Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Seperti pengkhianat


__ADS_3

Selamat datang buat kalian yang baru baca dan terima kasih yang masih setia membaca cerita ini. Juga yang sudah vote, like dan kasih komentar. Semua dukungan kalian terhadap cerita ini sangat menyenangkan ❤❤ Terima kasih 😍_ salam dari ARGA dan ASHA.


Selamat membaca!



Asha sedang membantu menata kue kering di stoples dan kue basah pada piring saji untuk di sajikan pada tamu saat mereka datang nanti di ruang tengah. Bik Sumi juga masih sibuk memasak makanan di dapur yang harus cepat selesai, karena nanti para tamu akan di ajak makan malam disini.


Mata Asha melihat Paris yang barusan turun dari lantai dua dengan wajah tertekuk. Dia sedang mengalami hari yang buruk?


"Kamu kenapa?"


"Aku tidak suka acara keluarga seperti ini. Aku pasti di suruh bersikap manis kepada perempuan yang akan di kenalkan bunda pada kak Arga nanti," gerutu Paris.


"Apa yang salah? Bukannya kita memang harus bersikap manis pada semua orang?"


"Memang benar. Namun hari ini aku tidak sedang berhati baik mau bersikap seperti itu."


"Bersikap manis pada orang itu tidak perlu memilih hari. Karena setiap hari kita memang harus bersikap manis dan baik kepada semua orang,"


"Tapi kak Asha enggak pernah bersikap manis kepada kak Arga, tuh,"


Aih, ni bocah. Kenapa jadi bahas aku sama Arga sih! Pembahasannya keluar jalur nih.


"Tolong jangan bahas aku," Asha tidak bisa menyembunyikan rasa tidak nyamannya. Namun Paris yang sableng tidak mengindahkan ketidaknyamanan Asha. Dia masih melanjutkan obrolan soal dia dan Arga.


"Tapi entah kenapa, kak Arga selalu bilang kalau Kak Asha itu semakin manis kalau kalau Kak Asha tidak bersikap manis. Aneh kan?" Muka Asha sedikit memanas. Malu.


Sebenarnya kalian ngomongin apa sih di belakangku? Arga keterlaluan memberi tahu itu kepada adiknya.


"Oh..." jawab Asha pendek, singkat dan enggak jelas. Sekedar merespon obrolan nona mudanya.


Sebenarnya Asha tidak perlu menjawab. Itu pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Sesungguhnya Paris bukan di beritahu kakaknya. Dia hanya tak sengaja mendengar dari mulut Arga sendiri saat usai menggoda kekasihnya itu. Paris berdiri dan berjalan ke ruang tamu.


Asha yang sedang melihat Paris pergi, segera mengalihkan pandangan ke bawah. Ke arah makanan yang sudah di tata rapi di atas piring saji, yang terbuat dari bahan keramik itu, karena saat ini sepasang mata tengah menatapnya dari lantai dua.


Arga mulai turun dari lantai dua seraya menancapkan mata ke arah Asha. Dia yang baru datang dari kantor segera ke kamar membersihkan diri dan bersiap untuk menemui tamu yang akan datang sebentar lagi. Tidak ada waktu untuk melihat gadisnya. Baru saat ini bisa menemukan Asha.


"Kau sudah makan?" tanya Arga saat sudah berdiri di depan meja di ruang tengah. Kepala Asha mendongak. Merasa aneh kenapa Arga menanyakan itu. Walaupun kebanyakan memang sepasang kekasih wajar menanyakan hal itu. Asha mengangguk kemudian. "Kau seperti terlihat lelah," Arga mengatakannya dengan rasa cemas.


"Oh, itu."


"Pekerjaanmu lebih banyak hari ini?" tanya Arga sambil berjalan menyusuri meja untuk mendekati Asha.

__ADS_1


"Lumayan." Bola mata Asha mengerjap dan mengedikkan bahu. Menandakan dia sudah terbiasa dengan hal itu. Hari ini pekerjaannya lebih banyak karena harus membersihkan ruang tamu dan ruang tengah dengan lebih terperinci. Semua itu memang berhubungan dengan kedatangan tamu ini.


