
"Asha itu tidak lemah. Mungkin juga bisa di katakan tidak sekuat ibu, tapi ibu yakin Asha itu tidak selemah tubuh kurusnya." Bahu Arga menegang. Ibu pasti menangkap sikap Arga yang mungkin bisa di bilang terlalu memberi batasan tidak wajar untuk mengamankan Asha dan janinnya. Ibu berdiri dan menghadap panci di depannya. Beliau sedang merebus daging sapi agar empuk saat diolah nanti.
Asha yang sudah tiba di dekat suaminya sambil membawa salep, mulai mengoleskan salep. Dia, yang selama ini hidup dalam keadaan keluarga yang mapan, tentu saja tidak pernah melakukan pekerjaan kasar seperti menggosok wajan tadi. Hingga kulit itu jadi sensitif saat pertama kali di gunakan untuk hal tadi.
Setelah yakin, ibu memutar tubuh dan duduk di kursi makan lagi. Tepat di seberang Arga. Tangan beliau mulai mengupas bahan-bahan yang ada di meja.
"Wanita hamil itu tidak harus berdiam diri tanpa mengerjakan sesuatu. Mungkin buat Arga, kehamilan pertama memang menegangkan dan menakutkan. Wajar. Semua suami baik memang seperti itu." Bisa di bilang ibu mertua sedang memujinya. "Ibu itu tidak berhak mengatur kamu dan Asha dalam menghadapi kehamilan ini, tapi ... jangan membebanimu terlalu berat dengan ketakutan akan ibu hamil dan janinnya. Asha itu tidak harus diam. Dia juga harus bergerak bebas dengan batasan batasan yang wajar. Itu juga perlu. Agar bayi dalam kandungan juga terbiasa bergerak aktif. Kalau hanya mencuci piring dan perabot, ibu yakin tubuh Asha dan bayinya tidak apa-apa. Seorang wanita itu saat hamil akan tahu batasannya sendiri. Dia akan berhenti kalau memang tidak mampu melakukan apapun." Nasehat panjang ibu seperti sudah tahu sikap Arga belakangan ini yang sangat overprotective.
"Arga mungkin takut aku kelelahan, Bu. Waktu bekerja di sana, aku pernah pingsan karena kelelahan." Asha bantu menjelasan ke overprotective-an suaminya.
"Ibu paham. Suamimu adalah orang baik. Kamu pingsan itu penyebab utamanya mungkin juga karena kurang makan dan kurang tidur," sanggah ibu yang langsung membuat Asha menyeringai. Dugaan ibu benar. Waktu itu Asha kurang tidur.
"Benar. Aku memang kurang tidur." Asha mengaku. Kalau Asha bisa tenang menghadapi kalimat perkalimat yang di ucapkan ibu, tapi Arga tidak. Dia menjadi sangat tegang.
"Arga hanya ingin melakukan pengamanan yang terbaik buat Asha, Bu. Maaf kalau cara Arga keliru." Kali ini Arga memberikan alasan. Bibir ibu tersenyum. Asha jadi merasa berdosa sudah membuat suaminya merasa bersalah. Padahal itu juga demi menjaga dirinya.
"Jangan meminta maaf, menantuku. Kamu benar. Itu memang yang perlu di lakukan suami. Terima kasih sudah memperhatikan putri ibu. Ibu hanya berpesan, tenanglah ... Asha itu wanita kuat seperti ibu. Pekerjaan-pekerjaan tadi tidak akan mengganggu kehamilannya." Sorot mata ibu menghangat. Meyakinkan bahwa putrinya akan baik-baik saja tanpa perlu sikap overprotected.
"Aku salah ya, membuatmu tidak melakukan apa-apapun?" tanya Arga merasa bersalah saat mereka sudah berada di dalam kamar. Rebahan di atas pangkuan istrinya. Menjadikan pangkuan istrinya sebagai bantal.
"Bukan," tutur Asha lembut.
"Benarkah? Kamu tidak terbebani?"
"Itu terlalu ringan sebagai beban. Aku tidak terbebani." Asha membohongi suaminya. Bukan bermaksud buruk, hanya saja dia tidak harus mengatakan yang sebenarnya jika hanya melukai hati suami.
"Jujurlah ... Aku tidak apa-apa," pinta Arga.
"Emm ..." Asha menggaruk pelipisnya. Mencoba mencari kalimat yang tepat. Sementara Arga menengadahkan kepala menunggu dengan tenang apa yang akan di katakan istrinya. "Walaupun sedikit membuat ruang gerakku sempit. Karena aku adalah orang yang tidak suka berdiam diri." Arga mendengarkan baik-baik dan penuh perhatian. "Di perhatikan suami sepertimu adalah anugerah terindah bagiku. Aku senang. Jujur, aku sangat bersyukur. Aku bahagia. Terima kasih." Asha mengusap lembut sisi pipi suaminya. Arga membalas mengusap sisi pipi istrinya.
__ADS_1
"Maafkan Ibu jika tadi mrnyinggungmu. Mungkin ibu hanya ingin bilang kalau wanita hamil itu enggak apa-apa jika harus mengerjakan sesuatu semisal, cuci piring, masak ... bukan bermaksud melarang dan ikut-ikutan dalam rumah tangga kita. Jangan tersinggung dan sakit hati. Ibu itu bukan orang yang mau mengurusi hal ribet milik oranglain. Mengertilah." Asha mengatakannya dengan hati-hati dan lembut. Tidak ingin membuat suaminya salah paham.
