
Perasaannya lega. Lebih lega dari Asha yang sejak tadi menunggu waktu yang tepat saat Arga reda dari amarahnya. Perasaannya lebih ringan. Asha mengusap rambut suaminya dengan sayang. Dia tahu Arga pasti melewati beberapa hari ini dengan pikiran risau soal perasaan cemburunya.
"Maafkan aku, Sha," ujar Arga pelan. Arga memeluk istrinya erat.
"Iya, iya. Aku maafkan. Meskipun marahmu sedikit menggemaskan, tapi aku tidak setuju." Arga melepas pelukannya dan merunduk.
"Maafkan ayah yang bodoh dan konyol ya...." Kali ini Arga mengucapkannya sambil mengelus perut Asha. Seperti berbicara pada bayi mereka. Asha tersenyum melihat tingkah.
"Selama ayah masih mencintai bundaku, akan aku maafkan sikap ayah yang seperti itu," ujar Asha menimpali mencoba berperan sebagai bayi dalam kandungannya.
Arga menegakkan tubuhnya. Menggenggam jari-jemari Asha dengan erat. "Tentu saja aku masih mencintaimu. Tetap, masih dan selalu." Senyum Asha semakin melebar.
"Aku lapar."
"Kamu belum makan siang?" tanya Arga terkejut. Asha menggeleng. Kepala Arga melongok ke arah pintu. "Makan siang belum datang ya... Mau makan siang dengan nasi yang aku bawa?" tawar Arga.
"Kamu bawa makanan?" tanya Asha.
"Ya. Nasi gudeg."
"Mau." Asha antusias. Arga mengambil bungkusan dari atas nakas. "Kenapa bawa makanan ke sini? Kan biasanya kamu tidak muncul saat aku bangun..."
"Aku bawa bekal untuk makan siang disini..."
"Kamu langsung ke sini tanpa makan dulu?" tanya Asha menghentikan tangannya dan mendongak.
"Aku cemas. Kamu sudah sehat atau belum ... Aku tidak sabar untuk melihat keadaanmu," ujar Arga seakan salah tingkah. Asha tersenyum lagi. Walau marah pria ini masih memerhatikannya. Masih cemas dan khawatir.
"Terima kasih untuk kamu yang seperti itu. Aku jadi semakin sayang sama suamiku." Asha mencondongkan tubuhnya dan kembali memainkan rambut Arga. Lalu mengecup pipi suaminya lembut. Mata Arga membulat karena terpana. Tangan Arga langsung meraih kepala istrinya dan mengecup bibir itu.
Di luar pintu Paris menggerutu.
"Busyet dah mereka. Enggak tahu kita lagi nunggu apa. Pakai adegan romantis dulu," gerutu Paris sambil bersandar. Sementara Sandra senyum-senyum lihat romansa suami istri di dalam.
__ADS_1
"Itu adegan manis, Paris. Kayak enggak pernah lihat aja." Sandra berbeda dari Paris. Dia begitu memfavoritkan pasangan ini. Baginya seorang pelayan di cintai sama majikannya saja sudah menakjubkan, apalagi sampai pada jenjang pernikahan. Cinta sejati dan tak pandang bulu di dongeng serasa nyata.
"Manis apanya?" Paris tetap mengkerucutkan bibirnya.
"Memangnya kak Lei enggak pakai adegan begitu?" tanya Sandra membuat Paris mendelik.
"Apa?! Aku enggak pernah ciuman bibir sama dia!" Paris ngegas. Entah marah atau enggak terima. Wajahnya merona seketika.
"Bukan. Untuk kita pantasnya sih di cium di kening, berasa berharga. Kita kan belum dewasa."
"Ee... enggak tahu." Paris gugup.
"Jangan-jangan belum pernah ya...," ledek Sandra lalu cekikikan. Paris semakin mengkerucutkan bibirnya.
"Enak buat kamu enggak perlu megangin nampan makan siang ini." Mata Paris mendelik melihat nampan yang sengaja di terimanya saat petugas membawakannya, karena takut mengganggu kakaknya berbaikan. Ternyata orang yang bersangkutan malah enggak sadar dan membuat adegan romantis. Nampan di tangannya jadi sasaran buatnya marah.
"Itu alasan ya... Kamu ngiri sama mereka yang sekarang sudah berbaikan?"
"Eh, ngapain? Suka-suka mereka aja mau gimana. Jangan asal nuduh, ya.."
"Bukannya kamu juga ingin berbaikan sama kak Lei?" tanya Sandra pelan tapi mengena. Buktinga Paris langsung diam. Sandra jadi ikutan diam.
