
Dalam perjalanan pulang kerumah, Asha dan Paris masih tetap sama. Asha yang mengemudikan motor matic di depan dan Paris duduk dengan tenang di belakang. Paris merasa malas jika harus mengemudikan motor malam ini. Asha yang habis main basket tadi, harus memaksakan diri mengemudikan motor karena dia adalah seorang bawahan.
"Kak," panggil Paris dari belakang.
"Apa?"
"Kak Arga itu berubah, lho." Paris bercerita tiba-tiba.
"Oh, ya?"
"Iya. Kak Arga yang aku tahu tidak seperti itu kalau lagi punya kekasih.." Meskipun bercampur dengan suara bising kendaraan yang melintas, Asha masih bisa mendengar apa yang di bicarakan Paris di belakang dengan jelas.
"Seperti itu yang bagaimana?" Asha masih fokus mengemudi.
"Kak Arga tidak segila ini saat mencintai seseorang," ujar Paris melanjutkan.
Gila memang sebutan yang seringkali di sebut untuk Tuan muda. Bahkan Asha juga kerap kali menyebut Arga seperti itu.
"Wow, ini pujian atau hinaan nih?" tanya Asha dengan gelak tawa yang sangat lepas.
"Aku bukan lagi meledek atau memuji. Aku lagi berpendapat. Lebih baik kakak siap-siap saja mendapat hal yang tidak terduga dari kak Arga. Sepertinya kak Arga sekarang suka meledak-ledak," kata Paris. Nasehat nih. Bukan ancaman Paris yang baru.
"Oke..." jawab Asha sambil melepas tangan satunya untuk menautkan jari telunjuk dan ibu jari.
Selain untuk memberitahukan soal hubungan mereka ke Nyonya Wardah, Asha masih sanggup menghadapi semua. Apapun itu. Asha yakin bisa mengatasi semuanya. Jadi perkataan yang di lontarkan Paris barusan tidak terlalu masuk dalam telinga dan hatinya.
"Karena kak Arga, aku jadi lupa tidak cerita soal cowok di sekolahku." Paris ingat lagi soal cerita tentang Lei yang belum di ungkapkan ke Asha.
"Emmm... pria tampan di pasar itu?" tebak Asha. Sebenarnya bukan menebak, karena memang tidak ada lagi pria yang di ceritakan Paris selain dia.
"Yap! Itu dia."
"Ada apa dengan dia?"
"Dia... meminta nomorku."
"Terus?"
"Sampai sekarang dia tidak pernah mengirim pesan," cerita Paris dengan mengkerucutkan bibirnya. Asha tergelak. "Kakak menertawakan aku?"
"Maaf, maaf. Lalu kenapa? Memangnya dia wajib mengirim pesan ke kamu, gitu? Kamu itu siapanya dia?"
"Eh, iya, ya... Kenapa jadi menunggu dia ya?" Paris menarik ujung bibirnya. Lalu terkekeh juga.
"Kamu naksir kali..." ledek Asha.
"Waduh... benarkah?" tanya Paris merasa tidak sadar. Manusia, terkadang tidak menyadari dirinya sendiri sedang mengalami rasa menyenangkan itu. Bukan karena mereka bodoh, justru itu karena mereka pintar.
__ADS_1
Mereka enggan mengakui jatuh cinta terlebih dulu, karena ada rasa takut jika rasa itu tidak terbalas. Mereka menipu diri sendiri hanya untuk mengecoh pandangan orang, saat orang yang di sukainya, tidak memiliki perasaan yang sama. Itu bisa sedikit menjaga ego mereka agar tidak tersakiti dan terluka lebih dalam.
Tiba-tiba Asha mengerem motonya mendadak. Hingga membuat Kepala Paris terantuk punggung Asha. Bukan Paris yang mengaduh, tapi Asha. Karena punggungnya jadi terkena pucuk helm Paris. Asha meringis sambil menggeliat.
"Kenapa mendadak berhenti, kak?" tanya Paris heran sambil membetulkan letak helm yang di pakainya.
"Mobil di depan, tiba-tiba memotong jalan untuk menepikan mobilnya," kata Asha sambil membetulkan helmnya juga. Seorang lelaki keluar dari mobil. Lalu melihat ke ban belakang, ternyata bocor.
Paris yang melongok dari balik bahu Asha langsung berguman, "Aku seperti mengenalnya," Setelah beberapa menit mengamati, mata Paris membeliak. "Kenapa jadi muncul dia, sih." Asha melirik mendengar geraman dari Paris.
"Siapa, Paris?"
