
Dengan rasa lelah ditubuhnya, Asha membantu Ibu di warung. Mbak Sri berkali-kali melihat Arga.
"Pacar kamu ganteng," puji Mbak Sri.
"Memang," jawab Asha tersenyum. Lalu menoleh ke Arga yang kesulitan membuat teh hangat dan jeruk hangat. Pria ini bersikeras membantu walaupun kikuk. Dengan melipat lengan kemeja panjangnya sampai siku, Arga berusaha membantu. Bukan soal membuat minumannya yang sulit. Dia belum tahu kebiasaan-kebiasaan dan letak semua yang di perlukan untuk membuat minuman di warung. Mungkin kalau untuk diri sendiri, Arga mampu.
Asha mendekat. "Duduklah... Biar aku yang melakukannya." Asha mengambil alih.
"Aku mau membantu." Arga tetap pada pendirian.
"Biar aku yang buatkan. Kamu duduk dulu. Nanti kamu yang memberikan ke pembeli jadi Ibu tahu kamu sedang membantunya." Asha punya ide untuk Arga.
"Terima kasih." Arga tersenyum manis. Tangannya mengusap kepala Asha pelan. Saat itu Ibu sedang melihat ke belakang untuk memanggil mbak Sri. Jadi beliau melihat apa yang dilakukan Arga barusan. Ibu jadi sangat penasaran siapa sebenarnya pria tampan yang mengaku kekasih putrinya itu.
Dilihat sekilas, pria itu bukan dari golongan biasa. Walaupun cara berpakaiannya sangat sederhana, Arga nampak sangat indah untuk di lihat.
***
Dengan menumpang mobil Arga, Ibu dan Asha sampai di rumah. Sebenarnya tadi Juna sudah menyusul Ibu. Dengan sedikit memaksa, Arga meminta Ibu untuk ikut naik mobil bersama. Mbak Sri pulang sendiri di jemput anaknya.
Dibandingkan yang lain, rumah Asha termasuk paling modern walaupun paling kecil. Halamannya luas memanjang tanpa pagar. Ada beberapa pohon yang berdiri di sisi kanan dan kirinya. Semua tetangga yang kebetulan sedang berkumpul di pinggir jalan sempat melihat serempak ke arah mobil yang berhenti tepat di depan rumah Asha. Mereka ingin tahu, siapa yang datang?
Mereka terkejut saat tahu Ibu dan Asha keluar dari mobil. Apalagi saat melihat Arga yang tinggi dan tampan muncul. Melihat tetangga-tetangga Asha sedang melihatnya, Arga menunduk sopan. Ibu-ibu itu tersenyum ikut menunduk.
"Baru pulang dari warung, Mbak?" tanya salah seorang dari mereka.
"Iya," jawab Ibu sambil tersenyum.
"Asha pulang kampung, ya?" tanya mereka lagi.
"Iya, Bu..." Asha menjawabnya dengan ramah. Bola mata mereka tidak berhenti melihat Arga. "Mereka menatapmu takjub," ujar Asha pelan tersenyum geli. Arga menggeleng.
"Segera masuk saja, Sha...," ujar Ibu menyuruh Asha segera masuk rumah. Mungkin untuk menghindarkan Asha dari pertanyaan-pertanyaan para ibu-ibu itu.
Rumah dengan dua lantai yang imut ini sangat sederhana. Tidak banyak barang-barang yang tidak perlu berada di dalamnya. Ruang tamu dan dapur juga tidak di beri sekat agar memberi kesan luas pada rumah. Hanya lewat pewarnaan saja yang memberi kesan ruangan ini dan ruangan yang lain nampak berbeda.
Sebenarnya Juna tadi muncul di warung untuk jemput Ibu, tapi terkejut melihat ada kakak tampan disana, Arga. Dia sudah sampai dirumah dulu.
__ADS_1
"Kenapa Mbak kesini? Memangnya jadi pembantu sudah selesai?" tanya Juna tanpa canggung. Asha menipiskan bibir. Arga sedang kembali ke mobil untuk mengambil ponselnya yang tertinggal. Sementara Asha di dapur bersama Juna.
"Tidak. Hanya ijin libur."
"Enak bener. Ijin libur plus dapat liburan sepaket sama anak majikannya yang tampan," cibir Juna menggoda kakaknya. Dia sudah bertemu Arga di warung tadi. Bapak belum pulang.
"Aih, ni anak...."