"Aku datang," ujar Paris yang langsung membuyarkan adegan cium bibir tadi. Arga dan Asha terkejut. Paris berjalan masuk tanpa melihat ke arah mereka langsung karena tahu mereka pasti salah tingkah. Paris enggak peduli. Sandra tersenyum sambil mengangguk. Asha tersenyum. "Aku bawa makan siang kak Asha."
"Letakkan saja. Dia akan makan nasi yang aku bawa." Paris mengangguk. "Kenapa datang cepat?" Kentara sekali Arga terganggu atas kedatangannya.
"Ingin tiduran," jawab Paris asal. Arga melihat ke Sandra. Mata gadis itu hanya mengerjap. Paris merebahkan tubuhnya. "Trus Sandra ngapain kalau kamu tidur?" tanya Arga.
"Terserah ngapain. Dia bukan anak kecil," sahut Paris. Arga dan Asha melihat ke Sandra. Gadis itu tersenyum lagi. Mungkin Paris lagi bersuasana tidak baik gara-gara tadi bahas mantan pacarnya.
"Sandra kalau mau pulang, kakak bisa antar dulu. Sepertinya Paris sedang terserang penyakit musimannya," ujar Arga berbaik hati akan mengantar.
"Enggak perlu, kak. Bentar lagi sopir rumah akan menjemput. Aku nunggu saja dulu di sini." Sandra mendekati Paris yang rebahan.
"Ih, kamu bikin tempat ini penuh! Ini enggak cukup!" Paris bangun karena Sandra terus saja mendesak tempat buatnya duduk. Sandra enggak peduli Paris seperti itu. Gadis ini bukan sedang marah padanya. Hatinya lagi tercabik-cabik sama kenyataan bahwa dia minta putus sendiri. Padahal masih cinta.
__ADS_1
...----------------...
Sudah empat hari Asha menjalani perawatan di rumah sakit. Arga senantiasa terus meluangkan waktu demi menjaga istrinya.
Bolak-balik rumah sakit dan kantor membuat Asha khawatir juga.
"Sesekali tidur di rumah, tidak apa-apa. Aku takut kamu kelelahan dan saat aku sembuh kamu malah jatuh sakit," pesan Asha saat Arga menyuapinya.
"Tidak. Aku masih sehat dan akan terus sehat demi menjaga kamu."
"Tapi manusia kan juga butuh istirahat, Ga..."
"Aku selalu mengkonsumsi vitamin, kok. Aku tahu daya tahan tubuhku juga terbatas. Aku juga minum vitamin rutin seperti kamu. Jadi aku yakin aku akan selalu sehat."
"Syukurlah kalau begitu. Sini aku makan sendiri aja. Kamu kan baru pulang kantor, mandi saja dulu. Bunda tadi bawa pakaianmu dan perlengkapannya."
"Tidak. Biar makanmu selesai dulu, baru aku mandi." Arga menolak. Asha tidak bisa membujuk suaminya lagi.
"Baiklah."
"Bunda bilang, ayah sama ibu menjengukmu."
"Iya. Sebenarnya aku enggak ingin mereka tahu aku sakit tapi ya.. karena Sandra memberi tahu Juna, bapak sama ibu akhirnya kesini." Tadi siang keluarganya datang dari kampung. Mereka langsung ke rumah sakit tanpa mampir ke rumah ibu mertuanya dulu.
Setelah makan istrinya rampung dan juga sudah membasuh tubuh Asha agar tidak lengket, Arga mandi. Setelah ritual bersih-bersih Arga terselesaikan dalam sepuluh menit, terdengar pintu di ketuk.
Arga yang sudah duduk dengan kaos dan celana pendek menoleh.
"Bunda mau kesini, Ga?" tanya Asha.
"Entahlah. Namun aku rasa bukan." Nampak siluet tubuh seseorang dari kaca buram yang ada di pintu. Orang di luar pintu ternyata lumayan di katakan sabar menunggu tuan rumah membukakan pintu. Orang itu tetap mengetuk pintu dengan pelan dan sopan. "Aku lihat dulu siapa dia." Arga beranjak berdiri dan mendekat ke pintu. Tangan Arga memegang handle pintu dan menggesernya.
"Selamat malam, Ga," ujar seseorang membuat Arga tertegun. Ternyata seorang pria.
"Siapa, Ga?" tanya Asha. Arga diam. Di depannya datanglah tamu yang membuat Arga sempat dingin kepada istrinya.
__ADS_1
Dia Reksa.