
Pagi hari Asha sudah siap di dapur. Dirinya mulai bersiap menjadi murid bagi mertuanya.
"Jadi, kamu akan betul-betul belajar memasak dengan nyonya Wardah?" tanya Bik Sumi terkejut tapi juga bahagia. Asha mengangguk yakin. "Baguslah. Nyonya Wardah memang ingin lebih dekat dengan menantunya. Beliau ingin menikmati keseruan memasak denganmu."
"Lalu Bik Sumi bagaimana?"
"Bik Sumi ini pelayan disini. Masih banyak pekerjaan lain. Tempat cuci yang kamu tinggal juga tidak ada orangnya. Bibik bisa ganti tugas disana." Asha jadi merasa sudah menyingkirkan Bik Sumi. "Wajah apa itu? bibik tidak akan kehilangan pekerjaan dengan di gantinya bibik oleh kamu." Bik Sumi paham yang di maksud raut wajah rekan saat dulu masih jadi pelayan ini. Lalu mengelus pelan rambut Asha. Meskipun sekarang dia adalah istri tuan muda, dulu pernah di anggap sebagai putrinya di rumah ini. Nyonya Wardah muncul dan tersenyum melihat menantunya sudah ada di dapur.
Semua kecanggungan dalam hubungan antara menantu dan mertua kadang terjadi bukan hanya karena satu pihak. Itu semua bisa terjadi mungkin karena mertua menganggap menantu wajib mendekati karena mertua adalah orangtua yang memang wajib di dekati. Padahal semua orangtua juga wajib bersikap bijaksana. Mendekati lebih dulu bukan berarti tidak di hormati.
Juga mungkin karena menantu merasa dia adalah orang baru dalam kehidupan pernikahan, hingga semua orang harus memahami posisinya sebagai orang baru disini. Tidak semua orang mengerti dan mau mengerti. Cobalah mendekat layaknya mencari teman baru dalam awal masuk bangku sekolah.
Semua itu bisa di atasi bila keduanya punya keinginan yang sama, yaitu ingin menjalin hubungan yang baik.
Tidak akan bisa berhasil jika hanya menantu atau mertua saja yang berusaha. Seperti halnya sebuah percakapan. Bisa terjadi jika ada dua orang. Juga tidak akan terlaksana jika masing-masing diam. Harus ada sebuah awal dan antusiasme di antara keduanya.
Walaupun disini kasusnya berbeda karena tingkat sosial dan riwayat sebagai pelayan rumah ini sebelumnya.
Sebagai ibu mertua, Nyonya Wardah memang harus dengan bijak mendekati terlebih dahulu. Karena sebagai menantu, Asha jelas masih baru. Apalagi tinggal dalam satu atap seperti ini. Layaknya seorang tuan rumah, harus ramah dalam menerima tamunya. Asha juga sebagai menantu yang baik juga wajib terbuka dan mau di dekati. Saat keterbukaan di lakukan, kecanggungan bisa di atasi.
***
Saat kaki Arga sudah mulai memasuki dapur, atmosfir mulai terasa berbeda. Lebih nyaman dan santai. Seperti kembali seperti dulu. Bahkan lebih membahagiakan. Ayah sudah ada disana, duduk dengan menyeruput teh dan membaca surat kabar.
Bibir Arga tersenyum saat melihat bundanya sedang berbincang dan membahas sebuah topik dengan istrinya. Sepertinya membicarakan sebuah masakan karena jari-jari mereka kadang menunjuk ke arah penggorengan.
Arga menghela napas. Bebannya lepas.
"Melegakan bukan?" tanya Ayah mengagetkan. Arga menoleh cepat. Bingung. "Yang kamu lihat. Bunda dan istrimu." Suara beliau pelan tetapi masih jelas. Nyonya Wardah tidak bisa mendengar karena terlalu asyik mendiskusikan sesuatu.
"Ayah merasakannya?" tanya Arga heran.
"Tentu saja. Kemarin-kemarin Asha masih dalam kecanggungannya saat berbincang dengan kami, terutama ibumu. Ayah bisa tahu itu. Ayah tidak berhak ikut-ikut. Itu urusan perempuan." Kedua mata tuan Hendarto melihat ke arah dua perempuan di dapur. Arga mengikuti arah mata ayahnya memandang. "Kali ini mereka terlihat akrab. Itu berarti mereka berdua sudah bisa mengatasi kecanggungan di antara keduanya." Arga tersenyum mendengar perkataan Ayahnya.
"Benar."
__ADS_1
"Bagaimanapun perempuan, juga masih butuh bimbingan suaminya. Sepertinya kamu berhasil membimbing istrimu. Ayah yakin kamu melakukannya dengan baik. Bukan dengan perkataan keras dan menuntut, tetapi dengan kalimat lembut penuh dengan perhatian. Karena wanita itu ingin di mengerti." Arga mengangguk setuju dengan perkataan ayahnya.
Benar. Perempuan itu hanya di luarnya saja yang keras, tapi di dalamnya lembut dan rapuh, terutama hatinya.
Asha melihat suaminya sudah ada di meja makan. Bunda juga menoleh. "Mau buatkan suamimu teh dulu?" tawar nyonya Wardah. Asha mengangguk. "Buatkan saja dulu." Asha segera mengambil mug yang biasa di pakai untuk membuatkan teh untuk suaminya.
Arga tersenyum menyambut kedatangan Asha yang nampak ringan dan santai sambil membawa mug teh.
"Terima kasih," ujar Arga dengan senyumnya yang paling indah. Hingga membuat Asha mengerjap.
