalam, bau rokok yang tiba-tiba menyengat membuat dia sedikit terbatuk. Apakah Arga merokok tadi? Kegiatan yang baru Asha ketahui. Setahu Asha, tubuh lelaki itu tidak pernah tercium aroma tembakau. Arga biasanya bersih. Namun mungkin saja itu bau asap rokok dari para wanita pesanan. Asha melihat ada yang menyelipkan rokok pada jari tangannya.


Tercium juga bau sesuatu. Mungkin itu minuman beralkohol yang tidak biasa. Karena banyak botol minuman berjajar di meja di depan sofa. Asha kurang paham. Dia tidak tahu bagaimana rasa dan bau minuman beralkohol sebenarnya. Di sana, di sofa kulit berwarna merah marun mengkilat, duduk lelaki dengan tubuh tegapnya tengah di kelilingi wanita-wanita malam yang sepertinya sengaja di pesan.


Wanita bertubuh molek dan dengan pakaian minim sedang tertawa dan tersenyum bersama Arga. Walaupun mereka berada di dekat Arga, tapi tak satupun yang benar-bebar mendekat dan menyentuhnya. Mereka hanya menemani dan menuangkan minuman di gelas Arga yang kosong.


Dasar lelaki ini...

__ADS_1


Beberapa perempuan mencoba berkelakar yang membuat lainnya tertawa gembira. Arga hanya tersenyum tipis dan melihat dengan enggan ke arah mereka. Lalu tangannya mengangkat gelas dan menyesap minumannya.


Sepertinya dia tidak dalam keadaan mabuk. Lalu, untuk apa aku di suruh ke sini? Melihat dia bersenang-senang? Mulia sekali apa yang di lakukan Rendra.


"Siapa kau?" tanya wanita berambut ikal itu ke arah Asha yang berdiri tegak di dekat pintu. Dari balik gelas minumannya Arga melihat perempuan ini datang.


"Kau bersenang-senang?" tanya Asha datar. Arga meletakkan minumannya di atas meja lalu melihat Asha lagi dengan tajam.


"Dia siapa Tuan? Apakah Anda mengenalnya?" tanya perempuan dengan pakaiam hitam penuh dengan payet berkilau.


"Aku tahu dia," jawab Arga masih dengan ketidaksukaannya.


"Aku tahu di sini cukup menyenangkan. Tapi sepertinya ini sudah cukup. Waktunya kau segera pergi dari sini." Asha masih mengatakannya dengan datar.


"Aku bisa mengatur waktuku sendiri. Dan kau juga bisa bertingkah semaumu sendiri. Kita tidak perlu memperhatikan satu sama lain. Kau cukup tahu itu," Arga mengangkat gelasnya.


"Kau benar dan sangat benar. Tapi mungkin aku hanya memenuhi keinginan seseorang...." Atau mungkin saja tidak, lanjut Asha dalam hati. Mendengar ini Ujung mata Arga semakin runcing dengan hawa dingin. Gerahamnya mengetat. Gemeretakkan giginya juga terdengar.


"Hei, apa yang kau lakukan? Lebih baik kau pergi dari sini! Kau membuat Tuan Arga bernuansa buruk dengan kehadiranmu," kata perempuan malam di samping Arga dengan kesal.


"Benar. Tuan Arga sedang ingin menikmati kesenangan ini. Kenapa kau merusaknya?!" timpal perempuan yang lain.


"Aku tidak perlu mendengarkan ocehan kalian," kata Asha dingin dan meremehkan tanpa melihat ke arah mereka. Mata Asha hanya menatap lurus ke arah Arga.


"Diamlah mulut kalian... Wanita semacam kalian tidak akan bisa melawannya dengan mudah. Dia bukan perempuan sembarangan," desis Arga menggeram.


Wanita-wanita itu langsung diam menoleh ke arah Arga yang sepertinya sedang membela Asha. Mata mereka tidak percaya kalimat mereka di mentahkan oleh Arga. Lalu mereka melihat ke arah tubuh Asha yang memang bila di bandingkan dengan tubuh wanita-wanita itu yang sangat berisi, Asha jadi terlihat seperti anak sekolah yang tak sengaja masuk ke dalam kelab malam.


"Tuangkan minuman pada gelasku," perintah Arga dengan geraman yang kaku. Wanita itu langsung mengambil botol minuman beralkohol dan menuangkannya.


"Aku memintamu pulang, Ga," pinta Asha dengan sungguh-sungguh.


"Tidak perlu kau memberi perintah, aku pasti pulang. Tapi setelah aku menikmati kesenanganku. Bukankah ini lebih menyenangkan daripada aku harus melihat kegelisahan seseorang yang keras kepala dan tidak mengerti sama sekali tentang sebuah perasaan," Arga menyindir dengan sangat jelas dan tajam. Alisnya terangkat dengan raut wajah meremehkannya. Asha tahu itu. Arga sedang memprovokasinya. "Bukankah kau kesini juga hanya karena keinginan seseorang? Ini bukan keinginanmu. Jadi menyingkirlah kalau kau memang tidak ingin melakukan ini."


Asha masih menatap dengan wajah tenang yang tidak bisa di baca. Bagaimana dia bisa bersikap tenang saat kekasihnya berada di dalam ruangan yang berisi wanita-wanita penggoda. Mungkin kata kekasih sudah tidak ada lagi atau... dia hanya sedang berpura-pura baik-baik saja?


Ada rasa sakit di hati Arga yang terasa saat mata itu menatapnya dengan mata dingin. Asha tidak bereaksi.


Asha benar-benar tidak mengerti perasaanku. Apa yang dipikirkan otak bebalnya itu?


Arga tidak pernah bersikap berlebihan pada perempuan manapun. Bahkan itu seorang Chelsea sekalipun. Arga bisa bersikap baik meskipun dia tersakiti. Namun dia tidak bisa bersikap posesif pada Chelsea saat mereka masih menjalin hubungan cinta antara pria dan wanita.


Mungkin Arga pantas di sebut pengecut, lelaki lembek dan semua hal yang mengarah ke dirinya yang tidak tegas, karena bersikap murah hati pada Chelsea yang memilih bersama Evan saat dia memilihnya sebagai tunangan. Menurutnya, dia tidak perlu marah karena perempuan itu mengkhianatinya. Terlalu berharga rasa marahnya jika harus terungkap dengan jelas di depan Chelsea.


Tapi saat bersama Asha, sedikit saja kalimat Asha seperti hendak menjauh darinya, Arga seperti langsung naik darah. Emosinya memuncak pada tingkat tertinggi. Namun lihat saja ekspresi Asha. Dia seperti tidak merasakan apa-apa. Dia datar. Arga hampir saja membalikkan meja bar di depannya dengan marah.

__ADS_1


Asha seperti sedang meremehkannya. Perempuan itu seperti sedang menyaksikan keterpurukannya karena di tolak Asha secara perlahan. Perempuan ini kekasihnya, tetapi dia sangat dingin dan tak bereaksi dengan tindakannya yang tidak biasa.



__ADS_2