
Pagi hari, Arga tidak bisa membuka matanya dengan segera. Pria ini kelelahan karena sudah berkerja keras tadi malam menjaga istrinya. Asha menyadari itu, jadi tidak berani membangunkan suaminya.
Perutnya yang besar juga membuatnya cepat lelah. Mandi pagi juga di lakukan dengan pelan-pelan. Namun tetap memakai air hangat.
Asha keluar kamar dengan wajah pucat.
"Kak Asha." Paris yang juga keluar dari kamarnya melihat kakaknya iparnya di lorong. Kakinya mendekati. "Pucat sekali?" tanya Paris yang setelah mendekat bisa melihat dengan wajah kelelahan itu.
"Iya. Aku sering kurang tidur."
"Kenapa? Perutnya mulai sakit?" tanya Paris melihat perut buncit milik kakak iparnya. Asha mengangguk. Lalu tangan Paris terulur untuk mengelus-elus perut kakaknya.
"Eh, kenapa gerak-gerak?!" seru Paris terkejut. Perut Asha bergerak aktif. "Eh, bentuk perutnya aneh dan lucu!" seru Paris semakin histeris. Perut Asha memang membentuk tonjolan-tionAsha tersenyum geli. "Ada apa dengan perut kakak? Kenapa begitu?"
"Itu reaksi yang wajar saat perutku di sentuh dan di usap. Itu tandanya bayi yang ada di dalam merespon."
"Jadi dia merespon sentuhanku?" tanya Paris menyelidik.
"Ya. Dia tahu yang menyentuhnya adalah auntie-nya."
"Wahhh...." Paris menatap takjub ke arah perut kakak iparnya. "Ada kehidupan di dalam sana, ya..." Mata Paris tak henti-hentinya menatap takjub. "Dia tidak hanya hidup sendiri. Bayi ternyata bisa juga mendengar dan merasai sentuhan orang yang ada di luar dunianya. Begitu ajaib."
"Selamat pagi, anakku. Aunty Paris sedang membicarakanmu. Dia takjub dengan kehadiranmu. Ayo, kasih tahu lagi kalau kamu mengenalnya," ujar Asha sambil menunduk dan mengusap perut. Secara ajaib perut Asha bergerak aktif.
Mata Paris melebar. Dia lagi-lagi terpukau. "Waa... dia hebat. Keponakanku hebat. Kalau sudah besar aku ajari dia karate."
"Aish... Dasar kamu Paris! Mau jadi apa nanti anakku kalau kamu yang ngajarin." Tiba-tiba suara Arga menggema di lorong membuat dua wanita ini menengok ke asal suara. Paris mencebik.
"Ayah kamu yang kaku itu datang, aunty pergi saja ya...," pamit Paris segera pergi masuk kembali ke kamarnya. Arga mendekat dan mengelus lembut perut istrinya.
"Dasar tante kamu itu. Jangan dengarin dia ya. Dengarin kata-kata ayah sama bunda saja, oke?" Arga membungkuk untuk mengecup perut itu. "Kamu enggak apa-apa sayang?" tanya Arga menegakkan punggung lagi dan mengganti pandangan ke arah istrinya. Tangannya mengusap rambut istrinya dengan wajah khawatir.
"Enggak. Kamu pasti kelelahan tadi malam."
"Lumayan, tapi aku lebih cemas sama kamu. Sakit sekali ya, perut sama punggung kamu?"
"Iya."
__ADS_1
"Sekarang enggak apa-apa?"
"Enggak, tapi aku takut nanti malam sakit lagi."
"Tenang... kan ada suamimu ini."
"Jangan kesal kalau aku mengeluh sakit ya...?" Arga menatap istrinya, lalu memeluknya.
"Mana mungkin kesal, sayang... Aku mungkin kelelahan. Iya. Aku enggak mungkin bohong, tapi jika aku kesal karena kamu kesakitan seperti itu, mustahil. Kalau bisa kamu membagi rasa sakit itu jadi kita berdua bisa merasakan sakit yang sama."
"Kalau sama-sama sakit, siapa yang merawat dong..."
"Benar juga. Aku berlebihan barusan." Masih memeluk istrinya tapi wajah mereka menjauh. "Pokoknya, aku siap merawatmu jika kesakitan lagi saat tengah malam."
"Terima kasih."
"Sepertinya istriku ini jago banget mengucap terima kasih," canda Arga sambil menunduk mencoba melihat ekspresi istrinya.
"Memang harus selalu berterima kasih saat ada yang baik membantu kita. Itu berarti kita mensyukuri pertolongan apa yang sudah di berikan."
"Benar, benar. Semoga anak kita mencontoh perilaku baik ini." Arga mendekatkan dahinya pada dahi istrinya.
Asha bermaksud melepas pelukan suaminya tapi Arga enggan melepaskan.
"Enggak perlu iri, nanti kamu juga bisa bermesraan saat sudah menikah," kata Arga.
"Menikah? Itu masih jauuuuh di depan sana. Jangan ngomongin menikah sama anak kecil, dong!"
