Pelayanku, Asha

Pelayanku, Asha
Usaha Arga


__ADS_3

Selamat datang buat kalian yang baru baca dan terima kasih yang masih setia membaca cerita ini. Juga yang sudah vote, like dan kasih komentar. Semua dukungan kalian terhadap cerita ini sangat menyenangkan❤❤ Terima kasih 😍_ salam dari ARGA dan ASHA.


Selamat membaca!



Asha masih berdiri mematung di depan pintu kamar Tuan muda. Satu tangannya yang memegang handle pintu tetap tak bergerak. Sementara tangan satunya masih menggantung membawa keranjang cucian milik Arga. Kepalanya menunduk sedikit dan membuang napas panjang. Mendesah lelah yang ditahan.


"Aduh, Paris..." Asha berjingkat kaget saat mengangkat kepalanya, karena melihat gadis ini muncul tiba-tiba di sampingnya.


"Kakak sedang apa?"


"Tidak ada," jawab Asha sambil tersenyum kaku. Dia tidak menyangka Paris berada di depan pintu kamar Arga. Saat ini. Saat dirinya sedang mencoba menenangkan hati. Sesuai dugaan Paris, Asha dan kakaknya berada di dalam kamar tadi. Kalau seandainya memang seperti itu, mereka pasti mendengar apa yang di bicarakan oleh Bundanya tadi.


"Kak Arga ada di dalam?" tanya Paris memastikan sambil melirik ke arah pintu kamar Arga.


"Iya," jawab Asha singkat. Dia sedikit canggung dan aneh karena Paris terus saja menatapnya. "Ada sesuatu di wajahku?" tanya Asha memutus pandangan nona majikannya.


"Tidak," jawab Paris akhirnya. Setelah dia berunding dengan dirinya sendiri, apakah dia akan memutuskan mau bertanya soal perkataan Bundanya tadi atau tidak, akhirnya dia mengambil keputusan untuk tidak bertanya. Ini diluar wilayahnya. Tidak seharusnya dia bertanya soal itu. Rasa ingin tahu pada diri Paris bergejolak. Dia jadi merasa kesal sendiri.


"Cucian kamu dimana? Aku akan membawanya turun," kata Asha dengan raut wajah seperti biasanya. Paris ragu untuk segera pergi mengambil cucian. Antara masih ingin bertanya soal perempuan yang akan di kenalkan bundanya ke kak Arga atau bertanya kenapa ekspresi wajah itu tidak menunjukkan gejala-gejala yang ada pada seseorang, apabila orang itu sedang sakit hati atau semacamnya.


Apakah dia tidak sakit hati, terguncang atau bagaimana?


"Ada... Di.. sana," ujar Paris menunjuk ke belakang, ke arah kamarnya dengan lambat dan tanpa menoleh. Kemudian mereka berdua berjalan menuju ke kamar Paris. Asha berjalan mengikuti dari belakang. Ternyata Paris sudah menyiapkan keranjang cuciannya di depan pintu kamar. Asha membungkuk mengambil keranjang milik Paris dan menjinjingnya.


"Aku turun," pamit Asha lalu menuruni tangga. Paris masih melihat punggung itu dari belakang. Dia masih kepikiran soal perkenalan yang direncanakan Bundanya.


Mungkinkah dia tidak mendengar suara Bunda? Anggap saja begitu. Sepertinya dia tidak apa-apa.


Di ujung lorong, Paris melihat kakaknya keluar dari kamar. Dia sudah rapi dengan pakaian kerja dan hendak turun juga.


"Tadi... kakak ada di dalam, kan? Bareng kak Asha," Paris menunjuk kamar Arga dengan dagunya.


"Ya. Ada apa?"


"Pasti dengar kata-kata bunda." mata Paris menyelidiki raut wajah Arga, ternyata dia hanya tersenyum.

__ADS_1


Paris mau mengatakan sesuatu lagi, tapi Arga sudah menuruni tangga sambil ngomong, "Aku tahu apa yang mau kamu katakan. Terima kasih sudah membantu membuat Bunda pergi dari kamarku dengan segera. Sebaiknya kamu juga ikut turun, buat sarapan." Kaki Arga berhenti dan noleh, "Aku antar ke sekolah kalau kamu mau," tawaran yang jarang sekali. Paris mencebik.


