
Arga memang sedang mengawasi perempuan yang bersama Paris itu dengan sedikit kerutan samar di dahinya. Lelaki ini tahu bola mata itu sesekali menatapnya sebentar lalu berpindah lagi melihat yang lain. Perempuan itu pasti mendengarkan semua pembicaraannya dengan Chelsea. Arga berpikir lagi tentang apa saja yang dibicarakannya bersama Chelsea, saat dia tidak menyangka ada Asha di dalam ruangan ini.
Kenapa Rendra tidak memberitahuku kalau ada dia di ruangan ini, gerutu Arga kesal dalam hati.
"Bukannya dia bawa bekal? Kenapa harus memesan juga. Pasti dia ingin memakan bekalnya, kan?" seloroh Chelsea yang terganggu dengan acara paksaan untuk memesan itu. Bukan tidak suka karena Paris memaksa karyawan itu memesan makanan, tapi kenapa harus repot-repot memaksa dia?
Karyawan itu kan bisa makan sendiri. Mau makan atau tidak itu urusan masing-masing. Kenapa perlu berlebihan seperti itu kepada dia yang hanya office girl.
Paris menatap kesal ke Chelsea karena ikut nimbrung saja.
"Aku itu ngomongnya sama kak Asha, bukan kamu." Paris akhirnya nyolot juga karena Chelsea ikut ngomong.
"Aku tahu. Aku hanya ingin membantunya untuk bicara karena sepertinya dia tertekan denganmu yang memaksanya ikut memesan," jawab Chelsea benar. Kali ini Asha patut mengacungkan jempol karena kalimat wanita itu benar.
Paris terlihat mulai lebih kesal daripada tadi. Asha menepuk lengan Paris bermaksud untuk menenangkannya. Arga menipiskan bibir dan membuang napas dengan kasar. Dia ingin menghentikan keributan ini.
"Cukup pesan tiga saja. Jangan memaksanya, Paris. Biarkan dia. Cukup kamu dan Chelsea yang memilih makanan. Jangan ribut." Arga mengambil keputusan yang membuat Paris cemberut.
Lalu gadis yang masih SMA ini mengangkat bibir mengejek kakaknya yang terlihat membela Chelsea. Bibir Chelsea tersenyum Arga membelanya. Dia merasa masih berada pada urutan teratas di dalam hati laki-laki itu.
Asha mengangkat alisnya dan membungkam mulutnya untuk diam. Dia hanya pelayan, jadi memang sebaiknya hanya diam. Dia masih memegang bekal dari rumah yang di letakkan di atas pangkuannya. Entah bagaimana nasib bekal yang sengaja di buat hanya karena ingin punya alasan datang kesini. Sepertinya jadi terabaikan. Kasihan sekali.
Asha menatap bekal di tangannya.
"Taruh di meja saja bekalnya, kak," usul Paris. Asha mengangguk lalu meletakkan tas berisikan bekal di atas meja. Makanan yang di pesan lumayan lama. Hingga sanggup membuat Asha gelisah juga.
"Kalau boleh tahu, dia siapa Ga?" tanya Chelsea soal Asha. Dia sengaja tidak tanya Paris walaupun ada di depannya, karena anak ini pasti tidak mau menjawab.
Arga mendongak. Memandang Chelsea yang mengajukan pertanyaan lalu berganti mengalihkan pandangan ke arah Asha. Dilihat begitu, Asha heran. Secara pasti dia menarik bola matanya untuk bergeser ke arah kiri, melewati Chelsea yang juga sedang melihatnya lalu turun ke bawah, ke arah tempat bekal.
Halo tempat bekal aku memang ditakdirkan hanya untuk melihatmu saja.
__ADS_1
"Dia bekerja di rumahku," jawab Arga.
"Di rumahmu? Oh ... pelayan rumah ...." Akhirnya Chelsea menemukan jawaban tentang jati diri perempuan muda di depannya.
Paris mengawasi lagak perempuan yang di anggap genit olehnya itu. Chelsea tersenyum sambil mengangkat alis. Seperti sedang mengatakan, "Oh.. hanya pelayan rumah toh...," Asha biasa saja mendengar nada mengejek seperti itu.
Aku tidak peduli, yang paling penting adalah gajiku banyak.
Lalu Chelsea tersenyum lagi. Untuk senyuman kali ini di buat khusus untuk Arga karena ada bumbu manis di dalamnya. Arga melihat sekilas senyuman itu dengan gelengan kepala. lalu kembali tenggelam dalam pekerjaannya lagi. Lelaki itu tidak ingin mengartikan senyuman itu lebih dalam. Dia takut terpikat oleh senyuman yang dulu membuatnya senang.
"Kapan nih makanannya dataaanngg ... Aku sudah lapar," sungut Paris lelah.
Arga tidak peduli dengan rengekan adiknya. Dia hanya memusatkan perhatian ke arah pekerjaan dannn ... sedikit melempar perhatian ke arah sana. Di tempat duduknya. Perempuan yang duduk rapi di depan tempat bekal yang di bawanya, Asha. Sesekali dia menatap perempuan muda yang tetap bertahan dengan berdiam diri dan menjaga sikap.
"Asha, ambilkan aku minum," perintah Arga.
"Baik." Asha berdiri diikuti Chelsea yang juga berdiri. Arga melihat tingkah mantan tunangannya itu dengan heran.
"Biar aku yang mengambilkan." Wanita itu berusaha merebut pekerjaan Asha melayani Arga. Asha hanya diam karena sudah ada yang menggantikan tugasnya. Arga melihat dari balik laptopnya tidak senang, tapi membiarkan Chelsea melakukannya.
