
Kaki Asha melangkah satu persatu dan perlahan.
"Pergilah! Aku tidak memerlukanmu di sini!" usir Arga yang langsung membuat wanita-wanita di sebelahnya tersenyum menghina. Menyerukan sikap setuju atas pengusiran Arga terhadap gadis bertubuh kurus yang masih melangkahkan kaki mendekati meja. "Sedang apa kau?! Berhenti dan pulanglah. Tidak seharusnya kau berada di sini!" Asha masih saja melangkah tanpa mempedulikan pengusiran Arga. Seorang wanita di sebelah kiri Arga berdiri dengan angkuh.
"Kau tidak dengar apa yang Tuan Arga katakan?! Bebal sekali otakmu!" hardik perempuan itu dengan kedua tangan bersedekap. Asha yang sudah ada di dekat wanita itu menoleh. Melemparan tatapan tajam nan menusuk.
"Tutup mulutmu, wanita pengganggu. Aku bisa membuat wajahmu babak belur saat ini juga kalau aku mau," desis Asha dengan raut wajah ingin menghajar wanita itu saat ini juga. Wanita itu membeliak kaget. Lalu tiba-tiba tubuhnya seperti mendadak terserang hawa dingin pada tengkuknya. Ada hawa menusuk yang membuatnya ngeri melihat tatapan Asha.
Masih dengan gelas minuman beralkohol di tangannya, Arga melihat interaksi Asha yang membuat wanita itu mundur. Membiarkan Asha berjalan mendekati Arga yang duduk di sebelahnya. Saat ini tubuh Asha sudah berdiri tepat di depan Arga yang masih duduk di sofa. Berdiri tegak dengan menundukkan pandangan untuk melihat Arga yang masih duduk di atas sofa.
Wanita di sebelah kanan Arga tidak berani menahan Asha untuk mendekati Arga. Dia mengikuti jejak kawannya yang memilih mundur dan membiarkan perempuan ini lewat.
Tiba-tiba Asha membungkuk dan mencengkeram kaos Arga dengan kasar memakai tangan kanan. Kedua bola mata Arga mendongak terkejut. Tersentak seraya melihat ke arah kaosnya yang berkerut karena cengkeraman tangan Asha yang kuat. Lalu mendongak lagi melihat tatap mata Asha yang dingin. Mata itu berisi semua kemarahan yang tertahan dan juga....
Tangan Asha mengepal dengan geram. Apakah Asha akan...
***
Rendra yang berdiri di depan pintu terkejut melihat para wanita malam itu keluar dengan wajah marah yang tidak tertahan. Mereka berdengung seperti seekor lebah yang mendapatkan lemparan batu pada sarangnya.
Juga kengerian yang terpancar dari wajah mereka. Wajah mereka sempat memucat tadi. Rendra pias saat mendengar mereka mengatakan ngeri tapi tidak bisa mendengar dengan jelas apa isi dari pembicaraan mereka.
Apa yang terjadi dengan Asha?! pekik Rendra khawatir dan cemas dalam hati. Arga saat ini sedang pada tingkat kemarahan yang sangat tinggi. Walaupun Arga tidak ada riwayat menyakiti seorang perempuan, tapi melihat kondisi marahnya yang menjadi, juga karena saat ini dia sedang menenggak minuman beralkohol, Rendra mencemaskan keaadaan Asha. Bisa saja Arga menyakitinya karena pengaruh Alkohol.
Namun kemudian terlintas bayangan lain dalam tempurung otaknya. Ini Asha. Perempuan yang tidak biasa. Bisa saja kejadiannya justru sebaliknya. Mungkin saja Asha sedang menghajar tuannya. Rendra terkesiap. Merinding ngeri dan segera mendobrak masuk.
"Tuan!" panggil Rendra sambil membuka pintu. Matanya membulat karena keterkejutan yang sangat. Dia sedang menyaksikan pemandangan yang tidak di sangkanya. Tidak pernah di duga sebelumnya. Otaknya sempat tidak memikirkan hal ini tadi.
.
.
.
Disana, di atas sofa, masih dengan cengkeraman kasar pada kaos Arga, Asha mendekatkan wajah sedikit miring dan menempelkan bibirnya dengan lembut pada permukaan bibir Arga yang terbuka karena terkejut.
__ADS_1
Rona merah muncul pada tulang pipi Rendra. Langsung merebak pada cuping telinganya.
Rendra menyaksikan Asha sedang menjajahi permukaan kulit bibir tuannya yang entah kenapa justru diam dan terpaku pada Asha. Perempuan itu masih mencium bibir Arga dengan hasrat yang sangat tinggi, membuat mata Rendra melebar terkejut dan menghela napas panjang. Kemudian mendecak kesal kemudian menipiskan bibir geram. Antara lega karena Asha dan tuannya tidak apa-apa, juga karena menahan malu harus melihat momen sensual mereka seperti ini secara langsung.