"Kan memang bener. Gak sia-sia jadi pembantu bisa menangkap putra majikan." Juna terkekeh-kekeh.
"Pembantu? Siapa yang jadi pembantu, Jun?" tanya Ibu. Juna dan Asha terkejut. Ibu tiba-tiba muncul dari pintu belakang. Mereka lupa ada Ibu di sini. Asha dan Juna membisu. Bungkam tidak menjawab. "Jun... Di tanya Ibu kok ndak jawab?" Asha menegang.
"Enggak, Bu," kilah Juna. Suasana mulai tidak bagus.
"Kamu melakukan hal aneh-aneh lagi, Sha?" tanya Ibu. Asha menggeleng dan diam. "Benar apa yang katakan, Juna?" Ibu mendesak. "Walaupun kamu gak ngaku. Namanya bohong pasti ketahuan nantinya." Asha menggaruk tengkuknya pelan. Ibu memperhatikan Asha dengan seksama. Diam menunggu jawaban putrinya.
"I-iya, Bu...." Asha mengaku. Ibu menghela napas.
"Jadi selama ini kamu bukan kerja di toko besar seperti yang kamu katakan?" Asha mengangguk. Ibu menghela napas lagi. Menipiskan bibir seakan ingin melahap Asha habis. "Jadi kamu benar-benar jadi pembantu?" Asha mengangguk lagi.
Kaki Ibu melangkah mendekat ke dapur. "Ibu enggak tahu gimana awalnya, tapi sudahlah... Ibu juga dapat menikmati hasil kerjamu yang jadi pembantu itu, jadi Ibu harus bersikap baik juga dengan tidak terlalu marah. Tapi... apa bapakmu tidak marah?" pertanyaan Ibu menggelegar seperti petir. "Bukan soal kamu jadi pembantunya. Ya... meskipun soal itu juga mengagetkan. Yang membuat bapakmu marah mungkin karena kamu bohong," jelas Ibu yang membuat Asha menelan ludah.
Di ruang tamu Arga tak sengaja mendekat. Dia mendengar apa yang di katakan Ibu. Asha dan Juna yang membelakanginya tidak tahu, tapi Ibu lihat. Beliau bisa melihat Arga yang masuk. Karena letak dapur dan ruang tamu yang tanpa sekat membuat Ibu bisa melihat siapa yang muncul.
"Jadi dia bukan hanya pacarmu, tapi juga majikanmu?" tanya Ibu yang membuat Asha menoleh ke belakang dimana Arga ada di sana. Juna pelan-pelan tapi pasti segera beranjak pergi. Dia tidak mau ikut-ikutan suasana tegang ini.
"Iya, Bu...," jawab Asha. Entah apa yang dipikirkan Ibu, beliau diam.
"Kemarilah. Duduklah bersama Asha. Ibu mau bicara," panggil Ibu. Arga mendekat. Mereka berdua duduk di meja makan yang ada di dapur. Ibu ikut duduk juga. "Ibu mau tanya. Nak... Arga ini sungguh-sungguh majikan Asha?" Arga melihat ke Asha. Seperti meminta ijin untuk menjawab.
"Iya, Bu. Asha memang bekerja di rumah saya."
"Jadi... apakah benar kalau nak Arga ini menjalin hubungan cinta dengan anak Ibu?"
"Iya Bu. Asha adalah kekasih saya. Tujuan saya kesini hari ini adalah memberitahu orangtuanya. Karena saya bersunggh-sungguh ingin melamar Asha." Arga akhirnya bisa mengatakannya dengan tenang. Arga melihat kilatan terkejut di mata Ibu. Asha melihat Arga sebentar lalu melihat Ibu.
"Apa orangtua Nak Arga ini tahu? Saya takut jika kalian berdua menjalin hubungan tanpa restu. Apalagi orangtua Nak Arga ini adalah majikannya Asha."
"Orangtua saya sudah tahu dan merestui. Tinggal saya yang belum meminta ijin kepada orangtua Asha." Ibu tersenyum.
"Ibu tersanjung Nak Arga ini sungguh-sungguh pada putri Ibu." Ada rasa terharu yang terlihat dari mata Ibu. "Sekarang tinggal bicara pada Bapak."
__ADS_1
"Ada tamu ya..." Suara Bapak terdengar dari ambang pintu. Karena mengobrol serius, mereka tidak mendengar suara deru sepeda motor bapak. "Lho, kok ada Nak Arga?" tanya bapak terkejut. Mereka berdua berdiri dan menyalami bapak bergantian.