"Iya. Aku mulai paham. Sepertinya ibu kasihan lihat aku tegang beulang kali melihat kamu mengerjakan ini dan itu. Apalagi melihat tanganku kemerahan karena memaksakan diri." Arga mulai menatap langit-langit kamar
"Benar. Hahaha ...." Asha tertawa renyah. Tidak tahan menahan tawa. "Seorang putra pemilik Mall besar menggosok pantat wajan gosong dengan semangat. Ibu pasti tidak tahan untuk tidak melarangmu." Arga mendongak melihat istrinya.
"Kamu senang lihat aku di sidang sama ibu, ya?" Asha menutup mulutnya dan mencoba mengurangi tawa.
"Sedikit." Asha menyatukan jari telunjuk dan jempol lalu menekannya. Menunjukkan betapa sedikitnya rasa senang saat melihat suaminya di sidang ibu.
"Aku kurang paham. Aku hanya mencoba menjaga kamu dan bayi. Menurutku hamil itu akan memakan banyak tenaga kamu, jika harus melakukan hal lain." Arga kembali menatap langit-langit kamar.
"Aku juga sebenarnya masih enggak tahu. Kan ini kehamilan pertama. Tapi aku merasa baik-baik saja. Kalau kamu enggak yakin, kita bisa periksa ke dokter lagi. Walaupun belum waktunya periksa karena masih 10 hari lagi enggak apa-apa."
"Kita tunggu jadwal periksa saja. Kalau kamu yakin enggak apa-apa, lebih baik aku percaya saja sama istriku. Lebih baik aku enggak perlu terlalu cemas. Parno. Takut ini-itu malah bikin kamu enggak bebas gerak. Itu nanti kan bikin kamu stress dan enggak baik buat janin."
"Betul. Jangan terlalu khawatir. Aku juga akan terbuka jika memang ada yang tidak nyaman." Asha mendekatkan kepalanya. Mengecup kening suaminya. Tangan Arga menelusup masuk ke dalam balik pakaian istrinya. Mengelus lembut perut yang masih belum menonjol itu.
"Anakku ada di dalam sini," ujar Arga pelan. Merasa takjub. Asha tersenyum melihat mata hangat suaminya.
Setelah pengertian lembut dari mertuanya, Arga merasa lebih ringan. Bukan berarti dia mengendorkan pengaman buat istri dan bayinya, Arga tetap bersikap melindungi. Memperhatikan tanpa membuat ruang gerak istrinya terbatas dan sempit.
Tangan-tangan kurus itu tetap lincah membantu pekerjaan rumah. Arga yang masih bisa melihat dan memperhatikan dengan seksama, menikmatinya.
Saat Asha mencuci piring, Arga duduk di kursi meja makan sambil sesekali melihat ke arah istrinya. Ibu hamil itu seperti kesulitan karena anak rambutnya yang berjatuhan. Arga meletakkan koran di atas meja dan menghampiri istrinya.
Asha terkejut saat sebuah tangan menyentuh rambutnya.
"Aku rapikan rambutmu. Sepertinya anak rambut ini mengganggumu." Asha menurut dan diam. Kebetulan Asha sedang mencuci piring di bak cuci atas. Dia tidak perlu jongkok. Arga menarik lembut ikat rambut yang melingkari rambut itu hingga lepas. Lalu mencoba merapikan anak rambut dan mengikatnya lagi. Memang lebih rapi daripada tadi. "Sudah."
"Terima kasih." Asha memiringkan kepalanya dan tersenyum ke arah suaminya. Arga mengangguk dan membalas senyuman suaminya. Lalu ia duduk lagi di kursi tadi. Mengambil koran dan melanjutkan membaca. "Jadi kita pulang setelah bapak pulang ya."
"Iya."
__ADS_1
"Bawa oleh-oleh apa buat bunda dan orang rumah?" tanya Asha meminta pendapat sambil mencuci piring.
"Terserah."
"Krupuk khas kampung ini?" tawar Asha.
"Iya."
"Atau ... buah-buahan saja. Takutnya kalau kerupuk enggak suka. Kalau buah kan rata-rata semua orang suka."
"Boleh."
"Kalau menurutmu apa oleh-oleh yang tepat?" Kali ini Asha memutar tubuhnya dan melihat ke arah suaminya.
"Apa saja boleh. Bunda dan lainnya pasti suka." Arga masih membaca korannya.
"Benarkah?" Asha ragu.
"Jangan cemas. Kamu tidak membawa oleh-oleh juga enggak apa-apa." Arga melepaskan perhatian dari koran yang dibacanya, ke arah istrinya.
"Enggak enaklah ... Kedua-duanya deh. Buah-buahan dan kerupuk khas kampung."
"Iya, boleh."
Seperti yang di jadwalkan, mereka berdua pulang setelah tiga malam empat hari menginap di rumah bapak. Ibu sudah membungkus buah alpukat yang di beli Asha di pasar untuk di bawa pulang. Juna yang sore ini ada di rumah meletakkan buah itu di dalam mobil.
"Jangan sering-sering mengajak Sandra. Dia orang kaya. Tidak sama dengan kita," bisik Asha memberi nasehat pada adiknya.
"Kak Arga juga orang kaya," balas Juna tidak mau kalah.
"Ih, ni anak. Di kasih tahu."
"Aku hanya berteman." Juna menanggapi dengan tenang.
"Awas lho," ancam Asha. Bibir Juna menipis tidak suka.
__ADS_1