Perlahan Rendra mundur dan menutup pintu lagi. Membiarkan Asha mendominasi pertautan bibir itu. Membasahi bibir Arga dengan lidahnya. Kemudian mencecap rasa alkohol yang terasa di bibir Arga. Bergerak perlahan tapi sanggup membuat Arga terperangah.
Asha menarik bibirnya perlahan dengan mata masih terpejam. Seperti mencoba menahan diri. Cengkeraman tangannya mulai mengendur. Napasnya terengah-engah, begitu juga Arga. Perlahan tangan kiri Asha meletakkan gelas minuman pada tangan Arga, yang mengambang di udara akibat desakan pada bibirnya.
Setelah yakin gelas itu aman, Asha menekuk satu kaki kirinya diantara celah kedua kaki Arga, mencondongkan tubuhnya dan kembali mengetatkan cengkeraman tangannya. Sedikit menarik agar wajah mereka bertemu dan mendaratkan bibirnya pada permukaan bibir Arga. Lagi dan sekali lagi. ********** pelan dan lembut.
Setelah dapat menguasai keadaan dari keterkejutan, Arga juga menyambut bibir Asha dengan cara yang sama. Kali ini kedua tangan Arga yang bebas mulai memeluk pinggul Asha lalu meraup tubuh Asha untuk tenggelam dalam pelukannya.
Ini membuat tubuh Asha jatuh pada dada Arga. Cengkeraman tangan Asha terlepas. Tubuh itu tak punya lagi pijakan. Hanya menopang pada tubuh Arga yang bersandar pada badan sofa. Tangan Arga naik ke belakang kepala Asha dan mendorongnya dengan lembut hingga semakin menempelkan bibir mereka.
Ternyata wanita malam tadi berdengung soal ini. Mereka merasa di permainkan karena sudah mendatangi Arga yang memesan dua perempuan untuknya, ternyata mereka justru jadi penonton bagi drama romantis dan sensual antara Arga dan Asha.
Para wanita itu terkejut. Lalu mereka merasa menjadi orang bodoh jika masih berada di sana. Dengan mulut mengomel melihat mereka berdua yang masih berciuman, kaki mereka menuju pintu dan keluar.
***
Arga merebahkan tubuh Asha di atas sofa empuk yang di dudukinya. Kedua tangannya memagari sisi kepala Asha, sedangkan tubuhnya membungkuk di atas tubuh Asha. Merundukkan tubuh untuk menyusuri pelipis Asha dengan bibirnya. Kemudian membenamkan bibirnya pada bibir Asha yang mulai terbuka. Lalu, sebelum hasratnya tak mampu terbendung lagi, Arga menarik bibirnya menjauh. Mereka berdua terengah-engah.
"Ya. Aku terima lamaranmu," jawab Asha yang langsung membuat Arga melukis lengkung senyum pada bibirnya. "Tapi apa kau sanggup menerima konsekuensinya?" tanya Asha menatap Arga yang masih berada di atas tubuhnya.
"Konsekuensi apa?"
"Konsekuensi dari sebab dan akibat jika aku mau menghadap orangtuamu...," ucap Asha. Arga merundukkan tubuhnya dan mencium daun telinga Asha. Membuat Asha menahan napas merasakan gelenyar yang merayap pada tubuhnya.
"Aku akan memperjuangkanmu, Sha," bisik Arga tepat di dekat telinga Asha dengan suara parau. Tangan Asha memaksa kepala Arga untuk menjauh dan fokus untuk menatapnya.
"Terima kasih. Tapi bukan itu yang kumau saat ini." Kening Arga berkerut dan menegakkan tubuhnya. Tangan Asha terulur meminta bantuan untuk di bangunkan. Arga membantu tubuh Asha bangun. Dia juga mulai menjauh dari tubuh Asha dan duduk dengan wajar di sebelahnya. "Apapun yang terjadi pilihlah yang terbaik."
"Apa maksudmu?" tanya Arga tidak suka.
"Pilihlah diatas yang paling penting di atas yang penting," kata-kata Asha masih misteri buatnya.
Asha menerima lamarannya saja sudah sangat membahagiakan. Hingga Arga yang masih di liputi oleh keterkejutannya akan sikap impulsif Asha yang mendadak muncul, mengabaikan kalimat Asha. Apalagi mengingat ini pertama kalinya Asha sengaja menempelkan bibir pada bibir miliknya. Menjajahi tanpa perlu dia menggoda. Pertama kalinya Asha sengaja mencium dengan hasrat yang tinggi.