"Kenapa belum menyediakan apa-apa, Ibu? Nak Arga ini atasannya Asha. Kita harus bisa berterima kasih Asha sudah bisa bekerja di toko besar itu. Mall," ralat Bapak. Beliau mempersilahkan Arga untuk duduk di sofa ruang tamu. "Asha buatkan minuman. Lalu bantu Ibu memasak. Kita tidak boleh membiarkan atasanmu kelaparan."
Ibu berdiri untuk menuju kulkas. Mengeluarkan bahan-bahan yang sebenarnya untuk warung besok. Lalu mulai memasak. Setelah membuatkan minuman, Asha mendekat ke Ibu. Tidak ada waktu istirahat bagi Asha sama sekali.
"Dia benar-benar majikanmu, Sha?" tanya Ibu.
"Iya. Ibu sendiri dengar seperti itu."
"Ibu tidak menyangka kamu akan jadi pembantu di kota." Ibu mulai membahas ini. Asha mulai was-was. "Walaupun itu juga sebuah pekerjaan, tapi kalau kamu yang punya ijazah sekolah ternyata hanya jadi pembantu, Ibu terkejut. Bukannya menghina. Dalam pikiran Ibu, kamu akan bekerja di toko yang sudah kamu ceritakan itu. Ibu dan Bapak senang karena kata orang-orang sini, toko itu sangat terkenal dan sangat besar. Kita bangga punya anak yang bekerja di tempat seperti itu. Apalagi bapak sudah melihat sendiri tempat itu. Bapak sangat senang." Ibu tidak marah. Ibu tidak sedih. Ibu terkejut karena bayangan mereka tidak sama.
Asha menghela napas sambil dengan dua tangan tetap membantu Ibu.
"Jadi atasan yang di maksud Bapak itu ya, Arga pacarmu ini?"
"Iya."
"Saat itu kamu sudah pacaran apa belum?"
"Sudah, Bu..."
"Kalau kamu memang tidak bekerja di toko itu, kenapa waktu itu Bapak bisa menemukanmu disana. Di dalam toko itu?"
"Emm... Arga itu anak pemilik toko besar itu, Bu." Saat Asha mengatakan ini, tangan Ibu berhenti bergerak. Lalu menoleh ke Asha cepat.
"Pemilik toko itu?" tanya Ibu terkejut yang menahan suara agar tidak terdengar oleh Arga dan Bapak yang terlibat obrolan yang seru. Asha mengangguk. "Jadi kamu itu..."
"Aku kerja di rumah pemilik toko itu Bu. Arga anaknya mereka. Sekarang Arga jadi direktur di sana. Di toko yang di sebut mall itu." Asha memberi penjelasan. Ibu benar-benar terkejut. Beliau belum pernah kesana sama sekali. Namun tahu dari tetangga-tetangga bahwa itu toko yang sangat besar. Juga pernah di tunjukkan foto tempat itu dari tetangga yang sudah pernah kesana.
"Kamu tidak bercanda?" tanya Ibu yang langsung tersadar saat melihat ke arah penggorengan. Ikan laut sudah sangat matang dan siap di tiriskan.
"Tidak Bu."
"Jadi ... apa kamu berpura-pura bekerja disana dengan bantuan Arga?" tanya Ibu tepat sasaran setelah mematikan kompor gas. "Arga membantumu agar Bapak tidak tahu kalau kamu sebenarnya jadi pembantu di rumahnya? Benar?" desak ibu memberondong Asha dengan pertanyaan. Kepala Asha mengangguk.
"Iya."
"Kalau dia putra pemilik toko, e... Mall itu, apakah benar orangtuanya benar-benar merestui kalian berdua? Kamu ini pasti berbeda jauh dari mereka, Sha." Ibu menghela napas cemas.
"Asha sudah melewati jalan panjang menjadi pacar Arga, Bu. Aku yakin, orangtua mereka bersungguh-sungguh," jawab Asha meyakinkan ibu. "Arga kesini atas usulan orangtuanya. Kalau Ibu dan Bapak memberi restu, orangtua Arga akan kesini..." Ibu diam memperhatikan Asha. Lalu melihat ke ruang tamu dimana suaminya dan pria yang dibawa putrinya itu ada di sana.
__ADS_1
"Kamu harus jujur dulu ke Bapak. Kalian berdua. Bapak harus tahu dulu tentang cerita ini," perintah ibu lalu segera menyelesaikan masakan agar segera bisa dinikmati.