"Orang yang tidak aku suka," desis Paris. Mata Asha memperhatikan lelaki itu. Awalnya dia tidak melihat ke arah mereka berdua yang masih di sana, saat Asha akan memundurkan motor matic-nya dan hendak pergi. Namun saat kepala lelaki itu menoleh, dia bisa menemukan Paris yang seperti sengaja bersembunyi di belakang Asha.
"Aku tidak menyangka bisa bertemu dengan Paris di sini," ujar Lelaki itu dengan wajah sumringah dan berbunga-bunga. "Adik kecilku yang manis ini," ujarnya mendekat. Lalu melihat ke arah Asha. "Dan.. ini siapa?" tanya yang merasa asing.
"Kakak tidak perlu tahu," dengkus Paris. Beberapa menit mereka berdua terlibat pembicaraan yang mengindikasikan pemaksaan.
"Tolong pergi, Paris tidak ingin di ganggu," hardik Asha karena Lelaki itu terus saja mendesak Paris untuk mengajak ngobrol. Asha bertindak dan mulai memakai gerakan tangannya untuk menyuruh lelaki itu berhenti. Menarik kerah lelaki itu dan mendorong kebelakang.
Tentu saja ini membuat raut wakah lelaki itu berubah masam dan terkejut.
"Paris, ini ada apa?" tanya lelaki itu heran. Paris diam. Asha sudah turun dari sepeda dan bersiap menghajar lelaki itu kalau hendak mengganggu Paris.
"Aku tidak mau di ajak ngobrol sama kak Evan. Aku tidak suka."
Evan? Nama itu tidak asing di telinga Asha tapi siapa?
Paris diam.
Kalau berhubungan dengan Chelsea, pasti dia adalah Evan yang itu. Sahabat Arga yang kini jadi suami Chelsea. Jadi dia yang namanya Evan? Asha lebih memperhatikan dengan seksama.
"Itu hal yang lama Paris, tidak harusnya kamu masih menaruh dendam kepadaku. Kamu juga belum tahu kebenarannya?"
Paris menautkan kedua alisnya untuk berpikir. Mencari sendiri apa yang di maksudkan Evan.
***
Pagi hari di meja makan.
"Kemarin bagaimana, Ga? Bagaimana pendapatmu soal Hanny?" tanya Nyonya Wardah sambil memberi tugas Asha meletakkan makanan di meja makan. Sementara Bik Sumi memasak. Nyonya Wardah, sedang ingin bersantai. Beliau libur memasak. Meskipun begitu Nyonya Wardah tetap memberikan masukan untuk menu hari ini.
"Seperti biasa. Tidak ada yang perlu di ceritakan," jawab Arga. Tadi malam setelah pulang kerumah, ternyata keluarga Hanny sudah tidak ada. Jadi Arga berkewajiban mengantar Hanny pulang ke rumahnya.
"Hei... masa sih? Bukannya Hanny itu manis dan feminin. Perempuan banget, begitu," kata Nyonya Wardah memuji.
"Bunda sudah tahu dia seperti apa jadi tidak perlu tanya ke Arga," Arga menyuapkan nasi ke dalam mulutnya.
"Ini anak. Bunda tanya dengan serius, kamu jawabnya begitu," Nyonya Wardah jadi gemas.
"Menurut pandangan seorang lelaki, Hanny itu mungkin menarik.." Saat Arga mengatakan ini, dia memposisikan dirinya sebagai Andre. Lelaki yang menyukai Hanny. Jadi dia beranggapan ini adalah kemungkinan pendapat Andre soal Hanny. Mata Arga menatap Asha yang lewat di depannya sambil membawa masakan. "Menurut aku sendiri, dia biasa saja... seperti perempuan baik lainnya," Asha sama sekali tidak mengangkat kepalanya. Dia tahu Arga sedang memperhatikannya.
__ADS_1
"Bunda ingin kamu lebih dekat dengan dia, Ga. Hanny itu baik..." Bunda mulai menjejalkan pandangan-pandangan pribadinya soal Hanny ke Arga. Sedikit mencoba memaksakan kehendak agar Arga mau melihat Hanny sebagai seorang perempuan.
Ayah dan Paris hanya mendengarkan perbincangan Bunda dan Arga. Mereka tidak ikut dengan pemaksaan bunda.
"Bunda sudahlah.. Tolong jangan mendikte aku untuk hal ini," Arga mendongakkan kepala. Mulai kesal karena Bunda selalu melakukan perjodohan yang sia-sia.
"Dia itu perempuan yang baik untuk di jadikan istri, Ga.. Cobalah mengenal dia lebih dulu," Bunda masih memaksa.