"Kalau mau, aku bilangin bunda buat jodohin kamu biar segera dapat jodoh dan menikah," kata Arga yang langsung di sambut pelototan oleh Paris.
"Jangan main-main ya... Aku masih sekolah. Enggak ada niatan buat menikah. Enggak ada niatan buat pacaran. Jangan membuat hidupku susah dengan membuatku mendapat jodoh yang tidak di inginkan!" Telunjuk Paris menunjuk kakaknya dengan kesal.
Paris marah. Asha terdiam. Berbeda dengan Arga. Dia bisa tenang meski adiknya emosi tingkat tinggi.
"Bukan ideku, tapi ide bunda sendiri. Meski aku enggak memberi ide, bunda pasti begitu. Dia bunda ajaib yang suka menjodohkan anaknya. Aku hanya kasih tahu. Mungkin saja itu segera terjadi padamu. Bersiaplah."
Paris mendengkus kesal.
...----------------...
__ADS_1
Kunjungan ke dokter kandungan membawa berita baik. Posisi kepala bayi yang tadinya berada di atas dan kaki di bawah, kini malah sebaliknya. Ibaratnya, bayi secara perlahan mulai “merosot” atau turun ke panggul.
Perubahan posisi bayi di dalam kandungan ini menjadi tanda-tanda yang cukup jelas bahwa persalinan semakin dekat. Kandungan Asha di anggap sehat. Bayi dan bundanya sehat. Usaha Asha menaikkan berat badan berhasil.
Tanggal persalinan dan tempat juga sudah di tetapkan. Keluarga juga sudah di beritahu agar siaga setiap saat.
Beberapa keluhan Asha lainnya yang mungkin mengganggu saat dekat dengan persalinan adalah nyeri di pinggul juga panggul, dan keputihan yang cukup banyak.
Selain masalah yang sudah di alami Asha sebelumnya, masalah insomnia atau sulit tidur saat hamil tua juga banyak dialami oleh ibu hamil ini. Kadang terjadi karena posisi tidur yang kurang nyaman akibat perut yang membesar, atau terbangun karena ingin pipis.
Hari-hari Arga juga di penuhi tantangan setiap malamnya. Setiap malam Arga dengan telaten bangun untuk membuat istrinya nyaman saat tidur. Seperti malam ini, sekitar pukul dua dini hari Asha merintih sakit pada perutnya.
"Aku ingin tidur sambil duduk di sofa saja," pinta Asha. Dia juga berupaya mencari cara agar bisa terlelap saat tidur hingga suaminya juga bisa tidur.
Arga mengangguk. Mendorong sofa agar mendekat pada ranjang. Kemudian mengambil bantal untuk di letakkan di sofa single sebagai penyangga punggung.
"Sofa sudah siap, sayang... Ayo, berpindah ke sofa sekarang." Asha dengan setengah membuka mata, berusaha mengajak tubuhnya untuk mau bergerak. Dengan lambat, tubuh Asha tiba pada sofa. Menyandarkan punggung dengan mencoba berbagai posisi yang nyaman.
"Aku kepanasan ...," ujar Asha sambil mengibaskan tangannya untuk mengusir panas.
"Sebentar." Arga mengambil kipas dan mengipasi istrinya. Kerja keras Arga terbayar saat Asha mulai terlelap. Arga menghela napas sambil langsung berbaring. Dia sudah sangat kelelahan hingga posisi tidur juga tidak terlalu di perhatikan, hingga saat bangun, Asha selalu mendapati suaminya tidur dengan aneh.
Asha memaklumi dengan menyelimuti tubuh suaminya juga mengecup pipi suaminya. Pria ini sudah bekerja keras merawatnya saat malam hari.
Berangkat kerjapun selalu lebih siang daripada biasanya karena lelah yang tidak terkira. Rendra sudah di beritahu terlebih dulu. Jadi sekretaris itu selalu datang saat Arga sudah sedikit kehilangan rasa lelahnya.
...----------------...
Selain yoga ibu hamil, Asha juga melakukan jalan pagi saat perutnya membesar. Ini membuat dia menjadi aktif dan membuat tubuh menjadi sehat, bugar, dan lebih tahan terhadap tantangan fisik selama masa kehamilan, nyeri saat persalinan dan pascakelahiran.
Pagi ini Arga menemani istrinya untuk jalan kaki di alun-alun kota. Karena hari minggu, di sekitaran alun-alun tidak tampak kendaraan lalu lalang karena pada hari minggu ada car free day.
"Sudah lama kita enggak kesini." Perasaan gembira menyelimuti si ibu hamil. Wajahnya tampak ceria melihat tempat kesayangannya, yaitu lapanagn basket.
Disini merupakan tempat kenangan mereka berdua. Dulu, saat masih sebagai pasangan kekasih yang menjalani backstreet. Saat Asha masih sering tidak yakin akan hubungan mereka berdua akan menjadi seperti sekarang.
Dongeng tentang pelayan yang di cintai majikan kaya ternyata benar-benar terjadi padanya. Asha dan Arga.
__ADS_1