
"Sedikit ...." Asha mulai memperhatikan satu persatu. Arga mencoba juga. "Salah satu ciri alpukat matang adalah daging buahnya yang terasa lunak," ujar Asha memberitahu ke Arga. Asha mencoba memeriksa lunak tidaknya dengan menekannya lembut. Dia berusaha tidak menekan daging buahnya dari luar terlalu dalam. Arga mengikuti.
"Alpukat yang sudah matang biasanya empuk ketika ditekan. Jika mendapatinya masih keras, mungkin harus menunggu beberapa hari lagi sebelum dimakan. Namun itu lebih baik. Daripada dapat yang busuk dan enggak bisa di makan." Asha menjelaskan lagi. Arga mengangguk menerima penjelasan dari istrinya.
Alpukat yang matang biasanya menghasilkan warna yang hijau gelap, hampir seperti warna hitam. Oleh karena itu, salah satu cara yang baik untuk memilih alpukat yang matang adalah dengan melihat warnanya.
"Biasanya, salah satu ciri alpukat yang belum matang ketika ujung batangnya ditarik akan berwarna hijau terang. Lihatlah...." Asha mencoba memperlihatkan sebuah alpukat dengan batang pendek pada ujungnya. Arga mendekat untuk melihat buah alpukat yang di tunjukkan istrinya. Pedagang itu ikut memperhatikan.
Setelah memilih dan memilah, Asha memberikan pilihan buah itu pada pedagang. Abang itu menimbang.
"Sekalian beli tiga kilo gitu, Neng. Nanggung ... Ini mah dapat sedikit." Pedagang mencoba merayu agar bisa membuat pembeli ini membeli dagangannya lebih banyak.
"Enggak. Mahal. Cukup satu kilo saja," tolak Asha.
"Kan harganya sudah turun jadi lima belas ribu. Murah itu Neng."
"Kalau aku beli tiga kilo, ya mahal dong, Bang," kilah Asha.
"Kita beli saja," gumam Arga pelan.
"Sshh...." Asha menyuruh suaminya untuk menutup mulut. Rupanya Asha sedang merencanakan sesuatu.
"Alpukat bagus nih, Neng." Abang itu memaksa.
"Tahu. Makanya aku beli, tapi kalau harus beli banyak dan mahal, ya enggak mau dong, Bang."
"Beli tiga kilo, empat belas ribu dah." Abang ternyata berinisiatif sendiri buat menurunkan harga barang jualannya. Asha pura-pura enggan.
"Dua belas ribu deh, Bang," tawar Asha lagi. Ini harga awal yang Asha patok untuk membeli sekilo buah alpukat.
"Janganlah, Neng."
__ADS_1
"Aku beli lima kilo. Gimana? Tapi harga dua belas ribu ya?" Arga melirik ke arah istrinya yang antusias. Lalu ganti lihat ke abang itu yang sedang memikirkan lagi.
"Boleh deh." Si abang nyerah.
"Asyikk. Kita dapat alpukat bagus dengan murah." Arga tersenyum geli melihat istrinya kegirangan. Seru juga melihat tawar menawar yang di lakukan istrinya barusan.
"Beli apalagi, Sha?" tanya Arga. Karena melihat Asha sepertinya belum ingin pulang.
"Berat ya?" tanya Asha yang kasihan lihat suaminya bawa buah alpukat lima kilo itu sendirian.
"Enggak. Masa segini saja sudah kalah. Lebih berat kamu daripada ini," bisik Arga di kalimat terakhir membuat Asha memukul lengan suaminya pelan. Gemes karena suaminya tengah menggodanya.
"Berapa hari menginap disini?" tanya Asha dengan kepalanya yang menengok kanan dan kiri.
"Terserah kamu saja."
"Empat hari saja ya. Kasihan Rendra di tinggalin kamu terus."
Arga terkekeh. "Ya. Pria itu mungkin lebih sibuk sekarang. Kenapa juga dia enggak cari istri?"
"Iya. Kenapa Rendra belum punya pacar? Memangnya dia enggak mau menikah? Terus single tanpa pasangan gitu ...," tanya Asha penasaran.
"Jangan bilang dia ...." Asha langsung berhenti.
"Enggak... Bukan itu. Dia normal. Hanya saja mungkin dia ingin semua adik-adiknya tuntas dulu sekolahnya. Dia kan anak sulung seperti kamu."
"O ... Mendadak aku jadi mengerti." Asha mengangguk-anggukan kepala. Sebagai sesama anak sulung, kurang lebih dia paham jalan pikiran Rendra. Apalagi dia adalah lelaki.
Belanjaan penuh pada kresek yang di bawa Arga juga di bawa Asha. Arga menyarankan membeli bahan makanan juga untuk makan di rumah ibu saat beberapa hari ke depan. Asha menurut.
......................
......................
__ADS_1
Di rumah keluarga Asha, Arga tetap bersikap overprotected. Setiap kali melihat Asha melakukan sesuatu, Arga selalu panik. Saat Asha mengangkat panci berisi air rebusan daging, Arga tersentak dan mendekat. Berusaha menggantikan istrinya. Saat Asha mencuci perabot besar untuk memasak makanan yang di jual, Arga juga mencegah. Dia bahkan rela menggosok penggorengan itu dengan semangat.
"Suamimu itu kenapa?" tanya ibu akhirnya.