"Seharusnya malam ini kita bisa keluar untuk kencan. Tapi malam ini aku harus berakhir disini dan seperti ini," sesal Arga dengan wajah muramnya.


"Tidak masalah. Bukankah Ini hanya sebentar saja," Asha berusaha memberi Arga semangat. Sikap yang aneh. Memberi semangat pada kekasih saat akan di kenalkan pada perempuan lain? Miris sekali. Asha saja terbahak-bahak di dalam hati.


"Aku seperti sedang mengkhianatimu..." ucap Arga merasa bersalah.


"Tidak. Kamu tidak seperti itu. Karena jika kamu memang seperti itu, kamu tidak akan bisa berdiri dengan tenang di dekatku." tangan Asha masih sibuk dengan tugasnya.


"Kenapa?"


"Karena aku sudah pasti meremukkanmu dan perempuan yang akan di kenalkanmu saat kau berani mengkhianatiku," jawab Asha tanpa menoleh. Kemungkinan raut wajahnya datar saat mengatakannnya adalah seratus persen. Asha tidak sadar akan itu.


Ujung bibir Arga terangkat. Dia sedang melukis senyum. Tangan Arga terulur menyentuh rambut Asha. Sentuhan ini membuat Asha mendongak terkejut.


Asha melihat ke sekeliling. Mencoba mengawasi pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang tengah dengan tegang. Takut Nyonya dan Tuan muncul dari sana. Matanya membulat, memprotes tindakan Arga. Namun dengan santai dan tenang, Arga membiarkan jari-jarinya menyentuh rambut gadisnya. Asha segera menghindar dengan menggeser kakinya.


"Tarik jari-jarimu dari rambutku," pinta Asha geram.


"Kau malu?"


"Ini bukan malu atau tersipu, Ga. Ini rasa takut. Apa yang akan terjadi kalau orangtua mu tahu, tangan indah putra kesayangan mereka ternodai karena sedang menyentuh kepala pelayan,"


"Ucapanmu sedikit kejam. Kalau memang itu yang akan terjadi, dengan senang hati aku akan memberitahu mereka hubungan kita. Jadi kamu tidak perlu ketakutan seperti ini," ujar Arga serius. Mendengar ini Asha terdiam. Matanya mengerjap lelah dan menghela napas samar. Menyembunyikan dari pengamatan Arga.


"Tidak perlu. Aku masih ingin bersembunyi," ucap Asha pelan.


"Ga!" panggil Bunda dari ambang pintu yang menghubungkan ruang tamu dan ruang tengah. Jantung Asha sudah berdetak keras dan kepalanya refleks menunduk. Untung saja tangan Arga sudah menjauh dari rambut Asha beberapa detik sebelum suara Nyonya Wardah memanggil.


"Ya!"


"Mereka datang. Bunda tunggu di depan," kata Nyonya Wardah.


"Ya!" Setelah mendapat jawaban ini Nyonya Wardah memutar tubuhnya tanpa melihat Arga lagi. Beliau tidak memastikan apa Arga langsung mengikutinya atau tidak. Melihat situasi aman, Arga menyempatkan mengacak rambut Asha lagi sambil berkata, "Aku pasti bisa menyelesaikan perkenalan konyol ini dengan cepat." Setelah itu Arga berjalan menjauh dari ruang tengah. Asha merapikan rambutnya dengan debaran yang masih tersisa karena terkejut oleh suara Nyonya Wardah.


Saat itu Paris muncul lagi. Berpapasan dengan Arga yang hendak menuju ruang tamu.


"Perempuan itu datang," kata Paris memberitahu.


"Aku tahu," jawab Arga seraya mengambil napas panjang dulu, sebelum mulai menegakkan punggung bersiap menerima tamu yang tidak di inginkan datang. Paris melirik tarikan napas barusan. Lalu melihat ke arah Asha yang masih menata meja ruang tengah dengan berbagai hiasan juga kue untuk tamu.


Paris menyambar kue di piring saji lalu menyuapkan ke dalam mulutnya bulat-bulat. Satu kue berbentuk donat mini dengan topping coffe yang harum. Satu hap langsung lenyap dalam mulut Paris.