"Aku baru mengerti kamu bisa juga menjadi seperti 'itu'," bisik Arga sambil menatap Asha lekat dan menggoda. Wajah Asha jadi merah padam karena malu. Dia mengerti maksud itu adalah, saat dirinya mendominasi pertautan bibir tadi. "Aku ragu karena kau tidak pernah menunjukkan rasa cintamu padaku." Arga menarik tubuh Asha agar mendekat pada tubuhnya dari samping. Itu membuat kepalanya tenggelam dalam keharuman aroma sampo pada rambut Asha. "Apalagi saat aku sedang melamarmu. Kau tidak bereaksi. Aku sakit hati melihatmu yang enggan seperti itu."
__ADS_1
"Aku bukan enggan. Aku perlu banyak berpikir."
"Kamu seperti menolakku...." Arga meletakkan kepalanya pada lekukan antara leher dan bahu Asha. Dan diam agak lama di sana.
"Mana bisa aku menolakmu, pangeran tampan," Asha mengusap rambut Arga pelan. "Tidak akan ada kesempatan kedua dicintai pria sepertimu."
"Aku pria seperti apa?" tanya Arga masih berada pada cekungan leher dan bahu Asha dengan mata terpejam.
"Pemarah, egois, bermulut kasar dan menyebalkan." Mendengar ini Arga menarik kepalanya menjauh dari Asha agar bisa melihat wajah perempuan itu. "Juga kaya," tambah Asha setengah bercanda setengah mengejek. Wajah Arga mengkerut tidak senang. "Bibir ini sangat kasar, saat mengatakan aku sedang mengincar tangkapan besar," ujar Asha seraya menyentuhkan jarinya pada bibir Arga kemudian melebarkan mata geram.
Mengingatkan Arga pada saat dia sengaja mendatangi lapangan basket. Sebelumnya dia menelepon Cakra untuk menanyakan dimana dia sekarang. Dari sana dia tahu kemungkinan Asha berada. Justru dia menemukan sosok Reksa di lapangan basket.
Lalu Arga meraih kedua tangan Asha yang perlahan menghadapnya.
"Maaf. Maafkan aku melukaimu dengan perkataanku. Aku bodoh dengan mengatakanku itu. Maaf...," lalu Arga mengecup jari-jari Asha yang berada dalam genggamannya. Asha hanya menghela napas.
"Berarti kau mau pulang? Rendra mencemaskan keadaanmu yang ternyata tidak apa-apa, karena besok ada meeting penting dengan ayahmu," tanya Asha yang tidak lupa tujuan awalnya, menyelamatkan Arga dari amukan Tuan Hendarto.
"Tentu saja. Terima kasih, Sha..." Arga mengecup pelipis Asha.
"Iya... aku juga... hhmmm," tiba-tiba Asha menutup mulutnya.
"Kenapa, Sha?" tanya Arga cemas. Tangan Asha turun berganti menyentuh perutnya. Ada rasa tidak nyaman pada perutnya. Namun kemudian tangan Asha kembali naik menutup mulutnya. Rasa tidak nyaman kembali menyerang pada perutnya. Asha mual. Asha ingin muntah.
Arga segera membimbing tubuh Asha ke kamar mandi yang terletak di sudut ruangan. Masih di dalam ruang VIP ini. Di dekat dinding yang agak menjorok keluar. Asha benar-benar mual. Namun saat di dalam kamar mandi dia justru tidak ingin muntah. Asha hanya mual-mual.
Kening Arga berkerut heran.
"Aku tidak menjamahmu dimana-mana, kenapa kau menjadi mual-mual, Sha?" tanya Arga di ambang pintu kamar mandi. Asha menoleh dan menatap Arga tajam. "Bahkan aku belum mulai. Aku menahan diri sekuat mungkin," kata Arga sambil bersedekap dan bersandar di dinding. Asha berjalan keluar kamar mandi masih dengan rasa perut yang aneh.
"Tutup mulutmu. Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan?" geram Asha saat melewati Arga.
"Mual," ujar Arga menunjuk tubuh Asha dengan tenang.
"Memangnya kau pikir ini jam berapa? Jam 3 dini hari!" Asha menunjukkan jam tangannya pada Arga dengan kesal. "Tubuhku tidak mampu harus terus membuka mata pada jam seperti ini, Ga. Aku lelah. Pusing dan...." Tangan Arga langsung merengkuh bahu Asha. Membuat Asha terkejut.
"Kita harus segera pulang beristirahat. Aku tidak ingin kamu pingsan," ujar Arga yang tahu kenapa dengan tubuh Asha. Perempuan ini bisa-bisa pingsan kelelahan karena dirinya. Memaksa perempuan ini masih terjaga padahal ini sudah lewat dari jam tidurnya, mungkin keterlaluan. Asha memaksakan diri rupanya.
__ADS_1