"Ha? Kenapa, Bu?" Asha yang mendekati ibu dan membantu memotong sayuran, ikut mengerutkan kening.
"Lihatlah reaksi dia saat kamu melakukan aktifitas perempuan di dapur. Sampai dia rela, mencuci wajan dengan pantat gosong milik ibu dengan tangannya sendiri. Itu kenapa? Ibu heran." Asha melihat ke belakang. Dimana suaminya sedang berusaha membersihkan pantat wajan gosong itu. "Suruh berhenti. Kalau bapak lihat, beliau bisa marah sama ibu karena membiarkan menantunya mencuci perabot seperti itu." Mata Asha melebar terkejut. Lupa akan itu. "Bapak sebentar lagi pulang."
"Baik, Bu." Asha segera mendekat ke arah suaminya yang dengan giat mencuci perabot. "Ibu bilang, jangan mencuci. Biar ibu saja."
"Kasihan ibu sudah capek. Kan baru pulang dari warung. Jadi aku harus menyelesaikannya, agar tidak di bersihkan oleh kamu yang sedang hamil." Arga memberi penjelasan. Asha bingung. Mau pergi, itu tidak mungkin. Ibunya masih memperhatikan dari tempat duduknya. Maksud hati Asha untuk membantu ibu justru membuat Arga kepayahan. Karena pasti akan di gantikan oleh suaminya.
Setiap Asha mencoba membantu ibu, Arga yang tak sengaja melihat, langsung menggantikannya. Ibu bukan hanya risih melihat menantunya ikut membantu melakukan pekerjaan itu, tapi juga tidak nyaman dan keheranan.
Beliau paham betul kehidupan Arga Hendarto seperti apa. Meskipun tidak tahu dengan mata kepala sendiri, ibu mengerti. Hidupnya pasti tidak ada kata mencuci piring bahkan perabot semacam itu.
Keringat mengucur di pelipis. Arga terlihat berpeluh di area kepala, wajah dan leher. Asha mengelap keringat suaminya, langsung dengan telapak tangannya. Menantu tampannya terlihat berantakan. Ibu akhirnya turun tangan. Asha terkejut melihat ibunya beranjak berdiri dari kursi dan menghampiri mereka.
"Arga ... kamu letakkan saja. Ibu bisa lanjutkan. Tidak perlu ikut membantu. Asha kamu ajak suamimu makan buah atau minum jus. Jangan melakukan pekerjaan seperti ini. Kamu bisa membuat bapak marah, kalau beliau sampai tahu menantunya melakukan ini." Mendengar kata tegas ini Asha langsung memaksa meletakkan wajan itu di lantai. Lalu membasuh tangan suaminya dan mengajaknya berdiri. Arga akhirnya ikut saja apa kata istrinya.
Ibu membilas wajan berpantat gosong itu kemudian. Hanya sebentar. Karena memang sudah bersih.
"Tangan kamu enggak apa-apa?" tanya Asha memeriksa telapak tangan suaminya. Dia khawatir juga. Jangan-jangan pulang ke rumah mertua, putra kesayangan nyonya Wardah ini jadi bulukan dan tangannya rusak. Dia bisa kena hukum dan sanksi oleh mertua. Mata Asha menatap cemas karena ada jejak kemerahan disana.
Asha mencoba memeriksa. Tangan yang biasanya bersih itu sekarang berwarna merah. Ada sedikit bekas menekan lama di sana. Itu akibat pria ini memaksa menggosok pantat wajan itu dengan penuh tekad.
"Tanganmu seperti melepuh. Sakit?" tanya Asha akhirnya memasang wajah pilu.
"Sedikit," bisik Arga takut kedengaran ibu. Dia pasti malu sudah memaksa menggantikan pekerjaan istrinya, sekarang dia justru akan merintih kesakitan. Asha mengelus telapak tangan itu. Raut wajahnya sangat tidak tenang saat ini.
"Aku ambil salep dulu." Asha segera bangkit dari tempat duduknya dan menuju rak obat. Arga tersentak kaget, saat ibu mertuanya mendekati meja makan tempatnya duduk.
"Perempuan itu walaupun hamil, tetap bisa dan mampu mengerjakan pekerjaan lain karena mereka kuat," ujar Ibu memulai. Arga yang duduk di meja makan menoleh ke ibu. Beliau tidak melihat ke arahnya, tapi Arga yakin kalau kalimat barusan di tujukan untuknya. Asha menoleh sekilas ke ibu lalu ke Arga. Dia masih mencari salep.
"Wanita hamil itu memang kelihatan lemah. Karena dengan adanya janin di dalam rahim seorang wanita, itu berarti ada dua nyawa dalam satu tubuh." Kali ini ibu menoleh ke depan. Tentu menghadap ke Arga. Pria ini yakin ibu mertua sedang berbicara padanya. Asha melirik lagi ke ibu yang ada di sebelahnya. Dia yakin Arga terkejut, ibu tiba-tiba mengatakan itu.
__ADS_1
"Sebagai suami memang di wajibkan untuk memastikan istri dan janin yang di kandung dalam rahim aman hingga lahir nantinya. Ibu mengerti menantu ibu ini sungguh punya tanggung jawab dan perhatian yang lebih buat Asha yang saat ini sedang hamil." Ibu sedang berbicara dengan serius tanpa mengurangi sikap tenang dan ramah. Beliau tetap menunjukkan kesederhanaan keluarga Asha dalam mengungkapkan hal ini.