"Tidak. Aku di jemput Sandra," tolak Paris.


"Oke. Aku ke ruang makan dulu," kata Arga tanpa membalikkan tubuhnya lagi. Suaranya lambat laun terdengar pelan karena Arga sudah mulai menjauh.


***


Asha yang lewat di depan ruang makan di cegat oleh tatapan Nyonya Wardah yang sedikit heran kenapa Asha muncul dari arah sana. Padahal tadi Paris bilang kalau sudah turun. Mata Asha berkedip berulang kali mencoba menenangkan diri. Dia harus bisa tetap bersikap tenang meskipun tahu Nyonya Wardah sedang memperhatikan.


"Saya pikir kamu sudah kembali ke tempat pencucian, Sha," ujar Nyonya Wardah yang ragu akan informasi yang di dapatnya tadi.


"Iya, Nyonya," jawab Asha. Dia ingin mencari aman dengan jawaban samar sambil sedikit menekuk tubuhnya. Setelah di tinggal Nyonya Wardah ke lantai dua tadi, kini giliran Bik Sumi yang meninggalkan Nyonya Wardah sendirian di dapur. Bik Sumi di suruh ke pasar karena masih ada yang lupa di beli buat makan malam nanti.


"Kamu taruh dulu cucian di belakang, lalu bantuin saya..." Asha mengangguk. Saat itu muncul Arga dari balik pintu ruang makan. Dia masih bisa melihat tubuh Asha yang berjalan ke belakang sambil membuang napas lega. Sepertinya tadi Nyonya Wardah sempat curiga.


Setelah memberikan pakaian kotor ke Rike, Asha kembali ke dapur.


Tuan besar juga muncul di ruang makan. Tangan beliau menggenggam koran karena memang sejak tadi berada di halaman depan jadi koran itu bisa langsung di dapatnya. Asha langsung membelokkan langkahnya menuju pantry yang terbuat dari batu granit berwarna hijau di sebelah kanan.


Mata Arga mengawasi gadisnya dari tempat duduknya. Dia mencuri-curi pandang saat Asha sedang berbincang dengan Bundanya. Arga sedikit menggigit bibir getir saat melihat interaksi itu.


Paris muncul dari balik pintu dan duduk di depan kakaknya. Lalu tersenyum saat Asha datang membawa makanan yang sudah di letakkan pada piring saji untuk di tata di atas meja makan. Asha membalasnya.


Mata Arga masih memandangi gadisnya. Asha tahu itu. Kadang dia juga melirik sekilas ke arah Arga sekedar ingin melihat langsung mata yang sedang menatapnya dengan tatapan hangat itu.


"Ga, Bunda punya kabar bagus buatmu," ujar Nyonya Wardah. Arga menoleh ke arah bundanya yang masih di pantry dengan cepat. Paris barusan akan mencomot perkedel di meja juga melihat bundanya.


Asha masih meletakkan piring saji di atas meja tanpa perlu menoleh ke arah Nyonya Wardah. Tuan Hendarto tidak mendengarkan. Beliau hanya membaca korannya dengan khidmat.


"Kabar apa, Bun?" tanya Arga terpaksa bertanya.


"Nanti setelah kerja, segeralah pulang. Bunda ada tamu yang sangat ingin bertemu denganmu," Nyonya Wardah tersenyum penuh arti. Dari balik kacamata bacanya, tuan Hendarto melirik ke arah istrinya


"Tamu siapa? Kok Ayah baru mendengarnya.."


"Tamu buat Arga, Ayahh.." Nyonya Wardah tersenyum dengan kedua alisnya terangkat senang.

__ADS_1


"Kenapa aku sendiri tidak tahu ada tamuku yang akan datang ke rumah ini?" tanya Arga tenang tapi juga tegas. Paris melirik. Nada bicara ini sangat di kenal Paris. Ini nada bicara saat Arga sedang geram dan ingin marah tapi dengan cara elegan.


