Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Gembira


__ADS_3


Mereka belum kemana-mana. Asha masih belum meminta di antarkan untuk berkeliling. Dia masih duduk bersantai sambil bermain air dan menikmati indahnya alam di depan kamar.


Kaki Asha masuk ke dalam air, sementara separuh tubuhnya duduk di pinggiran kolam. Kedua kakinya bergerak gemas karena senang.


"Meskipun sama-sama air, tapi tidak sama dengan air sungai yang ada di kampung," ujar Asha sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Arga tersenyum geli sambil duduk di sofa.


Karena melihat istrinya yang kadang nampak lebih tangguh darinya itu, menjadi seperti bocah cilik yang sedang gembira hatinya.


Karyawan penginapan tadi sudah mengantarkan makan malam ke kamar mereka. Jadi Arga memanggil istrinya untuk makan terlebih dahulu. Kaki Asha naik dari air dan berjalan menuju meja tempat makanan berada.


Asha tidak tahu itu jenis makanan apa, tapi dia mencoba memakannya.



"Kamu tidak makan?" tanya Asha yang melihat suaminya hanya duduk di sofa.


"Makanlah. Gizi tubuhmu harus penuh dulu." Asha manggut-manggut. Arga memperhatikan istrinya yang makan perlahan. Kadang matanya menyipit melihat makanan aneh di depannya. Kemudian segera memasukkannya ke dalam mulut, merasakannya, kemudian mengangguk setuju. Mungkin rasanya ternyata enak.


"Belum ingin jalan-jalan?" tanya Arga.


"Belum. Aku masih senang di sini," jawab Asha dengan mulut masih berisi makanan. Dia orang kampung yang tidak pernah mendatangi tempat-tempat semacam ini. "Apakah kita harus menyelesaikan jalan-jalan pada hari ini?" tanya Asha tiba-tiba khawatir. "Kalau begitu, kita harus segera."


Arga tersenyum sembari menggeleng mengerti. "Tidak. Kamu yang menentukan sendiri kapan kita jalan-jalan, kapan kita pergi, dan kapan kita pulang. Aku hanya menunggu kamu memutuskan. Aku cukup ada untuk menyenangkan istriku."


"Apakah kamu juga akan merasa senang jika aku yang memutuskan semua?" Wajah khawatir Asha kali ini bukan karena takut kehabisan waktu buat jalan-jalan pada liburan ini, tapi lebih kepada kenyamanan Arga. Takut suaminya tidak bisa merasa senang.


"Aku juga tidak akan rela bahagia sendiri jika kamu tidak bisa menikmatinya." Asha mendekat ke arah suaminya yang duduk di sofa yang berada dekat kolam renang, setelah menandaskan jus alpukat dengan susu coklat dan taburan bubuk susu di atasnya.


Kemudian duduk di atas pangkuan suaminya. Melingkarkan lengan pada leher dan mengecup pipinya.


"Pikiran apa itu?" Arga menyentil hidung istrinya dengan telunjuk. "Tentu saja aku juga menikmatinya. Pemandangan ini indah, aku sendiri yang memilih tempat ini," ucap Arga sambil melebarkan tangan dengan bangga mempersembahkan hadiah liburan bagi istrinya.


"Benarkah?" Arga mengangguk. Asha memeluk tubuh suaminya erat. "Terima kasih."


"Aku tahu apa yang kamu mau," bisik Arga. Asha tertawa kecil sambil bergelayut pada suaminya. "Jadi jangan khawatir aku tidak menikmati liburan ini. Ini bulan madu kita. Aku pastikan, kita berdua akan bersenang-senang bersama. Dan kamu bahagia adalah tujuan utamaku. Jika kamu bahagia, itu akan bertimbal balik kepadaku. Aku juga akan ikut bahagia." Tangan Arga membelai rambut istrinya dengan sayang.


Setelah puas memeluk, Asha merunduk dengan sedikit dorongan pada dada suaminya agar menyandarkan kepala pada bahu sofa. Lalu menghadiahi ciuman bergairah di bibir suaminya. Arga juga langsung melingkarkan tangannya di tubuh istrinya.