__ADS_1


"Kita keluar jalan-jalan yok," ajak Paris.


"Di sini akan ada tamu. Kamu juga harus menemui mereka, bukan?" Asha melihat Paris yang berdiri dan berwajah enggan.


"Tidak. Bunda tahu aku adalah pengacau. Karena ini masih acara berkunjung mereka yang pertama, bunda memperbolehkanku tidak ikut acara ini."


"Benarkah?" selidik Asha curiga.


"Iyaaa.... "


"Aku yang tidak boleh beranjak dari sini. Harus bantu Bik Sumi."


"Panggil Rike saja," usul Paris.


Asha tidak setuju. Tapi Rike dengan penuh tekad bilang, "Biar aku saja yang membantu Bik Sumi, mbak Asha keluar saja sama nona," Gadis yang masih muda ini seperti sedang membantu teman seperjuangannya untuk lari dan menghindar dari pahitnya kenyataan.


Melihat semangat berapi-api dari kedua mata Rike, Asha mengangguk lambat saat menerima tawaran Paris untuk keluar lagi.


"Aku sudah bilang bunda mengajak kak Asha. Jadi bunda tahu Rike yang menggantikan," timpal Paris berusaha meyakinkan. Akhirnya Asha berangkat.


***


Asha berangkat dengan membawa motor matic di rumah ini. Paris menyerahkan semua hak untuk mencari tempat asyik buat nongkrong ke Asha.


"Oh, ya? Kamu tidak punya keinginan untuk mengajakku ke suatu tempat?" Paris menggeleng.


"Terserah kakak," jawab Paris mempersilahkan Asha dengan meletakkan dua tangnnya ke depan. Dan itu artinya Asha harus membonceng nona mudanya.


"Wow," ujar Asha takjub. Dia tidak bisa menyembunyikan kegembiraannya karena  bisa keluar dari rumah tanpa Arga. Sudah lama sejak menjadi kekasih Tuan muda itu, Asha tidak pernah keluar bersenang-senang sendiri. Karena berkerja di sini, semua kegiatannya terpantau. Karena selain jam malam, Asha tidak bisa keluar seenaknya.


Kalau Asha yang memilih tempat nongkrong pasti itu adalah alun-alun kota. Di sini gratis semuanya kecuali makanan dong.


"Hai, Shaaa!!" teriak seseorang yang sangat di hapal Asha. Mereka trio geblek sobat Asha. Kali ini mereka muncul di tempat parkir tempat mereka berhenti juga. Wajah Asha sumringah.


"Arga kemana? Kok berdua?" tanya Cakra yang sejak melihat Asha langsung mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mencari lelaki tinggi yang belakangan ini seperti jadi bodyguard-nya Asha saja.


Cakra saja jadi seperti terbatasi berteman dengan Asha. Namun dia tidak mempermasalahkan itu. Walaupun awalnya mereka berdua adalah teman, tapi sekarang status mereka adalah kekasih. Cakra tidak berhak protes hanya karena tidak di beri akses untuk bermain bersama Asha lagi. Selain karena dia tidak punya hak, Cakra mungkin akan mendapat sebuah sindiran tajam yang tidak akan pernah di lupakannya.


"Jomlo sih tidak akan pernah paham," Cakra menghindari kalimat itu. Untuk Arga yang kadang sedikit kaku sih, dia sangat paham sahabatnya akan melancarkan ledekan semacam itu. Cakra memang seorang  jomlo.


"Kita hanya berdua," jawab Asha.


"Kakak sedang ada kepentingan," imbuh Paris sambil tersenyum. Cakra mengangguk menerima jawaban dari pertanyaannya, walaupun ragu dan melirik ke Asha karena gadis ini sempat diam beberapa detik sebelum menjawab pertanyaan. Itu pertanda, Asha sedang berpikir keras mencari jawaban yang tepat.

__ADS_1


Cakra yang sudah berteman lama paham. Untuk pertanyaan semudah itu, seharusnya Asha bisa menjawab dengan mudah, tapi entah kenapa pertanyaan ini seperti sulit buatnya.



__ADS_2