Dia akan menggunakan nada bicara itu pada Bunda? Woww... ini baru pertama kali.


"Karena dia memberitahu Bunda terlebih dahulu. Baru Bunda yang kasih tahu kamu," Bunda tersenyum.


"Kenapa beritahu bunda baru beritahu aku? Bukankah itu tamuku?"


"Karenaa.. dia ingin bicara pada bunda dulu. Lalu... baru bisa bertemu denganmu.." Nyonya Wardah mulai sedikit tersendat saat akan menjawabnya. Asha yang sudah berdiri membelakangi mereka di tempat mencuci piring, menghembuskan napas panjang. Dia menyadari nada bicara Arga menunjukkan dia ingin marah.


Asha paham Nyonya Wardah akan membahas perempuan itu.


"Kenapa tamuku perlu melewati Bunda kalau memang ada perlu denganku?" tanya Arga dengan sedikit kesal yang mulai terlihat.


Tenanglah Arga..


"Arga hentikan." sergah Ayah dengan suara dalam yang berwibawa. Arga membasahi bibirnya sambil membuang napas panjang. Kalau Ayah yang bertindak, ini sedikit membuat semuanya tertekan.


"Bunda ingin mengenalkanmu pada seseorang. Mungkin seorang perempuan. Bukan begitu, istriku?" lanjut Ayah berusaha langsung memberitahu Arga apa yang di rencanakan Bundanya. Beliau memutus pertanyaan-pertanyaan Arga karena tahu, putranya menahan marah karena hal-hal seperti ini.


"Iyaa... Bunda memang akan mengenalkanmu pada seorang putri dari teman Bunda." Nyonya Wardah membuka sendiri kotak surprisenya. Beliau sebenarnya ingin memberi kejutan yang sebenarnya bukan kejutan lagi karena itu adalah kebiasaan Bunda. Arga dan Paris tahu.


"Kenapa harus mengenalkan aku pada seorang perempuan lagi..." desah Arga kesal.


"Jangan merengek seperti bocah, Arga. Bundamu hanya sedang melakukan perkenalan, bukan perjodohan. Apa yang kau ributkan? Bukan begitu, istriku?" tanya Tuan Hendarto lagi. Nyonya Wardah berwajah ragu untuk menjawab. Beliau mendatangkan putri temannya memang dengan maksud perjodohan. Dengan latar belakang dan juga penampilan putri temannya yang bagus, beliau yakin Arga bisa menerimanya sebagai pasangan. Nyonya Wardah sangat berharap itu.


"Y-yaa.. seperti itulah." jawab Nyonya Wardah mengalah. Nynoya Wardah melebarkan matanya untuk sedikit mengusir rasa kalah karena sudah mengalah. Ini terpaksa beliau lakukan karena suaminya sudah turun tangan dengan membuka suara. Biasanya Tuan Hendarto akan diam saja dan menyerahkan semuanya pada Nyonya Wardah. Entah kenapa kali ini Tuan Hendarto perlu turut serta menggunakan kewibawaannya dalam permainan nyonya Wardah.


"Jadi ini hanya perkenalan saja, bukan?" tanya Arga meyakinkan.


"Iya, ini hanya perkenalan," jawab Nyonya Wardah seraya menipiskan bibir.


"Ini hanya perkenalan saja Paris, bukan perjodohan. Kau dengar kata Bunda bukan?" tanya Arga lagi ke Paris. Bibir Paris tertarik ke atas sedikit untuk mencibir kakaknya. Dia tahu Arga bukan mengatakannya dengan lantang begitu untuk dirinya.


Arga sengaja mengulang kalimat itu dan dengan lambat-lambat agar seseorang tahu dan mendengar. Dia ingin hati seseorang di belakang sana tidak gelisah. Arga ingin membuat hati itu tidak tergores. Karena dia akan jadi orang pertama yang terluka saat hati itu tersakiti.


Kau boleh merasa lega, Sha.

__ADS_1


Asha mencuci piring dengan menipiskan bibir. Gendang telinganya mampu menerima pesan terselubung dari kalimat Arga barusan. Dia mampu menyerap kekhawatiran Arga akan dirinya.



__ADS_2