Ciuman mereka berlangsung sangat intens. Saat Asha melepas pertautan bibir mereka, Bibir Arga langsung mengambil alih menyusuri kulit leher dan dada istrinya yang terbuka. Tangannya juga tak luput menelusup ke dalam balik baju Asha.


Ini tempat privasi. Apa yang mereka lakukan tidak terlihat oleh orang lain.


Mereka tidak melakukan penyatuan. Hanya menggigit, meremas dan mencumbu di sana-sini. Asha menjauhkan tubuhnya dari bibir hangat suaminya, sesaat setelah Arga berhasil membuat gigitan kecil pada gundukan kenyal sebelah kanan.

__ADS_1


"Makanku belum selesai, maaf," ujar Asha sambil tersenyum dan menaikkan alisnya. Membenahi kemeja tipis bermotif floral yang cocok dengan suasana pantai yang berantakan karena desakan suaminya tadi.


Sengaja Asha menghentikan pemainan mereka saat suaminya sudah merasa hasratnya bangkit.


"Kamu memang nakal." Arga terpaksa melepas tubuh istrinya. Asha beranjak berdiri dari pangkuan hangat suaminya. Bibir Arga juga tersenyum karena merasa istrinya sudah berhasil membuatnya naik ke langit, tapi dia tidak bisa kembali menjejak di atas tanah.


"Tidak ada penyelesaian?" tanya Arga seperti merengek. Menolehkan kepala ke samping, ke arah istrinya yang sudah kembali duduk di depan meja. Punggungnya masih bersandar pada badan sofa. Tubuhnya sedikit melorot karena desakan tangan istrinya saat larut dalam permainan sensual tadi.


"Masih belum terlalu malam. Aku juga harus menghabiskan makanku. Jadi tidak," putus Asha membuat suaminya mendengkus. Kejantanannya berdenyut. "Ayolah kemari. Makan denganku. Yang butuh gizi dan tenaga bukan cuma aku, kamu juga perlu." Sendok di tangan kanan Asha terayun, mengajak suaminya untuk makan bersama.


Arga bangkit dari duduknya yang melorot dengan malas. Membenarkan celananya sebentar karena rasa sakit dan menusuk di sana. Berjalan mendekati istrinya dengan senyum masam.


Mendaratkan ciuman pada pucuk kepala istrinya terlebih dahulu dan mulai duduk di kursi. Ikut menikmati makanan dari hotel. Asha menjulurkan tangan untuk mengacak rambut suaminya yang menjadi muram.


"Makanlah dulu untuk menambah staminamu," ujar Asha sambil menyisakan senyum di bibirnya.


***



Di kediaman keluarga Hendarto.


Tuan Hendarto sedang duduk bersama istrinya di depan tv. Melihat debat para politikus.


"Jadi mereka bulan madu sekarang?" tanya Hendarto di sela iklan yang muncul saat debat jeda.


"Kenapa? Telat sekali bulan madunya. Mungkin tidak bisa di anggap sebagai bulan madu karena acara pernikahannya sudah bisa di bilang lama."


"Ya, anggap saja begitu, Yah. Mereka kan juga masih pengantin barulah..." Ayah tersenyum geli. "Kita juga dulu seperti itukan Ayah...." Nyonya Wardah mengingatkan lagi kenangan mereka.


"Benar. Itu di karenakan bunda yang merasa harus segera punya anak, karena takut ayah ini tidak sayang lagi. Sungguh pemikiran aneh." Hendarto seakan gemas saat mengingatnya.


"Wajar jika wanita berpikiran seperti itu." Wardah mengibaskan tangannya.


"Itu pernikahan masih baru. Sama seperti Arga dan Asha saat ini, tapi bunda sudah bingung dan semangat untuk segera punya anak. Padahal ayah ada rapat, tapi bunda terus saja menteror ayah dengan telepon untuk meminta bulan madu kedua." Masih ingat dengan jelas kehebohan istrinya saat itu. Wardah tergelak mendengar kilasan cerita dulu.


"Ih, ayah." Wardah menepuk-nepuk lengan suaminya.