"Tidak. Aku sudah..." Saat mengatakan hal ini, mata Arga menemukan bola mata Asha sedang menatapnya. Dia berdiri di dekat tempat cuci. Dari sudut ini bunda tidak bisa melihat karena membelakanginya.
Karena tidak meneruskan kalimatnya, Paris ikut mendongak. Dia sedang melihat Asha dan kakaknya sedang berdiskusi lewat netra mereka. Kepala Asha menggeleng pelan. Dari matanya, Arga tahu gadis itu sedang memohon untuk tidak membahas itu.
"Jangan memaksakan hal ini. Bunda boleh mengenalkan aku pada banyak perempuan, tapi aku tetap berhak memilih untuk menentukan siapa pasanganku," pungkas Arga tegas. Asha menghela napas lega. Jantungnya sudah deg-degan tidak tenang saat Arga hampir tidak terkontrol.
"Berarti pilihan Bunda di tolak lagi?" tanya Nyonya Wardah tidak suka.
"Ya," jawab Arga tegas.
"Kamu tidak sedang dekat dengan perempuan itu lagi kan?" selidik Bunda dengan menyipitkan mata.
"Siapa yang Bunda maksud?" tanya Paris ikut nimbrung, karena tiba-tiba saja dia juga deg-degan. Nyonya tidak mengalihkan perhatian dari Arga. Beliau sedang mencurigai putranya.
"Chelsea maksud bunda?" tebak Arga tepat. Nyonya Wardah menipiskan bibirnya tidak suka. Beliau juga seperti enggan menyebut nama itu. "Aku tidak dekat lagi dengannya," tukas Arga menjawab kekhawatiran Bundanya. Lalu menyelesaikan makannya.
"Benarkah?" Nyonya Wardah masih melihat Arga dengan tatapan curiga. Arga seperti tidak minat dengan seorang perempuan, itu membuat Nyonya Wardah khawatir. "Kamu tidak apa-apa, kan? Kamu masih normal kan?" tanya Nyonya Wardah aneh. Ini membuat Paris dan Ayah mendongak.
"Maksudnya itu apa, istriku?" Ayah berinisiatif bertanya karena pertanyaan Nyonya Wardah aneh. Paris melihat Bundanya dengan wajah tertegun. Arga hanya mendongak saja. Roman mukanya datar-datar saja dengan pertanyaan Bundanya.
"Aku hanya memastikan, bahwa putraku masih baik-baik saja," jawab Nyonya Wardah tenang dan mengedikkan bahunya.
"Bunda tenang saja, aku masih normal. Bahkan sangat normal. Aku masih menginginkan seorang perempuan. Aku tidak berpindah haluan," ujar Arga santai. Nyonya Wardah memperhatikan saat Arga menjawabnya.
"Kamu berpikiran yang aneh-aneh, Bun.." protes Ayah. Nyonya Wardah melenggang santai ke arah meja dapur meskipun pertanyaannya membuat semua heran. Paris hanya tersenyum geli.
Saat ini kakak sangat normal Bun, dia masih memilih wanita untuk di jadikan pasangannya. Namun sekarang dia cukup gila dan sangat berlebihan dalam mencintai seseorang. Itu yang mengkhawatirkan.
***
Setelah tadi malam melewatkan malam yang penuh dengan macam emosi, Arga baru bisa bertemu dengan Asha leluasa di depan ruang baca.
"Tidur nyenyak?" tanya Arga yang melihat Asha melintas di depan ruang baca. Asha mengangguk. "Sudah sarapan pagi?" Asha menggeleng ragu. Arga menghela napas. Ini yang membuat Asha ragu untuk menjawab. "Kau harus segera sarapan pagi kalau tidak mau pingsan. Kamu ini bandel tidak mau mendengar nasehat," tegur Arga.
"Aku sudah tidur cukup, nyenyak kok."
"Itu tidak ada hubungannya dengan makan. Cepat makanlah... Aku bawakan ya, ke tempat cuci di belakag," kata Arga membuat Asha mendelik.
"Yang benar saja. Jangan melakukan hal itu." tangan Arga terulur ingin mengusap rambut Asha saat pintu ruang makan di buka seseorang. Segera Asha melepas paksa tangan Arga. Tuan Hendarto muncul. Jantung Asha berdetak hebat karena terkejut dan was-was.
"Arga, Ayah lupa mengatakannya. Siang ini seseorang dari perusahaan milik William akan datang menemuimu," kata Ayah.
"Saya permisi, Tuan," pamit Asha. Tuan besar dan Arga mengangguk. Terpaksa Arga harus merelakan kepergian Asha yang segera menjauh dari sana karena pembicaraan mulai terdengar penting. Asha tidak mau dia anggap menguping.
__ADS_1