***
Evan mengundang Arga dan istrinya ke rumah mereka. Hubungan pertemanan Arga dan Evan kembali pulih. Walaupun Chlesea dulu adalah mantan tunangan suaminya, Asha tidak selalu menekuk wajah cemburu. Dia tidak perlu melakukan itu karena perempuan bertubuh sintal itu sepertinya mulai benar-benar melupakan obsesinya terhadap Arga.
Sebelum sampai di rumah Evan, Asha mengusulkan untuk membawa buah tangan. Karena ini pertama kalinya mereka berkunjung ke rumah Evan, Asha berpikir untuk tidak datang dengan tangan kosong. Asha dan Arga turun untuk membeli sekeranjang buah di outlet penjualan buah. Lalu di bungkus rapi layaknya sebuah parcel.
Mobil mereka sampai pada sebuah rumah yang di kira-kira sebagai rumah Evan. Ternyata benar, Evan muncul dan membuka pagar. Mobil Arga masuk dan Evan menutup pagar lagi.
"Akhirnya kalian sampai juga pada rumahku," sambut Evan senang.
"Kalian tidak tinggal di rumah Chelsea lagi?" tanya Arga yang pastinya sudah tahu di mana letak rumah mantan tunangannya itu.
"Bukan kami, tapi kamu yang kurang beruntung," ralat Arga dengan maksud menyindir. Evan tertawa lepas.
"Benar. Tinggal di sana tidak membuat keberuntunganku muncul."
"Chelsea dimana?" tanya Asha yang heran melihat Evan muncul sendiri.
"Ada, di dalam." Mereka bertiga masuk kedalam rumah dan mendapati Chelsea yang sedang menata meja makan. Evan mendekat dengan cepat.
"Sudah, sudah. Jangan menata lagi. Biar aku saja." Evan menahan tangan istrinya untuk tidak menata makanan diatas meja makan lagi.
"Aku hanya...." Chelsea belum menyelesaikan pembantahannya, Evan sudah menyerobot.
"Aku tahu tapi tidak. Ayo duduklah..." kata Evan penuh perhatian. Arga dan Asha saling menoleh. Kenapa Evan bersikap begitu. Sepertinya Chelsea tidak menurut, karena melihat kedatangan tamu mereka.
"Selamat datang," sambutnya mulai terlihat luwes cara bicaranya pada Asha dan Arga.
__ADS_1
"Ini ada oleh-oleh dari kami." Asha menunjukkan buah tangan yang di bawanya. Sekeranjang besar buah-buahan. Karena Asha berdiri dekat dengan Chelsea, perempuan itu langsung menerima keranjang buah itu dengan spontan.
"Tidak!" teriak Evan mengagetkan. Semua terkejut. Kepala mereka menatap Evan dengan heran.
"Ada yang salah?" tanya Arga tidak suka. Evan menyebrangi ruangan dengan cepat untuk menghampiri istrinya.
"Ya. Ada yang salah. Istriku tidak harus mengangkat beban seberat ini. Tidak. Biar aku yang membawanya." Evan mengambil keranjang buah di tangan Chelsea. Asha mengkedip-kedipkan matanya. Arga menyipitkan mata melihat tingkah Evan yang berlebihan. Chelsea mendesah. Menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah suaminya. Evan membawa keranjang buah itu ke meja dapur.
Cinta mereka bersemi? Lebih tepatnya cinta Chelsea yang mulai bersemi. Jadi Evan memperlakukan Chelsea sedemikan rupa hingga terasa sangat sangat berlebihan karena bersyukur akhirnya perempuan itu mencintainya. Mungkin keadaan ini yang membuat Evan terlihat selalu bahagia. Kehidupan rumah tangga mereka berkembang pesat menjadi semakin baik. Mulai nampak pantas di sebut sebagai suami istri sekarang.
"Duduklah..." Chelsea mempersilakan. Akhirnya Arga dan Asha kemudian duduk masih dengan pikiran heran pada benak masing-masig. Penasaran. Mereka duduk di sofa ruang tamu. Chelsea duduk kemudian setelah para tamunya duduk.
"Hati-hati saat kamu duduk, sayang," ingat Evan membuat bibir Arga menipis. Asha juga melihat dengan malu. Chelsea tersenyum geli akhirnya saat Evan mengatakannya sambil menyentuh bahunya. "Seorang ibu hamil, memang harus berhati-hati bukan?" Evan mulai membuka alasan dari sikap berlebihannya. Chelsea sedang mengandung.
"Benarkah?" tanya Asha takjub. Chelsea mengangguk pelan.
"Jadi sikapmu yang berlebihan itu karena istrimu sedang mengandung?" ucap Arga mencela.
"Tidak berlebihan. Hanya kehati-hatian saja."
"Baiklah, hanya berhati-hati."
"Sudah berapa bulan?" tanya Asha antusias.
"Empat. Tidak kelihatan jika kita tidak memperhatikan dengan benar." Asha mulai meneliti perut Chelsea. Jika di amati seperti ini, perut itu nampak memang sedang tumbuh. Asha mengangguk-angguk dan tersenyum.
"Jadi tepat dong, kalau kami membawa oleh-oleh buah. Ibu hamil sangat suka buah-buahan."
"Benar." Chelsea membenarkan.
"Aku sengaja mengundang kalian datang kerumahku, memang untuk memberitahukan kebahagiaan ini. Istriku sedangĀ mengandung." Evan mengatakannya dengan bangga. Wajah pria ini menunjukkan kebahagiaan yang tiada tara.
Setelah lama akhirnya dia dan Chelsea bisa menjadi sebuah keluarga sebenarnya. Rumah tangga mereka menjadi seperti pernikahan lainnya. Chelsea mulai membuka hati dan mau di sentuh. Ini hadiah untuk Chelsea saat dirinya memperbolehkan suaminya menyentuh. Karena suami istri tidak akan hanya menyentuh saja.
Cerita Lady Vermouth yang lain :
__ADS_1