"Apa kali ini, bulan madu dadakan mereka karena kehebohan bunda?" selidik ayah yang mulai tidak fokus melihat debat lagi.


"Bukan. Bunda tidak ikut-ikut urusan mereka, selama mereka bisa menangani. Yah ... ide ini memang muncul dari mulut bunda, tapi itu karena putra ayah sendiri."


"Ada apa dengan Arga? Dia melakukan hal yang melanggar pernikahan?" tanya Hendarto dengan nada suara yang serius. Tegang.


"Bukaaann. Arga tidak akan bersikap seperti itu ayah... Kita tidak mungkin menurunkan sifat buruk itu karena kita juga tidak seperti itu," jawab Wardah segera. Merasa ngeri mendengar pertanyaan suaminya.


"Syukurlah ..." Hendarto lega. Dia tidak perlu tegang lagi.

__ADS_1


"Arga hanya merengek ingin segera punya anak." Hendarto mengangguk mendengar penjelasan istrinya. "Namun ada sedikit kendala pada tubuh keduanya."


"Mereka sudah periksa ke dokter kandungan?" Hendarto agak cemas.


"Sudah. Dokter bilang itu bukan masalah serius tapi juga perlu di perhatikan. Intinya sih mereka harus jauh dari stres dulu."


"Baguslah. Semoga saja semua berjalan dengan baik."


"Ya. Bunda juga berdoa seperti itu."


"Kehebohan Arga sepertinya mirip dengan bunda." Hendarto melemparkan pandangan mencela dengan senyum simpul ke arah istrinya. Wardah menyadari itu. Bibirnya tersenyum masam mengakui.


"Memang."


"Nampaknya Asha termasuk perempuan yang lebih tenang saat menghadapi lelakinya. Tidak seperti bunda yang berapi-api. Padahal Arga saat ini sedang bekerja sama dengan butik milik tunangannya dulu." Mendengar penuturan suaminya, Wardah terkejut.


"Tunangannya dulu? Arga bekerja sama dengan Chelsea?" tanya Wardah dengan wajah tidak suka. Hendarto menatap istrinya dengan pikiran, aku ternyata salah membahas ini.


Buat beliau, kenangan buruk Arga itu tidak terlalu di permasalahkan. Toh, putranya tampan. Dia berpikir putranya masih bisa mencari perempuan lain. Menikahnya kekasih putranya dengan temannya sendiri itu di anggap hanya kisah buruk yang lewat.


Masalah itu tidak perlu di perbesar, apalagi Arga sudah bisa mencintai oranglain yaitu istrinya sekarang.


"Iya." Karena teranjur membahas, Hendarto mengaku. Dia tidak harus berbohong.


Dasar bocah bunda itu.


***


Di tempat berbulan madu, Arga merasa bulu tengkuknya berdiri. Mungkin aura gemas bundanya sampai pada tempat ini. Membuat Arga merasa hawa dingin menyerang tiba-tiba.


"Kenapa?" tanya Asha yang sudah menghabiskan makan malam yang tidak membuatnya kenyang.


"Dingin. Angin malam disini sangat dingin."


"Kita beristirahat di dalam saja, setelah makan."


"Tidak. Kita harus mencari makan di luar. Juga ke mini market. Aku rindu mie instanku. Makanan ini tidak mengenyangkan."


"Mie instan ya." Asha jadi teringat kejadian mie instan di dapur dulu. Kejadian yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Bahkan di dalam mimpipun, tidak.


"Kamu ingat ciuman pertama kita ya?" bisik Arga yang sudah menggeser kursinya agar lebih dekat dengan Asha. Bibir Asha menyunggingkan senyum.


"Ya. Ciuman dari tuan muda mesum dan nakal," jawab Asha dengan mata mencela.


"Bibirmu memang terlihat enak waktu itu," Arga mengaku sambil menyentuh bibir istrinya. "Sepertinya kita tidak perlu keluar mencari makan. Aku harus segera membawamu ke sana. Ke ranjang itu." Arga menunjuk ranjang lebar di belakang mereka tanpa menoleh.


__ADS_1


__ADS_2