Bibir Paris mencebik sambil mengangkut dagunya menunjukkan ke Asha bahwa perempuan itu sedang berusaha mencari perhatian kakaknya. Asha melihat saja tanpa memberikan respon.
"Aku tidak tahu kalau kamu salah dengar saat aku menyebut nama Asha, bukan dirimu. Aku rasa sangat jelas aku menyebut nama Asha tadi," kata Arga di luar dugaan.
Perempuan itu tertegun sejenak. Menatap Arga dengan nanar yang kentara.
"Walaupun begitu, terima kasih sudah mengambilkannya," lanjut Arga sambil menerima minuman dari tangan Chelsea. Perempuan ini menghela napas dan kembali ke tempat duduknya.
Akhirnya makanan datang. Dan itu hanya tiga porsi. Di karenakan Asha menolak memesan. Dia tidak mau makan di sini.
"Ga," panggil Chelsea yang sudah menyiapkan makanannya sedemikian rupa agar Arga segera dapat menyantapnya. Arga menghentikan kegiatannya dan mendekat di kursi sofa. Asha hanya memandang Paris membuka makanannya.
"Kak Asha gak asyik nih. Eh, gimana kalau kakak makan aja bekalnya?" usul Paris sambil menunjuk ke arah bekal yang di terlantarkan.
__ADS_1
Asha hanya mengangguk. Menipiskan bibir dan menggertakkan gigi-giginya perlahan. Tidak mungkin Asha melakukannya, ini bekal untuk tuannya. Sungguh tidak nyaman bila harus memakan bekal yang seharusnya untuk orang lain itu. Kalaupun boleh, Asha tidak akan memakannya.
Chelsea menyelidik mendengar itu. Bukankah itu memang bekalnya, kenapa harus mengusulkannya seperti itu. Sangat tidak masuk akal. Pelayan ini seperti terus saja meminta perhatian majikannya, Chelsea tersenyum sinis.
"Tidak perlu kamu menyiapkannya karena aku memesannya bukan untukku," kata Arga melihat Chelsea menata makanannya. Kepala Chelsea mendongak melihat Arga yang sudah mendekatinya. Hatinya sedikit kecewa.
"Berikan bekal itu kepadaku," pinta Arga saat sudah duduk di atas sofa, di luar dugaan. Chelsea tergagap saat mendengar kalimat barusan. Melihat Arga dengan tatapan tidak percaya, kemudian mengedipkan mata mencoba berpikir ulang, apakah dia salah pendengaran atau Arga memang mengatakan hal yang aneh diluar kebiasaan?
"Kamu meminta bekal yang dia bawa?" tanya Chelsea memastikan. Dia tidak ingin salah tangkap atau salah paham atas perkataan lelaki itu. Arga menoleh mendapat pertanyaan itu dari Chelsea.
"Iya. Kenapa?" tanya Arga sambil memainkan jarinya meminta bekal yang ada di atas meja. Asha gamang, tapi kemudian mematuhinya dan berangsur menyerahkan tempat bekal ke arah Arga. Dia sangat tidak menginginkan hati tuan mudanya memburuk.
Paris melihat interaksi ini dengan senyum. Dia merasa puas melihat wajah terkejut milik Chelsea.
"Kenapa kamu harus meminta bekal darinya saat kamu sudah memesan makanan?" Chelsea sangat tidak suka ini. Kekecewaannya tadi membuatnya ingin marah.
"Maaf Chelsea, aku sudah mengatakan aku memesannya bukan untukku. Ini, makanlah ...." Arga menyodorkan kotak makanan yang di pesannya ke Asha. Dengan perasaan karut disertai tatapan mata Chelsea yang tajam, Asha menerima pemberian tuannya.
"Terima saja, kak. Bekal itu memang untuk kak Arga bukan?" Paris menyetujui ide Arga.
"Terima kasih," ucap Asha sopan.
"Sangat aneh kalau kamu meminta bekal kepada seorang pelayan rumahmu, Ga. Ini sangat janggal. Kamu akan membuat semua karyawan di sini menyodorkan bekal mereka untukmu." Chelsea masih saja menghujat Arga karena keputusannya.
"Memang siapa karyawan yang berani menyodorkan bekal kepadaku?" tanya Arga dengan sedikit nada pongah di dalamnya, seraya membuka tutup bekal yang sangat ketat itu. Namun tutup bekal itu enggan terbuka.
Asha ngeri melihat Arga dengan kasar berusaha membuka tutup bekal yang memang kedap udara itu. Bayangan nasi itu tumpah dan berceceran tergambar di benak Asha. Tentu saja Asha tidak ingin itu terjadi, karena bisa saja tuan mudanya menyuruh dia membersihkan kekacauan itu.
"Saya bisa bantu membukanya, tuan," usul Asha dengan cepat. Arga berhenti memaksa membuka tutup bekal dan menyerahkan ke Asha. Chelsea memperhatikan semua interaksi mereka. Akhirnya tutup bekal sombong itu menyerahkan diri kepada Asha dan mau terbuka.
Lalu Asha kembali menyerahkan ke Arga. Dengan wajah bangga bahwa Asha bisa membukanya dengan mudah, Arga menerimanya dengan tersenyum.
"Terima kasih, Sha. Sekalian saja semua tutup bekal kamu buka. Aku tidak mau bersusah payah untuk membukanya," perintah Arga sambil menunjuk ke tempat lauk dan sayur yang masih belum terbuka.
__ADS_1
"Biar aku yang membukanya," sergah Chelsea dan menepis tangan Asha. Arga melihat itu. Matanya menyipit, tidak suka perempuan itu bertingkah demikian.